PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
25. Kekesalan Riska.


__ADS_3

DI kediaman rumah Vernando, Nando sedang membaringkan Ricky putra bungsunya di kamar. Istrinya terus saja memanggilnya, katanya ada yang mau di bicarakan penting.


Setelah menyelimuti Ricky, sang kepala keluarga itu berjalan menuju kamarnya. Sepulang dari pesata, Nando sempat heran kenapa istrinya selarut ini belum tidur juga, sambil berjalan ke kamar, Nando menggulung kemejanya sampai ke siku. Papa dua anak itu masih sangat tampan, umur Nando hanya lebih beberapa tahun dari Baskara.


“M-mas... Jadi an-anak yang tadi anu, yang di TV dan Baskara.” Tanya Riska mama Raka saat suaminya memasuki kamar.


“Ma, kamu ini ngomong apa? pelan-pelan dong!!” Nando tertawa mendengar istrinya berbicara sangat cepat dan berlibet.


“Hiiih, mas aku serius. Jadi yang di Televisi  tadi beneran anaknya Gia dan Baskara?”


“Iya, sayang. Dia pemberani seperti Gia kan?” Nando memandang istrinya dengan penuh arti, mengingat istrinya dulu sangat dekat dengan Gia.


Riska dan Gia memiliki hubungan yang sangat dekat, kedunanya sering kemana-mana bersama. Tapi semenjak kematian Gia, dia tidak pernah lagi kerumah Baskara. Bahkan dia sampai lupa pada anak Gia, sebenarnya Riska ingin sekali menemui anak itu. Akan tetapi dia tak suka dengan istri kedua Baskara, alasanya karena setahu Riska, Gia dan Susanti adalah sahabat dekat. Namun entah apa yang terjadi sehingga Baskara menikahi sahabat mendiang istrinya itu. Riska sangat kecewa akan hal itu, Nando juga.


“Iya, mas. Malang sekali anak itu, hiks...hiks. Mas, aku mau ketemu anak Gia. Pokoknya aku harus ketemu dia.” Rengek Riska dengan menangis tersendu-sendu.


“Mas, apa kamu tau? Anak Gia yang telah menolongku saat aku di rampok preman beberapa waktu yang lalu. Aku yakin sekali dia pasti Zea, aku mengigat betul wajahnya sama persis yang ada di TV, hiks hiks.”


“Jadi yang selama ini kita cari adalah anak Gia? Apa kamu yakin sayang?” Nando terkejut mendengar penuturan istrinya, mereka mencari gadis yang menolong istrinya, selama ini. Bahkan Riska sering mengunjungi Cafe itu, dengan niatan supaya bisa bertemu sosok gadis yang menolongnya.


“Iya mas, aku yakin banget 100%.”


“Syukurlah kalau gitu, biar Raka besok ajak Zea main kesini.” Ucap Nando seulas senyuman, mengingat putranya bersama di taman.


“A-apa kamu bilang, mas?! Raka kenal anak Gia?!” tanya Riska tak percaya.


“Iya, ma. Kayaknya mereka deket banget. Apa teman sekolah Raka yw?”


“Apa yang sering di ceritain Raka ke mama adalah anak Gia, ya, mas?” tanya Riska pada suaminya dengan memegang dagunya.


Bagaimana kalau seandainya kalian di sukai seseorang dan kamu sering di ceritain ke orangtuanya? Itu yang Raka lakukan, dia sering menceritakan tentang Zea pada mamanya. Dengan antusias, Riska tertawa saat Raka menceritakan tentang kekonyolan gadis itu tanpa menyebutkan nama Zea.


“Jangan kebanyakan mikir, cepatlah tidur!! Besok akan tau jawabanya kalau Zea sudah kesini.”


“Aku sangat bahgaia mas!! Rasanya nggak sabar pengen ketemu anak itu, ngomong-ngomong Raka mana mas? Kok belum ikut pulang?”


“Dia nonton balapan,” jawaban Nando membuat istrinya terkejut, memang betul Nando tadi membuntuti kemana putranya pergi bersama Zea.

__ADS_1


“Awas aja kalo dia pulang, mama akan memukul dia pakai sapu ijuk!!” geram Riska megepalkan tangannya geram.


Nando terkekeh melihat kekesalan istrinya. “Udahlah ma, jangan gitu. Toh dia perginya sama anak Gia kok, papa tadi sempet liat mereka berpelukan.”


“SERIUS MAS!” Saking terkejutnya Riska menarik kerah baju suaminya.


“Ma, kamu ini selalu saja agresif, hahaha.” Nando mengoda istrinya sambil tertawa manja.


“Mas, jangan bercanda ih, beneran apa tidak?”


“Tanya aja sendiri pada putra kita,” dengan langkah kesal, Riska berjalan menjauh dari sumainya.


“Ma?”


“Apa?”


“Mau tidur?”


“Iya lah, mas. Kamu membuatku kesal saja.”


“Kita nggak bikin adek dulu buat Raka dan Ricky?” Riska melirik tajam suaminya dan langsung berbaring, dia tidak menghirakukan tatapan menggoda suaminya yang hanya bercanda.


Di lain sisi🏠.


Kelvin berjalan mondar-mandir di kamarnya, semenjak kepulanggan dari pesta, Kelvin memikirkan kemana adek bar-barnya itu pergi. Untuk menenangkan fikirannya, Kelvin membuat kopi di dapur. Rumah tampak sepi, Baskara sudah tidur di kamarnya sejak tadi. Sedangakn Alda dan Susanti tidak ada di rumah, katanya mau menginap di rumah temen Susanti. Entah benar atau tidak, bodohnya Baskara mau mengizinkannya.


Tiba-tiba ponsel di saku celana Kelvin berbunyi, tanda sebuah telfon masuk. Dengan sigap dia mengambil lalu mengangakatnya. Dia kira itu dari adalah adeknya, ternyata telfon dari oma.


“Assalamualaikum, ada apa oma? kenapa malam-malam menelfon?” tanya Kelvin mengapit ponselnya di antara pundak dan kepala.


“Waalaikumsalam. Kamu belum tidur, Kel?”


“Mana aku bisa tidur? Zea belum pulang, oma!”


“Jangan risaukan adekmu, oma sudah kirim pengawal untuk menjaga mereka berdua.” Ucap oma terkekeh geli.


Kelvin menyernyitkan keningnya, Mereka berdua?! Memangnya Zea dengan siapa? Batin Kelvin dalam hatinya.

__ADS_1


“Zea lagi sama Raka, oma yakin anak Nando pasti menjaga Zea dengan baik.”


“Apa?! Mengapa oma bisa tau?”


"Apa kamu lupa siapa omamu ini, Kel?!" Tanya oma terkekeh geli, Kelvin lupa bahwa oma bukanlah orang sembarangan.


Nyonya besar Adiputra memiliki harta dan tahta yang berlimpah ruah, jadi sangat mudah melakukan apapun keinginannya.


"Hehe, iya juga ya." Kelvin terkekeh.


“Yaudah, oma cumn mau bilang gitu. Tidurlah nak, selamat malam sayang.” Oma berkata lembut dan mematikan sambungannya.


Pasti Zea ingin membeli kado ulangtahun untuk Kelvin seperti biasanya. Batin Oma dalam hatinya.


Sedangkan Kelvin tidak sadar, bahwa sebentar lagi usianya akan bertamabah. Yang selalu di fikiran Kelvian hanyalah Kerja-kerja dan Zea adeknya saja. Karena itu adalah warna bagi kehidupannya. Tidak ada hal yang lebih penting  dari pada dua hal itu.


Di kawasan Jakarta, jam sudah menunjukkan pukul 23:30. Yang artinya, 30 menit lagi Kelvin akan bertambah uisa satu tahun. Kini Zea dan Raka sedang duduk di dalam sebuah toko kue, menunggu roti pesanannya jadi. Mata Zea terlihat sudah sangat sayu, menandakan bahwa dia sedang mengantuk berat.


“Rak...” pangil gadis itu, dengan menyandarkan kepalanya di pundak Raka.


“Hmm, iya sayang?”


“Sejak kapan kamu mencintaiku?” Raka menangkup wajah Zea, dan menatapnya dalam-dalam.


“Sejak kapan aku juga tidak tau. Tapi dengan membuatmu kesal setiap hari, itu menjadi salah satu hobiku dari dulu. Aku pikir aku hanya tertarik padamu, namun setelah sekian lama aku baru menyadari, bahwa kamu telah bersemayam dihatiku, dan memutar di benaku segiap hari."


Jujur Raka panjang lebar, menatap raut wajah gadis itu serius. Zea menatap Raka dengan Rasa bahagia, karena telah dicintai lelaki yang baik hati dan juga pengertian.


"Tapi banyak cewek yang mengejarmu, dia lebih cantik dariku. Kenapa kamu memilihku?" Tanya Zea penasaran, pasalnya pacarnya ini sungguh tampan.


Raka tersenyum. "Karena kamu berbeda sayang, kamu memiliki hati yang baik, tidak mudah di gapai, kamu pemberani, aku tidak peduli dengan wanita di luar sana. Yang jelas di matamu kamu adalah berlian dari jutaan orang yang aku kenal." Zea meneteskan air mata, lalu di usap dan di peluk oleh cowok itu.


"Sekarang kau tidak boleh menangis, kamu harus lebih terbuka lagi padaku." Raka ingin sekali mengetahui lebih jauh tentang Zea, tentang semua masalahnya dan dia akan menghapus luka-luka di kehidupan gadis itu.


"Terimakasih ya? Jangan pernah berubah seperti yang lain, aku mencintaimu." Zea memeluk erat Raka.


"Aku juga sangat mencintaimu, Alfa Zea Adiputra."

__ADS_1


...BERSAMBUNG....


__ADS_2