
NOTE: Part spesial, sampai 2000 kata lebih. Author cuman mau ngingetin, siapkan tisu atau kanebo terlebih dahulu sebelum membaca bab ini. Terimakasih, see you gais di part selanjutnya besok❤.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...HEPPYREADING 📖....
Bukan Zea kalau tidak keras kepala dan kekeh terhadap pendiriannya.
Gadis itu merenggek meminta pulang setiap menit dan detik. Dia mengancam Kelvin dan oma, kalau mereka tidak menurutinya pulang, maka Zea tidak akan segan-segan makan dan meminum obatnya.
Hal itu membuat Oma dan Kelvin kebingungan dan meminta pertimbangan dari pihak Doker, walaupun sedikit memaksa akhirnya sang Dokter menyetujuinya dengan syarat di jaga oleh dua suster profesional dan Dokter ahli di rumah. Kebetulan Oma sudah memilikinya, jadi tidak perlu hawatir.
Tapi yang menganggu pikiran Kelvin sekarang adalah, kondisi Jantung Zea semakin memburuk kata Dokter. Kalau dalam dua bulan tidak segera mendapatakn donor Jantung, maka nyawa gadis itu menjadi taruhannya.
Kelvin tentu sedih dan hancur mendengar ini, kemana dia akan mencari donor Jantung?
Walaupun mereka semua membujuk gadis itu, Zea tidak akan pernah mau. Tapi mau bagaimana lagi? Kelvin tidak mau kalau adeknya itu banyak pikiran dan tertekan, Zea dulu pernah sakit dan di wajibkan rawat inap, tapi gadis itu tidak mau karena memang dia tidak betah dengan bau obat dan semua hal yang berhubungan dengan Rumahsakit dia sangat ketakutan dan trauma yang mendalam pasca kecelakaan mamanya dulu.
Berulang kali Oma dan Nadia membujuk gadis itu, tapi Zea menggeleng kuat dan tetap ingin pulang. Lalu di mana Mex dan Deon? Ayah dan anak itu telah pergi beberapa menit yang lalu tanpa melihat kodisi Zea terlebih dahulu. Entah mereka mau kemana. Yang jelas, sebelum Mex pergi dia sempat menelfon seseorang dua kali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
PUKUL
Nadia pulang, oma juga pulang karena kondisinya sedang tidak enak badan. kini Zea bersama abangnya pulang berdua. Wajah Zea masih tampak sakit, walaupun sudah lebih baik karena sudah di infus saat di rumah sakit.
"Bang, itu kan mobil Raka. Kenapa ada di rumah kita? Apa dia mau meminta maaf padaku?" Telunjuk Zea menunjuk Mobil Raka yang terparkir di halaman rumahnya.
Kelvin mengembuskan nafasnya kasar dia terlihat menahan emosi, lalu memutar tubuhnya menghadap Zea. "Lupakan saja dia! Kamu bisa mendapatakn cinta yang lebih besar dari seseorang yang mencintaimu. Dia bukan cinta yang datang manis, lalu pergi meninggalkan luka, dia adalah Mex yang setia mencintaimu bahkan berani mengorbankan segalanaya padamu. Sedangkan Raka? inggat dia bukan milikmu lagi, jadi Abang mohon lupakan Raka." Gadis itu menunduk, mengamati sepatu sneakers putih yang di sita Raka dulu. Oh, kenapa bayangan Raka selalu di fikirannya?
Dia sangat-sangat sangat, rindu Raka.
Kalau saja Raka mau mendengarkannya sekali lagi, pasti perpisahan ini tidak akan pernah terjadi. Kenapa Raka memilih percaya dengan Alda di banding dengan dirinya? Sungguh Zea tak mengira bahwa hal ini akan terjadi.
Pernahkah kalian di posisi Zea? Masih menyimpan rasa, akan tetapi sudah bukan siapa-siapa? Layaknya sebuah kilatan cahaya, hubungan hangat itu tidaklah lama. Sampai Zea tak bisa melupakan setiap detik kebersamaannya dengan Raka.
Kelvin tersenyum dan menarik dagu Zea, di tataplah kedua mata nan indah itu, mata yang jernih dan mengambarkan banyak sekali kesedihan yang mendalam bertahun-tahun.
"kita akan pergi dari rumah ini, oke?" Gadis itu mengangguk dengan terbata-bata sedih, kali ini dia harus menurut perkataan Kelvin. Karena dia sudah berjanji.
Zea sadar, sekeras apapun dia mencoba. Raka sudah bukan miliknya lagi, dia juga akan melupakannya perlahan walaupun sepertinya tidak akan pernah bisa.
Gadis itu tau, umurnya mungkin sudah tidak lama lagi. Menginggat penyakit yang di deritanya selama 3 tahun ini, kalau boleh jujur, dia sudah tidak kuat menahan sakit di dadaya ini, semakin hari setiap malam hari sanggat menggangunya.
Lalu untuk papanya? Gadis itu tidak akan pernah sekalipun membenci papa Baskara, sekalipun dia bisa saja membencinya. Sebelum Zea mati, Zea berharap papanya memeluknya sekali saja dengan mengatakan.
''Papa menyayangimu Alfa Zea Adiputra".
Mungkin dengan cara itu, saat Zea mati dia akan merasa tenang dan tentram lalu bertemu sang mama.
"Tapi Bang, aku tidak rela meninggalkan Papa bersama dua wanita licik itu."
"Cukup Dek!! Abang sudah muak. Ingat!! Kamu sudah kehilangan dua cinta yang menyakitkan itu, mereka tidak peduli denganmu. Dan jangan berharap sekali saja kamu bisa mandapatkannya lagi, karena Abang tidak akan pernah kuat lagi melihatmu menangis di buat mereka. Sudah cukup, Abang sekarang akan lebih keras padamu karena abang sayang padamu dan kamu adalah satu-satunya yang abang miliki."
Deg!!
__ADS_1
Zea menunduk lemas, perkataan Kelvin menusuk ulu hatinya. Abangnya terlihat sangat marah, matanya memerah menahan tangis yang hendak mendobrak keluar.
"Maafkan Abang Dek, karena ini adalah jalan satu-satunya yang terbaik."
Zea menangis sesegukan matanya mengeluarkan banyak air mata, andai saja Baskara dan Raka tau, bahwa Zea memiliki riwayat Gagal Jantung. Apakah mereka akan mempunyai belas kasihan sedikitpun untuknya?
Zea sekarang benar-benar sakit, mentalnya sudah tak sekuat dulu lagi. Traumanya banyak, dia bahkan sekarang tidak segan-segan menyakiti dirinya sendiri dengan memukul kepalanya.
Bahu gadis itu naik turun, air matanya mengalir deras. Wajah pucat dan tubuh mungilnya sangat terlihat, membuat hati Kelvin serasa di cambuk. "Zea sakit bang Zea sudah tidak kuat lag-," Tangan kelvin membekap mulut Zea, dia tak kuasa mendengarnya. Hatinya hancur, air matanya mengalir juga pada akhirnya.
"Jika kamu pergi dari abang, kamu akan melihat Abangmu ini mati bersimbah darah, memotong urat nadinya sendiri." Suara Kelvin putus asa, dia bisa gila jika kehilagan Zea. Gadis kecil itu adalah semangat hidupnya, kalu Zea pergi, untuk apa dia hidup?
"Jangan bilang seperti itu Bang, hiks hiks... Zea sedih, Zea merasa tidak berguna menjadi adik yang baik. Bang Kelvin masih punya masa depan bersama kak Nadia, hiks..."
Zea memukul dada Kelvin, lalu memeluknya dengan erat seolah dirinya takut jika abangnya ini kelak akan berubah seperti Raka.
Zea harus bagaimana? Bahkan rasa sakitnya saat ini sunguh luar biasa di bagian dada, apakah dia masih bisa bertahan hidup?
"Masa depan Abang hanya dua, menikah dengan wanita pilihanku dan membahagiakan Adek kecilku ini. Abang akan mengikutimu kemanapun, abang tidak akan pernah mrlepaskanmu," Suara Kelvin gemetar.
Beberapa detik berubah menjadi menit yang panjang. Setelah itu, mereka saling bergandengan tangan erat turun dari Mobil dan melanglahkan kakinya masuk kedalam rumah besar bak istana maharaja ini.
CKLEK!!
Mata Zea menyapu seluruh ruangan, terdengar suara tawa dari ruang makan. Itu artinya, Alda sudah pulang dari ruamahsakit. Apakah Raka yang menjemputnya di raumasakit?
Gengaman Kelvin semakin erat di tangan Zea, hal itu membuat Zea semakin tegar.
"Ayo..." Zea mengangguk dan menuju lantai dua, tapi tunggu. Ada sesuatu yang mengangu pengelihatnnya di meja makan itu.
Apakah dia salah melihat, tidak mungkin. Itu memang benar Raka.
"Rak-Raka...?" panggil gadis itu pelan, tepat di hadapan mereka, lalu melepaskan tangannya dari Kelvin.
Mata Raka dan Zea saling bertemu, mereka semua menoleh dan menatap sengit Zea. Kelvin hanya bisa berdiri di belakang gadis itu, dengan mengembuskan nafasnya begitu panjang.
"Ngapain kamu pulang? Masih punya muka untuk bertertatapan dengan kami?" Suara Baskara, membuat tatapan Raka mengalihkan ke objek lain.
"Ak-aku hanya ing-," Zea menunduk lemas.
"Cukup!! Sekarang kamu harus minta maaf pada putriku, anak sialan!!" ketus Susanti menatap Zea tajam, sedangkan Alda tersenyum penuh kemenangan.
"Dia tidak bersalah, kalian lah yang bersalah. Terutama elo Rak, nyawa lo sekarang aman karena Zea melarang gue untuk menghabisi kalian semua terutama kalian berdua!" Kelvin menatap Baskara dan berahir pada Raka sangat tajam.
Dada Raka bergemuruh, perkataan Kelvin sungguh memberikan tamparan keras pada hatinya. Mata Raka melirik Zea sekilas lagi, dia ingin sekali memeluk gadis itu, dia sangat-sangat rindu. Apakah Zea juga merindukannya yang brengsek ini?
Entah menagapa, dia ingin menangis. Melihat tubuh Zea yang semakin kurus, wajahnya pucat dan matanya bengkak. Apakah dirinya salah langkah, dengan memutuskan Zea?
Sunguh, Raka tidak tau harus bagaimana. Hatinya bertolak belakang dengan ucapan yang dia katakan saat di Taman.
"Apa kamu tidak dengar, apa yang di katakan mamaku?! Lihatlah Rak, dia bahkan tidak punya urat malu. Setelah membuatku masuk rumahsakit dia tidak mau meminta maaf." Sinis Alda, namun Raka hanya diam seribu bahasa.
"Ak-aku minta maaf, dan aku berjanji setelah ini kalian akan bahagia karena aku akan pergi dari rumah ini."
Dengan penuh keteguhan, dan menahan rasa perih di dadanya, Zea mengatakan itu dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
DEG!!
Hati Baskara dan Raka sakit mendengar itu, sedangkan Susanti dan Alda tersenyum senang.
Kepala keluarga itu, menatap putrinya dari atas sampai bawah. Anaknya itu terlihat begitu menyedihan, bahkan sudah hampir 8 tahun lebih dia tidak lagi melihatnya secara jelas dan memperdulikannya sedikitpun. dia selalu mengabaikan Zea dan selalu memberikan gadis itu kekejaman.
Tapi entah kenapa, setiap kali melihat wajah anaknya itu, Baskara selalu melihat mendiang istrinya, itu alasanya kenapa dia sangat membencinya. Gia seperti terlahir kembali, karena wajah Zea sangatlah mirip dengan mamanya. Hal itu, seperti bomerang bagi hati Baskara.
Kelvin mendekat, dan mengengam tangan Zea dengan erat.
Kemana Zea akan pergi? mereka semua tidak tahu, dan Raka dan Baskara adalah orang yang ingin tahu kemana Zea hendak pergi.
"Tapi sebelum aku benar-benar pergi dari rumah ini, aku ingin mengatakan sesuatu." Gadis itu menatap Papa dan Raka bergantian.
"Papa, papa Baskara tahu tidak? Kalau papa adalah cinta pertama Zea sampai kapanpun?" perkataa ini sukses membuat Baskara tidak baik-baik saja, hatinya merasa sakit dan sedih mendengar ungkapan ini.
"Jaga kesehatan ya Pa setelah aku pergi, Zea tidak bisa mengompres papa diam-diam saat papa sakit, Zea tidak bisa membuatkan kopi diam-diam lalu di antar bik Inem untuk papa lagi, Zea tidak bisa lagi mendatangi kamar papa dan memeluk papa diam-diam di tengah malam. Zea tidak akan pernah bisa lagi Pa. Hiks-hiks.... Zea tidak akan pernah membenci Papa, Zea nakal seperti ini hanya ingin mencari perhatian Papa saja, setelah ini Zea janji tidak akan membuat papa marah lagi. Zea akan pergi, Zea akan pergi sangat jauuuh." Gadis itu menangis, air matanya tumpah tak terkira.
Kelvin tidak kuat mendengar ini semua, Raka tampak syok dan terpukul, hatinya merasa lemah mendengar ucaan Zea.
Sedangkan Baskara melemas, seberapapun dia benci anaknya itu. Tapi entah kenapa saat dia mengatakan itu, rasanya sangat sakit sekali menusuk ulu hati di bagian terdalamnya. Apalagi saat mengetahui perbuatan Zea yang diam-diam sangat peduli padanya, bahkan sering menyelinap masuk kedalam kamarnya untuk memeluk dirinya saja.
"Dan untukmu Rak... Kamu tetap nomor dua setelah Papa. Aku titip salam untuk keluargamu dan Adikmu, tolong sampaikan maafku padanya. Karena kemarin adalah pertemuan pertama dan terakhir Ricky denganku. Jaga dirimu baik-baik, ya? Aku tau kamu adalah anak yang baik dan pintar, semoga kamu selalu bahagia kedepan dan mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dariku. Semangat juga sebentar lagi Ujian nasional. Suatu saat nanti, aku akan pergi sangat jauh, dan kamu tidak akan bisa menemukanku walaupun kamu mau menginginkannya lagi. Maaf bila aku mempuyani salah denganmu, yang jelas tuduhanmu padaku itu semua tidaklah benar, karena aku menyayangi dan mencintaimu tulus. Terimakasih telah memberikan warna sedikit indah di hidupku yang penuh kegelapan ini."
Entah apa maksud Zea, tapi Raka sedih tak terkira, dia malu menatatap Zea bahkan dia merutuki kebodohannya sendiri. Apakah dia sudah salah langkah? yang jelas dirinya saat ini sangat menghawatirkan kondisi Zea, apa maksud Zea dia akan pergi jauh dan dirinya tidak bisa menemuinya lagi?
"Maaf..."
Ribuan kata yang ada di benaknya, kini hanya satukata terlontar dari mulut Raka, lidahnya sangat kaku, dadanya bergemuruh, otaknya kacau. Dia tak kuasa melihat Zea sedikitpun lagi yang berdiri di sampingnya, yang jelas dia hanya ingin berlari dan memeluk gadis itu seperti kemarin dan meminta maaf. Tapi tubuhnya berat dia tidak kuasa.
Zea tersenyum dan menagangguk pelan merespon Raka, "Papa... Bolehkan Zea memelukmu satu kali saja? Sebentar saja, Zea mohon." gadis itu mendekat ke arah papanya, dan melepas tangannya dari Kelvin yang sejak tadi panik dan sedih tak tergambarkan.
"Dasar tidak tau diri, memang seharusnya kamu perginya dari dulu!" sinis Susanti dengan menatap Zea dengan tatapan jijik.
"Bagus deh, kalau lo pergi. Gue udah maafin elo, gue kira lo nggak punya keberanian diri untuk meminta maaf."
"Jaga mulut lo Bed*bah si*lan!! Yang tidak punya harga diri itu kalian semua!! Awas saja jika terjadi sesuatu setelah ini, aku benar-benar akan menghabisi kalian tanpa sisa!!" Geram Kelvin, menatap mereka semua bergantian dengan tatapan yang sangat tajam dan aura yang mendominasi, membuat mereka semua ketakutan juga.
"CUKUP!" tegas Baskara keras merasa kesal dengan setiap ucapan Alda dan Susanti.
"Jadi bagimana Pa, bolehkah aku memelukmu? Sekali saja, setelah ini Zea akan pergi kok. Janji..." Gadis itu berdiri di samping papanya menunggu penuh harap.
"Pergilah dan kemasi barang-barangmu."
Jawaban Baskara membuat gadis itu tersenyum kecut, bahkan dia hanya meminta di peluk saja. Sebelum dia mati dengan rasa sakit di dadanya ini. Sunguh menyedihkan sekali hidupnya ini.
"Jaga diri baik-baik ya, Pa. Maaf dan terimakasih banyak, Zea selalu sayang sama papa Baskara. Meskipun Papa tidak sayang lagi pada Zea." Ucap Zea dengan menahan mati-matian sakit di bagian dadanya, lalu mengusap pundak papanya tiga kali sangat lembut dan di usapkan di dadanya sendiri, hal itu membuat rasa nyerinya berkurang sedikit.
"Iya." Jawab Baskara datar, tanpa menoleh Zea.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG.
Apa Reaksi kalian setelah membaca bab Ini? tulis di komentar ya plisss aku pengen tahu.
__ADS_1