
**Minggu** pagi yang begitu cerah, di mana hari yang paling di tunggu kebanyakan para siswa maupun pegawai kantoran, untuk menikmati liburan bersama keluarganya atau pergi berkencan bersama pacarnya. Itu adalah dua kelemahan yang tidak Zea punya saat ini.
Menyedihkan sekali bukan?
Entahlah kenapa Zea sangat membenci hari Minggu, padahal dulu waktu kecil dia sangat antusias menanti hari itu. Mau di pikir ribuan sekalipun papanya tidak bakalan sudi mengabiskan waktu bersamanya.
Dan untuk menghilangkan rasa bosan di rumah yang lebih tepatnya seperti neraka di dunia ini, gadis itu segera membuka matanya dan bangkit dari tempat tidur. Matanya melirik jam weker di atas nakas yang cute bergambar anime Naruto, jam itu menunjukan pukul 06:00.
“Wooooah. Good morning Naruto Uzumaki, How are you?” jangan kaget dengan tingkah Zea, gadis itu selalu menyapa jam weker Naruto--nya setiap pagi.
Jam itu adalah pemberian dari mamanya waktu dia menginjak umur 3 tahun. Kadang dia juga kerap kali menyuapi jam itu, katanya biar Naruto kuat. Belum juga dia sering memeluknya sambil menyelimutinya saat tidur.
“Yaelah, gaya pose lo hampir 14 tahun gitu mulu, enek gue liatnya,” Cibir Zea sambil memegangi jam itu tak lupa menekuk wajahnya.
“Lo, bosen gak sih liat gue setiap hari? Jujur gue itu sayang banget sama lo, Nar... Udah deh, lupain Hinata dan Sakura. Gue cewek pemberani kok, cuman masalahnya anu gue depan belakang rata semua.” ucapnya lagi sambil memeluk jam itu erat sekali.
"Gue juga sayang sama lo kok, Ze. Ahaha, makasih-makasih akhirnya cinta gue gak bertepuk sebelah kaki." Kini Zea semakin Zonk, gadis itu mencium jam itu berulang kali seperti orang gila.
Selesai berbincang dengan jam weker lucunya, Zea bergegas ke kamar mandi.
Kurang--lebih 15 menit lamanya dia keluar dari kamar mandi, mengunakan celana selutut dan kaos berwarna abu-abu. Kemudian Zea melangkahkan kakinya berdiri di depan meja rias miliknya, hanya untuk mengambil sisir dan melumasi minyak ke rambutnya pendek, karena hanya itu saja yang tersedia. Tidak ada Bedak apalagi perona bibir dan perona pipi seperti badut yang sering di pakai para wanita pada umumnya.
TOK!! TOK!! TOK!!
“Zea, yuhuuu!”
TOK!! TOK!! TOK!!
"PAKET!!"
Ketukan itu tidak henti-hentinya membuat gadis itu geram dan kesal. Hingga akhirnya dia berlari ke arah pintu, menarik knop pintu itu dengan perlahan.
TUK!!
Kelvin sempat kebingungan karena bukan pintu yang dia ketuk, melainkan jidat Zea. Jangan tanyakan ekpresi gadis itu sekarang! Tentu dia sangat kesal sekali.
“kampret!! Apa-apan sih, Bang?” tanya Zea ketus sambil mengelus jidatnya.
Kelvin hanya bisa tertawa kencang, seperti tidak punya masalah sedikitpun. Zea baru sadar abangnya itu sangat tampan, mata coklatnya begitu menawan, senyumnya yang sangat manis membuat hatinya nyaman. Kalaupun Zea bukan adeknya dia pasti akan mengejar Kelvin, meskipun dia tau gak akan di kejar balik.
“Gak usah ketawa! Muka jelek Bang Kelvin bikin tangan Zea gatel pengen nabok!”
Kelvin menarik hidung gadis itu sampai meronta--ronta meminta untuk di lepaskan.
“Puya adek kok galak bener!! Dahlah, Abang mau cari pacar dulu, sambil jogging pagi seperti ini siapa tau kan ya, ketemu cewek cantik lagi nyapu di depan rumah.” Ucapnya sambil memonyor kepala Zea kesamping, setelah itu Kelvin segera berlari.
__ADS_1
“Zea do'ain semoga di godain ibu-ibu rempong lagi belanja sayur!!” teriak Zea sambil mengentak-hentakan kakinya, Kelvin yang masih mendengar itu menoleh sekilas dan memperlihatkan tangannya yang terkepal.
"Biarin aja, siapa tau di beliin cendol." Setelah itu punggung Kelvin semakin mengilang di pengelihatan Zea.
Rutinitas Kelvin adalah joging setiap pagi, seperti yang akan di lakukan saat ini. Maka tak heran jika tubuhnya sangat atletis dan kekar.
Selesai melihat pungung abangnya yang hilang, gadis itu memegangi perutnya. Dia baru ingat bahwa dirinya semalam belum makan. Zea berjalan ke arah dapur, dia melewati tangga yang mengubungkan sampai lantai satu. Hingga langkah kaki gadis tersebut terhenti tepat di tengah-tengah tangga.
“Good morning, Papanya Alda...” Alda memeluk Baskara yang sedang membaca koran, di lihat dari penampilanya Alda belum mandi. Karena bajunya masih sama dengan yang kemarin dia kenakan, juga rambutnya masih sedikit acak-acakan.
Sialnya, walaupun begitu dia masih terlihat cantik.
“Morning to sayang.” Baskara tersenyum ke Alda sambil mencubit hidungnya gemas.
Tanpa Zea sadari, tiba-tiba tangannya memegang besi tangga itu dengan sangat kuat, hingga kukunya terlihat memutih.
“Yang sabar ya anak sialan!! Kasian sekali, Alda telah mengambil papamu...” Susanti tiba-tiba ada di sampignya dan menyengol lengan gadis itu, tak lupa dia menatap sinis Zea sambil tertawa mengejek.
Namun Zea tidak menghiraukan hal itu, ini masih pagi, dan dia tidak akan terpancing oleh perkataan sinis Susanti itu. Dia melanjutkan langkahnya ke bawah, Zea sempat menatap papanya yang asik mengobrol dengan Alda. Hingga tak sengaja papanya juga menatapnya, seketika Baksara yang semula berbicara menjadi diam dan melengos menatap ke arah lain. Sebegitu bencinya dia sama Zea? Sampai menatapun tak sudi.
Tidak tahan akan hal itu, Zea segera berlari ke arah dapur.
Di lihatnya dari jauh, terdapat Susanti dan Inem. Sejak kapan Susanti tiba-tiba di dapur? Oh, iya. Zea lupa, kalau ibu tirinya itu bukan manusia, melainkan dedemit di rumah ini. Gadis itu terus melangkah masuk ke dapur tanpa menghiraukan keberadaan Susanti. Zea menjawil Inem yang menata lauk pauk di piring putih dengan telaten.
“Selamat pagi, Bik Inem...” sapa gadis itu, membuat pembantu itu terkaget-kaget. Dia tidak menyadari kedatangan Zea sama sekali.
“Jangan pangil Zea dengan sebutan 'Non' bik Inem-ku sayang, pangil Zea aja! Kan, udah sering aku ingetin.” peringat Zea sambil mencomot ayam goreng yang sekarang di pegang Inem.
“Ya tap-.” Belum sempat Inem melanjutkan perkataanya di potong oleh Susanti yang sibuk menuangkan jus ke dalam gelas.
“Bener Bik, dia itu tidak cocok di pangil Nona!! Pangil aja si anak sialan! Atau kalau tidak ya, anak nakal aja.” Ucapnya dengan menatap sinis Zea dan di akhiri tawa jumawa.
Sedangkan gadis itu hanya bisa mengepalkan tangannya, dia bukanya tak bernai melawan tapi karena dia tak ingin ribut sepagi ini.
“Inem, ambilin piring di Rak!” Inem yang sedang mencuci piring pun langsung berhenti dan menuruti perintah Susanti.
Inem yang sedikit ceroboh, dia mengambil piring itu dengan keadaan tangan yang masih basah, alhasil.
PRANK!
Piring itu terjatuh ke lantai hingga menjadi lebur, Inem seketika gelisah melihat ke arah Susanti dengan wajah takut tak terkira. Nyonya besarnya itu menatapnya dengan tatapan menusuk penuh amarah.
“INEM!!! Apa yang kamu lakukan, hah?!” Susanti mendekat ke arah Inem yang masih ketakutan.
Tanpa aba-aba lagi, Susanti menjambak rambut Inem dengan kasar, belum puas menjambaknya dia menamparnya dengan sangat keras.
__ADS_1
PLAK!
"Dasar gak becus kerja!!"
“A-ampun, nyonya. Ma-maafkan saya, saya tidak sengaja...” mohon Inem terbata-bata sambil menyatukan tanganya gemeteran.
Zea yang geram dengan hal itupun langsung bangkit dari tempat duduknya. Dia menarik kerah baju belakang Susanti dengan kasar, serta membalikan tubuh wanita paruh baya itu. Susanti sempat tercengang akan perlakuan Zea, baru kali ini dia berani melakukan hal itu padanya.
“Jangan berani sakiti dia, manusia tidak beradap!!” sentak Zea tepat di depan muka Susanti, mama tirinya itu sampai gelagapan dengan bentakan itu.
Lantas Gadis itu melemparkan tubuh Susanti ke samping, hingga pelipisnya membentur meja. Sedangkan di depan pintu, datanglah papanya bersama Alda, dia melihat Zea melalkukan kekerasan pada istirinya langsung menghampiri gadis itu.
“ZEA!”
Tanpa menungu waktu lama, Baskara segera menarik kerah baju gadis itu hingga terangkat ke atas. Nafasnya memburu dan wajahnya memanas karena menahan amarah. Bukanya takut, Zea malah tersenyum sinis ke arah papanya.
“Lo apain mama gue, sialan?!” bentak Alda sambil memeluk mamanya.
“Siapa yang mengajarimu jadi anak sebrutal ini, hah? Kenapa kamu selalu membuat saya marah?!!” tanya Baskara dengan amarah yang memuncak, tubuh Baskara yang bongsor dan tangannya yang kekar mampu menarik tubuh mungil Zea ke atas lagi.
“PAPA SENDIRI YANG TELAH MEMBENTUK ZEA MENJADI SEBRUTAL INI!” balasnya dengan berteriak tanpa rasa takut sedikitpun, Zea menatap mata papanya tepat di bagian irisnya.
“Dasar anak nggak guna!! Jangan pangil saya Papamu! Saya tak sudi mempunyai anak sepertimu!!” ucapnya tak kalah sinis dengan menghempaskan kasar tubuh anaknya sendiri ke kithcen bar, membuat Zea meringis kesakitan, kini tulang pinggangnya seperti remuk.
"Baiklah Tuan Baskara Adiputra, kalau itu kemauan Anda dan membuat Anda senang!! Aku akan berhenti memanggilmu papa." Jawab Zea dengan tertawa garing.
DEG!!
Kalau boleh jujur, hati Baskara sedikit tak enak dengan perkataan anaknya tadi. Tapi dia tidak peduli, dia gengsi untuk mempunyai rasa empati itu.
BYUR!
Baskara tanpa rasa kasihan sedikitpun di hatinya, menyiram tubuh Zea mengunakan jus yang ada di sampingnya. Membuat Inem yang melihat Zea di perlakukan seperti itu, menangis pecah dan berlari memeluk Zea. Karena dirinyaa, nona mudanya di marahi papanya. Sungguh Inem tidak tega, sekaligus merasa sangat bersalah atas kejadian ini semua.
“Sudah Tuan, saya mohon hentikan!” Inem memohon sambil menangis terndu-sendu memeluk Zea.
Baskara melirik Zea sekilas dan keluar dari dapur itu, di ikuti Alda dan Susanti tepat di belakangnya. Sebelum Alda pergi, dia menendang lengan Zea yang masih bersimpuh di lantai.
"Mampus!! Lo emang pantas mendapatkan ini semua, anggap saja lo lagi menebus dosa di masa lalu."
Hati Zea sakit, sangat sakit. Perlakuan ini setiap hari dia terima dari mereka, dan maksud Alda tentang menebus dosa itu tidak sepenuhnya benar. Karena Zea tidak bisa di salahkan dalam hal itu. Sebelum air matanya jatuh meluruh, Zea buru-buru mengusapnya. Dia tidak ingin terlihat kalah dan lemah.
“Jangan menangis Bik!! Zea nanti ikutan menangis.” ucap Zea lembut sekali, sambil mengelap air mata pembantunya itu dengan penuh kasih sayang.
“Maafin saya Non, karena bibik Non Zea jadi begini.” Inem terisak sambil menunduk, dia terharu dengan gadis itu. Dia melawan papanya hanya untuk membela sang pembantu sepertinya.
__ADS_1
“Tidak perlu meminta maaf Bik Inem, justru Zea yang meminta maaf karena mereka berbuat kasar sama Bibik. Zea mohon dengan sangat, jangan pernah tingalin rumah ini ya Bik, walau bagaimanapun kondisi nantinya!” Gadis itu memohon sambil memeluk Inem erat.
"Maafkan saya Nona, saya tidak bisa berjanji untuk yang satu ini. Kalau Non Zea dan Den Kelvin tidak ada di sini, saya akan keluar dari perkerjaan ini."