
Baskara yang sudah kelewat putus asa mencoba mengengam cuter di tangannya gemetar. Air matanya terus saja berjatuhan, membayangkan wajah sang putri yang menangis waktu dia siksa dulu.
Kenapa dia bisa setega itu? setan apa yang merasukinya selama ini?
Baskara mulai memejamkan matanya, dia menarik nafasnya dalam-dalam.
“Papa tau nak, kamu tidak akan pernah kembali lagi dengan papa yang penuh salah ini. Maka dari itu, ini adalah cara terahir papa. Maafin papa sayang, papa tidak kuat sepertimu yang bisa apa-apa sendirian.” Baskara mulai mengarahkan cuter itu tepat di atas urat nadinya.
Dalam hitungan mundur, semua akan berahir. Semua akan lenyap seperti yang Baskara inginkan, air matanya kembali menetes deras. Sebelum dia melakukan itu, dia melihat foto keluarga kecilnya lalu tersenyum pilu, dia benar-benar kehilangam akal sehat.
“Gia maafkan aku sayang, aku tau ini salah. Tapi tidak ada pilihan lain.”
1
.
.
.
.
.
2
.
.
.
.
3
.
.
.
.
“PAPA!!”
Baskara terkejut. Apakah ini sebuah mimpi? Kenapa Baskara bisa mendengar suara itu, suara gadis kecilnya yang sangat dia rindukan selama bertahun-tahun ini?
Tidak.
Ini pasti halusinasi. Zea tidak akan pernah kembali kepada papanya yang jahat ini.
“Tidak mungkin.” Baskara menghentikan cuternya tepat di atas nadinya, matanya melirik pintu yang tidak menampakkan siapapun, kalau saja dia mengerakan tangannya sedikit saja. Bisa di pastikan, tangan dia akan tergores dalam.
“Papa di mana?!”
Namun suara yang di rindukan itu kembali lagi terdengar, air mata Baskara jatuh berguguran. Dia teriasak cukup dalam, dia sangat yakin bahwa Zea tidak akan pernah sudi melihatnya kembali. Dia terlalu jahat dan sulit di maafkan.
“Tidak... Ini pasti aku yang gila, tidak mungkin Zea menemui papanya yang brengsek ini. Zea membenci papanya, Zea tidak mau menemui papanya lagi, Zea trauma dengan papanya ini.”
Lirihnya gemetar dengan air mata yang terus mengalir dia menatap kembali tangannya dan memegang cuter itu kuat-kuat.
“Papa jawab Zea! Zea pulang, papa di mana?!” suara itu semakin terdengar mendekat di telinga Baskara, bahkan dia bisa memastikan. Kali ini dengan derap sebuah kaki yang sedang berlari.
“PUTRIKU, TIDAK MUNGKIN MENEMUI PAPANYA YANG BRENGSEK INI, PERGILAH! KAMU PASTI BUKAN ZEA!” Teriak Baskara sangat kencang, tangannya bergerak mengiris nadinya sendiri.
Mendengar teriakan papanya, Zea segera mempercepat lari. Dengan mengusap air mata yang dari tadi terus berjatuhan di lantai, dia terus menambah kecepatan.
“PAPA NGAPAIN?! LEPASKAN PA!! ZEA KEMBALI...HIKS HIKS, APA YANG PAPA LAKUKAN, HAH?!!”
Gadis itu segera berlari menghampiri papanya dan mengambil alih cuter yang sudah melukai tangan papanya lalu melemparnya kasar ke sembarang arah.
“PAPA MAU NINGALIN ZEA SENDIRI?! PAPA JAHAT, HIKS HIKS.” Zea menangis sesegukan, melihat papanya sekacau ini.
Sedangkan Baskara menatap anaknya tanpa berkedip, gadis kecilnya yang dulu sangat dia sayangi dan saat remaja dia siksa kini telah kembali dan sekarang, gadis itu telah berubah seratus persen. Penampilan Zea, jauh berbeda sekali dengan waktu dia SMA yang terkenal tomboy dan berambut pendek sekaligus kurus.
__ADS_1
Zea segera berlari mengambil kotak P3K lalu mengobati tangan Baskara dengan Refanol kemudian di tetesi obat merah, setelah itu dia menempelkan Hansaplast sambil berlinang air mata tak henti-hentinya. Untung saja, luka itu belum terlalu dalam.
Tanpa banyak bicara Zea segera memeluk papanya yang masih menatapnya tidak percaya.
“Zea kembali pa, hiks... Zea minta maaf karena meninggalkan papa sendirian. Zea janji, tidak akan pergi lagi dari papa, hiks. Zea sayang papa sampai kapanpun, Zea tidak akan pernah bisa membenci papa.” Zea memeluk erat tubuh papanya yang tidak sesekar dulu lagi, air matanya terus saja berjatuhan seperti tiada habisnya.
Baskara menggerakkan tangannya gemetar menyentuh pungung Zea.
“A-apa ini mimpi? Apakah ini putriku yang dulu? Ti-tidak ini pasti cuman mimpi seperti biasanya, Zea tidak mungkin kemba-,” ucapan Baskara terhenti, kala sebuah tangan lembut nan mungil menghapus air matanya dengan penuh kasih sayang.
Zea memeluk papanya kembali, dia masih sangat rindu. “Ini Alfa Zea Adiputra, anak tunggal papa satu-satunya, hiks... Ini bukan mimpi. Zea kembali untuk papa, maafkan Zea... pasti papa selama ini kesepian kan?”
Mendengar kalimat itu, Baskara tidak menjawab dan membalas pelukan putrinya sangat-sangat erat. Keduanya bersimpuh di lantai kamar yang dingin, dengan nuansa kamar yang redup dan hitam. Tangisan keduanya sangat pecah dan terdengar menyakitkan.
“Kamu kemana saja sayang selama ini? hiks... Papa rindu dan putus asa mencarimu kemana-mana, hiks... Maafkan papa... Maafkan papa, papa jahat kan? Papa tidak layak untuk di maafkan. Tapi papa mohon, jangan tinggalkan papa lagi. Papa janji akan berubah lebih baik lagi, izinkan papa tinggal bersamamu, izinkan papa ikut bersamamu kemanapun, papa hanya punya kamu.” Tangis Zea semakin pecah, lalu melepaskan pelukannya dan mengeleng kuat.
“Semua yang sudah terjadi, Zea sudah menerima itu dengan lapang dada... Karena sayang Zea ke papa jauh lebih besad, sehingga mengubur rasa benci itu sendiri, hiks hiks... Zea juga hanya punya orangtua satu, yaitu papa. Jangan pernah melakukan hal-hal seperti ini lagi, hiks hiks... Zea tidak suka.” Gadis itu mengusap air mata papnya yang terlihat tidak terawat, kini wajahnya sembab dan matanya membengkak.
"Terimakasih sayang, papa bangga padamu. Papa beruntung memiliki putri sebaik kamu." Baskara kembali memeluk Zea erat, seolah rindunya tidak akan pernah habis untuk Zea.
“Kamu mau minta apa dari papa? Papa akan menebusnya, sekalipun dengan nyawa papa?” Lirih Baskara menatap Zea sendu serta kedua tangnnya menghapus lelehan air mata putri cantiknya itu, dan merapikan rambut Zea.
“Papa Sayangilah Aku.”
Dada Baskara sakit mendengar itu, dia merasa tidak pantas mendapatkan maaf dari anaknya ini. Bibirnya tersenyum tulus, matanya kembali berkaca-kaca dan menyentuh kedua pundak putrinya sayang.
“Papa akan menyayangimu Nak, papa tidak akan pernah membuatmu bersedih lagi. Papa tidak mau kamu pergi lagi, sampai kapanpun papa akan tetap berusaha menjadi papa yang terbaik untukmu."
Akhirnya pelukan haru dari seorang papa yang selama Lima belas tahun lamanya tidak melakukan ini pada putrinya, sekarang mereka berhasil berpelukan kembali. Baskara menyayangi Zea seperti waktu dia masih kecil, bahkan dia berjanji akan lebih menyayangi dan menjaga putrinya.
Baskara adalah orang beruntung di dunia, memiliki anak sebaik dan sekuat Zea. Tuhan maha baik, mulai detik ini juga Baskara akan memberikan kasih sayang pada Zea, yang seharusnya dari dulu gadis itu dapatkan.
Di tengah-tengah Zea memeluk papanya, matanya tidak sengaja menangkap sosok pria tampan dengan balutan jas hitam telah berdiri di tengah-tengah pintu sejak tadi, pria itu menenteng sesuatu di tangan kirinya. Keduanya saling menatap lama, apakah ini mimpi?
Keduanya saling meneguk ludah tidak percaya akan perubahan wajah masing-masing namun mereka sangat mengenali satu sama lain lewat tatapan mata yang tidak pernah berubah.
TAK!!
Makanan yang ada di tangan Raka jatuh ke lantai, dia terpaku dengan seorang gadis yang selama ini menetap di hatinya. Gadis yang dari dulu sangat dia cintai, gadis yang pernah ia sakiti dengan ucapan dan perbuatan. Sekarang gadis itu menjelma menjadi seorang wanita yang sangat cantik anggun dan memiliki tubuh yang berisi.
“Ra-Raka?” lirih Zea, air matanya menetes perlahan.
Raka menggelengkan kepalanya kuat, tanpa memutus kontak mata dengan gadis cantik itu.
“Ini bukan mimpi.”
Mendengar itu jantung Raka berdebar tak karuan, dia sangat bahagia sekali, kakinya melangkah tanpa di komando perlahan, Zea berdiri juga melakukan hal yang sama.
Pria yang di cintainya telah berada di hadapannya, dengan garis wajah yang jauh lebih tampan berkarisma dan tubuh pria itu semakin kekar dan dewasa.
Dia adalah Raka, cinta kedua Zea.
BRUK!!
Zea berlari mengambur ke pelukan Raka, memeluknya dengan sangat erat sekali, mengobati rindu yang lama sekali tak berjumpa. Baskara tersenyum melihat itu, tangan Raka bergetar menyentuh tubuh Zea, dan membalas pelukan itu jauh lebih erat. Benar, ini bukan mimpi. Tiba-tiba, air matanya jatuh seketika. Dia menangis terharu dan sangat bahagia.
“Kamu dari mana saja? Aku rindu padamu. Kamu meninggalkanku lama sekali. Jangan pergi lagi Ze aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri lagi, hiks hiks. Maafkan aku... Maafkan aku di masalalu.” Zea memeluk Raka semakin erat.
“Aku juga merindukanmu, aku janji tidak akan pergi lagi. Aku janji.”
Kira-kira seperti itu pertemuan Zea dengan kedua cintanya, dan di ahiri pelukan ketiganya dengan sangat erat. Keinginan Zea terkabul, satu mendapatkan cinta dari papanya. Dua, mendapatkan Raka.
Hah apa tadi? Mendapatkan Raka? Astaga Zea kampret! jangan mengejar pria dasar Zea bodoh, walaupun kamu mencintainya tapi milikilah harga diri yang tinggi! biarkan laki-laki yang berusaha keras mendapatkan kita, bukankah sudah jelas Ze? bahwa wanita itu sangat berharga? Batin Zea memaki-maki dirinya sendiri.
“Om, bolehkah aku melamar Zea?” t
Tanya Raka pada Baskara yang berdiri di sebelahnya, membuat pria paruh baya itu tak kuasa menahan tawa .
Zea hanya bisa tersenyum malu, sudah di pastikan pipinya sekarang memerah seperti Tomat.
“Tanpa aku bolehin, kamu juga akan mamaksa menikahi Zea kan?” tanya Baskara menatap mereka bergantian.
Raka menganguk tanpa dosa. Sedangakan Zea mencoba mencerana kata-kata papanya.
“Ja-jadi ***-boleh? Anu aku eh itu, aduh apa ya?” Baskara dan Zea menahan tawanya, melihat Raka yang sangat gugup dan belibet.
__ADS_1
Tidak cocok sekali dengan perawakannya yang sangat dewasa. Mungkin itu kali pertama dalam hidup Raka, menjadi pria gugup dan seperti bodoh. Kalau karyawannya tau akan hal ini, pasti harga dirinya tidak bernilai apapun lagi.
"Memaksalah sedikit padaku, nanti aku akan memberikan restu padamu." Goda Baskara mati-matian menahan tawanya agar tidak keluar.
Sedangkan Zea tertawa renyah, ternyata papanya sekarang sangat jail dan lucu, berbanding terbalik sekali dengan dulu yang sangat kaku dan dingin.
"Semenjak berpisah dengan Zea dulu aku selalu ngapa-ngapain sendiri. Jalan sendiri, makan sendiri, bahkan tidur pun sendiri. Maka jangan biarkan mantan kekasih anak om ini sampai ngobrol sendiri juga, itu mengerikan sekali. Apakah om Baskara tidak kasihan dengan saya?"
Kalimat itu muncul dengan mudahnya tanpa dipikir lama, membuat papa dan anak itu tertawa terpingkal-pingkal, apalagi ekspresi Raka yang begitu lucu dan terlihat polos.
"Zea apakah kamu bisa masak Nak?" bukannya menjawab, Baskara malah bertanya pada Zea.
"Bisa, tapi selalu saja sedikit gosong. Tapi enak menurutku, walupun bang Kelvin setelah makan langsung Diare dan sakit perut." jawabnya jujur sambil garuk-garuk kepala membuat papanya menepuk jidat sambil teetawa, sedangkan Raka hanya tersenyum geli.
"Apakah kamu bisa mencuci?"
"Tentu saja bisa!" Seloroh Zea jumawa, seakan-akan bakatnya itu sangatlah menonjol sekali.
"Menyetrika."
"Emmmm, kalau itu... Zea juga bisa, tapi sedikit gosong juga bajunya dan malah bolong."
Sang papa lagi-lagi menepuk jidatnya pasrah, berbeda dengan Raka yang hanya bersikap biasa saja malah hanya tertawa dan geleng-geleng saja, walaupun Zea seperti itu tapi tidak mengurangi rasa cintanya sedikitpun.
"Apakah keputusanmu berubah Rak?"
Raka tersenyum, menatap wajah Zea yang begitu gugup menatapnya, kemudian menjawab.
"Saya mencari istri Om, bukan pembantu. Lagian saya bisa melakukan itu semua, saya akan memperlakukan Zea sebaik mungkin." Zea termangu, dia sangat bahagia dan terharu mendengar itu semua membuat wajahnya tambah merona.
“Baiklah kalau begitu, kalian boleh menikah. Cuman kamu harus menanggung sendiri jika Zea menghanguskan perabotan rumahmu dan mengosongkan bajumu."
"PAPA!!" Pekik Zea tertahan, membuat papanya tertawa.
“Itu tidak akan terjadi, saya akan membimbing Zea."
Dengan gerakan cepat, Raka merogoh saku jasnya. Dan mengeluarkan kotak merah, pemberian dari pria yang datang ke kantornya tadi.
Zea rasanya ingin pingsan, jantungnya berdebar sangat kencang sekarang.
“Pilihannya hanya ada dua sayang. Kamu menjadi istriku atau aku yang jadi suamimu? Jadi kamu pilih yang mana?” tanya Raka dengan gaya coolnya, wajahnya yang gugup tadi menghilang dan berubah serius.
Basraka tidak kuat menahan ttawanya.
“Ak-aku, pilih dua-duanya.” Jawab Zea malu-malu sambil menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga.
“Baiklah calon istriku, permintaanmu telah di Acc oleh Raka Zaidan Vernando calon suamimu.” Baskara pura-pura tidak mendengar, dengan melihat cicak di dinding.
Perlahan tapi pasti, mereka saling memasangkan cincin. Namun Zea menyernitkan dahinya, bukankah ini cincin tunangan dirinya dengan Mex. Kenapa bisa ada di tangan Raka? Zea tau bahwa cincin ini hanya ada satu karena di rancang kusus pakai batu mulia oleh pengrajin berlian dari California.
Raka yang menyadari itu, tersenyum dan mengasak rambut Zea sayang.
“Iya. Ini Mex yang memberikan untuk kita berdua.” kata Raka tersenyum manis.
“Tapi. Apa kamu tau bahwa Ini cinci-,”
“Iya aku tau, Mex sudah melamarmu kan?” tanya Raka, dia yakin akan hal itu. Instingnya selalu benar dan Zea mengangguk pelan.
“Dia pria yang baik, mengalah demi kamu nak. Sekarang jagalah putriku,” Baskara tersenyum tipis dan menepuk pundak Raka.
Tanpa sepengetahuan mereka, di luar kamar sudah ada Mex, Kelvin dan keluarga kecilnya. Mex bisa mendengar dan melihat jelas, bagaimana Raka mengucapkan itu. Dan melihat gadis yang di cintainya tersenyum bahagia, dia juga bahagia melihat Zea bersama cintanya.
“Mex... Kau mau kemana?”
“Laper bang, pura-pura bahagia juga perlu tenaga.” jawabnya sesak sambil melambaikan tangan dan pergi.
“Kasiahan sekali, Mex yang malang.” Ucap Nadia sedih, menatap punggung Mex yang menghilang.
“Papa, itu kakek Kenzo?” Tanya anak itu
“Iya sayang, sapa kakek sana gih!”
“Eindelijk opa ook ontmoet, hallo opa Kenzo kwam naar je toe.” Sapa Kezo dengan bahasa Belanda kental, lalu berlari dan mendekati Baskara.
“Ish, pakai bahasa Indonesia dong, Ken!” Zea menjitak dahi bocah berumur dua tahun lebih itu kesal.
__ADS_1
“Ckck, tante selalu saja galak. Kenzo nggak suka!” keluh Kenzo dengan mengusap jidatnya yang sedikit panas.
Membuat Raka dan Baskara gemas melihat keduanya, Baskara tau apa yang di ucapkan bocah kecil ini karena dia sedikit memahami bahasa Belanda.