
Pagi hari pun tiba. Kelvin menuju kamar Zea, mereka sekarang tinggal di rumah Oma Dinar. Karena itu, perintah langsung dari beliau, sebenarnya Kelvin ingin pulang ke Apartment miliknya, namun Oma melarangnya.
“Apa Zea sudah bangun?” Tanya kelvin pada dua Bodygurad yang berdiri siaga di depan kamar Zea.
“Belum tau Den, soalnya non Zea belum keluar kamar sejak tadi.” Jawab pria berbadan kekar itu dengan hormat.
Oma Dinar kali ini tidak mau kecolongan lagi, dia harus menjaga cucu tunggalnya itu dengan baik, walaupun Zea sangat benci di jaga oleh para Bodygurad. Zea tetaplah Zea, walaupun dia sakit namun hobi balapnya telah mendarah daging, oma takut gadis itu kabur.
“Baiklah, makasih ya pak. Tolong jaga adik saya ya, jangan sampai dia kabur dan keluar dari sini.” Kelvin langsung menarik knop pintu, dan masuk ke kamar, karena memang pintunya tidak di kunci.
Kamar yang di tempati Zea sangat mewah, tak tangung-tangung Oma memberikan kamar Zea paling luas seperti putri kerajaan. Kamar itu, di balut Cokelat Kayu, sedikit Warna Krem natural, dengan sentuhan warna Putih juga Hitam yang dominan. Lalu di lengkapi beberapa tanaman hias indoor yang membuat suasana lebih nyaman dan alami.
“Zea, Where are you?” Kelvin clingak-clinguk mencari keberadaan Zea. Namun tidak ada.
“Aku di sini Bang!!” terdengar suara gadis itu berada di balkon kamar.
“Kamu lagi ngapain?”
“Lagi liat kucing bermesraan.” jawab gadis itu santai, sedangan Kelvin melotot karena dia penasaran akhirnya ikut menonton.
Kebetulan kamar Zea berada di lantai tiga, jadi bisa leluasa menatap taman di samping Mansion.
“Haya haya!! Pergi dari sini! Ini masih pagi jangan berduaan di sini, sarapan dulu sana, huuush-hush!!” Tiba-tiba ada pelayan mengusir dua Kucing itu.
Meauuuuuuung!!
Meauuuuuuuuuung!!
Bahkan yang lebih lucu lagi, dua Kucing itu mengeluh panjang sekali. Seperti kesal pada pembantu tersebut, padahal keduanya sedang menikmati bau berak mereka sendiri-sendiri.
“Aku jadi kangen bik Inem, Bang.”
Celetuk gadis itu sambil melamun membayangkan Inem, sedangkan pelayan tadi yang menyuruh dua Kucing itu pergi lebih menggila lagi, karena sekarang dia mengibaskan Sepatula dan mengejar kedua pasang Kucing manis itu.
“Kasian ya bang kucingnya?”
Gadis itu menoleh pada Kelvin yang diam dan menatapnya sulit di artikan, dada Kelvin merasa sesak melihat Zea yang pura-pura terlihat baik-baik saja. “Kenapa bang Kelvin, liatin aku gitu?”
Kelvin tersenyum tipis dan mengasak rambut pendek Zea sayang. “Ayo sarapan dulu, setelah itu minum obat, Oma sudah menunggu kita di bawah. Kamu masih kecil, jangan liatin para Kucing itu bikin keturunan.”
“Iya-iya bawel... Kan cuma Kucing doang, kalau Anak Konda yang lagi bermesraan mana mau aku melihatnya.”
...⚫⚫⚫...
RUANG MAKAN.
“Pagi Oma sayang. Duh makin tua aja deh Oma ku ini, sehat-sehat ya jangan kebanyakan nonton berita Selebritis nanti cepat tua.” Gadis itu memeluk wanita tua itu, lalu menghujaninya ciuman.
“Kata temen-temen alumni TK Oma, Oma itu tidak berubah Zee, katanya masih tetep cantik dan awet muda.” Oma terkekeh geli, dengan menaik-turunkan alisnya membuat Zea memutar bola matanya malas.
Padahal Oma aslinya sangat tegas dan berwibawa, namun saat bersama Zea, sikapnya menghangat dan tidak galak.
“Terserah Oma saja deh, yang penting Encok, Darah Tinggi dan Kolestrol oma aman terkendali."
Kelvin tertawa terpingkal-pingkal memegangi perutnya, sedangkan Oma mendengus mendapat ejekan dari cucu tercintanya itu.
“Dek... Tadi Mex kirim pesan kakak, katanya dia mau main kesini dengan teman-temanmu.” suara Kelvin memecah mereka dan duduk di sebelah adeknya, dengan menenteng plastik obat di tangannya.
UHUUUK!!
__ADS_1
Zea yang sedang minum tersedak mendengar kata 'Mex' di sebut Kelvin.
"Kok bang Kelvin bisa kenal Mex?"
"Kenal lah, kan dia sering wakilin papanya rapat, bahkan perusahaan om Deon bekerjasama dengan perusahaan Abang."
Zea semakin melototkan matanya tidak percaya, "jangan bohong ya kamu wahai Bang Kelpon isi gula!! Mana mungkin Mex tau dunia bisnis, dia itu saat di sekolah guru-guru aja angkat tangan, pundak, lutut
kaki lutut kaki sama dia."
Kelvin dan Oma tertawa keras, Ah... Adiknya ini pintar sekali melawak.
"Tapi kamu tidak tahu kan, kalau dia belajar Digital marketing, public speaking, saham, property dan lain sebaginya soal bisnis?" Zea menggeleng tak menyangka, "bagi Mex sekolah hanyalah seper Delapan dia setelah belajar banyak hal di rumahnya sendiri. Mentor yang mengajarai Mex bukan orang semnarangan, mungkin dia lelah belajar mangkanya anak itu sering tidur dan cenderung main-main saat di sekolhan, karena memang tidak di awasi oleh om Deon tidak seperti saat di rumah." Zea melongo tidak percaya, dia syok bahkan mulutnya terbuka lebar.
Padhal Zea sering mengatai Mex itu bodoh, ini lah itu lah. kalau sudah seperti ini, bukankah keadaan terbalik? ternyata bukan Mex yang bodoh, namun dirinya sendiri.
"Aku suka gaya Mex, dia low profile yang sempurna." Puji Zea tak main-main.
“Bagus juga kalau dia mau kesini. Motorku masih di bawa dia soalnya. Awas aja kalau motorku jadi kucel, lecek dan tidak terurus.” Geram Zea, dengan mengigit sendoknya kuat.
Oma diam, dia sudah menyiapkan rencana untuk motor Zea agar gadis itu tidak lagi balapan, wanita paruh baya itu tersenyum dalam diam membayangkan akan seperti apa kesalnya Zea jika rencananya di jalankan.
"Mex datang sendiri, Bang?"
“Semua temenmu, boleh kan oma kalau mereka kesini? Mau jenguk Zea katanya.” kata kelvin menatap Oma yang sedang bergelut dengan rencanya jahatnya untuk mengerjai Zea.
“Boleh saja, Oma senang kalau banyak orang di sini.” Wanita tua itu tersenyum dan mengacungkan jempolnya tanda setuju. “Pelayan.... Siapkan makanan yang banyak untuk menyambut mereka!!”
“Baik Nyonya besar.” pelayan yang berdiri sejak tadi menganguk patuh.
Kalian jangan banyangkan berapa banyak pelayan di rumah ini, yang pasti sangat banyak. Jika kalian ke Mansion Oma Zea, kalian akan di sambut para bodygrurad berbaju hitam yang gagah dan terlatih sekelas BIN.
“Banyak banget obatnya, aku nggak mau minum.” Gadis itu mengibaskan tangannya sambil menutup hidung.
“Tapi ini banyak banget Bang, mana obatnya segede Bobi lagi.” keluh Zea dengan melihat banyak kapsul obat di telapak tangannya.
“Oma juga mau minum obat, ayo sama-sama biar seru.” Oma Dinar mengambil obat di nampan pembantunya, dan menatap Zea serius.
“Tap-,”
“Kalau kamu tidak mau minum obat, Oma juga tidak mau minum.” ancam wanita tua itu dan meletakkan kembali obatnya.
Zea menghela nafas sebentar, lalu meraih air putih di gelas dan meminum obat itu dengan cepat sekali karena tidak kuat baunya. Kelvin tersenyum tipis, bagaimanapun Zea harus tetap bertahan. Walaupun, kesempatan hidup Zea sangatlah minim.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Woooowwww... Ini rumah atau istana sih? Gede banget kayak stadion Barcelona.” Vina berdiri memaku mengagumi Mansion Oma Zea.
“Cih, dasar norak, ini itu Mansion bukan Rumah.” cibir Mex memutar bola matanya malas.
“Kau sedang cari masalah kawan, habis ini kau dalam masalah besar.” Bisik Zega si telinga Mex memperingatkan.
“Gue kawan lo? Dih nggak Like gue amit-amit punya temen kayak lo.” Perkataan itu membuat Zega ingin sekali memukul wajah Mex yang selalu angkuh dan sombong itu.
BUAGHHH!!
“NGESELIN BANGET SIH LO MEX!!” sinis Vina langsung memukul Mex sangat keras menggunakan Tasnya yang mahal.
“Vin udah kali... Ngeladenin kok orang sombong plus gila!” celetuk Dira membuat Mex kesal, dan hendak memukul gadis itu.
__ADS_1
“Eiiiit, jaga tangan lo dari pacar gue.” Bian menangkis tangan Mex, membuat Dira mencibir cowok itu.
Dari kesemuanya hanya Bobi yang diam tidak berkomentar apapun, karena dia sibuk memakan camilan di tangannya.
“Hallo Guysss!! Selamat datang di Rest Area kami, saya mewakili Oma Dinar sangat senang kalian datang. Silahkan masuk semuanya, tidak perlu lepas Sepatu karena ini bukan tempat ibadah dan anggap saja Mansion ini milik Oma Dinar.”
Zea berdiri di anak tangga menunggu mereka di depan pintu utama Mansion yang sangat besar, namun para teman-temanya melihat Zea dengan tatapan sedih tak terkira.
Bagaimana tidak, mereka sangat terpukul kala Mex memberitahu penyakit Zea. Apalagi Gugun, pria itu sangat syok sekali, Zea yang menyadari teman-temannya menatapnya aneh, merasa kesal.
"Apakah ada yang belum masuk?" Zea clingak-clinguk menatap gerbang, diam-diam dia mencari Raka yang tidak ada, membuat semua teman-temannya terdiam dengan kesedihan masing-masing, "oh, sudah lengkap ya?" diantara mereka semua, Mex lah yang paling sedih, dia tau Zea mencari siapa.
"Apa gue udah mati ya? kok mereka tidak ada yang menjawab dari tadi?" Zea mengumam pelan dan menepuk-nepuk pipi dan bahunya sendiri, membuat mereka semakin sedih.
Vina dan Dira yang mendengar itu langsung memeluk Zea sangat erat, bahkan keduanya menangis sesegukan. Bobi yang melihat dua wanita itu menangis, juga ikut-ikutan menangis, badannya yang gembul bersandar di pundak Mex tanpa dia sadari.
“Kalau mau menyender jangan di pundak gue, dasar Kulkas Sepuluh pintu!! Di sana noh tiang listrik nganggur!!” Kaliamat pedas itu di ucapkan oleh Mex sambil menoyor kepala Bobi ilfil.
“Jahat banget sih lo Mex sama gue, tangan gendut gue rasanya pengen nyentil Gigi lo deh jadinya biar ompong!!” jiwa-jiwa terzolimi Bobi datang, membuat mereka tertawa.
"Elo gerakin badan aja susah, apalagi nyentil gue? jangan harap deh lo, dasar bunting!!" Ejek Mex lagi dengan meninggalkan mereka semua dan masuk kedalam Mansiom sambil menarik tangan Zea.
Dan kalian pasti bisa menabak, Zea sangat kesal dan memaki-maki cowok itu yang cengengesan tanpa dosa.
Saat memsuk kedalam mata mereka terpukau dengan pemandangan di dalamnya yang tampak elegan dan sangat-sangat indah, Mex hanya bersikap biasa saja karena dia sudah biasa melihat pemandangan mewah sepeeti ini.
Mereka semua bersalaman pada Oma, dan menyapa Kelvin.
“Nah itu loh Abang Zea, Ganteng banget kan Vin?” Bisik Dira di telinga Vina.
“Ah iya... Gue juga mau kali, kalau di jadikan pacarnya apalagi istrinya. Kenapa Zea tidak bilang-bilang sih kalau punya abang seganteng itu.” Bisik Vina membuat Zega yang tak sengaja mendengar, memutar bola matanya malas.
Bian yang mendengar itu menyentil dahi Dira, membuat gadis itu tertawa tanpa dosa.
Seketika ruangan yang biasa sepi mendadak menjadi ramai seperti pasar, bahkan ruangan yang sangat bersih mendadak seperti kapal pecah. Makanan dan minuman yang bercecran, Itu semua karena ulah Zega dan Bobi yang berantem.
Zega, Bobi dan Bian asik bermain game online. Sedangkan Vina dan Dira asik melihat koleksi benda langka milik oma Dinar yang sangat mehal tentunya di Rak pajangan.
“Ngapain lo liat-liat? Mana motor gue?!” sengit Zea ketika di tatap oleh Mex, tatapan itu sangat sulit di artikan.
“Lagi di cuci sayang.” Jawab mex ngasal, membuat Kelvin pura-pura mau muntah.
“Pakai kembang tujuh rupa tidak?” Zea takut kalau masih ada bekas pantant Mex membuat motornya tidak suci lagi.
“Tentu, bahkan sampai motor lo jadi warna-warni.” Jawab Mex tertawa membuat Zea melotot tajam, “elo masih sakit tidak sekarang?” Tanyanya tiba-tiba.
“Apa? Gue masih sakit? Ya jelas masih lah.” jawaban itu membuat hati Mex dan Kelvin sedih. “Maksudnya sakit kalau motor Black gue jadi berubah Rembo kayak pelangi, hehehe.” imbuhnya lagi kemudian tertawa renyah yang di buat-buat.
Namun ekspresi kedua laki-laki itu tetaplah sama, sedih. “Duh, nggak lucu ya?” Zea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Mex... Kok si Gugun tidak lo ajak kesini sih?” tanya Zea mengalihakn pembicaraan.
Mex hanya diam, dia sangat ingat sekali betul betapa terkejut dan sedihnya seorang Gugun yang selalu bersama Zea setiap hari saat mendengar kalu Zea Gagal Jantung. Ekspresinya sangat sulit di tebak, bahkan tadi saat Mex mengajaknya kemari, namun di tolak Gugun halus.
Gugun langsung masuk kedalam rumah tanpa mempersilahkan Mex masuk yang berdiri di ambang pintu.
Biar bagaimanapun, pasti Gugun tidak siap mendengar ini yang secara tiba-tiba. Dia merasa menjadi sosok yang tidak berguna karena tidak tahu kalau Zea sakit. Berulang kali Gugun meninju tembok meluapkan kekesalannya, dia menangis sedih dan tidak tega bertemu Zea.
Dia takut Zea kenapa-napa.
Sungguh.
__ADS_1
...BERSAMBUNG....
Kasih dukungan terbaik kalian ya, jangan lupa komen juga biar aku lebih semangat untuk up❤🤗.