PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
20. Pesta perusahaan 1.


__ADS_3

Malam yang begitu ditunggu Baskara pun akhirnya tiba, dia sekarang sudah rapi dengan jas mahalnya.


Walaupun umurnya sudah kepala empat, tapi dia masih sangat tampan. Apalagi tubuhnya yang atletis membuat banyak wanita selalu terpana, namun dihatinya hanya ada satu nama, yaitu Gia mendiang istrinya.


Kalau soal Susanti, Baskara memiliki alasan tersendiri menikahi wanita anak satu itu.


Sampai kapanpun, Gia tidak akan pernah tergantikan di hati Baskara.


Mendiang istrinya dulu sangat lembut dan pengertian, selalu ada jika dia membutuhkannya. Sedangkan Susanti? hari ini adalah acara penting suaminya dan dia masih belum pulang kerumah.


Baskara berjalan keluar dari kamarnya, dan melihat Alda dengan gaun merah panjang. Putri tirinya itu terlihat cantik, tapi yang tidak disukai oleh Baskara adalah dia selalu manja apapun yang Alda inginkan harus dituruti.


"Wah-wah, papa ganteng banget. Berasa masih ABG aja deh," puji Alda terus terang.


"Kamu muji papa pasti ada maunya, benar kan?" Tanya Baskara menyelidik.


"Hehe, sebenernya ngak sih pa, tapi berhubung papa bilang gitu aku jadi mau minta sesuatu," ucap Alda dengan semangat.


"Sudah papa duga, mau minta apa?"


"Belikan Alda Iphone keluaran terbaru dong pa, hehehe."


"Kamu kan baru ganti ponsel satu bulan yang lalu?" Bukanya Baskara tidak mampu membelikanya, tapi dia tidak suka pemborosan.


Asal kalian tau, dia bisa saja membeli satu konter hp jikalaupun mau.


"Hehe, Alda pengen yang keluaran terbaru pa,"


"Yaudah, besok papa Tf dan kamu beli sendiri." Ucap Baskara dengan seulas senyuman tipis.


Mereka berdua berjalan turun ke lantai bawah dengan beriringan. Dibalik Guci besar, Zea sedang menguping pembicaraan mereka, hatinya sangat ingin menangis, bukanya dia iri melihat papanya membelikan apapun kemauan Alda.


Akan tetapi papanya itu tak pernah menanyakan apapun keperluan anaknya sendiri, apakah uangnya akan berkurang banyak jika diberikan padanya?


Bahkan uang SPP saja Zea sendiri yang membayarnya, dia rela balapan bertaruh nyawa suapaya mendapatkan uang. Tanpa terasa air matanya jatuh dipelupuk mata, dia berusaha sekuat tenaga menahan namun lolos juga.


"Bang Kelvin tunggu!!" teriak Zea kala melihat Kelvin hendak menuruni tangga.


"Wah-wah. Adek abang cantik bener!" ucap Kelvin dengan merangkul pundak Zea, lalu mengamagamati penampilan Zea yang sangat berbeda.


"Iya dong, kembaran Selena Gomes gituloh," jawab Zea dengan jumawa.


"Tapi kamu juga ganteng kok," setelah memuji cantik, entah kenapa Kelvin selalu memujinya lagi dengan kalimat ganteng, ibarat kata, di naikan tinggi-tinggi lalu dihempaskan ke tanah.


"Yeuu, terserah abang deh," gadis itu mengerucutkan bibirnya. "Bang, oma kok nggak kesini?" tanya Zea.


"Nanti dia langsung ke perusahaan dek, mungkin Oma capek kalo harus kesini dulu. Kan menyita waktu banyak," Zea pun hanya menganaguk mengerti.


Malam itu Zea mengunakan kemeja warna hitam, dengan satu corak bungga di kiri atas. Memang benar ucapan Kelvin, Zea bukan hanya terlihat cantik, tapi juga tampan. Apalagi dengam rambut pendeknya yang disisir rapi, menambah kesan laki-lakinya.


...



❤Zea...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ruang keluarga.


"Dari mana saja kamu?!! Kenapa baru pulang?!" ketus Baskara saat Susanti memasuki rumah.


"D-dari arisan mas," jawab Susanti gugup.


"Banyak alasan!! makin kesini bukanya makin nurut malah makin ngelunjak ya kamu!!" geram Baskara mendekat ke arah susanti.


"Ini juga apa," Baskara menarik tubuh Susanti dengan kasar, Alda hanya bisa melihat itu semua sambil ketakutan. "kamu memakai baju apa ini? kamu punya malu tidak sih?! kalau kamu tidak punya malu, setidaknya jangan membuatku malu karena telah memperistrimu!!"


Saat ini susanti memakai baju yang sangat seksi, lekuk tubuhnya tergambar sangat jelas.


"Jangan salahkan aku mas!! salahkan dirimu juga yang tidak pernah mengangapku sebagai istri, sampai kapan kamu bisa nerima aku? sampai kapan Gia bisa hilang dari hatimu?"


PLAK!!


"MAS!! KAMU BERANI MENAMPARKU?!" Satu tamparan mendarat di pipi Susanti, Baskara sudah sangat emosi. Susanti merintih kesakitan, kerena tamparan Baskara sangat kuat.

__ADS_1


"Pa udah pa!! jangan pukul mama lagi, kasihan pa." Alda mencoba menghentikan ketika Baskara mau menamparnya lagi.


"Diam Alda!! Heh susanti!! apa kamu lupa? kalau kamu lupa biar aku ingatkan kembali, dulu kamulah yang memohon-mohon untuk aku nikahi?!! dan apakah kamu lupa perjanjian kita sebelum nikah? maka dari itu, jangan pernah sekali-kali mulut kotormu itu merendahkan mendiang istriku!! sadarlah posisimu!!" susana menjadi sangat teggang, emosi Baskara sudah tidak terkontrol lagi.


"Iya mas, maafin aku, hiks-hiks... aku salah." Ucap Susanti pura-pura bersalah, sambil memegangi pipinya dan memohon pada suaminya.


Sial!! Kenapa mas Baskara jadi kasar gini sama aku? Liat aja mas beberapa waktu yang akan datang, tamat riwayatmu!!! Sedangkan aku akan memiliki semua hartamu. Batin Susanti dalam hatinya.


Entah apa yang direncanakan Susanti, tanpa banyak bicara lagi dia berganti pakaian ke kamarnya. Langkahnya sempat terhenti saat melihat Zea dan Kelvin, mereka menatap Susanti dengan tatapan muak sekaligus mengejek.


...****...


Selesai marah-marah Baskara duduk dimeja makan, disusul Alda, Zea dan Kelvin. Alda sendari tadi menatap Zea tajam, dia tau kalau Raka mengantarkanya pulang tadi. Dia merasa kesal sekaligus cemburu, apa lagi dari kelihatanya mereka sangat bahagia.


"Ngapain lo liatin gue mulu?" ketus Zea pada Alda, dia tak peduli keberadaan papanya.


"Norak banget sih tampilan lo, hahaha," cibir Alda sambil melihat baju yang di kenakan Zea.


"Masalah buat lo? Yang penting gue nggak ngemis uang untuk membelinya, gue beli sendiri. Nggak kayak lo, bisanya cuman minta doang!!" Sindir Zea pada Alda, dia berniat bukan hanya menyindir saudara tirinya tapi juga papanya.


Merasa tergangu dengan ucapan Zea, Baskara menggertakan giginya. Entah kenapa dirinya merasa sakit hati dengan perkataan Zea.


"DIAM!!!" ketus Baskara membuat mereka terdiam, Zea pun hanya tersenyum miris.


"Kenapa? Apa anda merasa tersindir?"


"Saya tidak peduli denganmu. Mau kamu mati, mau kamu sakit, mau kamu jadi gelandangan sekalipun, saya tidak peduli!!"


"Oh, kalem dong kalem. Zea juga nggak butuh kepedulian papa kok, haha." Gadis itu tertawa miris, walapun hatinya sangat sakit.


Setelah perdebatan itu, akhirnya Susanti turun dengan mengunakan pakaian yang lebih sopan. Makanan sudah tersedia di meja makan, dan mereka semua makan tanpa banyak bicara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Perusahaan🏢🏢.


Zea menyuruh Kelvin membawa mobil, dia tidak mau semobil dengan keluarga jahatnya. Kelvin pun mengiyakannya, karena dirinya juga tak mau bersama mereka.


Sepanjang perjalanan Zea tampak merenung sesuatu, Kelvin merasa heran sebenarnya apa yang sedang Zea pikirkan.


"Mikirin mau beli tomat sama telur busuk bang, hahaha."


"Haaa? Untuk apa?"


"Ada deh cieee kepooo." Zea tertawa melihat ekspresi Kelvin yang lucu.


Besok adalah hari ulangtaun Kelvin, gadis itu tak mempunyai banyak uang untuk membelikan kado untuk abangnya ini. Jujur dia sangat sedih, kenapa dia soal uang selalu krisis?


Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Kelvin dan Zea sampai.


ADIPUTRA LLP itulah nama perusahaan Baskara, dengan bangunan yang menjulang tinggi, mewah dan megah.


Perusahaan logistik yang bergerak di bidang transportasi dan pengiriman barang ini telah berkembang sangat pesat, jangan bayangkan seberapa kayanya Baskara, acara ini banyak dihadiri pria dan wanita dengan baju glamornya, tak hanya itu mereka terlihat sangat kaya dan pintar.


"Oma!!"


Teriak Zea ketika mendapati Omanya, dengan di kawal banyak guard berbaju hitam disamping dan belak.


"Hallo kalian, kemarilah nak!" Oma melambaikan tangan sambil tersenyum merentangkan kedua tangannya.


Akhirnya Kelvin dan Zea pun berjalan mendekatinya, mereka tampak senang bisa bertemu dengan Omanya.


"Oma apa kabar?" tanya Kelvin dengan menjabat tangan bergantian dengan Zea.


"Baik nak, kalian apa kabar?"


"Baik..." jawab keduanya serentak.


"Zea kangen Oma, huwaa!!" gadis itu tak peduli pada sekitar yang menatap nya, dia memeluk oma dengan begitu erat.


"Oma juga kangen, papamu masih suka marah-marah?" tanya Oma pada Zea.


"Tid-," ucapan Zea terputus saat melihat kedatangan Raka.


Dia sangat terkejut sekali, Raka datang bersama seorang pira sepantaran papanya dan juga anak kecil di gendonganya.

__ADS_1


Zea terpana dengan tampilan Raka, Cowok itu memakai jas hitam yang pas ditubuhnya.


Senyuman dan lesung pipitnya mampu membuat siapapun yang menatapnya tergila-gila. Dan anak kecil yang digendonganya dia sangat imut dan tampan. Matanya indah dengan bulu mata yang lentik.


...



RAKA....


Oh my god, apakah dia Raka yang menyatakan cintanya pada gue tadi pagi? Kenapa dia sangat tampan sekali. Batin Zea dalam hatinya yang berdebar.


Oma dan Kelvin mengikuti pandangan Zea, dan berakhir pada Raka.


"Wah itu Raka bukan sih dek, kok bisa ada di sini ya?" Kelvin juga kaget melihat kedatangan Raka, dia sudah mengenali wajah Raka semenjak dia mengantar pulang Zea.


"Mana Zea tahu, akukan tempe." Jawab Zea ngawur.


"Dia sepertinya anak Nando, Namdo adalah temen baik papa kalian,"


"A-apa? Jadi Raka anaknya temen papa?" tanya Zea tidak percaya dengan penuturan Omanya.


"Iya, mereka sahabatan dari kecil. Nando juga seorang pengusaha terkenal, apa kamu kenal dengan anaknya?" tanya Oma memastikan.


"K-kenal ma, dia temen Zea disekolah,"


"Calon pacar Zea ma, mereka berdua itu sangat dekat. Tadi pulang sekolah aja di anterin," ucap Kelvin dengan semangat 45.


"Benarkah? Wah kalo gitu Oma juga setuju. Nando itu orang yang baik, pasti dia mendidik anaknya juga baik. Lihatlah!! anak itu sangat tampan sekali bukan?." Oma manggut-manggut sambil bergantian menatap Zea dan Raka.


"Oma apa-apaan sih? Si toge Raka itu sangat menyebalkan tau, dia sering jailin Zea."


"Wah-wah, ternyata dia punya pangilan lucu darimu, hahaha. Kenapa kau memangilnya Toge? Padahal dia itu sangat tampan?" Kelvin dan Oma tak henti-hentinya tertawa, sedangkan Zea hanya bersikap bodoamat dengan itu semua.


Tiba-tiba Baskara mengampiri mereka dia sangat rindu dengan mamanya, Baskara sudah lama sekali tidak berkunjung kerumahnya.


"Mama apa kabar?" sapa Baskara dengan memeluk Oma.


Oma tidak menjawab, dan hanya bersikap cuek. "Sudah makan?" tanyanya lagi, namun Oma tetap diam dan memasang muka datar.


"Kenapa? Mama marah dengan Baskara?" tanya Baskara dengan lembut, Zea baru tau kalau papanya yang sangat angkuh dan kasar bisa selembut itu.


"Tidak!! Mama tidak marah, apa gunanya marah?! Kamu udah dewasa dan sukses, aku kira kau lupa pada mamamu ini. Sesibuk apa hingga kau jarang menemuiku?! Oh. Apakah anak dan istrimu yang licik itu mencuci otakmu?"


"Bukan begitu ma, aku hany-," belum sempat meneruskanya, Oma memotong penuturan Baskara.


"Mama tidak butuh alasanmu, mama kecewa denganmu. Suatu saat kau akan menyesal karena telah menikahi wanita licik itu!!" terlihat Oma sangat marah, berkali-kali dia membentak Baskara dengan ketus.


"Lalu mau mama?"


"Mama mau, Zea duduk di singasana perusahaan nanti!! Dia adalah pewaris Adiputra!!"


Baskara dan Zea membelalakan matanya, sedangkan Kelvin tersenyum bahagia. Dia berfikir memang seharusnya begitu, Zea sangat berhak menerima itu semua. Biar mereka semua tau kalau Zea adalah anak Baskara.


"Ma...tap-," Baskara tak melanjutkan bicaranaya lagi, karena melihat ekspresi kekecewaan mamanya.


Dilain sisi, Alda melihat Raka. Dia sangat terkejut sekaligus senang, lalu dia menghampirinya dengan membawa dua gelas minuman dingin.


"Raka!! Seneng banget bisa ketemu sama lo, btw makasih ya udah dateng di pesta papaku," ucap Alda dengan bangga.


"hmmm," jawab Raka singkat.


Jadi Alda adalah anak om Baskara, berti Zea juga ada disini dong. Lalu dimana dia? Batin Raka dalam hatinya.


"Dia adekmu?" Tanya Alda antusias. "Hallo adek kecil..." Alda menjawil dagu Ricky adek Raka, namun diluar dugaan, Ricky malah cemberut kala Alda memangilnya dengan sebutan anak kecil.


"Dia Ricky, adeku," jawab Raka.


"Licky butan anak kecil lagi ya bude!!" ketus Ricky sambil menekuk wajahnya, umur Ricky masih dua tahun lebih, makanya bicarannya masih cedal.


"Oh ya? Dia tampan sepertimu, Rak. Ricky kamu masih kecil sayang, dan bicaramu juga masih belum lancar, hahaha." Raka memutar bola matanya malas, harusnya anak kecil tidak diperlakukan seperti itu.


"Licky benci kakak, pokoknya Licky udah besal. Benal kan kak Laka?" tanya Ricky pada Raka, dan dibalas angukan olehnya.


"Iyadeh adek kecil. Nih Rak, minuman buat lo!" Ricky sangat kesal, wajahnya di tekuk sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Sori, nggak haus." Raka segera berlalu meningalkan Alda, sedangkan Alda hanya mengembuskan nafas begitu kasar.


__ADS_2