
Lanjut Part 37🚴♀.
“Non Zea... Udah non, jangan menangis lagi.” Bik Inem mendekat ke arah gadis malang itu, dan memeluknya erat.
“Bik, Zea udah nggak kuat lagi, hiks-hike... Raka kenapa berubah? Apa salah Zea?” Suara
gadis itu sangat putus asa, matanya berlinang air mata sembari memeluk pembantunya itu.
Baru beberapa jam dan hari, kisah cinta Raka dan Zea sangat romantis. Namun seketika keadaan berubah, gadis itu sangat bingung kenapa pacarnya tega membentaknya, lalu yang paling menyakitkan adalah. Dia menolong Alda ketimbang dirinya.
“Zea... Apa yang terjadi? Siapa yang membuatmu menangis? Katakan pada Abang.” Kelvin berjalan mendekati adeknya yang masih setia bersimpuh di lantai, Zea langsung memeluk Abangnya erat.
Dia tak kuasa menjawab pertanyaan yang di lontarakan oleh Kelvin, seketika tangisnya semakin pecah dan tersendu-sendu.
“Bik... Jelaskan padaku, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Kelvin menahan amarah yang terasa ingin meledak.
Nadia memeluk Zea dan mengusap-usap air mata gadis itu.
Setelah Inem menjelaskan panjang lebar, raut wajah Kelvin berubah menjadi menakutkan. Kedua tangannya mengepal dan hendak melangkahkan kakinya keluar.
“Bang... Mau kemana?” Zea berdiri dan mengejar Kelvin.
“Diamlah, Abang akan menghajar mereka semua!! Terutama Raka dan Papa!!” dengan nafas memburu, Kelvin melepaskan tangan Zea dari lengannya.
“Jangan sakiti Papa dan Raka, Bang. Zea mohon, hiks... Aku sama Raka hanya salah paham aja, hiks... Hiks.” Gadis itu memeluk kaki Kelvin dengan erat, membuat sang empu merasa tak tega. Hatinya seperti di remat, kala melihat adeknya yang sangat ceria menjadi kacau seperti ini.
Kelvin memejamkan matanya sebentar, dan menghembuskan nafasnya kasar.
Ternyata aku terlalu cepat menilai Raka, gumam Kelvin seraya mengeretakan giginya.
“Bangunlah, kamu tidak perlu bersujud atas mereka, kamu tidak pantas menangisi mereka!!” Zea berdiri dan menunduk, dia tak berani menatap Kelvin.
“Ayo kita pergi dari sini, kita tinggalkan kekejaman di dalam rumah ini.” Kelvin memegang pundak Zea, dan tangan satunya lagi mengusap air mata gadis itu.
“Belum waktunya, kasih aku kesempatan satu kali lagi untuk berbicara pada Raka. Aku mohon, Bang.” Gadis itu memohon dengan memegang kedua tangan Kelvin.
“Oke, baiklah... Tapi inggat!! hanya satu kali lagi, setelah itu tidak ada kesempatan lain. Kalau kamu tetap tidak menurut padaku, Abang sendiri yang akan membawamu paksa perg dengan berbagai carai.”
Setelah itu, Kelvin mengantar Nadia pulang. Dan Zea pergi ke kamarnya, walaupun dia tau kalau malam ini dia tidak akan nyenyak tidur.
Dengan memghembuskan nafasnya perlahan, dia mulai masuk kedalam kamarnya. Dia merebahkan separuh tubuhnya di kasur king sizenya dengan kaki yang masih menginjak lantai, tangannya bergerak ke samping untuk mengambil ponselnya.
Entah sudah berapa kali dia menelfon Raka, namun kekasihnya itu tidak mengangkatnya. Dia tak berhenti sampai di situ, lalu mencoba mengirimnya lewat pesan.
__ADS_1
5 jam telah berlalu...
Zea masih terjaga, yang mana jam itu sudah menunjukan pukul 03:00 pagi. Dengan sabar dan penuh keyakinan menunggu balasan dari Raka. Namun sampai detik ini tidak ada satupun pesan yang di balas, bahkan kekasihnya itu tidak membuka ponsel. Terlihat hanya ceklis satu dari 5 jam yang lalu. Tak terasa air matanya mengalir tanpa di perintah, lalu dia mengengam liontin pemberian Raka erat.
Gadis itu terisak kembali sambil duduk di atas kasur memeluk tubuhnya sendiri.
Di sisi lain, seorang cowok terbangun dari tidurnya. Entah kenapa dia bangun secara tiba-tiba, lalu dia teringat pada Zea. Dengan cepat, dia meraih ponselnya di atas nakas. Betapa terkejutnya dia, saat melihat panggilan tidak terjawab hampir 50 kali dan sebuah pesan 1000 dari Zea.
Tak lama kemudian, ada sebuah pesan masuk lagi.
“Sayang... Apakah kamu bermimpi aku malam ini?” Zea mengirim pesan itu sembari menangis, namun Raka hanya membiarkannya saja, lantas dia tersenyum sinis.
“AKHHH!!!” Raka berteriak frustasi mengacak rambutnya bahkan sampai memukul kasur, dia sangat membenci Zea.
Perkataan Alda telah meracuninya, dan dia percaya ucpan Alda.
“Kamu tidak benar-benar mencintaiku, kamu hanya ingin membuat Alda kalah darimu saja.” Dengan amarah yang mengebu, Raka membanting ponselnya ke lantai.
PRAAAK!!
...*****...
Pagi hari pun tiba, mata Zea bengkak dengan garis hitam di bawahnya. Menandakan gadis itu tak henti-hentinya menangis dan kurang tidur. Tanpa sarapan, gadis itu berjalan hendak keluar dari rumahnya. Sepertinya Alda masih di rumasakit, karena Papa dan Susanti juga belum ada di rumah.
Dengan susah payah Kelvin membujuk untuk mengantarnya ke sekolah, namun gadis itu tetap kekeh tidak mau.
“Abang janji, siapapun yang berani nyakitin kamu lagi. Bakalan Abang habisin orang itu, tidak terkecuali papa dan juga Raka.”
Gadis itu memberanikan diri menatap Kelvin.
“Jika Bang Kelvin melakukanya, maka sama saja dengan membunuh Zea secara perlahan. Abang tau kan, kalau mereka berdua adalah cintaku?” jujur Zea dengan suara tidak berdaya.
“Oh, jadi hanya dua orang itu yang berharaga di hidupmu? Lalu Abang kamu angap apa, hah?” bentak Kelvin membuat gadis itu memundurkan langkahnya dan menunduk.
Kelvin juga tidak tau, kenapa dirinya bisa membentak Zea. Dia hanya terbawa suasana.
“Papa dan Raka adalah cintaku, sedangkan Bang kelvin adalah nafasku. Dan aku selalu berharap, cinta dan nafasku selalu ada untukku.” Lirih gadis itu dengan menatap lantai rumahnya.
perkataan itu membuat hati Kelvin merasa di tampar, dia sangat menyesal karena telah membentak adek kecilnya itu. Seharusnya dia berbicara dengan lembuat, supaya tidak menambah sakit di hatinya.
“Maafin Abang, Abang janji tidak akan membentakmu lagi. Abang hanya hawatir kamu kenapa-napa Dek. Kamu tau kan, kalau kamu adalah semangat terbesar hidup Abang?” gadis itu menganguk dan membalas pelukan Kelvin erat.
SMA Jakarta.
__ADS_1
Seorang gadis tengah memasuki gerbang sekolahnya, menggunakan motor kesayangannya seperti biasa. Membuat pak Andan, yang setia bediri di gerbang melihat Zea seperti melihat hantu.
“Ada apa?”
Tanya Zea memberhentikan motornya tepat di depan pak Andan, lalu membuka helm Full facenya.
Gadis itu heran, kenapa pak Andan menatapnya sangat terkejut?
Ini pak Andan yang berhalusinasi atau Zea yang bermimpi? bagimana bisa gadis itu berangkat pagi sekali dan membawa Motornya masuk kedalam padhal ini bukan hari senin. Biasanya Zea selain hari Senin dia selalu saja telat, dan mohon maaf pak Andan sangat kebingungan karena sekarang adalah hari Jum'at.
Oh, atau jangan-jangan, orang ini ghost bukan Zea? Pak Andan dengan cepat menampar pipnya sendiri, lalu menatap Zea dari atas sampai bawah.
Ada kakinya kok, tidak mungkin kalau ini ghost. Gumam pak Andan dalam hatinya sambil mengusap pipinya yang panas.
“Pak Andan kenapa?” tanya Zea mengerutkan dahinya.
“A-anu, kok tumben kamu nggak telat?” tanya Pak Andan gugup, karena dirinya benar-benar sangat terkejut.
“Oh iya pak, soalnya saya mau menghitung kursi di kelas saya. Siapa tau di curi ghost teman saya semalam.” Ucap Zea membuat pak Andan mendelik, dan memundurkan langkahnya.
“Pak, ini sudah hampir jam 7 lebih loh. Buruan tutup gerbangnya sana!” perintah Zea dan segera berlalu meninggalkan pak Andan menggunakan motornya.
Dengan cepat pak Andan menutup gerbang sekolahan, dan memijit keningnya yang merasa pening.
“Jadi tadi itu beneran Zea atau Ghost?”
Belum sempat dia memikirkan jawaban, sebuah teriakan terdengar di balik gerbang.
“Pak Andan, bukain woiii!!" seru Vina dengan berteriak cempreng, membuat Bian dan Dira mengeleng-gelengkan kepala.
“Astofirullohalazim, Pak Andan!! Ini masih pagi lho, janagn ngeprank dong. Nggak lucu tau.” Bobi mengomel, dengan memakan Sari Roti yang di bawanya dari rumah.
“Wah-wah, waaaah.... pak Andan kayainya ngajak gelud ya? Ini baru setengah tujuh, masa udah di tutup gerbangnya.” kesal Zega dengan mengeleng-gelengkan kepala.
Pak Andan berbalik, dan menatap banyak siswa yang memandangnya dengan sangat tajam.
“Apakah mereka juga ghost?”
“Woeee pak!! Kami ini murid mau sekolah, bukan setan!!” ketus Zega yang langsung menggedor gerbang.
Pak Andan mengerjabkan matanya beberapa kali, dan membukakan gerbangnya. Zea memang pintar dalam hal mengelabuhi, membuat Pak Andan menghembuskan nafasnya kasar.
“Dasar gadis bar-bar, bisa-bisanya aku selalu di bodohi olehnya.” Pak Andan mengutuk Zea, dengan meremat-remat kedua tangannya marah.
__ADS_1
...BERSAMBUNG....
Gimana gais konfliknya? jangan bosen-bosen ya, tolong beri aku dukungan terbaik. Nulis dan mikir ide itu sasahnya minta ampun😢.