
**PAGI** ini Zea sedang duduk di meja makan, di samping kanannya ada Alda yang berbicara manja pada papanya. Sedangkan Susanti duduk di samping Baskara. Jangan tanyakan Zea, gadis itu hanya diam dengan terus memakan roti sandwichnya tanpa banyak bicara, setiap pagi dia terpaksa sarapan bersama mereka. Kalau saja tidak Ada Kelvin, mungkin gadis itu memilih sarapan di kantin sekolahnya. Zea mengeruntu dalam hati, kenapa Kelvin belum turun dan sarapan pula? Biasanya jam seperti ini, dia sudah siap dengan jas rapi kantornya.
"Pa... Ma, aku hari ini cantik gak?" Tanya Alda sambil mengaca di ponsel. Baskara yang menyeruput kopinya pun terhenti dan menoleh kearah Alda.
"Cantik dong sayang, sama seperti mama kamu." Puji Baskara sambil melirik Zea, gadis itu seperti tidak terggangu dengan perkataan papanya barusan.
Baru kali ini Zea mendengar papanya memuji Susanti dan Alda. Biasanya tidak pernah sama sekali. Aneh. Jangan-jangan tadi hanya untuk memanasi Zea saja?
"Mas Baskara, bisa aja deh gombalnya,"
"kalau gini kan, Alda makin sayang banget sama Papa dan Mama. Pa, anterin Alda sekolah dong!" Ucapnnya tepat di telinga Zea, membuat gadis itu mengentikan tangannya yang hendak memakan kembali rotinya.
"Iya nanti Papa anterin," Jawab Baskara datar sambil mengecek notif di ponselnya.
"Hehe, makasih Pa." Baskara mengangguk sebagai jawaban.
Jangan iri dengki, Ze... Ingat lo kudu sabar dan tegar, kalau perlu lo harus minum obat kuat biar gak gampang loyo, batin Zea dalam hatinya.
"Betah banget sih lo ada di sini? Gak pernah di anggep aja kok belagu," Alda menendendang kaki Zea, membuat gadis itu mengepalkan tangannya dan lagi-lagi terhenti hendak mengigit roti sandwichnya.
"Udah dong sayang, angap aja dia itu gak ada," kata Susanti sambil mengupas buah apel.
Susanti sialan, emang gue ini makhluk halus gitu? Batin Zea dalam hatinya sembari menghela nafas berat.
Zea melirik papanya, dia seolah tak peduli dengan cibiran mereka pada Zea. Apakah papanya akan seterusnya membenci dirinya? kalau boleh jujur, Zea ingin suatu saat papanya itu bisa seperti dulu lagi.
Tidak mengabaikannya seperti sekarang.
"Jaga bicara kalian!! Kalian yang harusnya ngaca dan sadar diri!!" Kelvin turun dari tangga dengan menatap tajam ke arah Susanti dan Alda, "Papa juga kenapa, coba? Harusnya bela Zea dong! Setiap hari selalu saja dia yang terpojokkan, di mana keadilan keluarga ini hah?" Kini tatapan Kelvin jatuh pada papanya yang sibuk dengan ponselnya.
"Dia siapaku? Dia tidak berhak untuk aku bela." jawab Baskara tanpa menatap Kelvin, perkataan Baskara tadi mampu membuat hati Zea merasa sesak dan sedih. Mau sampai kapan Papanya akan seperti ini?
Zea capek. Sangat-sangat capek. Fisiknya lelah, batinnya terlebih lelah lagi.
"Udah bang biarin, beritahu dia bahwa Zea juga tidak butuh pembelaan," gadis itu segera bangkit dan melangkahkan kakinya pergi.
"Abang anterin dek, sebentar." Teriak Kelvin.
"Aku bukan gadis manja bang, Zea bisa berangkat sendiri kok. Terimakasih, hehe." gadis itu sengaja betul menyindir Alda.
Kelvin melihat pungung Zea yang kian menjauh, bahkan sarapanya masih belum dia makan separuh. Kelvin sedih. Hatinya seperti di iris melihat Zea selalu di perlakukan beda oleh papanya sendiri.
"Gimana perusahaan kamu, Kel?" Baskara mengalihkan susasana yang cangung di antara keduanya.
"Baik, berkembang pesat." Jawab Kelvin seadanya, "Kelvin berangkat dulu, udah tidak mood sarapan!"
"Silahkan pergi sana, hush-hush!! Susul adek tirimu yang nakal itu!" Cibir Susanti dengan di akhiri tawa khasnya.
"Bacot lo nenek lampir!!" ketus Kelvin merasa sangat geram.
__ADS_1
Setelah Zea dan Kelvin pergi suasana menjadi hening, Baskara meletakan ponselnya dan menarik nafas dalam-dalam. Menatap Alda dan Susanti dengan tatapan sulit di artikan.
"Puas kalian berdua sekarang?! seharusnya kalian tidak bersikap seperti itu, mereka tidak ada salah sama kalian, jadi berhentilah bersikap seperti itu lagi." Setelah mengatakan itu, Baskara segera bangkit dari duduknya dan pergi mengambil tas kerjanya.
Dulu Gia mendiang istrinya, selalu membawakan tas kerjanya dan mengecup tangan suaminya itu sebelum berangkat kerja. Brebeda sekali dengan Susanti yang bisanya hanya minta uang dan menuntut ini itu.
...******...
Zea sekarang sudah berada di parkiran sekolahnya , dia segera turun dari motor besarnya, saat dia membuka helmnya, tiba-tiba ada seseorang yang parkir tepat di sebelah motornya.
"Bisa gak sih, gak usah deket-deket motor gue parkirnya?!"
Ketus Zea ke Raka yang parkir begitu dekat dengan motornya, entah Raka sengaja atau memang kebetulan dia sungguh tidak tau kalau di sebelahnya sekarang itu motor Zea.
Gilak, kenapa harus di sebelah Zea? Batin Raka sambil menelan ludahnya deg-degan.
"Suka-suka gue dong, emang ini parkiran punya bapak lo?"Jawab Raka sok ketus sambil membuka helmnya, membuat para cewek-cewek yang melewati parkiran tersebut tersepona.
Raka memang populer di kalangan para wanita, tubuhnya yang tinggi menjulang dan memiliki garis wajah yang begitu menawan mampu memikat wanita mana saja.
Tapi di balik itu, dia masih setia menjomblo sampai sekarang.
Dan mungkin hanya Zea satu-satunya gadis yang tidak pernah mengagumi cowok tampan itu, setiap mereka bertemu tidak ada kata damai bagi keduanya.
Zea yang tidak mau ambil pusing lantas pergi menuju kelasnya, cukup di rumah moodnya selalu hancur, maka di sekolah dia harus bahagia saat bertemu para teman-temannya.
Raka mengikuti gadis itu dari belakang, dia berjalan santai tanpa memperdulikan banyak pasang mata cewek yang menatapnya kagum.
Zega dan Bian berlari mengejar keduanya, membuat Raka dan Zea menoleh kebelakang dan berhenti melangkahkan kakinya.
"Yaelah gak berani deketin ya Bro? Beraninya Cuma buntutin dari belakang aja, gak laki lo Rak Banci!" Cibir Zega sambil berjalan mensejajari Raka.
"Gue buntutin Zea? Dih ogah, mending gue buntutin Ayamnya pak Somad." sinis Raka sambil memonyor kepala Zega.
Padahal dia tadi beneran ngikutin Zea, tapi dia terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Ayamnya emang mau di apain?" tanya Bian penasaran.
"Gue curi lah!" Jawab Raka sambil tertawa, membuat mereka semua memutar bola matanya malas.
Zea yang hanya diam dari tadi pun merasa sangat kesal.
"Ajak gue dong, kalo mau nguntit ayam," Zega yang benar saja, padahal Raka tadi hanya bergurau saja.
"Heh!! Kelas kalian bertiga itu di sebalah sana wahai cicit Adam yang terhormat!! Kenapa kalian ngikutin gue, hah?" mereka bertiga mengerjabkan matanya mengikuti tangan Zea yang menunjuk area kelasnyna.
"Aa-astagfirullah. kalian pada congek ya? Di teriakin dari tadi pada gak nyaut!!" Bobi terengah-engah, tubuh gendutnya terlihat berkeringat. Sepertinya dia susah-payah berlari mengejar merka semua.
Tidak menghiraukan kedatangan Bobi, mereka berbalik arah sendiri-sendiri dan meninggalkan cowok berbadan subur itu yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
"Yah lord, kok gue di tinggalin sendiri? Akh emaaak!! Bobi di tinggalin pas lagi sayang-sayangnya!!" Teriak Bobi memelas sekali.
"Lebay Ndut!!"
Sindir salah seorang cowok yang melewati samping Bobi, membuat Bobi mendadak ketakutan.
Kalau saja cowok itu bukan jawara di sekolah ini, rasanya Bobi mau menyleding cowok kurang ajar yang mengatainya gendut itu.
Enak saja, dia ini kan langsing kalau di liat dari jarak Empat ratus tujuh puluh tiga Meter.
...*****...
Sesampainya di dalam kelas semua orang memperhatikan Zea, pasalnya gadis itu tidak telat seperti biasanya, maklum sekarang hari Senin. Zea yang merasa di perhatikan pun menatap para teman-temanya dengan tatapan sebal.
"Ngapain kalian pada liatin gue? Mau gue elus mata kalian?!" seketika mereka mengalihkan pandangannya dan kembali menyibukkan diri, mereka takut jika harus berurusan dengan gadis pentolan di sekolah ini.
BRAK!!
Zea melemparkan tasnya dari kejauhan, membuat kedua temannya menghindar, tas itu hampir saja mengenai kepala Dira dan Vina.
"Kurang ajar!" Pekik Dira.
"ZEASU!" Vina berteriak kencang.
"Hehe. Maaf, gue emang sengaja, hehe." Jujur gadis itu sambil menggaruk kepalanya dan menunjukan deretan rapi giginya.
"Lo bawa topi tidak? Sekarang upacara ..." tanya Dira, yang membuat senyum Zea langsung memudar.
Zea tampak berfikir dan segera membuka tasnya, seketika dia menjadi lemas kemudian merebahkan tubuhnya di kursi dan mengeruntu kesal.
"Bawa tidak?" tanya Vina menautkan kedua alisnya.
"Tas gue misterius, tidak ada penghuninya masa. Entahlah, topi gue sekarang di mana, dengan siapa dan sedang berbuat apa?" kedua temanya menepuk jidat, mereka geram dengan tingkah Zea.
"Ayo-ayo waktunya upacara udah tiba!! Jangan lupa pakai dasi dan topi ya kawan-kawan." perintah sang ketua kelas, dan mendapat anggukan dari para temannya.
Terkecuali Zea tentunya.
Zea tampak kebingungan harus bagaimana. bisa gawat urusanya jika di suruh berdiri di samping tiang bendera. Dia bukan takut kulitnya berubah jadi hitam, melainkan dia tak mau saja menjadi pusat perhatian seantero sekolahan. Apalagi dirinya ini sangat terkenal di sekolahnya itu. Kira-kira seperti itu yang ada di otak Zea yang kelewat PD itu.
"Gimana dong? Masa gue hari ini di hukum lagi?"
"Sukurin!! Gue juga bingung ini mau bantu lo gimana." Vina memang sadis dan tajam kalau ngomong, tapi sejatinya hatinya baik kok.
"Nikmatin aja kalau begitu Ze, lagian gue kamarin juga udah WhatsApp lo. Makanya jadi orang jangan sombong-sombong!! Pakai acara gak di read segala. Sekarang lo, nyesel kan? kesel kan? mutusin gueh?"
"Kenapa lo jadi nyanyi sih, anjir!! Mana suaranya kayak kambing kejepit lagi." Zea mengacak rambutnya kesal, Dira bukanya mencari solusi yang tepat malah membuatnya marah.
Mau tak mau mereka harus kelauar kelas, dan Zea harus terima jika hari ini di hukum. Namun, saat Zea menyender di tembok koridor, tiba-tiba ada seseorang yang datang sambil melemparkan topinya ke arah gadis itu.
__ADS_1
Siapakah dia? Tunggu kelanjutanya😘😁.