PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
43. Maafkan aku.


__ADS_3

Baskara sedang berada di sebuah Taman, Taman itu meninggalkan kenangannya bersama sang mendiang istri, tampak jelas bungya-bunga yang cantik dan banyak kupu-kupu yang berterbaran.


Hingga matanya tak sengaja menangkap sosok wanita yang sangat di kenalinya, wanita itu tidaklah asing baginya.


Baskara membelalakkan matanya, jantungnya berdebar kuat.


Waita itu adalah Gia, bagaiamana bisa orang yang sangat dia cintai dan di rindukan itu berada di sini?


Ini tidak mungkin!!


Tapi faktanya memang iya, wanita itu benar Gia.


Gia sedang duduk di sebuah ayunan, dengan memakai gaun berwarna putih lalu rambutnya di biarkan terurai indah dia tidak menyadari keberadaan suaminya.


“GIAAA...?!” Baskara menangis dan berlari menghampiri istrinya, sunguh ini bukan sebuah mimpi belaka.


“GIA... In-ini ak-aku.”


Wanita cantik itu tetap diam tidak mengubris kedatangan suaminya yang sangat terkejut dirinya berada di sini, dia tau suaminya pasti akan sangat terkejut melihatnya setelah sekian lama.


Dengan langkah pasti, Baskara mendekat ke arah Gia lagi pria itu berlinang air mata. Tangannya bergetar ingin memeluk tubuh istrinya, namun tiba-tiba Mata Gia menatapanya tajam, nyaris ingin merobek dada suaminya yang sangat kasar dan angkuh kepada putrinya itu.


Gia melihat semuanya, dia tau semua perbuatan suaminya selama ini. Di setiap gerak-geriknya Gia selalu mengawasi tajam, dia sangat marah kepada suaminya itu. Zea adalah anak darah dagingnya juga, namun kenapa selama ini Baskara tega berbuat kasar pada putri mereka?


"Gia, ak-aku merinduk-,"


“BERHENTI DAN JANGAN MENDEKAT LAGI WALUPUN HANYA SATU LANGKAH!!” suara wanita itu sangat tajam dan penuh penekanan, membuat hawa kringat dingin di tubuh Baskara bercucuran. “Aku sangat benci padamu mas, aku kecewa... hiks-hiks.” sarkas Gia meneteskan air mata di kedua pipi mulusnya.


Melihat Gia menangis, membuat Baskara tak tega dan ingin sekali memeluk tubuhnya, dia tidak peduli dan mendekat lagi, lalu mengarahkan tangannya ke muka Gia. Wajah yang sangat dia rindukan, kini ada di hadapannya setelah sekian lama tidak bertemu.


“AKU BILANG BERHENTI MENDEKAT!! KAMU BUKAN SUAMIKU YANG DULU LAGI MAS!” marah Gia lagi, dengan menuding suaminya, dia tidak peduli di tatap banyak orang sekeliling Taman.


“Sayang... Ini aku, aku masih Baskara yang dulu. Aku bahkan selalu merindukanmu. Apa kamu tidak merindukanku? kenapa kamu pergi? kemana kamu selama ini?” Suara Baskara parau, air matanya berlilang, baru kali ini istrinya membentaknya seperti itu membuat hatinya hancur berkeping-keping.


“Bukankah kamu suami Susanti sekarang?! Suamiku yang dulu tidak sekejam ini, apalagi pada putrinya sendiri! Aku tidak menyangka mas kamu setega itu pada anak kita!”


Suasana semakin teggang, Baskara sangat kacau sesekali menyeka air mata dan peluh di dahinya, entah kenapa kakinya sulit di gerakkan.


Pria itu, bersimpuh di tanah di bawah Ayunan istrinya, “ma-maafkan aku, kembalilah padaku lagi Gia. Aku janji akan berubah, ayo sekarang kita pulang kerumah, kamu selama ini kemana saja...?” Bujuk Baskara sambil menyatukan kedua tangannya gemetar.


“Kamu sudah melukai putriku kesayanganku Mas! hiks-hiks... Kamu papa yang jahat! Kamu suami yang payah di mataku, hiks-hiks...”


Gia menangis tersendu-sendu suara tangisannya memilukan sambil menatap suaminya yang dulu sangat dia cintai penuh kebencian. Apalagi dia tau, kalau suaminya itu menikah dengan sahabatnya sendiri.


“Aku harus bagaimana? Aku tidak kuasa melihat Zea, dia selalu membuat hatiku teriris walaupun sekedar melihatnya saja. Wajahnya sama persis sepertimu, membuatku selalu teringat kecelakaan Delapan tahun yang lalu, aku membencinya karena aku sangat kehilanganmu.”


Baskara mengacak rambutnya frustasi, kini keringatnya semakin bercucuran, badannya dingin, serta nafasnya semakin memburu.


PLAK!!


Gia turun dari ayunan dan menampar pipi Baskara sangat kasar.


“HENTIKAN!!" Pekik Gia tak kuasa mendengar pernyataan gila suaminya.


"Benar apa kata putri kita, kamu itu papa yang sangat menyedihkan! papa yang pengecut! papa yang menyedihkan! Otak dan pikiranmu hilang kemana, Mas?! Zea nakal seperti itu hanya karena mencari perhatianmu saja, sedangkan kamu malah menghukumnya! merusak mentalnya! kamu menghancurkan putri tunggal kita! apa kamu tahau? dia selalu kesepian di setiap malam, aku tidak bisa memeluk putriku seperti dulu, aku tidak bisa memeluknya dan menenagkannya lagi, hiks-hiks...” Suara Gia nyaris menghilang, air matanya terus saja mengalir membuat Baskara tersadar akan banyak hal dan dia mengakui perbuatannya.


“Sayang jangan seperti ini, ak-aku mohon aku juga dilema.” Baskara memeluk kaki istrinya dengan sangat erat. Meminta maaf, karena dia sendiri juga sangat bingung harus bagaimana.


“Kenapa kamu menikahi Susanti?” tanyanya kecewa, hatinya sakit.


“Itu karena dia memohon padaku, jika kamu mengira bahwa aku cinta dia, kamu salah besar. Dia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Karena dia teman baikmu, maka aku bersedia menikahinya, dan merawat putrinya.” Jujur Baskara dengan setia memeluk kaki istrinya.

__ADS_1


“Aku tidak menerima alasanmu mas, tapi caramu salah... Kamu memperlakukan anak Susanti sangat baik, sedangkan anakmu kamu terlantarkan. Zea itu darah dagingmu!! Apa kamu lupa, hah!!Kamu egois! Aku benci kamu! Hati putriku saat ini sangat hancur, itu semua karena kamu, hiks-hiks...! Apa kamu tidak bisa melihat matanya yang penuh kesedihan itu?! Apakah kamu tidak melihat bahwa selama ini dia menahan kesakitan sendirian?! apakah kamu tidak mengetajui bahwa dia sangat memperdulikanmu saat kamu sakit?! Aku benci padamu mas, hiks...!! Kau pria yang brengsek, kamu tidak pantas menjadi papa Zea asal kamu tahu...” Gia mengeluarkan isi hatinya yang terdalam, dia segera berbalik dan hendak meninggalkan suaminya, dia tidak peduli lagi pada suaminya itu.


Tatapan orang di sekeliling taman menatap mereka berdua, namun tidak ada yang berani mendekat.


“Giaaaa!! A-akku mohon maafkan aku, jangan membenciku, aku mencintaimu. Aku minta maa-,” Baskara menjerit, hatinya sakit ketika istrinya tidak ingin di peluknya sama sekali.


“Susanti bukan temanku, dan hanya Deon sahabat terbaikku sampai kapanpun. Dia Papa yang sangat baik, tidak sepertimu yang dari dulu sangat payah mengendalikan amarah dan egois... Aku beritahu satu hal, Zea akan segera datang menyusulku kemari sebentar lagi. Dia sudah cukup kamu buat menderita di sini.”


“Maafkan aku... Maafkan aku, jangan pergi lagi. Aku mohon jangan tinggalkan aku....” Baskara berteriak memanggil istrinya yang terus melangkahkan kakinya pergi.


“Kamu sekarang sudah kegilangan aku mas... Jika Tuhan memberikan jalan untukmu menebus kesalahan fatalmu aku harap kamu tidak kehilangan lagi wanita keduamu yaitu anak kita Ze-,” ucapan itu terpotong, kala bayangan Gia telah hilang secara tiba-tiba sepenuhnya.


Tubuh Baskara menegang, otaknya blank seketika. Gia telah pergi lagi, istrinya itu sangat kecewa padanya. Terlebih lagi, orang-orang sekitar taman, menatap Baskara dengan tatapan penuh kebencian dan menusuk.


Selama mendiang istrinya itu meninggal, ini adalah pertama kalinya istrinya itu datang lewat mimpinya.


“GIAAAAA!!” Baskara berteriak sangat kencang, membuatnya terbangun dari tidur lelapnya.


Dia segera memengangi dadanya dan mengacak rambutnya frustasi, dan ini apa? Bahkan dia sampai berkeringat dingin. Ya tuhan, mimpi itu sangatlah nyata bagi Baskara.


...🔵🔵🔵...


KANTOR ADIPUTRA LLP.


“Selamat pagi Tuan.” sapa Hendra selaku sekertaris pribadi Baskara.


“Hmmm,” memang betul, Baskara adalah orang yang sangat dingin dan tegas, watak asli ini dia miliki sejak kecil.


“Tuan... Pak Nando ingin menemui Anda.” Baskara menghentikan langkahnya, lalu menatap sekertarisnya intens.


Dan benar saja, setelah menandatangai benerapa Dokumen. Rauangan Baskara terbuka lebar, menampakan sahabat masa kecilnya itu, bahkan mereka jarang sekali bertemu. Pria jangkung itu tersenyum tipis dan duduk di hadapan Baskara. Keduanya memiliki pesona karisma yang memukau, walaupun umur mereka sudah tak muda lagi.


“Hey... Baskara, kamu itu sangat sombong sekali. Setidaknya tanya dulu bagaimana kabarku, kau ini sudah berubah banyak ya? tidak seperti dulu lagi.” Sinis Nando dan melipat kedua tangannya di dada.


“Untuk apa aku tanya kabarmu? Kabarku saja bahkan kamu tidak tau kan?” Jawab Baskara tak kalah sinis.


“Hahaha, kabarmu? Tenang, aku tau banyak hal tentangmu. Kamu sangat menyedihkan bukan? Hidupmu sangat miris kawan.”


Baskara menggertakkan giginya, dan menatap Nando tajam. “Katakan, mau apa kau datang kemari?!”


“Ini tentang anak kita.”


“Anakku mencintai Raka, dan aku harap kau menyetujuinya kalau aku menikahkan keduanya kelak.”


“Anakmu yang mana yang akan kau nikahkan dengan putra sulungku? Dan maaf saja, aku tidak menerima sembarang mantu untuk Raka.” Remeh Nando dengan tertawa mengejek, membuat Baskara sangat terbakar.


“Alda!” jawabnya tegas.


“Siapa Alda? Setahuku kamu tidak memiliki anak bernama Alda." Emosi Baskara benar-benar di permainkan oleh sahabatnya itu, susah payah dia menahan agar tidak memukul teman masa kecilnya itu.


"Kenapa? aku tidak akan minta maaf jika perkataanku menusuk hatimu.” Nando menatap Baskara dalam yang mencoba bersabar menghadapinya. “Aku tidak akan pernah sekalipun merestui putraku menikah dengan gadis yang tidak jelas siapa Ayahnya.”


BRAAAK!!


“Apa maksudmu, hah?! Dia adalah putriku!” Baskara mengebrak mejanya, namun Nando hanya bersikap tenang.


“Putrimu...? Apa kau bercanda?! Aku tidak pernah menyangka, bahwa Baskara Adiputra yang sangat terkenal pintar dan memiliki kerajaan perusahaan banyak ini sangatlah bodoh dan mudah tertipu!!”


Alis Nando menukik, ketika Baskara tidak pernah mengangap putrinya sendiri. Dia sangat kecewa sekali.


“Camkan ini baik-baik! Putraku hanya mencintai Zea dan Zea pun juga sebaliknya, ingat itu Baskara!!” Nando menuding Baskara tepat di matanya. “Takdir tidak akan pernah memisahkan mereka, sekalipun kamu dan anak istri tirimu, berusaha dengan sekuat tenaga memisahkan mereka!!”

__ADS_1


“DIAM!!”


“Aku tidak akan diam! Aku akan melihatmu hancur menyesli perbuatamu pada darah dagigmu sendiri. Sebelum kamu kehilangan Zea, jangan biarkan dia pergi jauh darimu! atau kau? akan kehilangan dia selamanya."


...----------------...


Flasback on.


Setelah memutuskan Zea di taman hari itu, Raka pulang ke rumahnya, dalam keadaan wajah yang babak belur karena di pukuli Zega dan Mex di hari yang sama.


“Aku pulang...” Raka mendorong pintu rumahnya, lalu masuk kedalam.


Terlihat papa dan mamanya asik menemani Ricky melukis.


“Kak Laka yuhu... Kak Zea mana?” tanya Ricky cedal, seketika papa dan mamanya juga menoleh.


Raka hanya diam, tidak membalas pertanyaan Ricky. Apakah dia harus mengatakan bahwa Raka sudah putus? Ah, tidak mungkin. Pasti mereka semua tidak terima, mengingat papa dan mamanya sangat menyayagi Zea. Apalagi Ricky, adeknya itu suka sekali dengan Zea.


“Kamu kenapa, Nak? Jawab pertanyaan adikmu.” Riska menyadari ada sesuatu yang berbeda dari putranya.


“Raka capek, mau tidur.”


“RAKA!!” ketus Nando melihat putranya yang tidak sopan. “Duduklah!! Mamamu sedang bertanya, tidak seharusnya kamu begitu!”


Dengan langkah terpaksa, Raka duduk di sebelah mamanya sambil menyembunyikan wajahnya yang penuh luka.


“Rak, are you oke? Kenapa wajahmu? Apa kamu habis berkelahi?” Riska menangkup pipi putranya dan mengusap memar biru di wajahnya.


“....” Raka diam.


“Kak Laka... Licky kan tadi tanya, kak Zea mana? dia kan punya janji sama aku, mau main petak umpet dan kak Laka yang jaga.”


“Kita udah putus.” Entah kenapa hati Raka sangat sakit mengatakan hal itu, terlebih lagi melihat kondisi Zea yang kacau.


“Apa maksudmu?! Kamu jangan bercanda Rak! Mama nggak suka ya.” Riska mendorong tubuh putranya kesamping.


“Katakan, kenapa bisa sampai putus?” desak Nando.


“Karena Zea tidak pernah mencintaiku, dia hanya tidak ingin kalah dengan Alda. Hanya aku yang mencintai Zea, Pa... Ma...”


“Apa maksudmu?! Bagaimana mungkin, apa kamu tidak melihat mata Zea yang sangat mencintaimu?!” omel Riska menatap wajah nanar putranya.


“Bodoh sekali!! Jika kamu tau Zea belum cinta padamu, maka harusnya kamu berjuang lebih keras lagi, dan membuatnya jatuh cinta. Apa kamu tau cinta itu apa, Rak?" Raka terdiam.


"Cinta lewat tidakan lebih di hargai wanita daripada kata-kata tanpa ada pembuktian yang jelas!! Baru berapa hari pembuktian cintamu pada Zea, hah? dan dengan bodohnya kamu menuduh dia seperti itu. Jika Zea tidak mencintaimu, lalu kenapa dia menerimamu? Lalu kenapa juga dia mau datang kerumah ini dan mencoba mengenal orangtua dan adikmu secara baik? Zea bukan gadis bodoh yang mudah di dapatkan, Rak... dan papa sangat yakin, jika dia tidak suka bermain-main terhadap apa yang di ucapkannya.” jelas Nando panjang lebar.


DEG!!


Hati Raka seperti di tampar, benar juga apa yang di katakan mama dan papanya. Tapi mau bagaimana lagi?


Raka bodoh!!


Raka bodoh!!


Raka bodoh!!


Flasback Of.


BERSAMBUNG.


Hay, jangan lupa berikan dukungan terbaik kalian ya. Suapaya aku lebih bersemangat update secepatnya, jangan lupa komen juga😘🔥.

__ADS_1


__ADS_2