
"HABIBI! COME TO DUBAI!"
"S̄wạs̄dī thuk khn s̄bāy dī h̄ịm klạb mā xīk khrậng kạb c̄hạn."
Terdengar seorang pria berasal dari Thailad duduk tak jauh dari meja Raka dan Zea, tepatnya di sebuah restoran mahal kawasan UAE.
Pasangan pengantin baru itu menahan tertawa susah payah, melihat betapa hebohnya orang di sebrang Meja sana yang sangat heboh senditi dan sangat berisik dalam meriview makanan, sepertinya dia food floger.
"Sayang setelah ini kita jalan-jalan ya, oke?" Mohon Zea memelas setelah selesai makan.
"No. Setelah ini kita kembali ke kamar lagi dua jam lagi kita akan terbang ke Barcelona kan? sebelum itu kita buat Raka junior," Raka mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak mau!" Zea mendengus mengerucutkan bibirnya, membuat suaminya gemas.
"Kenapa tidak mau? Katanya kamu ingin anak kita sepantaran dengan anak Dira, Vina dan Ina." Goda Raka sambil menaik turunkan alisnya genit, membuat Zea menelan ludah kemudian melototi horor suaminya yang sangat kuat dan tidak lelah sedikitpun sejak kemarin.
Beberapa detik setelahnya, wanita itu meletakkan dahinya di atas meja saking malunya, jangan tanyakan kedua pipinya yang sekarang merah menyala seperti Tomat.
"Aisssh! Kenapa kamu mengingatnya sih? Bikin aku malu saja! Bukan berarti kita bikin setiap menit setiap jam ya, jangan bercanda kamu."
Raka tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya, melihat istrinya merajuk seperti anak kecil yang protes tak setuju. Perlahan Raka membelai kepala istrinya dan wajah Zea dia angkat untuk memandang dirinya, debaran jantung berpacu hebat saat suaminya yang sangat tampan itu menatap dirinya sambil tersenyum.
"Baiklah tuan putri kita jalan-jalan, tapi ambil jaket dulu ke kamar, oke? harus nurut! Aku tidak mau kamu sakit, nanti papa Baskara marah padaku jika membuat putrinya sakit." Raka mencubit hidung Zea gemas, membuat istrinya itu berbinar senang, sesaat setelahnya Zea memanyunkan bibirnya lucu.
"Kenapa lagi?" Tanya Raka mengerutkan dahinya.
"Kamu sejak kemarin membuatku kesakitan dan lemas apa kamu lupa?" Wajah Raka memerah padam karena malu sambil menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.
"Maaf sayang."
"Oke, asal jangan di ulangi lagi." kata Zea tanpa memikirkam suaminya yang langsung memelas.
"What? maksud kamu jadi kita tidak bikin Raka junior lagi?"
"Tidak!" Zea menahan tawanya susah payah, sedangkan Raka melotot kemudian meraup wajahnya gelisah.
Bagaimana mungkin dia kuat menahan, apalagi Zea istrinya itu selalu terlihat cantik dan seksi haya dengan menatap bibirnya saja.
"Kamu tega jika aku bermain sendiri?"
"Tega tidak tega sih."
Raka mengusap wajahnya kembali, sedangkan Zea tertawa lepas sambil memeluk suaminya itu erat dan menempelkan wajahnya di dada bidang Raka menghirup aroma maskulin yang sangat memabukkan.
"Aku cantik tidak?" Tanya Zea tiba-tiba.
"Selalu cantik sayang. Sungguh." Raka menangkup pipi Zea dan mencium bibir istrinya yang membuatnya candu, membuat Zea tersenyum.
"Jika aku pergi darimu lagi, kamu sedih tidak?"
"Tidak."
"Tidak sedih katamu?!" pekik Zea tertahan dan berkaca-kaca, Raka mengangguk kuat membuat perempuan itu semakin jengkel ingin memakan bulat-bulat suaminya.
"Yaudah aku pergi lagi ya, kali ini aku akan pergi lebih jauh." Zea melepaskan tangannya memeluk pinggang Raka, namun pria itu menahannya kuat.
"Boleh pergi jauh, tapi bersamaku." seketika wajah Zea berubah malu dan menyembunyikan wajah merahnya itu di dada Raka lagi.
Serasa dunia milik berdua, pengantin baru itu saling bermesraan dan tidak pernah berjauhan semenjak akad, bahkan ke kamar mandi sekalipun keduanya bersama. Tak bisa di pungkiri bahwa mereka saling merindukan satu sama lain, perpisahan yang cukup lama dan perjalanan cinta mereka yang rumit membuat pasangan ini memiliki rasa cinta yang dalam.
Raka menggangam tangan istrinya erat, berjalan meninggalkan restaurant, kedunya asik berbincang satu sama lain, membuat pasangan itu tak menyadari ada seorang pria dari arah berlawanan memakai baju casual sibuk memainkan ponselnya, matanya tidak terlihat karena memakai kaca mata hitam.
BRUUUK!!
Seolah sengaja, pria dari arah berlawanan itu menabrakkan pundaknya di tubuh Raka.
"Heiii Mister! just throw away your phone and focus on walking! (Heiii tuan! buang saja ponselmu dan fokuslah kalau berjalan!)" Zea memarahi orang itu yang membelakangi keduanya tanpa menoleh dan meminta maaf, malah dia tidak berhenti memainkan ponselnya.
"Oke, sorry."
Pria itu membuang ponselnya itu tetap berjalan santai meninggalkan pasangan itu, Raka dan Zea tampak tak asing dengan suara ini.
Raka dan Zea saling tatap-tatapan, kemudian berjalan mengejar pria itu, Raka menarik lengan kiri pria itu sedangkan Zea sebelah kanan, membuat pria misterius itu tersenyum.
"MEXXXXXX?!"
Pekik Raka dan Zea bersamaan, keduanya sangat syok mendapati Mex berada di sini dengan tampang sok coolnya.
__ADS_1
"Apa sayang?" Mex menaik-turunkan alisnya menggoda Zea, membuat perempuan itu melotot dan suaminya naik darah.
Raka langsung memukul kepala Mex dan menyentil telinganya, "jaga bicaramu dasar Bekantan!" Mex mengusap kepalanya mendapat elusan kasar dari suami perempuan pujaan hatinya.
"Bekantan katamu?" Mex emosi melepas kacamatanya kasar dan menatap tajam Raka, "daripada elo Hiu Goblin!!!" seketika Raka juga naik pitam mendengar ejekan rivalnya itu.
"Dasar Blobfish!" sengit Raka tak kalah galak menatap Mex tajam.
"Dasar Tikus Mol!"
"Dasar Aye-aye!!" Raka berkata ketus dan sangat kesal sekali.
"Dasar Kelelawar Afirika!"
"Dasar Burung Condor California!"
Zea yang geram berjalan pergi meninggalkan keduanya yang asik beradu tak mau kalah.
"Ini semua gara-gara elo dasar Hiu Goblin, Zea jadi marah kan sekarang?!"
"Memang itu tujuannya." seloroh Mex tersenyum bahagia, wajahnya sangat santai dan kembali memakai kamatanya lalu melangkahkan kakinya mengikuti Raka dan Zea lagi tanpa dosa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BURJ KHALIFA LAKE.
Raka dan Zea sedang berpelukan hangat, mereka tepat berada di Danau buatan Burj Khalifa Lake. Terlihat lampu-lampu indah menyala menambah kesan romantis semakin menjadi, kedua pasangan ini saling menatap satu sama lain, kedua tangan Raka memegangi kepala istrinya sedangan Zea memeluk pinggang suaminya itu erat menjadikam tubuh keduanya sangat menempel.
Baik Raka ataupun Zea menelan ludah masing-masing, setelahnya pria itu mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir Zea yang merah merona membuat Raka selalu candu. Perempuan itu memejamkan matanya saat bibir suaminya telah mendarat sempurna di bibirnya. Disela-sela ciuman Raka berucap pelan.
"I really love you darling."
DRRRRRRRTTT!!
DRRRRRRRTTT!!
Ponsel Raka yang berada di saku jaket berbunyi, membuat Zea mendengus dan ciuman mereka terlepas, ini bukan kali pertama saat berciuman ponsel suaminya itu berbunyi. Menyebalkan sekali.
"Siapa sih? jangan bilang itu asisten pribadimu lagi ya!" perempuan itu menekuk wajahnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
Zea masih tampak kesal, Raka buru-buru mengeluarkan ponsel laknatnya karena bunyi telfon yang tidak henti-hentinnya. Saat ponsel telah sempurna hendak keluar dari sarangnya, dering telfon itu mati. Membuat Zea semakin mendengus kasar, begitu pula Raka yang tampak menahan emosi. Belum sempat Raka menyalakkan ponselnya untuk melihat siapa penganggu yang mencoba mengusik kemesraannya tiba-tiba ponsel yang berada di saku jaket istrinya juga berbunyi.
Zea semakin marah, wajahnya tampak merah padam, membuat suaminya yang memandang bergidik ngeri. Istrinya ini sangat galak dan sedikit lucu saat seperti ini.
"Sepertinya ada yang sengaja menganggu kita deh sayang."
Raka berucap, sambil merogoh ponsel couple milik istrinya di saku jaket, karena Zea masih melipat kedua tanggannya di dada.
"Bang Kelvin pasti!" tuduh Zea tanpa berfikir panjang.
Raka menggepalkan tangannya, saat tau siapa penelfon di sambungan layar istrinya itu.
"Bukan Bang Kelvin."
"Lalu?"
"Hiu Goblin." pekik Raka kesal, Zea seketika mendengus kasar, jika Mex berada di hadapannya dia pasti akan memukul kepala pria itu.
"BERHENTI GANGGU KITA BERDUA BISA TDIAK?!" Ketus Raka saat menekan tombol hijau ke atas.
Mex yang dari tadi tak jauh dari mereka tertawa renyah, "sorry Tikus Mol!" jawab Mex meledek, membuat Raka semakin kesal, Zea mengambil ponselnya dari tangan Raka, kalau tidak begitu pasti kedua pria ini akan saling mengejek seperti anak kecil.
"Katakan ada apa kau menelfonku? di mana kau sekarang, hah? jangan bilang kamu mengikuti kita berdua lagi Mex! aku benar-benar akan memukulmu sungguh!"
"Ow-ow ow! lihat ke belakang sayang aku ada di sini, hehehe."
Raka dan Zea memandang satu sama lain, kemudian membalikkan badannya kebelakang dan benar saja, pria itu berdiri tak jauh di belakang mereka sambil memegang telfon dan tertawa renyah, apalagi Mex juga melambaikan tangan membuat pasangan suami istri itu semakin kesal. Belum sempat Mex memberi tahu sesuatu, dua buah ponsel melayang ke arahnya tanpa aba-aba di udara.
Iya, saking emosinya Raka dan Zea tanpa berfikir panjang melemparkan ponsel mereka ke arah Mex bersamaan dan apa kalian tau? kedua ponsel itu mendarat sempurnya di wajah Mex membuat sang empu kesakitan.
"Hey-hey hey! kurang ajar kalian! wajah tampanku ini bukan tempat pembuangan ponsel tau!" pekik Mex yang menangkap ponsel Zea susah payah agar tidak terjatuh, sedangkan ponsel Raka dia abaikan jatuh mengenaskan.
Raka jengkel, tentu saja. Bukan karena ponselnya yang pecah, justru dia sangat senang ketika benda pipih itu mengenai wajah Mex begitu kencangnya tadi, yang membuat dirinya kesal adalah, ketika Hiu Goblin itu menagkap ponsel istrinya dengan sempurna membuat Raka cemburu setengah mati.
"Up! sorry Rak, ponsel lo tidak gue tangkap."
Seloroh Mex santai, kemudian berjalan ke arah pasangan itu, tak lupa kakinya dengan sempurna tanpa dosa sedikitpun menginjak ponsel Raka membuat pemiliknya kesal. Pria bersetatus suami Zea itu mengepalkan kedua tangannya erat, melayangkan sebuah bogem yang akan mengenai wajah Mex kembali, namun pria kempr*et itu segera menangkisnya.
__ADS_1
"Gue sudah menjadi sasaran ponsel sialan lo itu, jangan harap elo bisa membelai wajah gue lagi!"
Mex mendengus menatap Raka dan memberikan ponsel Zea sambil berjongkok di bawah perempuan itu seperti hendak melamar saja gayanya, Zea meraup wajahnya kasar dia tidak habis fikir dengan pria gila satu ini.
"Ini ponselmu sayang." Raka menyahut ponsel istrinya itu dan menonyor kepala Mex ke samping, membuat Mex mendengus kasar.
"Sekali lagi kau memanggil istriku dengan sebutan sayang, gue benar-benar akan merobek mulut jaharamu itu!"
Mex menghela nafasnya berat dan berdiri, menatap Raka sengit dan beralih tersenyum menatap Zea senang, wajah Zea di malam hari tampak sangat cantik dengan balutan jaket berwarna Coklat tua itu. Raka menarik tangan Zea berada di dekatnya membuat Mex memutar bola matanya malas dan melirik jam arloji di tangannya.
"Lihat Di Burj Khalifa ada wajah kalian!" Mex menunjuk kedepan, membuat Raka dan Zea menoleh.
Benar, di bangunan pencakar langit itu terpampang jelas foto Priwwed Raka dan Zea yang sangat romantis dan serasi menggunakan baju pengantin.
HEPPY WEDDING RAKA AND ZEA.
Pasangan pengantin baru itu terharu membaca ucapan itu, keduanya takjup, apalagi Zea yang sangat bahgia wajahnya terpampang sangat cantik di bangunan pencakar langit itu, Raka juga sangat tampan. Keduanya berpelukan hangat, mengabaikan sang pemberi hadiah yang tampak menyedihkan di belakang mereka memeluk tubuhnya sendiri.
Zea semakin bahagia saat kembang api begitu indahnya mewarnai langit malam ini, Raka mengecup dahi Zea berulang kali. Para pengunjung Burj Khalifa bertepuk tangan dan mengucapkan selamat pada pasangan pengantin itu yang entah sekarang di mana. Banyak pasangan yang merasa iri melihat keromantisan itu.
Tidak kurang tidak lebih dari tiga menit, akhirnya gambar itu menghilang, namun senyum Raka dan Zea tidak memudar kemudian menoleh ke belakang, mereka tau kalau ini adalah Mex yang telah mengusahakan untuk keduanya.
Setelah menoleh ke belakang, Raka terkejut melihat hewan buas di tangan Mex sedangkan Zea tidak, malah Zea tersenyum senang.
"Thank you Mex, tadi sangat luar biasa."
Mex hanya mengangguk sebagai jawaban, seperti haya memberikan hadiah kecil saja. Padahal untuk memasang foto atau Video di gedung Burj Khalifa itu harus merogoh kocek hampir satu Millar untuk waktu Tiga menit saja. Angka yang fantastis, namun bernilai kecil bagi Mex.
"Heeeey, Rexy how are you? Apa kau merindukanku sayang? Oh, wow, kamu tambah besar dan sangat tampan ya?"
Zea berjongkok di depan Macan putih itu dan mengusap-usap wajahnya, membuat Rexy menggerakkan kepalanya di tangan Zea gemas, hewan itu sepertinya merindukan perempuan itu. Zea tertawa geli saat hewan buas itu bersandar di pundaknya seolah mengatakan bahwa "Rexy rindu ibu" membuat Mex dan Zea tertawa bersamaan.
"Kebiasaan!!" Mex memukul pantat Rexy gemas.
Raka melongo, dia tidak berkedip melihat istrinya berinteraksi dengan hewan buas tanpa rasa takut sedikitpun, setelahnya dia merasa sangat cemburu melihat Mex dan Zea sedekat itu sedangkan Macan putih itu seperti anak mereka saja.
"Sayang, ayo kemarilah! Rexy sudah jinak dari kecil, dia tidak akan menggitmu, sungguh." Raka menggelengkan kepalanya cepat.
"Takut kan lo sama Rexy? Haha, dasar Tikus Mol!" Raka tak membalas, Zea mengerti dan berdiri menghampirinya membuat Hewan buas itu hendak mengikuti Zea, "Rexy come on, stop!" Macan putih itu tak mendengarkan Mex, dia tetap bergerak maju membuat Mex kewalahan.
"Rexy menurutlah sama majikanmu! senang sekali bertemu denganmu, tapi maaf aku harus pergi cepat, aku dan suamiku akan terbang ke Barcelona setengah jam lagi." Zea menggengam tangan suaminya erat, dia tau kalau Raka cemburu padanya sejak tadi.
"Sekali lagi kami sangat berterimakasih padamu ya Mex, kamu berlebihan sekali." kata Zea tulus, melihat Mex yang sibuk menarik Rexy kewalahan, padhal biasanya Rexy akan menurut pada Mex.
"Iya, sama-sama. Hati-hati di jalan."
"Dan jangan mengikuti kami lagi." imbuh Raka datar.
"Tidak janji." seloroh Mex tak kalah datar, membuat Zea tertawa dan menarik tangan suaminya untuk pergi.
"Rexy come on please! GASTON! RENALDI! Kenapa kalian diam saja bodoh! Rexy mau ikut ibunya bantu gue SIAL*N!!"
Dua bodyguard berbadan kakar itu segera mendekati bossnya dan mengambil alih Rexy di tangannya.
"Kalian tadi seperti keluarga kecil. Aku cemburu." sindir Raka, tapi Zea hanya tertawa kecil sambil memeluk tangan suaminya.
"Ayolah sayang, jangan cemburu seperti itu."
"Jika tidak ada aku di dunia ini, apakah kamu akan menikah dengan Mex?" Tanya Raka di sela-sela langkah kakinya yang beriringan dengan Zea.
"Tidak. Jika kamu tidak ada di dunia ini berarti aku juga tidak ada. Kan kita adalah sepasang jodoh, jadi kalau satu tidak ada maka yang satunya pun juga tidak ada. Bumi sama lagit, Bulan sama bintang, siang sama malam. Raka sama Zea, hehehe."
Raka tersenyum gemas dan mencium tangan istrinya sayang, Zea juga sangat mencintai dirinya, itu yang harus Raka tanamkan dalam hati.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.
Ada yang masih ngikutin cerita ini?😭. Maaf telat up😭. Sayaaaang kalian semuanya❤. Maaf ya jika selama ini ada komen yang belum terbalas atau kesalahan yang author buat yang jelas cerita ini semoga memberikan kesan yang baik untuk kalian dan ada pelajaran baik yang kalian petik, yang jelek di buang saja ya hehe.
See you kapan-kapan, kalau ada waktu lagi aku bakalan up exstra bab lagi kok❤🤗.
__ADS_1