PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
47. Selamat tinggal.


__ADS_3

NOTE: Silahkan siapkan tisu untuk membaca beberapa part kebelakang❤. Jangan lupa juga, persiapkan mental kalian🤗.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kak Laka kak Laka tulunin Licky!!” Rengek Ricky sambil memakan permen kiss di gendongan Raka.


Raka sangat kesal, karena adeknya membuat jas yang di kenakannya menjadi lusuh. Padahal acara Wisuda belum juga di mulai, papa dan mamanya entah kemana mereka sekarang.


Tiba-tiba, Ada seseorang yang datang mengampiri mereka. “Hallo adek kecil, ketemu lagi dengan calon kakak Ipar, hehe.” Sapa Alda dengan mencubit pipi gembul Ricky gemas.


Raka ingin sekali menyumpal mulut Alda, enak saja dia mengeklaim bahwa dirinya itu adalah calon menantu keluarga Vernando.


Raka dan Ricky menatap Alda dari atas sampai bawah, kebaya yang di kenakan gadis itu seperti kekurangan bahan dengan memperlihatkan lekuk tubuhnya jelas.


Rikcy menatap tajam Alda lalu berkacak pingang. “Udah duwa kali ya kamu ejek aku gitu, mau aku Tindu, ho'oh? Licky itu tidak ngompol lagi, jadi udah besal!!” Ricky mengepalkan kedua tangannya, sembari memasang kuda-kuda. Raka yang melihat itu menahan tawanya dalam hati.


Mampus kau Alda, tunggu saja jurus adek gue. Batin Raka dalam hatinya tersenyum licik.


“Oh, siapa takut Tinjumu? Kakak lebih besar darimu, jadi tidak akan kalah.” Alda tertawa mencubit hidung mancung Ricky, membuat anak itu ssmakin kesal.


BUAGH!!


BUAGH!!


PLUNG!!


"RICKKKY NAKALLL IH KAMU!!” Alda memekik sambil meringis kesakitan karena kedua betisnya di tendang Ricky, tidak sampai di situ. Ricky juga menyemburkan permen di mulutnya menempel di rambut Alda.


“Sukurin, bwleeek.” Ricky menjulurkan lidahnya dan segera berlari kencang.


Ricky terus berlari menjauh dari mereka, dia tertawa puas karena dia tidak suka dengan Alda. Tiba-tiba dia tidak sengaja menabrak seseorang.


BRUGH!!


Ricky yang sadar dia salah dia mundur dua langkah sambil menundukkan kepalanya. Dia takut, kalau orang yang di tabraknya akan memarahinya.


“Ricky... Hei!! Hallo, jagoan kakak. Ini kak Zea sayang.” Zea antusias dan berjongkok di hadapan anak itu, lalu menangkup pipi Ricky dan memeluknya erat, Zea tersenyum senang tak dapat di sembunyikannya.


Oma menggerakan dagunya, seolah bertanya, siapa bocah itu? pada Kelvin. Namun Kelvin hanya diam.

__ADS_1


“Kak Zea? kak Zea kemana saja selama ini? Licky lindu kak Zea, kenapa tidak pelah main lagi kelumah cih? Licky ada salah ya sama kak Zea?” Anak itu menangis lalu memeluk Zea erat. “Kakak jahat, hiks... Tidak mau lagi main kelumah, huwah...”


Kelvin mengehembuskan nafasnya berat, otaknya sangat pening. Sampai saat ini, Mereka belum mendapakan donor Jantung untuk Zea.


Zea juga ikut menangis, dia  merindukan anak kecil tampan ini, apalagi kakaknya dan juga papa mama Raka.


“Maafin kakak, sayang.” Zea melepas pelukan itu halus lalu mengusap air mata Ricky, “jagoan kakak nggak boleh nangis ya, nanti gantengnya ilang tau. Ricky mau es krim tidak, umm?” tanya Zea lembut mengasak rambut Ricky sayang.


Ricky mengangguk lemah, sambil terus menatap Zea yang kali ini terlihat sangat cantik menggunakan Kebaya dan make up tipis.


“Sini Bang es krim Zea tadi!!” Kelvin menyerahkan es krim Zea.


“Katanya kak Zea mau ngajakin Licky main, aku tungguin telus, tapi kak Laka tidak pelnah datang bawa kak Zea lagi, kak Zea lagi malahan sama kak Laka ya?” Zea tidak menangapi pertanyaan itu, dia tak kuasa menjawabnya membuat dadanya sesak.


HAP!


Zea menyuapi Ricky es krim penuh kasih sayang, lalu tersenyum. “Jika kakak tak memiliki kesempatan untuk menemuimu lagi, apakah Ricky mau menemui kakak untuk terakhir kalinya saat kak Zea sudah tertidur panjang?" Zea berbisik sedih di telinga anak kecil itu, membuat Oma, Kelvin dan Nadia tidak tau apa yang sedang di katakan Zea.


"Maksudnya teltidul panjang?"


Zea tersenyum menahan sakit di dadanya, semenjak semalam dirinya tidak bisa tertidur karena jantungnya serasa ingin pecah.


"Mama Kak Zea semalam datang ke mimpi kakak, dia sudah menunggu kepulangan kakak. Maka dari itu, kakak akan tertidur panjang dulu sebelum pergi jauh untuk bertemu mama kak Zea." Bisik Zea lagi palan, suaranya bergetar sambil memegang dadanya yang seperti berdetak lambat.


Tanya anak itu polos dan sedih, mendengar Zea akan pergi jauh.


"No, Ricky!! Kakak pasti akan menemuimu di mimpi saat kamu tertidur besok, oke?"


"Janji?"


"Kakak janji." Zea menyodorkan jari kelingkingnya dan di paut oleh Ricky.


“Huwaah, Licky sayang kak Zea.” Ricky lagi-lagi memeluk Zea erat, dan gadis itu juga membalasnya dengan sangat erat sekali, matanya berkaca-kaca karena anak ini tidak akan tau maksud ucapannya tadi.


Maafkan kakak ya Ricky, kakak sepertinya sekarang sudah tidak kuat lagi menahan sakit ini yang terus saja mengerogoti, batin Zea dalam hatinya.


“Zea sayang... Ayo kita pergi!!” ajak Oma Dinar menarik paksa Zea.


Gadis itupun hanya bisa menurut, dan mengikuti Oma, namun langkahnya berhenti sejenak dan menoleh kebelakang. “Selamat tinggal Ricky sayang, jangan nakal-nakal, ya?” Pesan Zea tersenyum tipis dan melambaikan tangan.

__ADS_1


"KAK ZEAAAAA!!" Ricky sedih hendak berlari mengejar Zea, namun Kelvin menahan tubuh bocah kecil itu untuk tetap di tempat.


“Udah ayo.” Oma kembali menarik tangan Zea. “Dia adek Raka, kan?”


"Iya” jawab Zea menunduk sedih. “Dia anak yang cerdas, seperti kakaknya.” Gadis itu tersenyum tipis dan mengingat wajah tampan Raka.


“Jangan berhubungan dengan mereka lagi, kamu mengerti?!” Nadia mengusap pundak Kelvin yang sudah berjalan di belakangnya, Nadia langsung mememegang pundak Kelvin mengisyaratkan untuk berhenti bicara.


“Sampai hari ini aku tidak membenci papa ataupun Raka. Kemarin adalah pelajaran, besok adalah misteri dan hanya tuhan yang tau masa depan.” Jawab Zea dingin dan mendahului mereka.


...----------------...


Raka berjalan mondar-mandir mencari adiknya, dia mendecak kesal. Kenapa dirinya seperti bapak-bapak yang mencari anaknya?


“Ricky, kamu dari mana, hah?! Itu es krim kamu dapet dari siapa? Kamu tuh jangan pergi seenaknya sendiri, sekolah ini itu luas tau tidak?” Raka berkacak pingang memarahi Ricky.


Sedangkan yang di tatap asik memakan es krimnya, dengan mulut yang belepotan.


“Ricky, jawab kakak!” Raka mendorong kepala adeknya.


“Tadi aku ketemu kak Zea,” ucap Ricky santai, “kak Zea juga kasih aku es kim in-,”


“Ap-apa kamu bilang Ric? kak Zea?!” Anak itu menganguk riang.


“Di mana dia sekarang?” Raka memegang kedua pundak adeknya dan mengguncang-guncangnya keras.


“Dia udah pelgi,” Raka meraup wajahnya frustasi.


“Zea... Kenapa harus begini sih?! Aku mohon kali ini saja, jangan menghindar dariku lagi.” Suara Raka penuh putus asa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


AULA.


Acara Wisuda telah di mulai beberapa menit yang lalu, raut mereka bersedih karena ini adalah perpisahan.


Tidak ada yang menarik sedikitpun dari kata pisah, dan yang paling sedih di antara mereka adalah Zea. Dia menitikan air mata terus menerus, dia tak kuat rasanya berpisah secepat ini.


Matanya melihat dari kejauhan Raka, teman-temannya dan bahkan papanya juga. Dadanya semakin sesak, air matanya terus mengalir. Zea tidak terlalu fokus pada acara ini.

__ADS_1


“Jangan sampai ada kesalahan!! ingat kau harus mengawasi Zea dan Baskara!!” perintah Deon menelfon suruhannya, tanpa mendengar dari sang bawahan, Deon segera mematikan sambungan.


BERSAMBUNG.


__ADS_2