PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
33. Kekesalan Raka.


__ADS_3

Lanjut part 33🚴‍♀.


“Zea...!!”


Sapa Riska ibu dua anak itu berlari menghampiri Zea, matanya beekaca-kaca kala mendapati anak sahabatnya sewaktu SMA.


Riska menatap Zea dari atas sampai bawah, wajah gadis ini sangat-sangat sangat mirip sekali dengan mamanya, Zea itu solah Gia Versi kedua. Tapi soal penampilan, mereka berdua jelas sangat jauh berbeda, dulu Gia sangat feminim sekali.


Sedangkan Zea? Lihatlah, telinganya bahkan bertindik empat, rambutnya pendek tidak ada kesan perempuannya sama sekali. Namun walaupun dia begitu, malah terlihat tampan dan juga Cantik sekaligus.


Ah, Riska rasanya ingin menangis saja melihat wajah mendiang temannya sama persis di anaknya.


“Hallo tante...” Sapa Zea sambil menyalaminya, dia merasa risih ketika di tatap mama Raka seperti itu.


Pantas saja Raka dan Ricky sangat tampan, mamanya aja sangat cantik. Gumam Zea dalam hatinya mengakui kecantikan tante Riska.


Mata Riska yang semakin berkaca-kaca segera memeluk Zea sangat erat sekali, tangannya bergetar ketika memeluk tubuh mungil gadis itu. Jangan tanyakan hatinya, dia sangat sakit ketika membayangkan betapa beratnya hidup gadis ini. Andai Gia masih ada, dia sangat yakin bahwa dia akan memanjakan putri tunggalnya ini.


“Ka-kamu anak Gia?” Tanya Riska sesegukan, Zea tersenyum dan menganguk.


Tangannya bergerak menghapus air mata Riska, dia bingung kenapa mama Raka bisa tau. Sedangkan Raka terseyum pilu, melihat tingkah Zea yang sangat lembut.


Riska kembali memeluk Zea erat, entah kenapa rasanya seperti memeluk Gia, “kamu mirip sekali dengan mamamu, Nak." jujur Riska menangkup pipi Zea dan mengamati garis wajah gadis itu dengan teliti.


“Kenapa tante bisa tau kalau aku anak mama Gia?” lirih Zea gemetar.


“Karena mamamu adalah temanku waktu SMA Nak, dia berasal dari keluarga terpandang. Mamamu dulu idola satu sekolahan, banyak sekali yang menyukainya karena dia baik, cantik, lemah lembut dan sangat pemberani.” Jelas Riska sendu, “dari banyaknya cowok yang menginginkannya, dia di perebutkan mati-matian oleh dua pria hebat.” Lirihnya lagi nyaris tidak terdengar dan terlihat sedih.


Riska membawa Zea duduk dan menceritakan banyak hal. Akhirnya Zea tau, kalau mamanya dulu berasal dari keluarga sangat mapan dan terpandang, mamanya memiliki teman yang banyak sama sepertinya.


Katanya dia juga pintar dalam hal pelajaran, itu semua juga menurun pada Zea.


Karena itulah yang membuat Baskara membenci Zea. Setiap melihat anak itu, Baskara selalu saja menginggat Gia, hatinya perih perasannya tak karuan. Karena Baskara sangat menyangi mendinag istrinya itu, dia mati-matian untuk memperistri Gia. karena harus mengalahkan rivalnya yang memiliki karakter sepertinya.


Ricky dari tadi membeo tidak mengerti kenapa mama dan kak Zea menangis. Sedangkan kakaknya terus saja menatap Zea tak jemu-jemu.


“Kak Zea, kakak tau tidak? Kak Laka itu seling menculi pelmenku, lho.” Ricky mengadu pada Zea sambil menarik tangan Zea, setelah selesai berbicara dengan mamanya.


Hal itu membuat Raka melotot kesal dan Riska tertawa geli menatap putra sulungnya.


“Benarkah? Coba bilang ke kakak berapa permen yang dia curi?” ucapnya terkejut bukan main dengan menatap gemas anak kecil itu, Ricky mengerucutkan bibirnya sambil menatap Raka tajam.


Sedangkan Raka melipat kedua tangannya di dada, tidak menghiraukan tatapan adeknya yang kesal.


“Emmm, dia pelnah mengambil pelmen Yuppi dan pelmen kiss.” Ricky mengadu sambil melempari bantal kakaknya.


Dengan sigap Raka menagkap bantal itu. “Dih, dasar bocah ingusan!! Gitu aja ngadu!! Orang permen itu kakak kasih ke kak Zea kok.” Balasnya membuat Zea melotot.


Luar biasa sekali Raka Zaidan Vernando ini, bisa-bisanya dia mengambil permen adeknya lalu di berikan padanya. Sungguh low budget sekali. Riska tidak tahu apa yang di biacarakan ketiga anak itu, dan hanya mendengarkan sesekali menyernit bingung.


"Benarkah kak Zea? pasti bohong kan kak Raka?"


Zea garuk-garuk kepala menatap Raka yang menaik turunkan alisnya menggoda, "ah, it-itu benar Ricky. Tapi kak Zea tidak tau kalau itu permenmu, apakah kakak perlu mengembalikannya padamu?"


"No kak Zea!! aku pikil di makan kak Laka, kalau kak Zea yang makan mah tidak apa-apa." Ricky menangkup kedua pipinya di depan Zea, serta mengedip-ngedipkan matanya menatap wajah Zea yang sangat cantik menurutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


“Zea sayang ayo minum dulu, Nak. Kamu haus kan?”


“Iya, tante. Terimakasih banyak ya.” Jawab Zea sambil menerima meminum jus orange yang di ulurkan mama Raka, wanita paruh baya itu mengagguk dan meletakkan makanam ringan di atas meja.


“Kak Zea... Kakak besok main kesini lagi, kan? Kita main petak umpet bareng-bareng ya? dan kak Laka bial yang menjaga.” Ricky menarik-narik baju Zea, merengek maja.


"Iya Ricky, boleh kakak setuju." Zea bertos ria dengan Ricky membuat Raka terbakar.


“Tidak boleh, kakak mau ajak kak Zea jalan-jalan.” Ketus Raka menatap adeknya kesal, tebakannya benar,  pasti kalau dia senang pada Zea. Maka Raka akan di anggap sebagai hama pengaggu bagi adeknya itu.


“Kak Laka itu celewet sepelti Tawon saja, aku kan tanya pada kak Zea bukan kakak!!”


“Ricky sayang, kamu tidak boleh gitu dong. Kasian tuh kak Raka cemburu oadamu dari tadu.” Ejek Riska menatap Raka yang menekuk wajahnya marah, sedangkan Zea tertawa renyah melihat ekspresi Raka yang begitu mengemaskan.


“Pasti kakak akan sangat senang hati bermain denganmu besok, tunggu kakak kesini lagi ya?” Jawaban itu membuat anak kecil itu senang, dan memeluk Zea dengan sangat erat. “besok kita kerjain kak Raka bareng-bareng.” Zea menjulurkan lidahnya pada Raka, tidak bisa lagi dibayangkan betapa kesalnya Raka saat ini.


Hanya beberapa jam bertemu Zea, adeknya sudah bersikap seperti itu. Bagaimana kalau sering bertemu? Raka jamin dia akan di anggap angin lalu oleh Zea dan Ricky.


Dengan melangkah sebal, Raka berjalan menuju kamarnya.


“Hus-hus, pelgi saja sana yang jauh, hahaha.” Ejek Ricky memasang muka jeleknya.


Kalau adeknya ini sudah besar, sudah bisa di pastikan Raka akan memukulnya sangat keras.


“Adek, kamu tidak boleh begitu sama kak Raka.” Anak kecil itu cengengesan sambil menunjukan rapi giginya pada mamanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akhirnya Zea terbebas dari Ricky dan kakaknya yang pisesif itu, dia memutuskan membantu tente Riska di dapur, Ricky tidur dan Raka masih di dalam kamarnya untuk mandi dan ganti.


“Ze... Tante teringat sesuatu.” Riska berhenti menata lauk pauk di atas piring.


“Bukankah kamu yang nolingin tante waktu di rampok dulu?” Riska menatap wajah Zea serius, dia yakin sekali kalau itu Zea.


“Hehe, iya Tente. Itu saya yang nolongin tante, maafin Zea ya. Waktu itu Zea sedang buru-buru mau kerumah oma.”


“Tidak apa-apa, kamu keren sekali bela dirinya. Makasih banget ya, tidak tau kalau kamu tidak ada. Mungkin tante akan di hajar oleh preman-preman itu.”


Memang betul Zea sudah pintar dalam menguasai Tekwondo, dia berlatih semenjak dirinya duduk di bangku kelas 5 SD. Bahkan dia saat ini, sudah memiliki sabuk hitam. Yang mana artinya adalah dia sudah menguasi tingatan tertinggi.


“Sama-sama Tante, tidak usah begitu. Lain kali hati-hati, kalau keluar biar di anter Rak-,”


“Wah-wah, ada tamu ya?” Nando masuk ke dapur masih mengunakan jas kerjanya.


Zea melihat pria paruh baya sepantaran papanya, dia teringat penuturan Omanya kalau papa Raka adalah sahabat papanya dari kecil.


“Iya Mas, calon menantu kita.” Zea menyalami Nando dengan sopan, jangan tanyakan pipinya yang seperti kepiting rebus menahan malu.


“Makasih ya nak, kata Riska, kamu yang nolongin dia waktu di rampok di depan Cafe, benarkah?”


“I-iya Om, itu saya yang nolongin tante Riska.” Jawab Zea gugup.


“Jangan panggil tante dong, panggil mama aja.”


“Bolehkah?”


“Tentu saja boleh,” ucap kedua orangtua itu tersenyum, Riska segera memeluk Zea sayang, sedangkan Nando tersenyum tipis melihat keduanya.

__ADS_1


“Terimakasih,” mata Zea berkaca-kaca, dia sangat bahagia sekali.


Ternyata sangat menyenangkan memiliki keluarga yang hangat seperti keluarga Raka. Setelah sekian lama, ahirnya di mulutnya memangil kata "mama" lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lain sisi, Bimo sedang berada di Cafe bersama Baskara. Tau kan siapa Bimo? Dia adalah staff Administrasi di sekolah Zea.


“Baskara Adiputra, kamu ternyata masih awet muda ya? gagah dan sukses lagi.”


“Kamu juga, kita lama sekali ya tidak bertemu?”


“Iya, kamu kan mata duitan. Sibuk kerja terus.” Baskara terkekeh mendengar keluhan temannya waktu SMA itu, entah sejak kapan dia akrab karena dulu mereka jarang sekali menyapa.


“Bukan mata duitan, tapi tuntutan yang harus di kerjakan."


"Ngomong-nggomong bagimana anakku di sekolah? apakah Alda masih memilki tunggakkan pembayaran sekolah?” tanya Baskara menyeruput kopinya tenang.


Bimo tersenyum kecut, dan mengingat gadis yang dengan susah payah selalu mencicil uang SPPnya secara teratur.


“Alda, bahkan sudah memberikan uang tinggalan untuk sekolah. Tapi kalau Ze-,”


“Bagus kalau gitu, aku tidak perlu lagi membayar.”


“Baskara... Apa kamu lupa, bahwa kamu juga mempunynai Zea?"


"...."


"Ada apa? kenapa diam?"


"...." Baskara seolah tak peduli dan terus diam.


"Jawab Baskara!!"


"Apa perjanjian kerjasama perusahaan kita udah selesai, Bim? kalau sudah, aku akan pergi dan bukan urusanmu mempertanyaan pertanyaan yang tidak penting itu!!" Ancam Baskara tegas, aura kepemimpinannya sangat terlihat mendominasi.


"Aku tidak peduli kerjasama kita jadi ataupun tidak!!"


"Lalu apa maumu?"


"Apa kamu tau bahwa ZEA ANAKMU itu selalu mencicil SPP sendirian?!” Bimo menjadi emosi, melihat ketidakadilan pada Zea.


“Aku tidak peduli.”


“Hahaha, kamu ini bodoh sekali Baskara. Sangat bodoh, bahkan tidak seperti yang aku kira, aku kira Baskara Adiputra itu adalah sosok papa yang hebat tidak pengecut.”


“Apa maksudmu, Bim?!” alis Baskara menukik merasa tersindir dengan ucapan Bimo.


“Alda ANAK TIRIMU itu sering sekali menyebabkan masalah di sekolah, dia sering menindas siswa siswi yang lemah. Dia adalah gadis yang sombong dan angkuh. Dan asal kamu tahu, Zea anak kandungmu sendiri selalu menjadi sasaran Alda setiap hari.” Jalas Bimo panjang lebar, dan Baskara mencerna dengan otaknya, dia hanya terdiam.


“Anakmu Zea adalah gadis yang pintar dan kuat, apa kamu tidak bisa melihat dengan mata kepalamu? Zea memiliki kesedihan yang mendalam Baskara Adiputra. Kenapa hatimu mati rasa? Dia anak kandungmu sendiri, dan apa yang kamu lakukan?! Alda hanyalah anak tirimu saja, kamu sungguh brengsek untuk di sebut Papa.”


Baskara seolah menuli pura-pura tidak mendengar, tapi di lubuk hatinya yang paling dalam. Di hatinya yang kecil itu juga tidak tega dengan Zea, namun apa yang bisa dia lakukan? Kemarahan dan gengsi yang tinggi menampik semua rasa itu.


"Penyesalan yang paling sesal adalah, di saat semuanya tidak ada jalan untuk memperbaiki, walaupun hanya sekedar mengucpakan kata maaf." Bimo menepuk pundak Baskara dan menginggalkannya sendirian.


...BERSAMBUNG....

__ADS_1


Besok lagi yo geees, ngantuk nih.


__ADS_2