
GUGUN pulang dari Mall buru-buru menuju kamarnya, dan melempar baju yang di belinya tadi ke muka Mex, yang masih setia di kasur empuk miliknya berleha-leha tak berdaya.
“Nggak ada akhlak banget sih lo ini ****** Man, main lempar-lempar ke muka aja, kan jadi nggak suci lagi muka, gue.” Protes Mex memunggut, sebuah jaket berwarna Hijau, Black t-strit , celana Jeans dan Semp*k Berwarna abu-abu.
“Muka lo emang gak suci dari dulu, Mex...” Gugun nyengir, membuat Mex sangat geram.
Tiba-tiba suara ponsel Gugun berbunyi keras, membuat keduanya terlonjak kaget. Yang membuat Mex bergidik ngeri adalah, suara ponsel Gugun yang memiliki suara aneh.
Memory daun Pisang, nanana nana!!
Memory daun Pisang, nanana nana!!
Memory daun Pisang, nanana nana!!
“Cepet angkat bego!! Kesel sendiri gue dengernya.” Ketus Mex, apalagi melihat Gugun seperti syok melihat siapa penelfon.
“Aduh... Ini gimana ngagkatnya? Zea yang nelfon gue Mex. Tangan gue kaku, gak bisa di gerakin.” Gugun panik karena tangannya gemetaran.
“Serius lo?”
Pekik Mex segera loncat dari Kasur lalu mendarat tepat di hadapan Gugun, dan benar saja. Kalau Zea yang menelfon.
“Gimana Mex? Aduh... kok gue gerogi gini sih? Biasanya Zea itu Cuman kirim pesan aja ke gue.”
Mex meraup mukanya sendiri, badannya juga panas dingin, sedikit cemburu juga. Kenapa malah Gugun yang di telfon? Dia saja yang ngirim pesan setiap hari, malah tidak pernah di balas satu kalipun.
“Ayo Gun kamu pasti bisa.” Gugun menyemangati dirinya sendiri dan mulai menekan tombol hijau ke atas, sedangkan Mex melotot sambil menahan nafasnya.
“Ha-halo Zea sayangku, cintaku, bebyku yang cute. Ada apa telfon aku sayang?” Sapa Gugun ngasal, membuat Mex geram dan memukul lengan Gugun.
“Loud speaker,” bisik Mex pada Gugun, dia hanya menurutinya saja.
“Sayang-sayang pala lu PEANG?!” semprot Zea di sebrang sana membuat Mex menahan tawanya, sedangkan Gugun menghembuskan nafasnya kasar.
“Bantuin Gue dong Gun, gue punya pekerjaan penting!!” inilah Zea, biarpun dia lagi sedih, namun dia pintar menutupinya. Dia harus ceria, sedih boleh tapi seporsinya saja.
“Boleh, dengan senang hati. Bang Gugun siap kok bantu dedek Zea.” Gombal Gugun membuat Mex di sebelahnya pura-pura mau muntah, memegangi perutnya, dasar mantan Buaya cap Kampak.
“Jadi gini... Gue itu lagi nyari spesies bernama Mex Alexsander, gue gak tau dia di mana dan sedang apa. Yang jelas, tolong anak-anak Jakmoge suruh cari Mex sampai dapat. Pokoknya, Mex harus ketemu sebelum nanti malam.”
Mex sangat terkejut, dia tidak salah dengar kan? Ah, tentu saja tidak. Sehabis kemarin mengupil, dia juga membersihkan Telinganya kok. Tapi kenapa seorang Zea mencari dirinya? Aneh sekali.
“Apa? Gue lo suruh nyari Mex?” tanya Gugun melirik Mex, dia seperti hendak pingsan, saking girangnya di cari Zea.
“Iya, mau kan lo bantuin gue?”
"Tidak perlu di cari Ze... Karena Mex menjadi gelandangan di rumah gue.” Kata Gugun dengan menekankan kata ‘gelandangan'.
“SERIUS LO?!” teriak Zea di sebrang sana, membuat Gugun menjauhkan ponselnya, suara maut Zea mungkin bisa saja menjebolkan speaker di ponselnya itu.
“Iy-,”
“Oke, gue langsung ke rumah lo sekarang juga. Tidak salah gue milih lo jadi kaki tangan gue sejak dulu. Terimakasih Gun, lo emang sahabat the best.” walaupun cuma di gituin, beh jangan tanya hati Gugun. Sakit dong tentunya, padahal kan dia ingin di angap lebih.
TUT!!
Mex dan Gugun saling pandang, dan beberapa menit kemudian saling melengos. Namun wajah Mex sedetik kemudian berubah menjadi serius.
“Kok Zea nyari gue ya, Gun?” tanya Mex menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
“Mana saya Tahu saya kan Gugun Adiantara, gue pikir dia bakalan ngajakin gue kencan entar malam.” Geruntu Gugun kecewa menutup kembali ponselnya.
“Halu lo ketinggian wahai anak Keropi, yang ada Zea nggak Like sama lo!!” ucapan nylekit itu, membuat Gugun menatap sinis Mex.
“Halah, lu kalau di ajak kencan Zea juga mau kan?”
“Ya jelas mau dong, masa nolak cewek yang mati-matian pengen gue miliki.” Ucap Mex menuju kamar mandi, Gugun ingin sekali memukul kepala Mex dia sudah berasa jadi tamu di rumahnya sendiri.
Selama di kamar mandi, otak Mex berfikir keras, sambil memakai Sempa* barunya yang sangat pas. Mex heran, kok Gugun bisa tau ukuran sempaknya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seorang gadis berlari menuju parkiran tergesa-gesa, dia tak peduli teriakan para temannya. Namun langkahnya terhenti, saat melihat Raka melewatinya dengan keadaan muka yang lebam-lebam parah, baju cowok itu tampak berantakan tak seperti biasanya yang rapi. Zea ingin sekali menghampirinya, namun....
Sudahlah....
Dia ingin kekasihnya itu menyendiri dulu, Raka juga butuh waktu. Raka yang menyadari ada yang memperhatikan, menoleh ke arah Zea. Pandangan mereka langsung terpaku, tapi Raka memutusakan pandagan itu lebih dulu dan segera pergi menjauh dari Zea.
Zea menarik nafasnya dan memejamkan matanya sebentar, “Rak... Aku rindu,” gumamnya dalam hati yang berkecamuk.
🔵🔵🔵
"PERMISI UNCLE GUGUN!! MAU NGAMBIL PAKET SAYA SEBUAH TUBUH BERNAMA MEX!!" Teriak Zea tepat di depan pintu.
Ting... tong!!! Ting...tong!! Ting... Tong!!
Tak henti-hentinya, gadis itu memencet bel rumah Gugun.
Gugun menghela nafasnya berat, dan berjalan ke arah pintu, dia membuka pintu dan terlihatlah, gadis berambut pendek dengan wajah galak seprti biasanya. Kalau boleh jujur, sebenarnya dia masih ada rasa dengan Zea. Entahlah, yang jelas Gugun sudah mencoba melupakannya, namun keistimewaan Zea menurutnya sangat berbeda karena terus melekat di hatinya.
Kenapa mata Zea apa dia baru saja menangis? Batin Gugun dalam hatinya.
Memang betul, Zea sering bermain ke rumah Gugun. Para anak-anak geng Jakmoge juga sering kesini, karena kedua orangtua Gugun sedang berkerja di Amerika, jadi bebas mau ngapain saja.
“MEX!”
Teriak Zea ketika mendapati cowok yang di carinya turun dari anak tangga, langkahnya sok cool, gayanya seperti Z Tao, mantan personil EXO saja.
“Yolo?”
“Lo itu ya dasar kampret!! Kenapa lo nggak sekolah? Udah mau Ujian Nasional, lo mau menua di SMA sampai 5 tahun?!” Zea memukul, mencubit, bahkan menendang Mex.
Dia mau melemparnya dengan tas, namun tasnya kosong melompong tidak ada isinya. Percuma aja.
“Aw aw aw, hentikan Ze. Hentikan, sakit tau!!” Gugun menyoraki Zea untuk menghajar Mex, dia merasa terhibur dengan mereka, tidak ada orang yang berani memukul Mex kecuali Zea. Bahkan Deon pun tidak pernah.
“Ayo pulang!!” Zea menarik tangan Mex paksa.
“Ke KUA dulu dong sayang, maen pulang-pulang aja. Biar SAH dulu dong.” Mex cekikikan menatap Zea menggoda.
Gugun yang mendengar langsung memegangi mulutnya seperti mau muntah.
Ucapan Mex, membuat gadis itu berkacak pingang lalu menatap cowok menyebalkan di depannya ini sambil menaikan satu alisnya.
“Mata lo kenpa?” Mex meraup wajah Zea lalu menatapnya intens, dia yang tadi bercanda berubah menjadi sangat serius.
“Kelilipan Gajah di Bonbin.”
“Zea come on!! Apakah ini ulah Raka, kenapa dia ngizinin lo untuk jemput gue?”
__ADS_1
Dia tau kalau Raka dari dulu adalah rivalnya, kalau mereka saling bertemu pun saling melempar tatapan tajam seperti Singa bertemu Singa.
“Tidak, lupakan saja. Sekarang ayo pulang, papa lo sudah menunggu du rumah!” Ajak Zea tegas, sembari menarik tangan Mex paksa.
Tunggu... Kenapa Zea mengenal papa? Apakah papa pergi ke sekolah? Gumam Mex menatap Zea menelisik.
“Dia bukan papa gue, untuk apa gue pulang?” Mex melepaskan tangannya dari Zea halus.
“Lalu siapa lo, hah?” cowok itu tidak bisa menjawab lalu terdiam, “JAWAB GUE MEX!! kalau om Deon bukan papa lo, lalu dia yang merawat lo dari kecil lo anggap apa, hah?!” sarkas Zea menuding cowok di hadapannya penuh kekecewaan.
“Plis jangan paksa gue, Ze! Lo nggak tau rasanya jadi gue!!” Cowok itu memohon, membuat gadis itu tersenyum miris.
“Jadi ini balasan lo berterima kasih pada orang yang mengadopsi dan membesarkan lo sendirian?! Gue yang ingin kasih sayang dari seorang Papa aja bahkan tidak pernah gue dapetin, sedangkan lo?!” Zea memukul dadanya sendiri dengan kuat, sembari menahan tangis yang hendak pecah.
Gugun yang mengetahui bahwa Mex hanya anak Adopsi, menutup mulutnya mengunakan tangannya. Mex berhadapan dengan orang yang tidak tepat, gadis ini juga bisa merasakan seperti apa yang dia rasakan, mengingat papanya yang sangat kejam itu.
“Tapi gue benci itu, lo jangan mancing gue, ya!! Kenapa baru sekarang dia mengatakan kalau orangtua gue masih hidup beberapa tahun yang lalu? Oh, gue tahu, Papa Deon hanya membeliku saja. Orang kaya memang semuanya sangat serakah!!” bentak Mex membuat Gugun menjauhkan gadis itu di hapadan Mex.
Tapi sebelum tangan Gugun menarik tubuh Zea, gadis itu lebih cepat menampar pipi Mex sangat keras.
PLAKKK!!
“Gue nggak nyangka pikiran lo bakalan sepicik ini, papa lo sayang banget sama lo Mex! Dia sampai memhon-mohon sama gue demi elo! Sadar Mex sadar!! Mungkin saja dia menyembunyikan tentang orangtua lo itu ada maksud tersendiri yang elo tidak berusaha untuk bertanya padanya. Brengsek lo Mex, gue benci banget sama lo!! gue benci elo!!” Zea menangis tersedu-sendu, dia sendiri tidak tau kenapa air matanya jatuh begitu derasnya.
Hatinya sekarang mudah sekali tersingung, mungkin batinnya sudah sangat lelah menghadapi ini semua.
“Ja-jangan benci dia Mex, yakinlah niat om Deon sangat mulia, hiks... Maafkan gue, tapi kedua orangtua lo sendiri yang meminta om Deon untuk mengadopsi elo, mereka jatuh bangkrut dan tidak mampu membesarkan lo dengan sempurna. Harusnya lo beruntung memiliki Om Deon Sebagai orang yang selalu ada untuk lo.”
DEG!!
Melihat Zea menangis kacau seperti itu membuat Mex hampir gila, hatinya mendadak seperti di hantam ribuan batu, dia tidak sanggup melihat gadis yang di cintainya menangis seperti ini.
“Ja-jadi alasan orangtua gue menaruh gue di panti asuhan karena ti-tidak sangup membesarkan gue?...”
Mex menangis dan meremat kepalanya kemudian bersimpuh di lantai, dia sangat kacau dan sedih. kenapa dia tidak mencoba mendengarkan penjelasan papanya dulu kemarin? Dia sangat menyesal.
Untuk pertama kalinya, bagi Zea dan Gugun melihat seorang Mex Alexsander, yang sangat angkuh, urakan, brandalan, dan paling menyedihkan mulutnya yang tidak bisa berbicara halus, dia saat ini sangat frustasi seperti kehilangan tujuan hidup.
“Sabar Mex... Kalian berdua yang kuat ya, gue nggak tau rasanya menjadi kalian itu gimana. Tapi kalian harus ingat, seburuk apapun kalian sekarang. Kalian tidak boleh membenci orang tua kalian, terutama lo Mex. Harusnya lo bersyukur, di balik keterbatasan orangtua lo, papa lo berbaik hati Mengadopsi lo, banyak di luaran sana yang hidup sebatang kara tidak punya apa-apa. Sedangkan elo? elo memiliki segalanya yang elo mau, kecuali Zea tentunya.”
Perkataan Gunun walaupun di akhir sedikit menyebalkan namun itu menyadarkan hati Mex, saat ini dirinya malu untuk sekedar bertemu dengan Deon. Dia anak tidak tahu diri dan tidak di untung kan?
“Masa brandalan kayak kalian kok cengeng, iuh gak Like gak Like.” cibir Gugun, tapi Mex tidak niat membalasnya. Walaupun gaya bicaranya meniru dirinya.
“BERPELUKAN!!"
Gugun memeluk mereka berdua sambil tertawa pecah, rasanya itu sangat aneh. Apalagi kan, Gugun juga tau kalau Mex tergila-gila juga dengan Zea. "KALIAN ADALAH TEMEN SEJATI GUE!!" Gugun berteriak kencang.
Sampai kapanpun dia dan Mex hanya akan menjadi sebatas teman untuk gadis yang sudah memiliki kekasih ini.
"ALAY!" Ucap Zea dan Mex tidak segaja serentak, tapi Gugun tidak peduli dan malah mempererat lagi pelukannya walaupun Zea dan Mex mencoba melepasnya paksa.
"Gue gak denger, ya. Kuping gue kejepit Daun Pintu." Jawab Gugun tanpa dosa sambil tertawa renyah.
BERSAMBUNG.
Maaf ya gais, hari ini aku up 1 bab aja. See you next time and happy reading guys, jangan lupa kasih dukungan terbaik kalian untuk aku😢.
Makasih ya yang udah support, sayang kalian❤.
__ADS_1