PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
16. Ruang kerja Baskara.


__ADS_3

...HEPPY REANDING....


“Selamat Ze, akhirnya lo menang juga. Nih ada minuman buat lo.” tiba-tiba Mex datang dan memberikan sebuah minuman dingin, dan merangkul pundak gadis itu bangga.


“Makasih Mex,” Ucapnya singkat sambil tersenyum menerima botol itu.


Sepersekian detik,  Zea melepas tangan Mex dari pundaknya, dia malu dilihat banyak orang. Takut kalau mereka mengira bahwa Mex itu pacarnya, dari kejauhan Raka melihat interaksi antara keduanya membuat dirinya terbakar api cemburu.


“Samperin sono!! Nanti keburu di ambil Mex nangeees!! Kalau sampai itu terjadi, gue ogah hapus air mata lo.” Zega menjawil bahu Raka, sedangkan Bobi dan Bian sedang asik mendebatkan sesuatu, entah apa yang di perdebatkanya.


Zega benar, anpa menunggu waktu lama, Raka segera berjalan meningalkan ketiga sahabatnya dan menuju Zea. Padahal dia tadi ingin mengucapkan selamat yang pertama kalinya atas kemenangan gadis itu, tapi Mex selalu saja mendahuluinya.


“Selamat Ze."


"Aaaiya," Jawab Zea kikuk, sedangkan Mex memutar bola matanya malas. Kenapa Raka selalu saja muncul ketika dirinya bersama Zea??


Dasar hewan pengerat.


"Btw, ini sudah larut malan. Gue anterin pulang ya??” Raka menawarkan diri sambil tersenyum kearah Zea.


“Makasih Rak, tidak usah, gue terbisa pulang sendiri kok.”


“Heh, hewan pengerat!! Lo itu sebenernya mengejar Alda atau Zea sih?! Jadi cowok kok maruk bener.” ketus Mex sambil menunjuk Raka.


“Maksud lo apa bilang gitu?!”


“Lo tadi pulang sekolah nganterin Alda, sekarang mau sok jagoan nganterin Zea. Dasar playboy!!”


Zea berfikir sekilas, benar juga, kenpa Raka tadi mengantar Alda pulang? Secara Raka itu tidak suka kalau bersangkutan dengan saudara tirinya itu. Jujur gadis itu sebenarnya merasakan sesuatu aneh di hatinya.


BUGH!!


“Kalau tidak tau duduk permasalahannya, gak usah banyak bacot deh lo!!” Raka tidak terima akan tuduhan Mex langsung melayangkan sebuah pukulan.


Mex yabg tidak terima di pukul ingin membalas, namun...


“HENTIKAN!!!” Zea memisah kedua cowok itu yang semakin memanas.


“Kalian berdua gila ya? Setiap kali ketemu adanya cuman berantem doang!!  Gue muak liat kalian berdua selalu kayak gini!! Gue capek, niat kesini pengen mengehibur diri!! Bukan melihat kalian baku hantam!!”


Zea naik ke atas motornya dan mengenakan helm full facenya, dia melajukan motornya dengan begitu kencang. Sedangkan Raka dan Mex mengacak rambutnya frustasi, Zea tidak peduli banyak pasang yang menatapnya.


...♡(*>ω<)ω<*)♡...


Sesampai di rumahnya, gadis itu berjalan menuju kamar. Di lihatnya ruang kerja papanya, lampunya masih menyala.


Baskara memang selalu mengecek dokumen atau sesuatu yang bisa dikerjakanya di rumah, kali ini dia mengecek dokumen perjanjian kerja sama dengan perusahaan temannya. Hingga perhatianya terlaihkan saat Zea melewati depan ruangannya, Baskara segera membuka suara.


“ZEAAA!!”


Langkah Zea pun terhenti, dan menoleh ke arah papanya malas.


“Kemarilah...” perintahnya dingin.

__ADS_1


Gadis itu melangkah ragu-ragu, takut kalau papanya marah. Karena jam saat ini sudah menunjukan 01:01. Sebenarnya kalaupun di marahi, gadis itu selalu siap, memang ini yang selalu di inginkannya. Zea tetap diam dan menunduk menatap lantai setelah tiba di depan papanya yang berjarak beberapa meter.


“Besok malam di kantor saya ada pesta perusahaan, dan kamu harus datang!!  Tapi ingat baik-baik, jangan pernah bikin saya malu, jaga sikapmu, jangan membuat keributan!!”


Hati Zea pedih sekali rasanya,kala papanya mengatakan itu dengan mengunakan kata ‘saya'. Baskara seperti berat hati kalau menyebut dirinya sebagai papa dari anak itu. Gadis itu memilin kedua tangannya, dan menarik nafas dalam-dalam.


“Zea tidak mau dateng,” ucapnya lirih namun bisa didengar Baskara.


“Kamu harus dateng!! Ini perintah, jangan berani membantah!!” Tegas Baskara, kedua matanya menatap gadis itu dengan tajam.


“Apa bedanya kalau Zea  dateng dan tidak? Bukankah Zea hanya anak nakal yang selalu mamalukan? Kenapa harus hadir?”


“Apa susahnya kamu tingal dateng saja!! kamu mau nama besar saya tercoreng?! Ini juga kemauan mama Dinar yang menyuruhmu datang, kalau bukan demi dia, saya tidak sudi kamu menginjakan kaki di kantorku!”


Hati Zea nyeri, enteng sekali ucapan papanya yang begitu menyakiti perasaannya ini. Terlebih, papanya mengajaknya karena kemauan oma saja.


Perkataan Baskara sudah melampaui batas, dia lupa bahwa Zea adalah darah dagingnya dan pewaris tunggalnya.


Perusahaan kelak akan beralih pimpinan ke Zea, karena hanya dia yang berhak mengantikannya.


Baik Alda maupun Kelvin tidak bisa mendapatkan hak waris sedikitpun, karena mereka bukan keturunan dari keluarga Adiputra. Dinar atau mama Baskara sudah memperingatkannya dari dulu, bahwa perusahaan Adiputra kelak akan dilanjutkan oleh Zea. Namun pria itu tidak mengindahkannya, karena kebencian terlalu besar di hatinya.


Perusahaan Baskara banyak tersebar di penjuru Indonesia, kepintaranya dan kebijakanya yang disegani banyak orang membuat namanya terkenal.


Bahkan besok malam, pesta bakalan di liput oleh media TV, Zea tidak mau bertemu wartawan, setiap beberapa tahun memang acara ini selalu di adakan dan gadis itu tidak pernah nampak, oma Dinar tidak masalah karena Zea masih terlalu kecil, berbeda hal dengan yang sekarang.


Zea tidak mau banyak yang mengenali dirinya sebagai putri Baskara pemilik Adiputra LLP, alasanya cukup sederhana.


Dia ingin teman dan calon pasangannya kelak mau menerima dirinya apa adanya, bukan karena harta dan jabatan.


Tanpa berkata apapun lagi, gadis itu segera berlari menuju kamarnya sembari menangis, dia lebih baik ditampar daripada di hina seperti ini. Mentalnya seperti tidak kuat, lalu dia merebahkan badannya ke kasur tanpa melepas sepatunya terlebih dulu, dia tengkurap dengan menutup muka. Air matanya sudah membasahi kedua telapak tangannya.


“Sampai kapan hidup gue akan seperti ini? Zea lelah, tuhan... Ambil saja aku, jika itu yang terbaik... hiks hiks,”


“Kenapa bukan gue saja dulu yang mati!! Gue rela mati biar papa selalu bahagia, hiks hiks.” Zea memukul-mukul kasurnya dengan sesegukan, "maafin Zea, Ma... Maaf, aku sering menangis dan melangar janjimu, hiks-hiks." Racau Zea sambil memukul-mukul dadanya yang selalu saja merasa sakit.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, sebuah tanda pangilan masuk. Diusapnya air matanya dan diam mereda tangis, melihat nama si penelfon, setelah merasa tenang dia memencet tombol hijau. 


“Lo udah sampai rumah kan, Ze?” tanya Raka di sebrang sana hawatir.


“...”


Tidak ada jawaban dari Zea, dia masih kesal karena cemburu atas perlakuanya pada Alda. Entah kapan rasa ini muncul, tapi dia seneng kalo Raka mengatakan bahwa dirinya sayang kepadanya.


“Alfa Zea Adiputra, Jefi Nicol sedang ngomong lho ini, kuping lo denger gue ngomong kan?”  Ucapnya dengan setengah tertawa geli.


“Jefri Nikol? Haha, halu lo ketinggian...” Gadis itu tertawa, suaranya semakin hilang dan lirih, entah kenapa dirinya melakukan hal itu.


“Ze...gue mau bilang sesuatu sama lo. Sebenernya gue suka cari masalah setiap hari itu, karena gue cuman mau cari perhatian lo aja. Dari pertama kali kita ketemu. Gue tertarik sama lo, dan mungkin sekarang bukan tertarik lagi, melainkan gue jatuh cinta sama lo. Rasa ini lama benget gue pendam. Elo semisal kalau di tembak Mex jangan mau ya!! Pokoknya jangan mau aja, lebih tampan gue juga ya kan? Hehe.” Ucap Raka panjang lebar.


“Harh, harh, harh.”


“Astaga!! Gue ngomong pake perasaan,  sedangkan situ ngoroknya gak pake aturan!!” Geruntu Raka sambil memijit kepalanya disebrang sana.

__ADS_1


“Selamat malam Zea, l love you.” Ucapnya lirih nyaris tak terdengar di sambungan Zea, kemudian mematikan sambunganya.


Pagi hari pun tiba, sekarang sudah pukul 06:29 dan Zea masih belum terbangun juga. Dia masih nyaman dengan selimut tebalnya dan juga kasur empuknya.


KRIIIIIIIING!! KRIIIIIING!!


KRIIIIIIIING!! KRIIIIIING!!


Jam weker itu telah berbunyi, sekarang tepat pukul 06:30. Zea yang kebetulan ada di tepi ranjang pun merasa kaget langsung bergerak refelek, dia mengelinding dari kasur dan mendarat di depan Nakas.


“Aduh pantat tepos gue!!! Awwwww!!” Gadis itu merintih kesakitan lalu mengusap pantatnya.


Pengelihatanya sekarang jatuh pada jam weker Naruto-nya dengan pose yang masih sama, dia menekuk wajahnya sambil mengucek matanya.


“Apa lo liat-liat?! Mau gue sunat lo?" Cerca Zea pada benda mati itu.


Sepersekian detik, emosinya berubah. "Eh, ngomong-ngomong lo udah sunatan apa belum?!” Tanya gadis itu berkacak pingang.


“Siapa dek yang sunatan?”


Kelvin menyembulkan kepalanya dan masuk kedalam kamar, dia tidak sengaja mendengar perkataan Zea.


“Naruto bang, hehe,” gadis itu mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Ada-ada saja kamu!! nanti berangkat sekolah abang anterin, ya?!” Kelvin memohon, dia ingin sekali mengantar adeknya itu pergi ke sekolah.


Gadis itu berfikir selama beberapa detik, boleh juga tawaran abangnya itu. Secara badanya sekarang terasa pegal karena balapan semalam.


“Oke deh, tapi...” Zea menggantungkan kalimatnya.


“Tapii apa?” Kelvin menyernitkan dahinya sambil tertawa, melihat eskspresi Zea yang lucu.


“Zeaaa, mau mandi dan boker dulu bang, kebelet pipis juga!!” Gadis itu berlari ngacir dan menuju kekamar mandinya.


Hal itu, membuat Kelvin geleng-geleng kepala, sambil mengelus dada sampai ke lantai.


Beberapa menit telah berlalu, Zea keluar dari kamarnya dengan mengunakan seragam rapi. Tak lupa juga, hari ini dia mengunakan sepatu Senakersnya yang telah dikembalikan Raka semalam. Tampilan gadis itu semakin menawan, dengan seragam lengan di lipat kesiku dan tatanan rambutnya yang pendek tapi rapi. Parfumnya yang khas juga sudah menguar di tubuhnya.


“Uiiiiih, adek abang satu ini ganteng bener!!” Kelvin memutar-mutar badan Zea.


“Yaelah bang, orang cantiknya kayak Selena Gomes gini dibilang ganteng."


“Iya-iya, kamu itu juga sedikit cantik kok.”


"Astaga, sedikit?"


"Hehe,"


"Jahatnya punya abang satu, pengen gue rentalin aja."


Saling olok ini biasa mereka lakukan, bakan keduanya sering baku hantam, kadang kala Kelvin kewalahan dengan jurus-jurus pukulan gadis itu yang mendadak kuat seperti Kudanil.


Ada pertanyaan aneh di hati Zea, kenapa Alda dari kemarin sore tidak ada dirumah? Kemanakah sosok Gendruwo itu sebenarnya? Kali ini, bahkan dia juga tidak melihatnya di meja sarapan.

__ADS_1


“Mas ini bukan salah aku!!” Susanti tidak terima tuduhan Baskara.


Kira-kira tuduhan apa yang Basakara lakukan?, nantikan di part selanjutnya😘.


__ADS_2