PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
22. Besement.


__ADS_3

**PUKUL** 22:20 menit pesta telah selesai dan berjalan sangat lancar, akan tetapi tidak untuk Baskara sendiri.


Semua media masa memotret Baskara dan Zea, gadis itu tau betul bahwa papanya tersenyum dengan sangat terpaksa. Dia membohongi mereka semua, seolah membuktikan bahwa dia sayang pada Zea. Semua orang tak tau senyuman palsu itu, yang mereka tau adalah keluarga Baskara Adiputra yang sangat sempurna dan di idam-idamkan banyak orang.


Andai semua orang paham, bahwa tidak semua hal yang kita lihat itu seperti yang kita kira.


“Ikuti saya!!!” Perintah Baskara dingin, saat selesai pemotretan, Zea hanya mengangguk patuh.


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka berdua telah sampai di Besement. Tangan Baskara sendari tadi mengepal semakin kuat hingga kukunya memutih, matanya memerah menahan amarah. Rahagnya mengeras bak Singa kelaparan.


“Apa yang kau lakukan tadi, Hah!?” ketus Baskara dingin, dengan menatap Zea sangat tajam.


“Yang mana?” jawab Zea dengan menatap sekeliling Besement, dia menghindari berkontak mata dari papanya.


“TATAP SAYA!!” teriak Baskara ketus, suaranya mengema. “Sudah saya ingatkan dari kemarin, jangan buat saya malu kan, lalu apa yang kamu lakukan tadi, hah?!!” cercanya lagi dengan amarah mengebu-gebu.


“Saya tidak membuat Anda malu, saya tadi hanya mengatakan fakta saja kok. Tidak seperti Anda, yang mengatakan banyak kebohongan.” Sindir Zea yang hatinya mulai tak karuan, tiba-tiba dadanya sakit dan sesak.


“Tapi saya malu mengakuimu sebagai anak, kamu tak pantas menjadi putriku anak nakal!!” perkataan itu terus tersimpan di memori Zea, padahal papanya dulu sering memangilnya tuan putri bahkan sangat memanjakanya.


“Oh jadi anda malu dan Zea tidak pantas di anggap putri? Satu hal yang harus anda tau, perkataan itu tidak akan mengubah fakta yang sebenarnya. Tapi Zea tidak peduli lagi dengan itu kok. Terus mau Anda apa? Hahaha!!”


PLAK!!


Gadis itu memegangi pipi kanannya yang terasa kebas namun tidak merintih kesakitan, dia seolah sudah kebal dengan tamparan dan hinaan papanya sendiri. Zea pun tersenyum miris pada papanya, lalu memajukan lagi pipinya yang kiri.


“Ayo pukul yang satu lagi!! Kalau tamparan ini membuat Anda puas lakukan lagi!! kalau perlu bunuh aku sekalian!! biarkan saja aku menyusul mama!! mama pasti hanya merindukanku saja, bukan anda yang pengecut ini!!”


PLAAAK!!


Tanpa berfikir lama, Baskara melayangkan tangannya lagi ke pipi kiri Zea kesetanan. Tapi gadis itu tersenyum menahan sakit, bibirnya mengeluarkan darah, kini kedua pipinya telah memerah semua.


“Bagus sekali tamparanmu PE-NGE-CUT!! Boleh Zea pringatkan?! Suatu saat nanti, jangan sampai Anda menagisiku bila Zea pergi jauh dan tidak akan pernah kemabali lagi, camkan itu baik-baik, Zea tidak bercanda!!”


Gadis itu menatap tajam papanya, dia tidak peduli jika harus di tampar ataupun dipukul lagi.


Bagaikan Singa kelaparan, Baskara menarik dagu Zea dengan tangan kekarnya. “Dan aku tidak peduli akan kepergianmu kelak, memangnya kau ini siapa yang akan membuatku bersedih setelah kepergianmu?!”


“BASKARA LEPASKAN ZEAAA!!” teriak Oma dengan jalan tergesa-gesa dengan di ikuti Body gurad di sekelilingnya.


Wanita tua itu tampak menangis melihat keadaan cucunya, sekaligus merasa sangat marah tak terkira pada sang putra.


Kelvin mengacak rambutnya frustasi, dia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Sedangkan Susanti dan Alda, tersenyum mengejek Zea.


“Apa yang kau lakukan padanya, hah?!!” ketus Oma dengan memeluk Zea yang di dorong papanya kasar.


“SADAR BASKARA!! SADAAAR!! Kenapa kamu jadi kejam seperti ini?!! Apa otakmu lupa jika dia adalah darah dagingmu sendiri?!”

__ADS_1


Zea menangis, sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh akhirnya lolos juga.


Oma segera melepas pelukan, dan mendekat ke arah Baskara yang sepertinya tak peduli dengan perkataan mamanya. Walapun Baskara adalah anaknya, dia tak segan-segan untuk memukulnya. Selama puluhan tahun oma menunggu kelahiran cucunya itu, maka jangan heran kalau Zea sangat di sayangi olehnya.


PLAAAK!!


“Ma ak-,”


PLAK!!


“Kenapa mama menam-,"


PLAAAK!!


“Kamu ini adalah orangtua yang tidak berguna dan brengsek Baskara!! Allah memang adil, dia cepat mengambil istrimu, karena Gia tidak pantas jika terlalu lama bersanding denganmu. Papa macam apa dirimu itu, hah?! Jika kamu malu memiliki anak Zea, maka aku lebih malu lagi memiliki anak sepertimu!!”


Jantung Baskara bergetar hebat saat mamanya mengatakan kalau dia malu mempunyai anak sepertinya. Rasanya begitu menyakitkan, tapi dia tidak berfikir sedikitpun di posisi anaknya.


“Sudah ma, cukup. Jangan pukul mas Baskara lagi.” Pinta Susanti, melihat oma yang mau melayangkan tangannya lagi.


“Cih. Jangan pangil aku mama!! Sampai kapanpun, aku tidak akan sudi mempunyai menantu licik sepertimu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengangapmu menantu, ingat itu baik-baik!!”


Bregsek sekali ibu tua ini, jikalau kau tidak memiliki power yang kuat dan punya orang bayaran di sekelilingmu sudah kubunuh kau dari dulu!! Sialan. Kesal Susanti dalam hatinya.


Baskara kesakitan dengan tamparan mamanya, dia memegang satu pipinya yang panas. Baru kali ini mamanya berani menamparnya, sebegitu sayangnya pada Zea hingga dia tega memukul Baskara.


“Kenapa mama menyalahkan aku? Gia meninggal karena ulah anak nakal itu, ma!!”


“Biarkan dia sendiri!!"


Perintah oma pada Kelvin, namun oma bukan membiarkan Zea pergi begitu saja. Dia tak ingin cucunya melakukan susuatu yang ceroboh. Dengan mempunyai body gurad yang kekar dan baju serba hitam, oma mengode beberapa di antara mereka untuk membuntuti Zea.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TAMAN.


Gadis itu berada di taman kantor, dia menangis tersendu-sendu. Lalu matanya melihat ke arah langit, langit malam hari ini sangat indah. Dengan rembulan terpancar terang benderang dan hamparan bintang sebagai pelengkapnya. Seolah langit itu bilang padanya, "jangan bersedih tuhanmu selalu bersamamu. Dan mamamu tak senang melihatmu menangis seperti ini. Kamu gadis yang kuat, kebahagiaan akan selalu meyertaimu"


“Ma... Zea kangen. Hiks hiks.” bahu gadis itu naik turun.


“Tidak ada yang menyayangiku, jemput Zea, ma. Hiks hiks.”


“Maafkan Zea, Zea tidak bisa menepati janji mama untuk tidak menangis. Hati Zea sakit ma, sakit. Rasanya sudah tidak kuat lagi, tuhan maafkan aku, aku selalu menyerah, aku lelah aku lemah... Hiks-hiks...” ucap gadis itu sambil memegangi dadanya yang terasa perih.


“Jangan pernah bilang ssperti itu lagi. Kata siapa tidak ada yang menyayagimu?”


Kini Raka telah berdiri tepat di belakang gadis itu mambuat Zea terkejut, hampir kewalahan Raka mencari Zea. Karena kantor ini sangat besar dan luas, dan juga banyak tamu undangan yang masih lalu-lalang di sana.

__ADS_1


Raka berjalan mendekati gadis itu, lalu memegang pundak Zea dengan lembut. Di tatapnya kedua netra gadis itu tampak memerah, dengan hidung sembab dan ingus hampir menetes.


Raka tersenyum, melihat muka Zea. Gadis itu tampak imut ketika menangis. Kali ini, dia tidak terlihat bar-bar seperti biasanya. Dan juga jiwa-jiwa tomboynya seakan hilang seketika.


Sroooot...srooot...!!


Zea mengusap ingusnya dengan lengan kemeja yang di pakainya. Membuat Raka mengelus dadayna sambil geleng-geleng kepala. Lama sekali Raka menatap gadis yang di cintainya itu.


“Kenapa menatap gue seperti itu?”


“Kamu itu jorok sekali,” ejek Raka, membuat Zea mengerucutkan bibirnya, air matanya malah jatuh kembali antara masih sedih dan kesal ingin memukul orang di depannya ini.


“Ya sudah, pergilah jika lo jijik!!” ketus Zea, mengusir Raka.


“Apa kau tau, aku mencarimu sampai salah mengira orang, betapa malunya aku tadi, dan setelah menemukanmu dengan susah payah, kau mengusirku begitu saja? Jahat sekali kamu wahai Nona Zea Adiputra!!” kesal Raka sambil berkacak pingang, kini dia sudah seperti bapak-bapak yang memarahi anak perempuannya.


“Cerewet!!”


“ZEAAA KAUUU!” Raka menuding Zea gemas sekali ingin menoyor kepalanya seperti biasanya.


Tanpa basa basi lagi, Raka langsung memeluk gadis itu erat sekali. Zea menangis di pelukan Raka, dia menarik nafas dalam-dalam dan mengehembuskanya perlahan. Lalu membalas pelukan Raka.


Tuhan, izinkan aku menjadi pendamping hidup dan mati gadis ini. Aku sangat mencintainya setelah mama dan papa, aku tak rela bila air matanya terjatuh walupun setetes saja. Batin Raka dalam hatinya yang merasa sedih.


Raka mengusap air mata Zea perlahan yang masih memeluknya.


“Khem!! Udah puas belum?” tanya Raka menahan tawanya.


“Maksud lo?!” tanya Zea tanpa melepas pelukannya, sambil memejamkan matanya.


“kamu itu suka banget meluk aku, hahaha.” Cibir Raka membuat gadis itu menunduk malu. “Eeh, maaf.” Zea langsung melepas pelukannya dan mundur dua langkah.


Zea sangat malu, sudah dua kali dirinya memeluk Raka seperti itu. Gadis itu tak sadar, apa yang dilalukannya. Namun yang dia rasakan sekarang hanyalah sebuah kenyamanan dan ketentraman.


“Aku tidak mau berbasa basi lagi, dan cepat berikan jawaban padaku!”


Zea tampak kebingungan. “Jawaban apa?” tanya Zea pura-pura lupa.


“Jangan pura-pura lupa!! Aku telah menyatakan An-anu tadi pagi," Raka gelagapan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“An-anu apa?” tanya Zea menahan tawa susah payah, membuat Raka semakin gemas.


“Amnesiamu tidak mempan padaku hari ini, Ze. Cepat beri aku jawaban!! Atau aku akan...”


“Akan apa?” tantang Zea dengan melipat kedua tangannya di dada.


“Menciummu!” goda Raka dengan menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Gadis itu masih terdiam, tetap bengong seperti sapi ompong. Seolah dirinya sedang bicara pada oppa kesayangannya, dan gugup mau mengatakan apa.


“Aku tanya sekali lagi, maukah kamu menjadi pacarku Alfa Zea Adiputra?” tanya Raka dengan berjongkok di bawah gadis itu, sambil memegang sebuah dompet khas cowok berwarna coklat terang.


__ADS_2