Pangeran Tanpa Bakat

Pangeran Tanpa Bakat
BAB 61 AMARAH


__ADS_3

Setelah Blaze berhasil terhubung dengan Erik Dengan Menggunakan Telepati, Blaze pun segera meminta Erik untuk menginggalkan dugeon tempat Erik sekarang berada, agar Blaze bisa membuka gerbang Roh yang terhubung dengan Erik.


“Aku tidak bisa melakukannya Blaze, AL sedang bertarung dengan seorang Monster yang sangat menakutkan dan aku harus segera membantunya.” Ucap Erik yang panik bercampur bingung.


Mendengar ucapan Erik membuat Blaze terkejut, pasalnya Firasat yang Dirasakan Oleh Yue bahwa aku sedang dalam bahaya ternyata benar, karena Erik sedang panik, Erik tidak bisa berfikir jernih, bukannya meminta bantuan Blaze, Erik justru segera berlari untuk menyusulku yang sedang bertarung sengit dengan Ziz, hal itu membuat Sambungan telepati Antara Erik dan Blaze terputus.


Ketika sambungan telepati antara Erik dan Blaze terputus, Yue dan Aqua pun segera menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa Blaze tiba-tiba terlihat cemas.


“Ada Apa kak Blaze, kenapa kau terlihat cemas?” Tanya Yue pada Blaze.


Blaze pun mengatakan Pada Yue dan Aqua bahwa kemungkinan besar Aku dan Erik sedang menghadapi seseorang yang sangat kuat sehingga membuat Erik terdegar seperti orang yang putus asa.


“Entahlah Yue, Erik bilang bahwa AL sedang melawan monster, dan yang membuatku cemas adalah suaranya yang terdengar begitu khawatir. kemungkinan besar, monster yang sedang mereka lawan adalah monster yang sangat menakutkan.” Ucap Blaze pada mereka.


Mendengar perkatan Blaze membuat Yue dan Aqua kembali menjadi cemas, mereka ingin segera menyusulku namun sayangnya saat ini mereka tidak bisa melakukannya.


“Tolong lakukan Sesuatu kak Ray, Aku haru bergegas menolong AL.” Ucap Yue dengan raut muka cemas.

__ADS_1


Mendengar perkataan Yue membuat Aqua dan Blaze juga ikut memohon pada Ray untuk membantu mereka mencari cara untuk menolongku dan Erik, karena melihat kesungguhan dimata Blaze, Yue dan Aqua membuat Ray dengan senang hati membantu mereka, Ray pun mulai memikirkan beberapa cara untuk membuat mereka bertiga bisa membuka gerbang Roh untuk membantu AL.


“Baiklah, aku akan mencari cara untuk membantu kalian.” Ucap Ray pada mereka.


Mendengar Ucapan Ray membuat Yue, Aqua dan Blaze tersenyum Lebar.


Di sisi Lain aku yang sedang berhadapan dengan Ziz mulai melancarkan beberapa sihir serangan air untuk mengalihkan perhatian Ziz, aku mengumpulkan energi sihir yang cukup besar pada kepalan tangan kananku agar aku bisa memberikan pukulan yang mungkin bisa membuatnya terluka. Setelah menembakkan beberapa peluru air, aku penggunakan sihir Langkah angin agar aku bisa mendekatinya secepat mungkin, sayangnya rencanaku masih bisa di antisipasi dengan baik Oleh Ziz, walaupun aku bisa mengimbangi kecepatannya yang luar biasa, namun aku masih belum terbiasa dengan pertarungan kecepatan tinggi seperti ini, aku juga masih belum menguasai kekuatan yang aku dapatkan, ditambah rasa sakit pada tubuhku sangat mengganguku sehingga tidak bisa fokus dengan baik dalam pertarungan ini.


Ketika aku berusaha mendaratkan pukulanku yang kulapisi dengan sihir elemen air dan angin, Ziiz berhasil menepis Pukulanku dan membuat Pukulanku melewatinya begitu saja, bukannya melukai Ziz, aku malah menghancurkan beberapa rumah karena tidak bisa menahan kekuatan sihir yang kulepaskan, akibatnya beberapa Rumah terkena seranganku dan hancur lebur.


Aku cukup terkejut ketika pukulanku ternyata sangat kuat hingga bisa membuat beberapa rumah hancur padahal aku tidak menyentuhnya sama sekali dan tepat setelah pukulanku meleset, Ziz telah melancarkan serangannya dan lutut Ziz berhasil mendarat tepat di pipiku dan membuatku kembali terlempar.


“Ada apa, Apa kau kesakitan?” Ucap Ziz dengan senyum mengejek.


Melihat Ekspresi Ziz membuatku sangat kesal, rasanya ingin kuhancurkan saja senyuman yang penuh ejekan itu, walaupun aku tahu bahwa aku tidak akan bisa melakukan hal itu karena saat Ziz masih jauh lebih kuat dariku dan dalam pertarungan ini dia hanya bermain main saja denganku, tapi justru hal itu yang membuatku sangat jengkel padanya, pasalanya dia hanya menganggapku sekedar mainan sedangkan aku telah mengerahkan semuanya dalam pertarungan ini.


“Cuih, sialan, Lihat saja, aku akan membungkam senyumanmu itu.” Ucapku sambil meludahkan darah karena bibirku pecah.

__ADS_1


Ketika aku mengatakan hal tersebut sambil menatapnya penuh keyakinan, Ziz justru tertawa dan berusaha membuatku semakin marah.


“Lihat saja? Haha, kau itu lemah kau tidak akan bisa menyentuhku.” Ucpa Ziz dengan tawanya.


Mendengar ucapan dan ekspresi Ziz membuatku benar benar marah, Ketika luka di bibirku kembali sembuh, aku kembali menyerang Ziz dengan seluruh kemampuanku, pukulan, tendangan dan serangan serangan sihir kulancarkan padanya secara beruntun karena sangat kesal padanya. Hal tersebut membuatku tidak memperdulikan konsumsi energi sihir yang ku gunakan, yang ada dalam benakku hanyalah aku sangat ingin mendaratkan satu pukulan keras pada wajahnya dan menghapus senyuman ejekan itu.


Karena aku menyerang secara membabi buta, arena di sekitarku menjadi hancur, bangunan bangunan, pohon dan bahkan permukaan tanah menjadi berlubang karena seranganku yang meleset, aku cukup beruntung karena di tempat itu sudah tidak ada orang selain kami, hal itu membuatku semakin leluasa melancarkan serang sihir maupun serang fisik dengan skala besar.


Karena terbawa emosi, secara tidak sadar aku telah menggunakan energi sihir secara berlebihan dan membuat tubuhku kembali tersentak, tidak seperti sebelumnya yang hanya tersentak saja, kali ini dadaku terasa sakit dan aku memuntahkan darah, sekujur tubuhku gemetar dan membuatku sangat sulit untuk bergerak.


Ketika melihat kondisiku yang semakin parah, Ziz pun memanfaatkannya dan memberikan serangan balik tanpa ampun padaku. Walaupun dia tidak menggunakan serangan mematikan seperti sebelumnya, namun serangnnya kali ini justru sangat menyiksaku, setiap pukulannya membuat tubuhku terluka, semakin tubuhku sembuh, semakin Ziz membuatku terluka, yang kurasakan hanyalah sakit yang sangat membebani jiwa dan ragaku dan membuat waktu disekitarku seakan melambat.


Aku ingat pernah merasakan hal ini sebelumnya, dimana ketika aku terjatuh ke jurang dan dihadapkan dengan kematian, hal itu membuatku berfikir bahwa aku kalah karena kesombonganku yang dengan percaya dirinya ingun mengalahkan Ziz, aku mulai berpikir, sejak kapan aku menjadi sesombong ini? padahal sebelumnya aku tidak pernah marah ketika ada yang mengejekku, padahal kata-kata dari penghuni kerajaan jauh lebih menyakitkan daripada senyuman ejekan dari Ziz, tapi aku justru merasa sangat kesal dan meluapkan amarahku padanya, padahal aku tahu bahwa aku tidak boleh mengeluarkan energi sihir yang berlebihan karena itu akan sangat beresiko untukku dan akan menguntungkan Ziz, tapi aku dengan sombongnya mengeluarkan seluruh kekuatan yang aku punya hingga akhirnya menjadi seperti ini.


Aku mulai berpikir bahwa aku sama sekali tidak berubah, aku tetaplah sampah yang tidak dibutuhkan oleh siapapun, memang dari awal aku bukanlah orang yang hebat.


“Aah, Betapa Bodohnya Aku.” Gumamku dalam hati.

__ADS_1


Seketika aku merasa bahwa sudah saatnya aku menyerah, mungkin kali ini aku benar benar akan mati.


Bersambung...


__ADS_2