
Satu setengah Bulan berlalu dengan cepat, Zea bahkan tidak pernah sekalipun bertemu Raka. Entah kenapa, semua temannya selalu punya cara agar Zea tidak bisa menemui Raka, begitupun sebaliknya. Mereka sangat berkerjasama agar keduanya jangan sampai bertemu.
Bahkan sekarang, banyak sekali bodygurad oma yang berada di sekolahan. Seperti ada yang menyamar menjadi Satpam, menjadi tukang kebun, staff TU dan masih banyak lagi.
Zea pusing, kelakuan oma seperti menjaga anak kecil saja.
Raka juga hampir gila, karena setelah kejadian Zea pergi dari rumahnya, mereka sama sekali tidak bertemu lagi. Dia selalu mondar-mandir melewati kelas Zea seperti orang bodoh, namun gadis yang di carinya itu tidak pernah muncul di hadapannya.
Apakah Zea baik-baik saja? Apakah Zea berangkat sekolah? Dia tinggal di mana? Apakah Zea makan dengan baik? Apakah Zea sudah sembuh?
Pertanyaan itu selalu berputar di kepalanya setiap malam, Raka tidak bisa tidur nyenyak. Dia ingin menemui Zea, tapi kenapa gadis itu seakan hilang di telan Bumi? Dia mendatangi tempat yang sering di kunjungi waktu mereka masih bersama, namun nihil. Zea tidak pernah ada dimanapun. Bahkan satu sekolahan kadang bertanya-tanya di mana most wanted satu itu berada sekarang.
Ini semua karena sudah menjadi perintah langsung dari pemilik sekolahan yaitu papa Mex. Zea selalu berangkat paling awal, mbawa bekal makanan untuk meminum obat dan yang pasti pulang sebelum bel berdering. Kerjasama yang cukup bagus, wali kelas Zea pun setuju, meningat gadis itu yang mengidap penyakit mematikan, Zea tidak boleh kelelahan dan banyak pikiran, dia harus tenang dan jauh dari keramaian.
"Rak... Kamu ngelamunin apa?" tanya Alda yang berada di kelas Raka, bersama dua antek-anteknya.
Tidak menjawab pertanyaan Alda, membuat gadis itu merasa geram. Lalu berjalan mendekati Raka yang duduk di kursi membaca buku, dan memeluknya dari samping.
"Rak... kapan kita akan menjadi sepasang kekasih?" gadis itu bergelayut manja di pundak Raka.
"LEPASIN GUE!! "
"Raka, elo kenapa marah? Apa elo masih belum bisa move on dari Zea?!" seru Alda menahan tangis, dia sudah berusa sekuat tenaga mencari perhatian Raka, namun selalu saja sia-sia.
"Apa urusan lo, hah?! Pergilah dari kehidupan gue selama-lamanya!! Semenjak ada lo, hidup gue jadi kacau... hancur berantakan!!"
Raka menarik dagu Alda dengan kasar, lalu mendorongnya dan di tolong oleh Caca dan Bianca.
BRAAAK!!
Raka keluar dari kelas sangat marah kemudian membanting pintu keras.
Bian, Bobi dan Zega. Mereka semua mendiamkan Raka, mereka akan pergi jika Raka bergabung. Ini gila, Raka bisa mati kalau begini terus. Semua orang seperti muak dan membenci dirinya.
Kini kakinya berjalan di koridor, hendak ke perpustakaan menenagkan hatinya sejenak.
Namun dia tidak sengaja berpapasan Mex, cowok itu sangat urakan seperti biasanya, seragam di keluarkan dan tidak memakai dasi. Mex tidak menyadari ada Raka, karena sibuk dengan ponselnya.
Padahal keduanya dulu kalau bertemu saling melotot dan Mex selalu menjulurkan lidahnya lalu mengacungkan jari pamali tengahnya, namun Mex juga berubah. Semenjak memutuskan Zea di taman beberapa bulan yang lalu. Mex tidak melakukan itu lagi, saat berpapasan pun dia tidak menganggap Raka ada.
Raka seperti di kutuk... Semua orang terdekatnya menjauh darinya. Bahkan papa dan mamanya juga mendiamkannya, mereka semua kecewa padanya. Hingga dia menyadari, dia tanpa Zea bagikan hidup tanpa nyawa. Dia ingin kembali pada Zea, memulai hal baru lagi.
Namun....
"MEX!!" Panggil Raka menghentikan langkah cowok itu.
Mex hanya menautkan alisnya, menatap Raka penuh kebencian.
"Lo tau Zea di mana?" tanyaya dengan suara putus asa, namun Mex seolah menuli dan terus berjalan meninggalkan Raka.
"Mex! Plis jawab gue, tolong...! Kali ini saja gue meminta tolong elo."Raka menarik bahu Mex, membuat cowok itu geram dan mengepalkan tangannya.
"Apa peduli lo, haah?!!" Ketus Mex tepat di depan wajahnya.
"G-gue mau minta maaf, gue sadar kalau gue sala-,"
BUAGGH!!
Mex meninju tubuh Raka keras, membuat cowok itu limbung kebelakang.
PLAAAK!!
"Udah telat bedeb*h si*lan!! Simpan maaf lo baik-baik. Dia sekarang sakit, Zea semakin menderita karena ulah lo!! Kalau dia sampai kenapa-napa, gue akan bunuh lo, CAMKAN ITU!!" Mex segera berlalu membawa kemarahannya, meninggalkan Raka yang meresapi omongan Mex.
Raka meringis, mengelus pipinya, dan melihat pungung Mex yang semakin menjauh. Raka menunduk dengan terus berjalan menyusuri koridor sendirian.
"Tes... Cek cek cek 1...2...3 hallo hallo."
Raka terdiam, mendengar suara tak asing baginya. Suara yang membuatnya rindu, suara yang satu bulan setengah ini membuatnya gila dan putus asa. Suara yang sangat ingin dia temui namun dia tidak pernah bisa.
__ADS_1
"Hay, gue di sini mau bawain lagu sedih untuk seseorang yang telah pergi dari kalian... Dengerin ya, semoga suka."
Suara itu membuat langkah Raka terhenti. Ini benar suara Zea, dia sangat hafal betul suara ini. Entah kenapa dia tersenyum bahagia sekali walaupun hanya mendengar suaranya.
Dengan perlahan tapi pasti, Zea mulai memetik gitarnya merah elektriknya. Iya, dia sekarang menayanyi di ruang kusus musik, di temani yang sahabat-sahabatnya.
Bukan menjadi rahasia lagi kalau gadis ini pandai memaikan gitar dan menyayi, bahkan Zea sering tampil saat PLS di sekolahannya.
Gadis itu menahan tangisnya, dadanya terasa sakit. Menahan rindu, menahan sakit Jantungnya juga. Zea merindukan papanya yqng teramat dalam, sekaligus Raka.
Mex menatap Zea intens, biarpun Mex sekarang sering di samping Zea. Tapi dia tidak bisa mengeser posisi Raka di hatinya.
SAKIT. Cinta memang tidak bisa di paksakkan.
"Don't Watch Me Cry."
...Oh, it hurts the most 'cause I don't know the cause...
...Oh, ini begitu menyakitkan karena aku tak tahu penyebabnya...
...Maybe I shouldn't have cried when you left and told me not to wait...
...Mungkin tak seharusnya aku menangis saat kau pergi dan mengatakan padaku jangan menunggu....
...Oh, it kills the most to say that I still care....
...Oh, ini begitu menyakitkan tuk diucapkan bahwa aku masih peduli....
...Now I'm left tryna rewind the times you held and kissed me back....
...Kini aku mencoba mengulang kembali saat kau memeluk dan menciumku....
Mex, menghembuskan nafasnya berat. Kenapa dia sangat sedih? Kalau bisa, dia mau menganti posisi Raka sekarang juga. Mex akan berjanji melindungi Zea.
Zea tersenyum getir, sambil terus bernyayi dan memetik gitarnya pelan. Pintu ruang musik telah terbuka lebar di kerumuni banyak siswa namun tidak di perbolehkan masuk kedalam.
Mereka ikut menghayati setiap lirik lagu, suara Zea sangat meredu dan alunan gitarnya sangat bagus.
...Aku penasaran apa kau memikirkan "Apa dia baik-baik saja?"...
...I wonder if you tried to call, but couldn't find your phone....
...Aku penasaran apa kau pernah mencoba tuk menghubungiku, tapi tak bisa menemukan ponselmu....
...Have I ever crossed your thoughts because your name's all over mine?...
...Pernahkah aku terlintas dalam benakmu?...
...A moment in time, don't watch me cry...
...Untuk sesaat, jangan melihat aku menangis....
...A moment in time, don't watch me cry....
...Untuk sesaat, jangan melihat aku menangis....
Raka menuju ke sumber suara, kebetulan dia berada di lantai tiga, sial. Padahal ruang musik berada di lantai satu. Dia berlari menuruni anak tangga, dia harus bertemu Zea bagaimanapun caranya. Dia rindu seperti orang gila, suara nyanyian di loud speaker semakin terdengar di telinganya dan menusuk hatinya.
...I'm not crying 'cause you left me on my own...
...Aku tak menangis karena kau meninggalkanku sendiri...
...I'm not crying 'cause you left me with no warning...
...Aku tak menangis karena kau meninggalkanku begitu saja...
...I'm just crying 'cause I can't escape what could've been...
...Aku menangis karena aku tak bisa menerima apa yang telah terjadi...
__ADS_1
...Are you aware when you set me free?...
...Apa kau sadar saat kau meninggalkanku?...
...All I can do is let my heart bleed...
...Yang bisa kulakukan hanyalah merelakan hatiku terluka...
...Oh, it's harder when you can't see through the thoughts...
...Oh, ini lebih sulit ketika kau tak bisa berpikir jernih...
...Not that I wanna get in, but I want to see...
...how your mind works...
...Bukan karena aku ingin masuk (ke pikiranmu), tapi aku ingin melihat cara kau berpikir...
...No, it's harder when they don't know...
...what they've done...
...Tidak, ini lebih sulit ketika mereka tak tahu apa yang telah mereka lakukan...
...Thinking it's better they leave, meaning...
...that I'll have to move on...
...Aku berpikir lebih baik mereka pergi, berarti aku harus pindah (ke lain hati)....
"No, come on Zeee please tunggu aku... I am sorry, Zea. Kamu tidak boleh pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri lagi, aku mohon. Aku menyesal, tuhan biarkan aku meminta maaf sekali lagi pada gadisku... Tolong aku." Raka berlalri menuruni anak tangga susah payah, dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya tidak henti-hentinya, menyebut nama Zea dan meminta maaf.
Saat tepat sampai di ruang musik, banyak sekali kerumunan siswa, suara Zea juga menghilang saat itu juga. Raka, berdiri paling belakang, berusaha menerobos maju kedepan, namun susah. Penuh sesak oleh siswa yang hanya berada di luar ruangan.
"MINGGIR SEDIKIT!! BERI GUE JALAN!!" ketus Raka menarik paksa mereka untuk menyingkir.
"K menghalangi jalanku SIAL*N!!" umpatnya sekali lagi, dengan meneriaki siapapun yang mengangu jalannya.
Mereka semua takut lalu menyingkir, namun apa yang Raka lihat? Gitar merah itu sudah berada di atas meja nanar dan Zea sudah tidak ada, kenapa lagi-lagi seperti ini? Apakah Zea benar-benar membenci dirinya sekarang?
BUAGHHH!!
Tangan Raka terkepal, meninju tembok dkeras hingga tangannya menggeluarkan darah, membuat para siswa yang menatapnya sulit di artikan.
"Katakan pada gue, siapa yang Menanyi dan main gitar tadi!?" ketus Raka menatap mereka semua tajam. Namun mereka diam, tidak ada yang berani menjawabnya.
"APA KALIAN BISU?! ZEA ATAU BUKAN YANG MENANYI TADI, HAH?!" kali ini Raka menarik kerah baju adik kelas laki-lakinya, yang memakai kaca mata. Raka sangat menakutkan dan tidak terkendali.
"Euum. An-anu... I-iya kak," Jawabnya gugup ketakutan.
"LALU DI MANA DIA SEKARANG!!"
"Dia sudah pergi..."
Raka mengusap wajahnya kasar, dia terkulai lemas tak berdaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Raka tidak bisa konsentrasi saat mengerjakan soal Ujian Nasional di depannya ini, dirinya selalu saja mengingat kejadian beberapa hari kemarin. Suara nyanyian Zea, masih terngiang di telinganya.
"Maafkan aku, Ze... Aku adalah cowok brengsek!! Aku jujur, aku menyesal berpisah denganmu. Aku mohon, jangan menghindar dariku lagi, aku lelah tanpamu. Aku sangat-sangat sangat merindukanmu. l love you." Lirih Raka dengan suara putus asa, sesekali dia mermas kertas di depannya.
Di ruang Ujian lain, Zea sedang mengerjakan soal Ujian dengan tenang. Walaupun nafasnya dari tadi sangat sesak, dadanya sangat sakit dan setiap hari semakin perih sekali. Apakah dia akan mati? Karena sakit di dadanya ini luar biasa tidak main-main.
Dia tidak kuat.
TES!!
"Apa papa dan Raka pernah merindukanku? Kalian semua baik-baik saja kan setelah aku pergi? Hiduplah dengan tenang, aku pun juga akan pergi dengan tenang juga suatu hari nanti." lirihnya dengan tersenyum tipis, lalu mengusap air matanya di pipi setelah itu memegangi dadanya yang terasa hendak pecah, "bersabarlah sebentar ya jantung, setidaknya biar wisuda dulu agar aku bisa melihat Papa sekali lagi." Zea tak ingin menangis, namun air matanya selalu saja turun membaasahi pipinya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG....
Semoga kalian suka ya chapter ini❤. Terimakasih banyak, buat semuanya saja atas dukungan terbaiknya, semoga kalian selalu sehat dan sukses kedepannya, aku sayang kalian❤🔥.