
...Lanjut part 17🚴‍♀....
"Ini ssmua gara-gara kamu, Alda mencontohmu keluyuran!! Awas saja nanti kalo dia pulang, jangan salahkan aku bila aku melakukan menghukumnya.” Baskara marah besar, karena sampai sekrang Alda belum pulang juga.
“Mas, dia itu nginep dirumah temennya. Kamu bisa nggak sih mas, nggak usah nyalahin aku terus?”
Susanti juga kesal pada Alda, kalo sampai rencananya terbongkar bisa gawat urusanya.
“Aku hanya nggak mau nama besarku tercoreng!!! kalo sampai ada yang membuatku malu aku akan membuat perhitungan padanya, tidak peduli siapapun orangnya.” ucap Baskara dengan tegas dan segera pergi, sebelum itu, dia sempat menoleh ke arah Kelvin dan Zea.
...(0)(0)(0)...
Sepanjang perjalanan menuju kesekolah, Zea sangat riang sekali. Sudah dipastikan telinga Kelvin sakit, mendengar ocehan gadis itu sama seperti burung Beo. Tapi tak masalah, dia senang saat adeknya seperti ini.
Mobil BMW i8 Kelvin membelah Jakarta dengan begitu lincah dan mudah.
“OMO-OMO!! JUNG JAEYUN GOOD MORNING!!” Zea berteriak kala melihat foto Jung Jaehyun di ponselnya, dia juga mencium foto itu seperti orang orang gila. membuat Kelvin di sampingnya bergidik ngeri.
“Mulai deh, bisa nggak sih dek, pelanin suaranya?”
“Astaga bang, liat nih!!! calon masa depan Zea!! ganteng banget kan?” Seru gadis itu dengan semangat, dia menunjukan ponselnya ke arah Kelvin.
Kelvin melirik sebentar, “emang kamu nggak punya pacar, dek?” selidik Kelvin sambil cekikikan.
Entah kenapa Kelvin bertanya seperti itu, padahal dia sudah tau kalau Zea itu jomblo. Menyebalkan sekali bukan.Â
“Liat saja, nanti pulang sekolah aku akan membawa pulang pacar,” kata gadis itu ngasal.
Kelvin memonyor kepala gadis itu kesamping, ”mau nguntit pacar dimana dek, dek?”
“Di warung lah, hahaha,” Kelvin memutar matanya malas, tau betul bahwa Zea tidak akan pernah bisa diajak serius.
Kelvin diam sebentar, dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia ingin adeknya itu bisa dicintai cowok yang baik dan serius kepadanya. Mungkin tak banyak yang bisa membuat Zea jatuh cinta, secara Zea itu sulit untuk diluluhkan hatinya. Dia sering menolak cowok yang mendekatinya. Tapi dia yakin, suatu saat pasti ada seseorang yang bisa meluluhkan hati gadis itu.
“Dek. Nanti malem, dateng ke pesta perusahaan papa kan?” Tanya Kelvin dengan hati-hati.
Dia tidak tau, apakah papanya juga mengajak Zea. Secara dia nggak mau kalau Zea ada di sekelilingnya. Mungkin dia mengira bahwa Zea akan membawa sial baginya.
“Dateng bang. STOP BERHENTI DISINI AJA BANGKELPIIIIIN!!!” gadis itu berteriak kencang kala sudah sampai di depan WARSAMSE (Warung samping sekolah).
Kelvin mengerem mobil dengan cekatan, dia kesal sekali dengan suara maut Zea. Di Warsamse itu sudah banyak anak cowok yang ngumpul, tidak terkecuali dengan Raka dan kedua temannya. Jangan tanyakan si Bian, dia sekarang sudah ada di kelas bersama Dira entah apa yang dilakukanya. Ketiga cowok itu sekarang sedang duduk di luar Warung. Sehingga bisa melihat lalu-lalang, orang yang melewati jalan itu.
Perhatian mereka terjatuh pada mobil putih BMW i8 milik Kelvin, Raka yang paling terkejut. Dia melihat Zea yang sedang berbicara pada seorang cowok, yang menurutnya sangat tampan, meskipun dirinya tak kalah tampan juga. Apalagi kelihatanya mereka berdua sangat akrab sekali.
“Subhanallah, pucuk dicinta Zea pun tiba. Panjang umur sekali dia, baru kita omongin udah nongol aja.” Seru Bobi sambil memakan nasi uduk pesananya.
__ADS_1
Sedangkan Zega, dia sedang asik menyesap rokoknya sambil menatap Raka.
“Yaelah gan, lo cemburu liat mereka?”
“Kalo iya kenapa? kalo enggak kenapa?” ketus Raka, tapi matanya tidak lepas dari kedua insan didalam mobil sana.
“Gue kasih tau ya, Rak. Kalau elo cinta Zea, cepet ungkapin ke dia!!! Kalo sampai keduluan Mex, baru tau rasa lo!!”
“Yuhu,,,Bobi ganteng SEJUTU sekali,” Seru Bobi sambil mengacungkan garpunya keatas.
“SETUJU BOBI!!!,” Raka dan Zega berteriak bersamaan, Bobi hanya bisa cengengesan sambil mengigit garpunya.
Raka mencerna disetaiap perkataan Zega, ada benernya juga dia. Sebenarnya Hari ini, dia sudah menyiapkan sesuatu untuk Zea, Raka sudah tak tahan memendam rasa yang begitu lama.
“Itu temen kamu, dek?” Kelvin menunjuk ketiga cowok yang sedang memperhatikan merka berdua.
“Bukan temen bang!!”
“Terus?”
“Friend,”
Kelvin mengelus dadanya sambil mengelengkan kepalanya,”eh, tu cowok ganteng juga dek, kamu nggak tertarik sama dia?” Zea mengikuti telunjuk Kelvin dan berakhir pada Raka.
“Dia yang nyerobot es teh kamu di kantin?” Kelvin tertawa melihat ekspresi Zea yang begitu kesal.
“Iya, kesal banget aku bang. Songong banget si toge Raka itu, dia yang nyita sepatu Zea, dulu sering hukum Zea juga, yang nyerobot es teh Zea dikantin, yang ngasih per-,” Kelvin membukam mulut adeknya, Zea berbicara bak kereta Sinkasen yang tak mau berhenti.
“Yang nggasih permen Yupi Zea jugaaa,” Kelvin meneruskannya, karena sering sekali gadis itu bercerita tentang Raka.
“Nah iya. terus lagi ya bang, dia it-,”
“Cepat sana keluar!! nyerocos mulu kayak emak-emak, abang udah telat nih.” Kelvin kesal dan mendorong gadis itu supaya keluar.
Zea membelalakan matanya, menyebalkan sekali abangnya ini. “Sabar kali bang!!” kata gadis itu dengan kesal, “makasih bang Kelvin yang baik, yang ngangenin, yang Gan-,”
“TURUN NGAK?!!,” Tidak mau dibentak langi, gadis itu segera mencium hidung abangnya terlebih dulu, dan turun dari mobil.
Biarpun Zea menyebalkan, tapi dia selalu membuat Kelvin terhibur dengan tingkahnya. Dia melihat pungung Zea yang semakin menjauh darinya, sebuah senyuman terukir di bibir Kelvin dan segera belalu pergi.
“Ngapain kalian liatin gue kayak gitu?” seru Zea, kepada ketiga cowok yang memperhatikanya sendari tadi.
“Kita berdua duluan ya gan,” kata Zega sambil menarik paksa Bobi yang masih makan, “Badan lo makin gendut aja coy? udah nanti aja lanjutin makannya di kantin!!” Zega berbisik ditelinga Bobi.
"Hayuk lah, perut gue masih muat nampung soto dan bakso,"
__ADS_1
Zega menepuk jidatnya sendiri, "katanya mau diet?" Tanya Zega.
"Kalo tidur gue emang diet nggak makan, kalo melek gini mah nomer satu ya makan." Bobi terkekeh mengikuti langkah Zega di depanya.
Kini hanya tinggal Raka dan Zea yang ada disitu, keduanya menjadi kikuk harus berbuat apa. Degub jantung Zea terasa begitu kencang, kenapa Raka pagi ini terlihat sangat tampan, gerutunya dalam hati. Berbeda dengan Raka, dia berusaha mati-matian menormalkan gugup dan menyatukan semua keberaniannya.
“Duduk situ!!” Raka menunjuk kursi di hadapanya yang kosong.
“Ogah!!”
“Ada yang mau gue omongin!!” kata Raka serius.
“Ada apa, sih?” gadis itu, mau tak mau duduk di hadapan Raka.
Raka meraih kedua tangan Zea membuat gadis itu sedikit gugup, ditatapnya wajah Zea yang membuatnya selalu rindu. Mata Zea yang indah bagaikan permata indah milik mamanya, bau parfum yang membuatnya candu setiap kali dekatnya, dan juga kekonyolan gadis itu yang membuatnya gemas. Dia sudah lama mencintainya, dia juga berusaha mencari tau siapa Zea itu sebenarnya. Gadis itu mampu membuatnya penasaran dengan segudang pertanyaan yang selama ini belum terjawabkan.
Tangan Raka bergerak ke saku seragamnya, “Nih buat lo!!” kata Raka dengan memberikan sebungkus permen kiss rasa grape, dan diletakan di atas meja.
“Ohoho!! jangan bilang lo mau minta gue rokok lagi, ya?! Belum beli lagi gue Rak, ini aja cuman bawa korek api doang,” Ucap Zea dengan tertawa.
“Siapa yang mau minta rokok?, coba deh, lo balik dulu permennya, ini permen sepesial!!”
"Kok?"
"Iya, ini yang beli permen adek gue, dan gue colong satu kusus buat lo," Kata Raka dengan sedikit bergurau.
Dengan ragu-ragu Zea membalik permen kiss itu, matanya membulat kala membaca tulisan "JADIAN YUK" hatinya berdegup begitu kencang, disamping tulisan itu ada gambar hati berwarna merah dan pink Yang lucu.
Raka ingin mengungkapkan perasaanya dengan cara sederhana, dia tau kalau Zea tidak menyukai apapun yang berbau glamor dan mewah. Hatinya sekarang seperti konser, dia tidak tenang kalau seandainya Zea akan menolaknya.
“Maksudnya ini ap-,” telunjuk Raka mendarat di bibir pink Zea, hingga tatapan mereka saling bertemu.
“Alfa Zea Adiputra. Dengarkan baik-baik ya!! Aku sebenarnya memiliki banyak hal untuk dikatakan, tetapi kata-kataku bersembunyi di tubuhku dan aku tidak bisa mengungkapkannya. Hal sederhana yang ingin aku katakan adalah, aku mencintaimu dari kemarin, hari ini dan seterusnya. Maukah kamu menjadi pacarku?”
Zea menatap Raka dengan seksama, yang dilihatnya hanya wajah ketulusan dan tidak bercanda seperti biasanya. Zea akui, walaupun dengan cara sederhana, dia sukses mengungkapkan rasa cintanya, dia salut karena Raka berbeda dari cowok pada umumnya.
Zea berfikir sejenak, seorang Raka yang begitu tampan dan di idolakan banyak wanita, kenapa mau mencintai cewek seperti dirinya? padahal banyak wanita cantik diluar sana yang mengejarnya.
Hari ini perasaanya bimbang mau mengatakan apa, dia tidak tau perasaan hatinya pada Raka. Tapi yang jelas, dia nyaman jikalau bersama Raka, selama ini memang dia begitu menyebalakan tapi Raka selalu berhasil membuat hatinya bahagia.
“Jadi gimana Ze, mau kan jadi pacarku?” Raka membuyarakan lamunan Zea.
Tiba-tiba...
...Tiba-tiba BERSAMBUNG🤣....
__ADS_1