Pangeran Tanpa Bakat

Pangeran Tanpa Bakat
BAB 57 TAKDIR


__ADS_3

Fals yang baru saja selamat dari kematian tiba tiba terduduk lemas dan tidak mampu berkata apa apa, Erik yang melihat Fals terduduk Lemas segera mengambil inisiatif untuk mencari bantuan karena Erik tahu bahwa saat ini jiwa Fals sedang terguncang dan dia tidak akan bisa berpikir jernih untuk sementara waktu.


Erik segera mencari bantuan untuk membawa Riku dan Dolf yang saat ini sedang terluka parah menuju ruang perawatan untuk mendapatkan perawatas semaksimal mungkin, Erik segera mendekati Ricardi yang berkumpul bersama Alana, Anwar, Marco, Tian dan beberapa bangsa Elf lainnya.


“Paman Ricardi kita harus bergegas membawa Paman Riku dan Paman Dolf ke ruang perawatan.” Ucap Erik yang terengah engah setelah berlari ke arah Ricardi.


Karena peristiwa yang terjadi di depan matanya begitu mengejutkan, Ricardi bahkan sempat melupakan Riku dan Dolf yang sendang terluka parah saat ini.


“Oh iya untunglah kau mengatakannya, Siapapun yang mempunyai keahlian medis kita harus merawat Riku dan Dolf dan Karena iblis itu sudah berada diluar, batalkan saja sihir Space Of Eternity ini.” Ucap Ricardi sembari bergegas menuju Riku dan Dolf.


Setelah mengatakan hal tersebut, Hampir semua yang ada disana segera bergegas meninggalkanku yang sedang berhadapan dengan Ziz dan membawa Riku dan Dolf menuju Ruang perawatan untuk segera memberikan pengobatan terbaik untuk mereka berdua.


Ziz sempat menghalangi mereka dengan melancarkan sebuah serangangan ledakan yang cukup kuat, namun aku berhasil menendangnya ke atas dan membentur langit langit, untunglah langit langit dugeon itu cukup kokoh, bahkan serangan Ziz hanya bisa memberikan beberapa goresan saja.


Walaupun harus berhadapan dengan Ziz seorang diri, namun aku tidak merasa takut sedikitpun. Entah mengapa, justru saat ini aku merasa percaya diri untuk menghadapinya, padahal aku tahu pasti seberapa menakutkannya iblis yang ada di depanku ini karena energi sihir yang mengelilinginya sangatlah kuat dan menakutkan bahkan mampu mengintimidasi orang yang mentalnya kuat sekalipun.


Di sisi lain, setelah Erik dan yang lainnya sampai ke ruang perawatan, mereka segera menyiapkan peralatan medis selengkap mungkin untuk merawat Riku dan Dolf yang mengalami luka yang sangat Fatal, untunglah berkat peralatan dan ilmu medis para bangsa Elf yang sangat Hebat sehingga Riku dan Dolf berhasil selamat dari kondisi kritis setelah mendapatkan perawatan semaksimal mungkin walaupun saat ini mereka berdua sedang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Setelah memimpin para bangsa Elf untuk memberikan perawatan pada Riku dan Dolf, Ricardi mengunjungi Erik, Alana, Anwar, Marco, Tian dan beberapa Elf yang berada di ruang tunggu, Ricardi kembali membahas tentang apa yang telah terjadi padaku sehingga bisa memiliki energi sihir yang besar seperti sekarang ini serta regenerasi yang sangat cepat sehingga lukaku bisa sembuh dengan hitungan detik saja.


“Alana, tentang yang ku tnayakan tadi, apa kau bisa menceritakannya pada kami.” Ucap Ricardi yang baru saja menghampiri Erik, Alana dan yang lainnya di ruang tunggu.


“Baik Ayahanda, Seperti yang ada dalam pikiran ayahanda, aku membuat AL meminum Mata Air kehidupan.” Ucap Alana dengan muka serius.


Seketika semua orang yang ada di ruangat tersebut tersentak kaget, pasalnya mereka semua tahu bahwa orang yang meminum Air itu akan mati karena kelebihan energi sihir.


“Ap- Apa yang kau lakukan, Bukankah kau tahu bahwa itu adalah hal yang sangat berbahaya?” Ucap Ricardi dengan raut muka yang mulai Pucat.


Setelah melihat Ayahnya yang dipenuhi raut muka Gelisah, Alana sempat menunduk karena merasa bersalah, namun dengan cepat Alana kembali mengangkat kepalanya kemudian menjelaskan pada Ayahnya Alasan kenapa Alana Berani membuatku meminum mata air kehidupan walaipun Alana tahu jelas bahwa hal itu bisa saja berakibat kematian untukku.


Alana menceritakan pada Erik dan yang lainnya tentang apa yang tetulis pada Prasasti itu, disana ditulis bahwa suatu saat orang yang ditakdirkan untuk memimpin dunia akan datang ke tempat para Elf menetap bersamaan dengan ancaman yang luar biasa besar.


Walaupun yang tertulis disana hanya sebatas itu, namun beberapa tetua Elf pernah menafsirkan bahwa orang itulah yang ditakdirkan untuk meminum Mata Air kehidupan dan mendapatkan kekuatan untuk memimpin dunia.


Namun sayangnya dalam prasasti itu tidak disebutkan kapan orang itu akan datang dan bagaimana ciri ciri-ciri orang itu sehingga para Elf disana tidak bisa mengambil kesimpulan tentang orang yang telah ditakdirkan itu.

__ADS_1


Kemudian Alana kembali menceritakan tentang kejadian saat aku dan seluruh pasukan yang dipimpin oleh paman Anwar hampir dimusnahkan oleh Ziz.


“Ayolah Ayah, beberapa hari yang lalu ayah menyaksikan sendiri bukan, Satu satunya orang yang sanggup bergerak untuk melawan Ziz hanyalah AL.” Ucap Alana kembali.


Alana menyimpulkan bahwa ancaman yang luar biasa yang dimaksudkan dalam prasasti itu adalah Ziz dan seluruh pasukannya, bahkan bangsa Elf hampir saja dimusnahkan oleh Ziz seorang diri, hal itu membuat Alana yakin Bahwa akulah orang yang ditakdirkan itu karena hanya aku yang tetap berusaha melawan Ziz di saat yang lainnya membatu kertakutan dihadapan kekuatan Ziz yang snagat menakutkan.


Mendengar penjelasan Alana membuat raut muka Ricardi sedikit membaik, Ricardi berharap bahwa memang akulah orang yang ditakdirkan itu, semua orang yang ada di sana hanya bisa pasrah dan berharap agar aku memang benar orang yang ditakdirkan untuk meminum air itu, karena jika ramalan itu meleset maka aku akan mati karena tidak bisa menampung kekuatan yang kudapatkan dari mata air kehidupan itu.


Di sisi lain aku yang sedang berhadapan langsung dengan Ziz sempat berbincang sebelum akhirnya mulai bertarung kembali, Ziz juga penasaran dengan energi sihirku yang meningkat secara drastis dalam waktu yang sangat singkat, karena itu dia sempat menanyakan hal tersebut padaku.


“hei bocah, dari mana kau mendapatkan kekuatan sebesar itu.” Ucap Ziz dengan tatapan tajamnya.


Aku sedikit terdiam sebelum menjawab pertanyaan Ziz, sebenarnya aku juga bingung dengan apa yang telah terjadi dan bagaimana bisa aku mendapatkan kekuatan yang bahkan mampu mengimbangi Ziz yang kekuatannya berada diluar nalar.


“Entahlah, Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu.” Ucapku pada Ziz.


Walaupun aku sendiri bingung, namun aku tidak ingin mengatakannya pada Ziz, aku takut Ziz mengetahui sesuatu tentang kelemahan kekuatan yang ku dapatkan jika aku bercerita lebih banyak dan kemungkinan terburuknya dia bisa merampas kekuatan ini, yang ada dalam pikiranku saat ini hanyalah aku harus menyembunyikannya dari Ziz sebisa mungkin sampai aku tahu darimana kekuatan ini berasal agar aku bisa mengendalikannya dan mencegah agar musuh-musuhku tidak mendapatkan kekuatan yang sama.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2