
**TEPATNYA** di sekolah SMA Jakarta telah usai melaksanakan upacara sejak dua jam yang lalu, dan semua siswa kini telah berada di kelas masing-masing memperhatikan guru dengan cermat.
Sekolah ini adalah sekolah unggulan yang berprestasi, banyak sekali anak konglomerat dan pengusaha kaya raya di sekolah ini. Contoh nyatannya Zea, boleh di akui atau tidak, gadis itu selalu meraih peringkat saat ujian. Kenakalanya hanyalah topeng semata dan juga tingkahnya bentuk gambaran dari pemberontakan kepada papanya saja. Hanya dengan cara itu Zea bisa diperhatikan oleh papanya.
Suasana di sekolah kali ini begitu cerah dan terik, hingga membuat ketiga siswa yang masih di ikat tali sepatunya merasa kepanasan. Mereka mensumpah serapahi bu Maria, guru itu selalu memberi hukuman yang setimpal untuk siswa yang melanggar aturan. Berulang kali Zea mengusap peluh di dahinya, sedangkan kedua cowok disampingnya tak henti-henti berdebat tidak penting yang membuat Zea sakit kepala.
"Ze, mungkin kalau nggak ada lo, gue udah pingsan dari tadi," seru Mex sambil tersenyum kecut.
"Dih, awas aja kalo lo pingsan beneran, gue nggak mau nolongin elo ya Mex..." Mex mengibaskan tangannya sambil tertawa, "aduh lemes banget, mana laper lagi." Keluh gadis itu memegangi perutnya.
"Nggak usah sok memelas gitu deh, nanti gue traktir!" Ucap Raka memonyor kepala gadis itu.
Mata Zea langsung berbinar, "yeeeeees, serius kan lo?!!!" kedua cowok itu menutup kedua telinganya masing-masing, mereka peka sekali dengan suara maut gadis ini.
"Emang lo mau kalau di seriusin?" Raka tertawa lepas tapi seketika wajahnya berubah menjadi datar lagi, sungguh dia tidak sadar apa yang dia katakan.
"A-apaan sih lo!"
Bukan hanya Raka, Zea pun juga salah tingkah akan kalimat itu, sedangkan Mex tersenyum sinis.
"Cih, gombal!" celetuk Mex sambil meludah sembarangan.
"Kalau gue gombal masalah buat hidup lo?" Raka ancang-ancang hendak memukul Mex, namun Zea segera menahan dengan kedua tangannya.
"Masalah lah.... Elo itu selalu menggangu ketika gue bersama Zea!" Mex melayangkan pukulannya ke arah Raka, namun Zea merengkuh tubuh cowok itu sigap.
BUAGH!!!
Mata Mex melotot kala dia menghantam bahu Zea dan dia juga syok kala Zea memeluk Raka sambil menahan sakit akibat pukulannya tadi. Gadis itu hanya reflek memeluk Raka, dia tidak mau hukumannya ditambah lagi karena mereka berkelahi. Berbeda sisi dengan Raka, dia menjulurkan lidahnya ke arah Mex. Kalau boleh jujur hatinya sekarang berdegup begitu kencang, bau parfum Chanel Pari's menyeruak di hidung Raka. Tidak kalah juga bau rambutnya yang begitu memabukanya, tubuh mungilnya juga pas di tubuh atletisnya.
Zea yang tersadar akan perlakuanya langsung melepaskan pelukannya gugup.
Sedangkan di sebuah tempat tak jauh dari mereka, ada yang memperhatikan ketiganya dengan hati terluka seperti Babi yang terkena tembakan di moncongnya, "sial, awas ya elo nanti!" umpat orang tersebut mengepalkan tangannya.
"M-maaf-maaf, Rak... Nggak sengaja," Zea segera melepaskan pelukannya gugup, dia berulang kali merutuki kebodohanya sendiri dalam hati.
"Modus...!" celetuk Raka bebarengan menetralkan wajahnya, sebenarnya dia juga merasa gugup. Tapi entah kenapa hatinya senang bisa diperlakukan seperti itu oleh Zea.
Sedangkan Mex hanya bisa menatap keduanya kesal, beberapa detik kemudian dia tersadar perlakuanya pada Zea tadi dia merasa bersalah.
"Ze, maaf ya g-gue nggak sengaja mukul tadi." Ucap Mex cemas dengan memegang kedua pundak Zea.
"Maaf-maaf gigi lo kering? kalau kaki gue sekarang tidak di ikat kayak gini, sudah gue tendang pantat lu,"
Raka mati-matian menahan tawanya mendengar ancaman Zea, Sedangkan Mex hanya cengengesan sambil menunjukan deretan rapi gigi putihnya.
"Ya kan gak sengaja, Ze..." Elaknya lagi, seraya menatap tajam Raka yang tersenyum sinis padanya.
Tak lama setelahnya, bu Maria datang dari arah belakang mereka, dia merasa kasihan pada ketiga muridnya itu.
__ADS_1
KHEEEM!!
Ketiga murid itu saling menutup mulut, menatap bu Maria yang berdiri di hadapan mereka, entahlah dia sekarang akan memberikan hukuman apalagi.
"kalian bertiga boleh istirahat, tapi ingat!! tali sepatu kalian tidak boleh dilepas.... Setelah kalian selesai makan di kantin, langsung ke perpustakaan beresin buku disana, mengerti?!!" Tegas bu Maria sambil bersedikap di dada.
"Astaga demi Naruto dan bunsinnya, kok di hukum lagi sih buk?" Kesal Zea tak terima.
"Yeeeeees!!!!"
Berbeda dengan Mex yang kepalang senangnya karena masih bisa bersama Zea, sedangkan Raka memutar bola matanya malas melihat tingkah Mex.
"Kalian pikir kesalahan kalian itu patut di maafkan? Maka dari itu kalian tidak berhak mendebat. Sekarang cepet pergi ke kantin!! Saya hanya memberi kalian waktu Duapuluh menit saja." Finis bu Maria lalu meningalkan mereka bertiga.
Susah payah mereka berjalan ke kantin, ketiganya harus kompak melangkah. Kalu tidak, mereka akan terjatuh, hingga sampailah ketiganya di kantin yang masih sepi.
"Aku mau beli bakso dan es tehnya pak Manto," Rajuk Zea dengan mata berbinar, membuat kedua cowok di sampingnya hanya mengganguk mengikuti seretan langkah gadis tersebut.
"Pak Man....!! Zea, beli bakso dan es tehnya dua yak. Terus yang bayar Raka, hehe." Zea menatap Raka di sebelahnya yang bersedikap, sambil memasang wajah cool.
"Siap laksanakan bos Zea," Pak Manto mengangkat tangannya hormat, membuat gadis itu tertawa sambil mengacungkan jempol juga.
Mex sempat terkejut kala mendengar gadis itu memesan es teh dua, berbeda sama Raka, dia tau kalau Zea minumnya seperti Unta di gurun pasir.
Selesai memesan, mereka duduk di kursi panjang dan Zea yang duduk di tengah. Tiba-tiba ponsel di saku gadis itu berbunyi membuatnya tercengat. Dengan cekatan dia mengeluarkan ponselnya, ternyata itu panggillan dari bang Kelvin.
"Hallo juga gantengku,"
Sontak Raka dan Mex melototkan matanya, kenapa dia memangil seperti itu? Apakah Zea sudah mempunyai pacar?
Kalau dia memiliki pacar, siapa orangnya? Dan berasal dari mana? Apakah masih sekolah, atau jangan-jangan om-om perut buncit dan berkepala botak? Ah, tidak mungkin... Zea tidak mungkin menjadi sugar baby.
"Tumben dek, kamu manis sama abang. Jangan-jangan mau minta sesuatu nih?" selidik Kelvin.
"Tidak, aku tidak mau minta apa-apa kok, cuma mau minta cinta dan kasihmu saja sayang, hehe.... Tidak ada yang lain." Zea sengaja betul bicara seperti itu, biar kedua cowok disampingnnya ini mengira bahwa dia sudah punya pacar.
"Kamu kenapa sih, dek? Otakmu habis kejepit pintu atau gimana?" Kelvin merasa kebingungan sama tingkah adeknya itu, biasanya dia akan bersikap menyebalkan. Tidak manis seperti ini. Apalagi mengunakan embel-embel "sayang" Mengerikan sekali.
"Gapapa, cuma lagi kangen aja." lagi-lagi Zea membuat kedua cowok di sampingnnya itu terkejut setengah mati.
"Dasar gila, yaudah sekolah yang bener sana...!!"
"Yaudah, sampai jumpa lagi nanti. Aku sangat mencintaimu sayang. Daaaaa..." ucap gadis mati-matian menahan tawanya.
"Wah gila beneran adek gue satu in-," Sebelum Kelvin menyelesaikan ucapannya, Zea segera mematikan sambungan.
BRAAAK!!
Gadis itu tiba-tiba mengebrak meja, membuat kedua cowok itu saling mengelus dadanya, "kalian pada kepo, ya?" Zea tertawa kecil saat melihat ekspresi mereka yang sangat lucu.
__ADS_1
"Tadi pacar lo, Ze?" tanya Mex penasaran.
"Yang mana?"
"Yang telfon tadi?"
"Oh itu, dia anu gue,"
"Anu apaan?"
"Anu aja pokoknya..."
"Ya, maksudnya anu apaan gitu?"
"Pokoknya dia kesayangan gue,"
"Dia berharga ya buat, lo?"
"Banget dong,"
"Ganteng tidak orangnya?"
"Tentu saja ganteng, kalian berdua saja kalah sama dia."
"Lo udah lama menjalin hubungan?"
"Tentu saja, tapi dia lebih tua." Mex dan Raka melotot.
"Apaan sih, anjir? kesel sendiri gue dengernya! Terus terang bisa gak sih lo?" ketus Raka menjitak kepala Zea, tak terima akan hal itu dia mencubit perut Raka.
"Awwwwh, demen banget sih, elo nyubit perut gue," tak menghiraukan itu, pak Manto datang membawa pesanannya.
Mata Zea langung berbinar melihat bakso yang begitu mengoda, cacing-cacing di perutnya sudah meronta-ronta. Apa lagi melihat sambal yang begitu merah membuatnya meneguk ludahnya berkali-kali.
Satu sendok
Dua sendok
Tiga sendok
Empat sendok
Lim-, tangan Mex menghentikan.
"Nggak usah banyak-banyak, nanti sakit perut," ucap Raka sebelum keduluan oleh Mex.
"Anjir, gue mau bilang gitu udah lo duluin!" Raka hanya menjulurkan lidahnya merasa menang.
Belum sampai beberapa menit, gadis itu sudah melahap baksonya separuh dan es tehnya kini hanya tingal setengah gelas saja. Dia tidak peduli kalau kedua cowok di samping kanan--kirinya merasa ilfil.
__ADS_1