PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
14. Meminta Uang.


__ADS_3

**ZEA** tidak pernah merindukan siapapun kecuali oma, mama dan bang Kelvin-nya, karena baginya hanya itu yang layak dia rindukan.


Selesai menangis di pamakaman mamanya, gadis itu segera berdiri dari dududknya, di lihatnya langit saat itu begitu gelap sepeti mau turun hujan. Dia melangkahkan kakinya malas, kebanyakan orang menganggap rumah adalah tempat pulang ternyaman, tapi menurut Zea, rumah adalah neraka di dunia baginya. Di mana hanya ada penghinaan, penyiksaan dan juga ketidakadilan yang selalu di terimanya.


Dengan kecepatan tinggi gadis itu melajukan motor sportnya, dia tidak peduli banyak yang menyorakinya karena terlalu mengebut, terlebih suara kenalpot motornya sangat menganggu.


...(☞ ͡ ͡° ͜ ʖ ͡ ͡°)☞...


Raka dan Alda telah tiba dengan selamat, padahal Alda ingin berlama-lama bersama cowok itu lagi. Iya, Alda tadi berhasil mengajak Raka ke cafe beberapa saat. Tapi giliran pulang dari cafe, Raka melajukan motornya seperti kesetanan, sepertinya dia sangat kesal. Bukan apa-apa, hanya saja cowok itu berharap agar cepat sampai karena selama perjalanan, Alda selalu berbicara banyak hal tidak penting, tapi Raka tidak menangapinya.


“Turun!”


Perintah Raka yang memarkirkan motornya di depan gerbang rumah besar dengan cat warna hitam, terlihat dari luar saja sangat elegan dan mewah.


“Nggak mau!” Alda merengek lalu memeluk tubuh Raka manja.


“TURUN NGGAK, JADI CEWEK JANGAN MURAHAN BISA GAK SIH LO?!!!” bentak Raka yang membuat Alda ketakutan lalu turun.


“Kenapa sih Rak, lo itu selalu kasar kalau sama gue, sedangkan sama Zea, elo selalu baik, padahal gue itu berusaha mati-matian buat deketin lo baik-baik...!!”


“Karena gue tidak suka sama lo!!! Harusnya elo ngerti dari awal. Dengan cara lo seperti ini, membuat gue selalu muak dan terganggu asal lo tau!!” jawab Raka ketus tanpa basa-basi klasik.


"RAKAAA!!" Teriak gadis itu frustasi, kemudian dia menangis meninggalkan Raka yang bersiakap biasa saja.


Biarkan saja, Raka tidak peduli perasaan Alda, karena dia merasa ada sesuatu di hatinya untuk Zea, dan dia punya tujuan tersendiri memilih Zea. Baginya, Zea sudah berhasil memikat hatinya sejak pertama kali melihatnya kembali, dia pikir hanya sebuah ketertarikan saja, tapi rasa itu sudah lama di pendamnya tanpa gadis itu tau. Benar. Raka mencintai Zea dan sekarang dia mengakui perasaannya itu.


Raka masih saja tercengang melihat rumah Alda dan Zea, ternyata mereka sangatlah kaya raya, meskipun rumahnya juga tak kalah mewahnya dengan rumah ini. Namun yang dipikirkan Raka adalah, kenapa kedua saudara itu tak pernah akur? Sebenarnya apa yang membuat mereka saling membenci? Kira-kira seperti itu pertanyaan yang selalu memutar di benak Raka.


Tiba-tiba sebuah klaskson membuyarkan pengelihatannya.


TIIIIN!! TIIIIN!!! TIINNNN!!!


Raka hampir saja melemparkan helm fullfacenya karena sangat terkejut, gadis yang di carinya itu dia pikir sudah berada di dalam rumah, tapi dia datang dari arah belakang seperti preman yang mengklakson dirinya keras dan berhenti di samping motornya gesit.


“Dari mana aja lo?” 


Raka turun dari motornya lalu menghentikan motor gadis itu menggunakan kedua tangannya.


“Ngamen!!!”


“Serius gue Ze... Jangan bercanda.”


“Gue juga duarius bang," Jawab gadis itu santai, "ngapain elo di rumh gue?” tanyaya penasaran. 


“Ngamen!” Raka menirukan ucapan Zea, membuat gadis itu mengerjabkan matanya beberapa kali.


"Serius gue, Rak... Jangan bercanda." Kini giliran Zea yang meniru ucapan cowok itu, membuat Raka mendengus kesal.


“Dengan rumah lo yang kayak istana gini masih kekurangan uang?” Raka menunjuk rumah Zea yang menjulang tinggi di balik pagar besi kokoh.


Gadis itu mendadak terdiam tak berkutik. Jujur saja, walaupun dia anak pengusaha terkenal sebenarnya dia sama saja seperti anak yang tidak mampu di luar sana.


Bahkan sekarang dompetnya saja hanya ada angin kosong yang menghiasinya. Mana mungkin papanya mengeluarkan uang untuk kebutuhanya, apalagi untuk jajan, itu semua hanya sebuah mimpi baginya. Papanya tidak akan pernah sebaik waktu dia masih kecil dulu, yang selalu menuruti apa yang dimintanya walaupun hanya hal kecil.


“Kalau di ajak bicara itu di jawab!!! Emangnya gue ini martabak sepesial yang harus di Kacangin?” ketus Raka sambil menyentil dahi gadis itu.


“Awww-awww sakit begooo!!" Raka terkekeh sambil melipat kedua tangannya di dada. Zea mendengus dan menatap tajam Raka, "elo itu pantesnya di Cabein bukan di Kacangin!!!”


“Kok bisa?” tanya Raka dahinya menyernyit.

__ADS_1


“Kan lo punya, Terong...” Goda Zea sambil mengerlingkan matanya menatap Raka.


Zea tertawa lepas meninggalkan Raka yang di penuhi tanda tanya di kepala, tanpa Raka sadari, Zea sudah melajukan motornya kembali masuk kedalam pekarangan rumah. Dalam batinya, Zea terus bertanya-tanya kenapa cowok itu ada di rumahnya.


Tangan kanan Raka mengelus dadanya, sedangkan tangan kirinya mengaruk kepala. Kaliamat gadis itu terus memutar di otaknya, hingga dia tersadar dan menepuk jidatnya kasar.


“Astaga, Zeaaaa!!! Yakali anu gue di gituin,” Raka tertawa geli bercampur marah. Dasar cewek mesum, batin Raka dalam hatinya.


Setelah memakai helmnya, Raka segara pergi dari komplek perumahan elit itu.


Setelah memasukan motornya kedalam garasinya, gadis itu segera melangkahkan kakiknya masuk kedalam rumah, setibanya di samping ruang tamu, dia melihat Alda sedang menangis di pelukan papanya, sungguh Zea lupa kapan terakhir kali dipeluk papanya. Dia sangat cemburu akan hal itu. Kenapa si Babi betina itu menangis?? Oh, apa ini alasnya Raka datang kemari?


“Pa... Zea jahat sama Alda, Raka tadi mau nganterin aku pulang, tapi Zea iri padaku dan dia mendorongku sampai terjatuh kayak gini,” Alda menunjukan kakinya yang ada luka tapi tidak parah di betisnya, “dia selalu jelek-jelekin aku di depan Raka, Pa!!!”


Alda menangis tersendu-sendu, sedangkan Zea memebelalakan matanya tidak menyangka. Kenapa dia bicara seperti itu? Bukankah Alda sendiri yang selalu menjelek-jelekan Zea di depan Raka? Bahkan semua orang. Sialan!!


Tatapan Baskara terhenti saat melihat Zea datang, “sini kamu!” ketus Baskara sinis, “sudah berapa kali saya bilang, jangan berani-berani membuat kakakmu menangis!” memang betul, Alda lebih tua beberapa bulan dari Zea.


“What? Dia kakak Zea? Amit-amit saja ya, tapi Zea tidak sudi punya kakak yang kelakuaanya tukang fitnah menjijikan seprti dia!! Dan lagi, aku hanya mempunyai satu kakak, yaitu bang Kelvin!!! Sori ya Alda, haha. Jangan tambah nangis loh, maaf...”


Baskara berdiri dan berjalan menuju Zea, kedua tangannya terkepal kuat.


PLAK!!


Baskara sangat marah, gadis itu sudah berani berbicara seperti itu kepadanya. Dia tidak habis fikir, kenapa anaknya itu menjadi tidak terkendali seprti ini.


Zea menahan kebas di pipinya. “Ayo pukul Zea lagi!! Pukulin sampai anda puas!!! Miris sekali, anda tidak tau kebenaran yang sebernarnya tapi selalu menyalahkan Zea!!”


“Saya tidak peduli. Karena kamu selalu salah di mataku, dan jangan sekali-kali kamu mencoba menyakiti Alda atau merebut Raka darinya. Lihat saja kalau kamu berani!!"


Zea mengepalkan tangannya kuat, sebegitu sayangnya papanya itu sama Alda, sampai dia mengancam begitu padanya.


Sedangkan Alda yang berdiri di belakang Baskara tersenyum penuh kemenangan lalu menatap sinis kepergian Zea. Baskara tersadar satu hal. Zea beneran tidak lagi memanggilnya papa, membuat lubuk hatinya yang paling dalam merasa tercabik.


“Mama kemana, Pa?” tanya Alda pada Baskara.


“Tidak tau, mamamu  itu suka kelayapan nggak pernah bilang-bilang!!! Tidak tau waktu kalau pulang sampai larut malam. Bisanya cuman minta duit sama belanja terus!!! Dasar istri tidak berguna.”


Itu pertama kalinya Alda melihat papanya berbicara  ketus padanya, lalu Baskara berlalu dengan menenteng laptopnya ke lantai atas.


“Mampus!!! Kenapa mama goblok banget sih, pasti dia lagi di sana.” Geram Alda sambil meraih ponselnya dan menyuruh mamanya pulang, agar tidak mendapat amukan dari papanya.


Alda memijit kepalanya, dia pusing kalau suatu saat kebohongan tentang mamanya di ketahui oleh Baskara, bakalan runyam hidupnya kedepan. Dia tidak mau pergi dari rumah mewah ini dan jatuh miskin.


....♡(*>ω<)ω<*)♡....


Zea merasa lelah, tubuhnya bau asam dan dia harus segera membersihkan badannya. Di rogohnya kunci kamar yang ada di tasnya, lalu dia masuk kedalam. Tak lupa, dia juga menghidupkan lampu, kamar itu tampak elegan dengan cat dominan warna Hitam, dia sangat menyukai warna itu.


Setelah itu dia duduk di tepi ranjang sambil melepas sepatunya dan di letakan di rak sepatu, jangan lupakan tasnya sekarang yang baru saja di lempar ke arah kursi belajarnya. Oh tidak, lebih tempatnya hanya untuk wadah tas, di karenakan Zea tidak pernah menduduki kursi itu untuk belajar. Biasanya cara dia belajar dengan berbaring di atas kasur, itupun hanya beberapa menit saja setelahnya pasti kalian tau. Bukunya sebagai penutup muka sedangkan sang empu belajar di alam mimpi.


Menghela nafas sebentar kemudian masuk kedalam kamar mandi. Setelah beberapa saat kemudian, dia keluar dan bergegas menganti pakaiannya menggunakan celana Jeans dan Kaos rumahan.


Waktunya, me time. Namun tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu dulu.


Gadis itu tersenyum sejuta watt melihat abangnya membawakan nampan berisi makanan, “uuuh, makin ganteng aja deh abangku satu ini.” Gadis itu menangkup pipi abangnya dan mencubit hidungnya dengan gemas.


Penampilan abangnya ini sangat lucu, dia hanya mengenakan kaos pendek Stripe warna merah dan mengucir rambutnya seperti anak kecil.


“Ya jelas, tambah imut kan Abang?” Tanya Kelvin sambil menaik--turunkan alisnya.

__ADS_1


“Tentu saja. Sampai Marmut miliknya om Doni aja kalah,” om Doni itu adalah tetangga sebrang rumah mereka.


“Dasar nakal!!! Sedang muji apa ngeledek sih ini sebenarnya?”


Zea tertawa sambil menggaruk kepalanya, perasaan tadi udah keramas. Apa jangan-jangan Mex nyempil di kepalanya ya?


“Mau gak bang Zea puji-puji?” tanya Zea tak lupa mengerlingkan matanya genit.


“Boleeeh.”


Kelvin tidak bisa diam, tangannya terus saja menyisir rambutnya menggunakan tangan.


“Tapi ada syaratnya!!”


“Apa tuh? Awas aja kalau macam-macam!!” Selidik Kelvin menatap adiknya itu penuh tanda tanya.


Zea yang di tatap begitu, memasang wajah memelasnya guna menarik simpati Kelvin. “Zea... Minta uang jajan sedikit, ***-boleh kan Bang Kelponku sayang??”


Kata gadis itu malu-malu, jangan lupakan mata Zea yang di imut-imutkan seperti anak kucing, membuat Kelvin ingin sekali menoyor kepalanya.


Giliran ada maunya saja kayak gini pura-pura memelas, coba kalau tidak, pasti Zea akan mengajaknya gulat.


"Mau minta berapa?" Tanya Kelvin tersenyum geli melihat wajah Zea yabg di buat-buat.


"Selatus, Dualatus, apalagi Tigalatus juga tidak apa-apa. Satu jut-juta juga ***-boleh, hehehe. Apalagi Dua jut-,"


CTAAAAK!!


"Awwww-awwwww, sakit tau!!" Rengek Zea ketika jidatnya di sentil.


“Tanpa kamu minta, ini abang juga udah nyiapin uang untuk kamu...” Kelvin teetawa kecil melihat Zea menatapnya sengit, lalu merogoh uang di saku celananya dan di berikan ke telapak tangan adeknya itu. Kira-kira Kelvin memberikan Dua Juta Rupiah lebih untuk keperluan gadis itu secukupnya.


“Woaaah, banyak sekaleeeeey!!!" Zea memegang uang itu lalu memeluknya erat, karena selama ini Kelvin hanya mentransfer uang kepadanya, tidak memberikan uang cash seperti ini,  "Zea doain semoga bang Kelvin lekas punya pacar yang semok membahenol, serta seksi dan imoeeet seperti Zea... Hehe,” Kelvin hanya memutar bola matanya malas.


Seperti Zea darimana tadi? Aduh, sepertinya Zea harus banyak-banyak berkaca dan sadar kalau tubuhnya itu sangat tepos seperti papan pengilesan. Lagian Kelvin tidak mencari sosok wanita seperti itu. Dia hanya ingin memiliki pendamping hidup seperti mantan kekasihnya dulu.


Astaga!! Kelvin bercanda, dia terlalu gila sampai-sampai mengharapkan mantannya itu kembali.


Zea mengamati uang itu dalam-dalam di telapak tangannya, dia hanya mengambil dua ratus ribu rupiah dan mengembalikanya pada Kelvin.


“Bang ini terlalu banyak, aku ambil secukupnya saja, pas kok buat jajan nanti dan besok” kata Zea tersenyum sangat lembut.


Kelvin menyernyitkan dahinya, “loh, kok di balikin semua? gak papa dek ambil aja semua. Abang kan, Presdir sukses dan ganteng sedunia, uang segini gak bakalan nguras dompet abang kok... Percayalah.” Jumawa Kelvin, sambil teetawa kecil, tangannya menyodorkan uang itu ke Zea lagi.


"Ambil!!"


“Tidak usah, terimakasih bang sebelumya." Zea mendorong uang itu. "Nanti Zea mau balapan, lumayan bang kalau semisal menang bisa buat nyicil bayar SPP, itung-itung buat bantu bang Kelvin, hehehe.”


Gadis itu pura-pura tersenyum ceria, selama ini Kelvin yang selalu menyukupi kebutuhannya. Dia merasa tidak enak hati, karena tanpa dia minta sekalipun, Kelvin akan memberinya uang, itu alasannya kenapa dia selalu ikut balapan meskipun Kelvin sudah melarang keras gadis itu. Namun dia tetap bersikukuh ingin mandiri. Zea miris melihat ini. Papanya saja tidak pernah memberinya uang sepeserpun, lalu Kelvin yang notabennya hanya kakak tiri selalu baik padanya. Sungguh miris.


“Astaga dek, abang kan sudah bilang. Jangan ikut balapan lagi, Abang tidak suka. Kalau kamu butuh sesuatu, tinggal bilang aja sama abang, abang kerja itu buat kamu lho. Kamu pikir kalau tidak buat kamu, buat siapa lagi?” Omel Kelvin menatap gadis itu dalam, kedua tangan Kelvin memegang pundak Zea. 


“Untuk masa depan bang Kelvin... Zea itu malu karena selalu ngerepotin abang. Zea tidak mau menjadi anak tidak berguna, gak bisa di andelin!! Seperti yang di bilang pap-,” Kelvin membungkam mulut gadis itu, dia tidak tega mendengar Zea berbicara seperti itu. Hatinya sesak dan sakit.


“Jangan bilang gitu!! Kamu itu adalah kekuatan abang Ze, dan abang tidak merasa repot dengan segala kebutuhan kamu. Kamu liat kan perusahaan abang akhir-akhir ini berkembang pesat? Itu karena kamu yang selalu dukung abang selama ini. Kamu juga selalu memberi smangat pada abang, jadi abang mohon tidak usah berfikiran seperti itu...” bujuk Kelvin panjang lebar, membuat Zea meluruhkan air mata di pipinya.


Kelvin memeluk gadis itu erat, dia tidak mau kehilangan Zea bagiamanapun alasannya. Dia sudah cukup dengan kehilangan Ayah dan bundanya. Biarpun Zea hanya adek tirinya, tapi dia sangat-sangat sangat menyayangi gadis itu melebihi dirinya sendiri. Kelvin akan berjuang sekuat tenaga untuk melindungi dan membahagiakan Zea.


Dia berjanji (:

__ADS_1


SEE YOU NEXT PART!! JANGAN LUPA DUKUNGANNYA JA GUYS, PLEASE 🙏😢❤.


__ADS_2