
BEL sekolah telah berdentang beberapa menit yang lalu, Zea dan kedua sahabatnya juga sudah berpisah. Tak lain hal dengan Zea, gadis itu di tunggu pacarnya tepat di depan kelasnya. Membuat Vina dan Dira mengolok-oloknya habis-habisan dari tadi. Namun Raka tidak peduli, namanya juga Cinta.
“Mari tuan putri.” Raka tersenyum sembari mengulurkan tangannya.
Zea sempat terkagum-kagum menatap senyuman menawan itu. Jarang sekali Raka tersenyum sampai terlihat lesung pipitnya. Senyuman itu membuat kesan tampannya bertamabh beribu-ribu kali lipat.
“Lebay!!”
Celetuk Zea malu-malu sambil menerima uluran tangan Raka. Raka yang gemas dengan gadisnya lalu mengacak surai pendek Zea dengan sayang.
Raka dan Zea memutuskan untuk pergi ke makam mama Gia. Dan setelah itu, Raka juga mengajaknya berkunjung ke rumahnya. Itu permintaan dari mamanya langsung, gadis itu merasa antusias sekali, Raka senang Zea yang seperti itu.
Saking asiknya mereka berbincang-bincang, tiba-tiba ada seseorang yang menarik rambut Zea dengan kasar. Membuat gadis itu mengaduh kesakitan, Raka yang melihat itu tersulut emosi. Apalagi mendapati siapa pelakunya.
“Lo jauhin Raka, dia itu tidak pantes buat lo!!”
Raka geram dengan Alda, apalagi melihat Zea memegangi kepalanya yang terasa panas. Kulit kepalanya terasa akan mengelupas beserta rambut-rambutnya.
“BERENGSEK!! Jaga tangan kotor lo, dan jangan berani-berani sentuh pacar gue!!” Ketus Raka membuat Alda tak merasa sakit hati. Karena dia sudah terbiasa dengan ucapan kasar Raka. sungguh, dia tak merasa sakit hati sedikit pun.
“Apa salah gue? Kenapa lo suka banget hancurin kebahagiaan gue? Apa lo nggak puas hanya dengan merebut papa dari gue?” Suara Zea putus asa, menatap Alda murka.
“Puas kata lo? Sebelum lo hancur gue tidak akan pernah merasa puas anak sialan!!”
PLAAAK!
“Mungkin lo hari ini bisa rebut papa dari gue. Tapi inggat!! Suatu saat lo bakalan nyesel dan memohon di hadapan gue, atas semua perbuatan lo. Dan satu lagi yang perlu lo inggat, jangan rebut milik gue yang ini (Raka). Atau lo, akan tau sendiri akibatnya.” Ucap Zea penuh penekanan, dan menarik tangan kekar Raka menjauh dari Alda.
“Sialan...” Umpat Alda memegangi pipinya yang terasa sangat panas. “RAKA!! Lo harus jadi milik gue, bagaimanapun caranaya!” teriak Alda frustasi, menatap kepergian Raka dan Zea. Tangannya terkepal dan dia segera menuju ke mobilnya untuk pulang.
Raka tersenyum memandangi Zea yang sedang menariknya, dia merasa sedih dan terharu. Kasihan sekali gadisnya ini, hidupnya hancur dan juga penuh dengan kekejaman.
Raka berhenti, membuat Zea yang berjalan di depan juga ikut berhenti. Dia menoleh ke belakang menekuk wajahnya, menatap Raka yang sedang menatapnya sendu.
“Kamu kenapa?”
Tidak menjawab pertanyaan Zea, cowok itu memeluk gadisnya dengan erat, sangat erat bahkan. Tidak peduli kalau seandainya ada siswa lain yang melihatnya.
__ADS_1
“Jangan pernah pergi dariku!! aku mohon, aku sangat mencintaimu.” Ucap Raka dengan suara serak.
Tubuh Zea pas sekali dengan postur tubuh Raka yang kekar. Tinggi Zea hanya sampai di dada Raka, membuatnya nyaman di peluk.
Zea tersenyum dan beberapa menit kemudian dia melepaskan pelukannya, “caranya gampang jika kamu memintaku untuk tetap besamamu.” Ucapnya tersenyum tulus.
“Apa? Asal kamu tidak menyuruhku mengelilingi bumi, aku akan menyetujuinya?” Raka terkekeh membuat Zea tertawa dan memukul lengan pacarnya itu.
“Jangan pernah sekalipun membenciku. Karena aku, sudah tidak kuat lagi di benci seseorang yang aku cintai.” kata Zea tulus, matanya berkaca-kaca.
Cinta pertama seorang anak gadis itu, di menangkan oleh papanya. Namun apa yang ia peroleh? Hanya kekejaman dan juga penghinaan. Dia rapuh, dia lelah dengan ini semua. Kalau boleh jujur, dia ingin sekali rasanya di peluk lagi oleh papanya, berjalan dan menghabiskan waktu bersama lagi, namun semakin kesini dan semakin hari, rasanya tidak mungkin hal itu akan terjadi karena papanya semakin menjauh darinya.
“Aku tidak akan pernah membencimu dan soal mencintaimu kamu tidak usah meragukan akan hal itu. Sampai kapanpun hanya kamu yang ada di hatiku sejak dulu.” Lagi-lagi Raka memeluk gadisnya erat dan Zea mengangguk sembari tersenyum lega.
...*****...
Saat tiba di pemakaman, gadis itu menyernyitkan dahinya. Pasalnya ada seorang pria paruh baya yang berjongkok di hadapan makam mamanya dan kira-kira pira itu usianya sama dengan papanya.
Di lihat dari tampilannya, orang itu masih sangat gagah dan berwibawa. Perawakannya berbadan tegap dan tinggi, serta hidung mancung dan dagu yang kokoh.
Pakaian yang di kenakan pira itu serba hitam, mulai dari Kacamata, Baju dan juga Celana. Pasti dia bukan orang sembarangan, di lihat dari semua atributnya dia memakai barang mahal semua, mulai dari jam yang seharga mobil mewah, kacamata limited edition.
“Dia siapa?” Gadis itu memberhentikan langkahnya, membuat Raka yang berjalan di sampingnya terhenti.
“Maksudmu apa sayang?”
Tanpa menjawab perkataan Raka, Zea berjalan mendekati orang yang masih setia berjongkok di hadapan makam mamanya. Pria itu masih belum menyadari kedatangan keduanya karena masih fokus menatap nisan bertuliskan Gia Aurora dengan perasaan campur aduk.
“Anda siapa? Dan apa yang Anda lakukan di makam mama saya?!” tanya Zea penuh selidik, karena dia sering sekali mendapati makam mamanya penuh dengan bungga baru.
Itu yang atrinya, ada seseorang yang selalu setia mengunjunginya. Dan juga setangkai bunga mawar kesukaan mama Gia selalu di letakkan tepat di atas Nisan.
Zea berfikir keras, jadi selama ini orang yang selalu saja berkunjung ke makam mamanya adalah orang ini. Tapi siapakah dia? Dan apa hubungannya dengan sang mama?
Sial, mendadak Zea sangat pusing memikirkan itu semua.
“Apakah kamu anak, Gia?” orang itu berdiri dan menatap Zea dari atas sampai bawah, suaranya dingin tapi sangat menakutkan.
__ADS_1
“Iya, dan jangan mengalihkan pembicaraan. Cepat katakan kau ini siapa?!!” ketus Zea, karena orang asing ini mencurigakan.
“Tahan emosimu sayang.” Raka menarik tangan Zea, karena gadis itu mulai mengepalkan tangannya.
Seketika pria asing itu melihat ke arah Raka sekilas, lalu kembali menatap Zea. “Aku tidak mempunyai urusan denganmu, jagalah sikapmu!!” jelas orang itu dengan menatap Zea datar dan segera berlalu pergi.
“Kenapa Anda tidak jujur? siapa sebenarnya kau? saya berhak tau karena anda mendatangi makam mama saya?” Zea hendak berlari dan mengejar orang itu, namun lagi-lagi tangan Raka menghentikannya.
“Sudah, jangan ribut di makam sayang. Kasihan mama Gia, dia pasti orang baik kok, kalau tidak baik ngapain dia mau mendatangi makam mamamu?”
Ada benarnya juga yang di bilang Raka. Kalau papanya juga sering berkunjung ke makam mamanya dan sialnya kadang suka kebetulan Zea juga ingin berkunjung, membuat Zea harus menunggu di luar pemakaman terlebih dahulu agar tidak berpapasan dengan papanya.
Zea segera berjongkok dan menyampirkan anak rambutnya di belakang telinga, di ikuti oleh Raka di sampingnya.
“Assalamualikum, mama.” Ucap gadis itu tersenyum sambil mengusap batu nisan mamanya.
Raka sempat terkejut saat Zea memberi salam mamanya, sebrutal apapun Zea dia tetap punya etika dan prilaku yang sopan. Walaupun tidak di ajari oleh papanya. Raka sangat terharu.
“Aku kesini sama seseorang, lho Ma. Dia adalah Raka, orang yang aku anggap musuh kala itu.” kata Zea terkekeh membuat Raka yang setia mendengarkan mendengus geli.
“Dia cowok yang baik kok, ma. Kadang kalau tidak menyebalkan saja sih, hehe.” Ucapnya lagi membuat Raka melotot.
“Tapi aku sangat mencintaimu,” kata Raka tersenyum.
“Apa mama dengar itu? Mama tau tidak? Ternyata pacar aku ini sudah lama menyimpan rasa pada Zea.” Ucapnya tekekeh, dengan menarik kedua pipi Raka gemas.
“Restui kami berdua ya, ma. Suatu saat saya berjanji akan menjadikan anak mama sebagi pendamping Raka.” Ucapan Raka membuat gadis itu mengerjabkan matanya beberapa kali, dan membuat pipinya merah merona.
“Dia mamaku, bukan mamamu!!”
“Terserah... Karena mamamu mamaku, mamaku mamamu.” Ucap Raka enteng, dengan menjulurkan lidahny, membuat Zea berfikir bingung beberapa detik.
“Aaaaaa... Soswit.”
Zea memeluk Raka, saking kencangnya Zea memeluk, membuat mereka terjatuh ke tanah, dan di akhiri tawa pecah keduanya. Karena baju keduanya kotor terkena tanah.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Maaf ya telat up, hari ini author banyak kerjaan dan lagi baru berduka cita😭. Doain temanku ya gais, dia pulang dan tidak akan pernah kembali lagi, anaknya baik banget, pinter, cantik, dan terlebih solehah. Gak nyangka banget dia di jemput sama yang di atas secepat ini😭.
Teruntuk siapapun yang baca ini, jangan lupa beribadah yang baik ya, sayangi orangtua kalian kalau masih ada, berbagi kalau punya, pokoknya lakuin apapun yang baik-baik❤😢. Umur tidak ada yang tahu, sedangkan kehidupan terpanjang kelak saat di akhirat. Selamat jalan sayang, doaku menyertaimu😭❤.