
“Sebagai hukuman atas kelakuan kalian, ibu tetap akan menghukum kalian. Hukumanya adalah...” Bu Maria sengaja betul menggantung ucapannya, membuat ketiga murid itu menahan nafas.
“Pasti di suruh bersihin toilet. Mending jangan deh buk, hukuman yang lain aja... Zea meles setiap hari ngapelin kamar mandi mulu!” gerutu gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya.
Memang betul sekali, gadis itu selalu dihukum membersihkan kamar mandi saat dia telat. Bu Maria berharap dengan dia mengukum Zea akan membuatnya kapok, tapi nyatanya tidak sama sekali.
Tapi satu hal yang membuat bu Maria heran, dia mendapat laporan dari para guru-guru, biarpun Zea sering melakukan hal di luar prediksi, tapi dia selalu mendapat nilai yang bagus. Dilihat dari akademik dan non akademiknya sewaktu dia masih SMP memang nilainya sangat bagus, gadis itu juga menekuni hobinya di bidang bela diri Taekwondo yang berhasil menjadi juara satu tingkat nasional. Zea sangat senang kala dia mendapat kabar menjadi sang juara, dia antusias memberi berita gembira itu pada papanya.
🔴Flasback on.
“Papa Baskara!! Papa tau nggak?”
Gadis itu tersenyum senang dengan kedatangan papanya, dia menarik jas Baskara saat memasuki pintu utama, dilihat dari tampilannya dia baru pulang dari kantor, sedangkan papanya itu hanya bersikap dingin seperti biasanya.
“Apa?” tanyaya cuek seolah tak peduli.
“Zea, juara satu taekwondo, lho, Pa. Dan besok papa diundang ke sekolah unt-.”
Kalau boleh jujur, Baskara bangga pada putrinya itu, dia tau anaknya ini memang cerdas seperti dirinya. Tapi sungguh malang, Zea terlalu sulit untuk mendapatkan posisi baik di hati kecil papanya.
“Saya nggak ada waktu, suruh saja Oma mewakili Saya,” Baskara meningalkan Zea yang berdiri mematung dan menghampiri anak tirinya.
"Yeih, Papa pulang." Alda tersenyum riang dan memeluk Baskara, membuat hati kecil Zea terasa di tusuk ribuan jarum.
Baskara tersenyum dan mengasak rambut Alda penuh kasih.
“Pa, besok Alda pentas tari dalam rangka kelulusan kakak kelas, loh. bisa nggak papa sama mama dateng liat aku?” tanya Alda manja, sambil melirik sinis Zea.
“Bisa dong sayang, apasih yang nggak buat anak papa ini. Besok papa dateng deh sama mama kamu.” ucapnya dengan mengasak rambut Alda lagi.
Betapa hancurnya hati Zea saat itu, ketika papanya memilih datang ke acara anak tirinya, daripada dia yang anak kandungnya sendiri. Dengan langkah gentir gadis itu mendekati papanya lagi, dia berniat meyakinkan papanya sekali lagi.
“Besok habis dari sekolah Alda, dateng ke sekolah Zea ya, pa?” pinta gadis itu takut-takut dan menundukan kepalanya.
Seketika Baskara menoleh kesamping dan menarik kerah baju gadis itu, “saya udah bilang kan?! Kamu tuli, hah? Saya tadi bilang, biar Oma saja yang dateng, mewakili!! Saya tidak ada waktu mengurusimu!!” tubuh Zea bergetar hebat saat papanya membentaknya seperti itu.
“Tap-tapi Pa... Kata pak guru harus orangtua yang dateng,”
“Jangan berharap kamu mendapatkan tempat dihatiku anak nakal!! Saat melihatmu, mata ini menatapmu dengan penuh kebencian!! andai aku dan Gia tidak mempunyai anak sepertimu, mungkin dia masih hidup sampai sekarang!” ketus Baskara dengan menghempaskan tubuh Zea kelantai.
“Itu bukan salah Zea Pa, semua yang terjadi adalah kecelakaan semata. Maafkan Zea Pa... Pukul Zea, ayo pukul!! Tapi besok Papa harus dateng ke acara Zea.” gadis itu memohon-mohon sambil menangis memegangi kaki papanya. Bukanya iba atau bagaiamana, Baskara malah menendangnya hingga kepala gadis itu terbentur meja.
"Menyingkir!!"
🔴Flasback off.
Back to topic!!
.
.
“Emm, untuk sekarang saya nggak akan menyuruh kamu bersihin toilet,”
"Terus suruh bersihin atap sekolah, Bu?” tanya Mex ngasal, membuat guru itu mendengus kesal.
“Gini aja deh bu, saya sama Zea bersihin hati Mex aja gimana? Kan hatinya Mex itu penuh dengan debu kenakalan...” Zea menahan tawa mendengar ide gila Raka.
“Nah, itu ide bagus,” Zea mengacungkan jempolnya ke Raka, membuat Raka tersipu malu.
“Yah, kok itu sih, Ze? Masa nama elo mau di bersihin di hati gue?” geruntu Mex sambil memegangi dadanya.
BUAK!!
__ADS_1
BUAAAK!!
BUAAAK!!
Ketiga murid itu mengaduh, karena kepalanya di pukul kemoceng. Enak sekali mereka bernego soal hukuman.
"Tolong dong bu, kalau mau mukul orang bilang-bilang!!” kesal gadis itu sambil mengelus kepalanya, bu Maria tidak peduali karena dia sangat geram.
“DIAM!! Kalau ada yang berani bicara ataupun bergerak, ibu tambah ya hukuman kalian," Ancam bu Maria tegas, "jadi hukumanya adalah, tali sepatu kalian di ikat bertiga sampai pulang sekolah. Tidak sampai situ, kalian juga tetap ikut upacara dan berbaris di samping bendera, menghadap ke teman-teman kalian.” Jelas bu Maria panjang lebar membuat ketiga murid itu hanya merespon melotot tanpa bergerak ataupun bersuara, kemudian mereka saling toleh satu sama lain.
Bu Maria, menarik nafas dalam-dalam, “apa kalian keberatan anak-anak?” ketiga murid itu memilih diam dan saling melempar tatapan lagi.
“KENAPA KALIAN DIAM?!”
"BU MARIA PIKUN ATAU GIMANA SIH?! TADI KAN MENYURUH KAMI DIAM!!" Ucap ketiga murid itu serentak, membuat guru itu berdehem dan menatap obyek lain.
“Bukan pikun!”
“Lha terus?” tanya Mex gemas.
“Kepo!!” kata bu Maria singkat, membuat mereka ingin sekali mengumpati guru itu.
🔴
Raka, Zea dan Mex, berjalan menuju lapangan upacara. Zea merasa sangat malu sekali. Karena kedua sepatunya di ikat dengan sepatu Raka dan Mex, kedua cowok itu merasa senang karena bisa berdekatan dengan Zea.
“PELAN-PELAN DONG! GUE SUSAH JALAN!!” Teriak Zea saat kedua cowok disampingnya ini melangkah seenak jidat mereka.
Di sini bu Maria menyebalkan itu mengajarkan mereka bertiga harus bekerja sama.
“Pelan-pelan dong sayang suaranya, gendang telinga bang Mex ini jadi geli, tau,” kata Mex mengelus telinganya, membuat Raka memutar bola matanya malas.
“Sayang-sayang idung lo belekan!!”
Malu Zea semakin bertambah, kala mereka sampai di tengah-tengah lapangan upacara. Banyak siswa yang menertawakannya, banyak juga yang merasa kesal sekaligus cemburu. Zea jamin, Alda sekarang adalah orang yang paling kesal, karena melihat dirinya bersama Raka dan Mex.
Mengingat Mex adalah mantan kekasih Alda sewaktu dia masih SMP dulu.
Tanpa Zea sadari, tangan kanannya di gengam oleh Raka. Seolah cowok itu meyakinkannya untuk tidak cemas, dan disitulah entah kenapa hati Zea berpacu dengan sangat cepat.
Ada yang tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Zea seperti kepiting rebus, mereka tak lain adalah Vina dan Dira.
“Lucu juga ya si Zea? Mukanya itu loh seperti kepiting rebus,” Vina tidak henti-hentinya tertawa.
“Tapi kasian juga.” Dira terkekeh sambil membenarkan topinya.
Sedangkan di rombongan para cowok.
“Zea enak tuh, di apit dua cowok. Mantap jiwa, dek...” Zega tertawa sambil memukul lengan gembul Bobi, membuat si empu memasang muka garang, padahal malah terlihat lucu.
“Dasar otak ngeres!!” Bian menyentil jidat Zega.
“Otak lo belum pernah di formalin ya, Ga?” Tanya Bobi pada Zega yang kini memeluk lengannya, kemudian melepaskan dan menatap Bobi.
"Udah di sabun colek mami gue, tapi belum bersih juga." Ucapannya dengan tertawa pecah.
"Otak lo membandel, sih... Sabun aja gak cukup, mangkanya harus pakai kembang tujuh warna." Zega tidak menanggapi dan mulai berjajar rapi di ikuti Bobi, "anj, gue di kacangin," Lirih Bian merasa kesal.
Sedangkan di barisan depan, tepatnya kelas 12 IPS D, Alda dan kedua sahabatnya menatap sinis Zea.
Bianca dan Caca, dulu merasa kasihan bila melihat Alda melakukan kekejaman pada Zea, tapi sekarang keduanya juga merasa kesal karena Mex juga dekat dengan gadis itu. Padahal kedua cewek itu mengidamkan Mex, meskipun dia terkenal nakal di sekolah, tapi ketampanannya mampu memikat hati Bianca dan Caca.
“Kenapa sih, Zea selalu bisa dekat dengan kedua cowok popoler di sekolah?” kesal Bianca sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
“Bener, kita aja yang mau deketin Mex susahnya minta ampun.” imbuh Caca.
“Kalian pikir, emangnya Cuma kalian berdua yang tersakiti di sini? gue lebih sakit!” bentak Alda kepada dua sahabatnya itu.
Sedangkan celetukan siswa yang lainya seperti ini:
"Eh, itu coba kalian lihat Raka gandeng tangan Zea."
"Eh iya, dia gendengan... Padahal mereka berdua bukanya sering berantem, ya?"
"Iya, kayak Kucing dan Tikus."
....
“Oh, jadi ini alesan Mex selalu rajin berangkat sekolah.”
....
.
.
.
Selama prosesi upacara berjalan lancar dan tertib, berbeda dengan ketiga murid di samping bendera yang keringatnya mulai membanjiri dahi. Zea tampak kesal sekali, karena kedua cowok di sampingnya ini, sengaja betul menarik kakinya biar dirinya makin dekat.
“Ze, lo tau nggak apa bedanya Indonesia dengan lo?” tanya Mex menoleh ke arah Zea.
“Gak tau,” jawab gadis itu seadanya, sedangkan Raka hanya diam mendengarkan.
“Kalau kecantikan Indonesia itu punya kita bersama, tapi kalau cantik lo itu cuma Mex yang punya.” Gombal Mex sambil terkekeh.
“Lumayan juga lawakan lo,” balas Zea, membuat Raka menahan tawa.
“Ze, Lo tau nggak bedanya Mex sama gue?” tanya Raka ikut-ikutan.
“Sama-sama gak ada akhlak,"
“Hampir benar, tapi lebih tepatnya Mex itu sudah 4 tahun nggak lulus SMA, sedangkan gue enggak. Gimana besok dia mau ngajar anak coba? Orang dia gobloknya gak ada yang nyamain,”
“Kan, Zea besok yang ngajarin anak kita, yakan Ze?”
“Bisa diem nggak sih? kalian berdua cerewetnya ngalahin Vina dan Dira deh. Puyeng pala gue jika lama-lama sama kalian,”
20 menit berlalu, uapacara telah selesai dan semua pasukan dibubarkan. Tapi banyak diantara mereka yang masih setia di lapangan, melihat ketiga siswa yang masih terikat tali sepatunya.
Tapi bu Maria tidak tinggal diam dengan itu semua, dia sudah koar-koar di loud speaker bahwa semua siswa di haruskan masuk kelas secepatnya, karena untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya.
Banyak sekali diatara mereka yang mengeruntu kesal, padahal mereka ingin melihat pertunjukan murid bandel di sekolah.
Kadang mereka heran kepada Raka, padahal dulu dia adalah ketua OSIS yang berwibawa dan pintar, juga disegani, tapi kenapa dirinya sekarang berbeda sekali?
Jawabanya sederhanya, dulu Zea pernah bertanya seperti ini:
“Kenapa sih, lo semenjak udah gak jadi ketos jadi anak nakal?” tanya Zea sambil asik memakan bakso di kantin.
“Ya, karena gue profesional,” jawbnya singkat.
“What the hah apa?”
“Saat gue jadi ketua OSIS dulu gue terlalu serius, ya gapapa lah sekarang main-main biar ngak monoton terus.”
Mungkin Raka sebetulnya punya tujuan lain kenapa dirinya berubah, seantero sekolah tau Raka tidak akan bertindak bodoh untuk hal-hal remeh.
__ADS_1
Plie komen dong, gimana ceritanya😭🙏.