
NOTE: Part ini mengandung bawang dan emosy, bagi yang baca mohon bersabar, ini bukan ujian kehidupan tapi hati kalian di uji oleh penulis cerita ini🤣😭🙏🔥. love you all❤.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Mex... Lo bawa Mobil gak?!” tanya Zea ngegas, seperti pas dia balapan Motor.
“Mobil? Bahkan gue lupa mobil gue di mana.” Jawab Mex pura-pura lupa.
Padahal, Mobilnya sedang berduaan dengan mobil Gugun di Garasi. Menurutnya tidak masalah Modus sedikit, kapan lagi bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan ini?? Jarang-jarang Zea mau berbicara ketus bercampur perhatian seperti ini, jadi harus di manfaatkan lebih banyak lagi.
“Terus?! Lo pulangnya gimana PARAMEEEEX?!” Teriak Zea sangat kesal mengekori Mex dari belakang yang keluar dari rumah Gugun.
“Lah, elo kan bawa motor ye, kan? Ya pakai Motor lo lah Ze, gitu aja kok repot. Terus gue yang boncengin lo.” Uxap Mex santai menaik-turunkan alisnya, membuat Zea bergidik ngeri.
BUAGH!!
Gadis itu meninju bahu Mex, membuat cowok itu mengaduh dan mengusap lengannya kesakitan.
“BIG NO!! Hanya gue yang boleh mengendarai Moto-,”
“Oh, yaudah kalau gitu gue gak mau pulang.” Ancam Mex nyengir, membuat Zea menatapnya datar.
Kalau dia tidak menuruti apa kata Mex, kasihan Om Deon yang sudah berharap sama percaya dengan dirinya. Tapi kalau di bolehin, motor kesayangannya akan di duduki pantat Mex. Huh, Zea sangat ora sudi sekali.
“Woiii... Kalian debat apaan?” Gugun menyembulkan kepalanya di balik pintu.
“Mex, nggak bawa Mobil, Gun... Dia mau nebeng gue.” sungut Zea menatap Mex kesal, yang di tatap malah memasang muka bodoamat dan bersiul-siul ria, padahal dalam hatinya sedang tertawa senang.
“Mex, lo mah Modus wae kan Mobil lu ada di G-,” belum sempat melanjutkan bicaranya, Mex memotong cepat.
“Ayo naik.” Pinta Mex yang sudah ada di atas motor Zea.
Zea memelototkan matanya galak, dia ingin sekali rasanya segera mencuci jok motornya menggunakan bungga tuju warna, setelah motornya ternodai dengan bokong Mex.
“Kurang ajar, kalau ini bukan demi Om Deon. Gue gak sudi ya, lo lancang naik motor kesayangan gue!”
Mau tidak mau, boleh tidak boleh. Semua udah terlanjur, cowok menyebalkan itu sudah menduduki jok Zea dengan tampang sok coolnya, Zea menarik nafasnya dalam-dalam, lalu naik jok belakang Mex.
Gugun menghentikan mereka, dia masuk kedalam rumahnya mengambilkan Helm untuk Mex.
"Nih, pakai helm dulu Mex!"
"Tolong pakaikan, Ze!!"
"OGAH!!" Zea yang duduk di belakang melengos sambil melipat kedua tangannya di dada, sedangkan Gugun tertawa geli.
Mex mendengus, kemudian memakai helmnya dan berpamitan pada Gugun lalu melajukan Motor Zea santai.
“Emang belum ada yang pernah nyobain Motor lo selain gue?” Tanya Mex penasaran.
Mex dari tadi kagum saat melirik body motor Zea, menurutnya walauoun ini Motor yang memakai cewek namun Modifan ini sangat keren mempesona. Tarikan Gas motor sangat ringan, semua serba mengkilap dan terlihat mewah.
Dia jadi teringat waktu dia pertama kali ketemu Zea setelah sekian lama tak berjumpa, cewek ini hampir saja menabraknya, saat Mex di kejar oleh Bu Maria.
Sejak saat itu, Mex mulai rajin ke sekolah karena gadis ini. Karena dia menyukai tipikal cewek pemberani dan tomboy seperti Zea, apalagi gadis ini sangat jual mahal sekali dan membuatnya gemas ingin menjadikannya kekasih.
Dengan mengejar Zea, maka dia seolah sangat tertantang untuk mendapatkannya. Kata pepatah sih gini.
“Belum lah, Abang gue aja mau nyentuh, nggak pernah gue bolehin.” Geruntu Zea menjaga jarak dari tubuh Mex.
Kalian nggak tau betapa senangnya seorang Mex Alexsander. Kalau dirinya adalah cowok pertama kali yang berhasil mencoba motor Zea.
__ADS_1
“Lo harusnya beruntung, karena gue yang nyobain Motor lo.” Seloroh Mex melirik Zea dari sepion. Ah, cantik sekali dia.
“Lah kok?” tanya gadis itu tanpa sadar mendekatkan tubuhnya maju kedepan.
“Zeeeee... Gue cinta sama lo,” suara Mex sangat lirih, mungkin hanya dia yang bisa mendengarnya sendiri.
“Lo ngomong apaan sih? Gue nggak denger!” Zea memukul helm yang di kenakan Mex.
Helm itu sangat unik, banyak sekali setiker quotes yang menutupi warna aslinya.
Bahkan sampai merknya sekalipun tertutup oleh setiker, Zea mendengus kesal kala membaca tulisan ‘APA LO LIAT-LIAT GUE? NANTI NAKSIR MAMPS LU!' tepat di depan matanya, apalagi stiker itu ada gambar binatang yang ciri-cirinya seperti Mex, Dia siapa? dia adalah Masmon. Itu lho, yang memiliki bulu coklat dan biasanya suaranya gini, uu aa uu aa🐒 .
Ingin sekali dia meludahi helm Gugun yang di pakai Mex, seakan helm tanpa dosa itu pun membuat kesal dirinya juga.
“Mangkanya maju ke depan,” jawab Mex, kali ini dia mengeraskan suaranya. Zea pun menurutinya, “Coba kalau bukan gue yang naik motor lo, melainkan Bobi. Lebih mendingan gue apa Bobi?”
“Eeum,, ya lebih mendingan lo lah. Bobi kan segede Gaban, bisa-bisa motor gue lari, karena takut sama badan Bobi yang alemong seksi itu!”
Seandainya, kalau Bobi mendenger ini, pasti dia akan Istigfar mengelus dadanya seperti orang terzolimi sedunia. Mex tertawa renyah mendengar ucapan itu.
Beberapa menit telah berlalu, tanpa bertanya atau meminta persetujuan dari gadis itu, Mex memarkirkan motor Zea di sebuah Taman kota.
“Mau ngapain berhenti di sini?” tanya Zea menekuk wajahnya emosi ikut turun dari Motor menyamai Mex.
Tanpa banyak bicara Mex menarik tangan Zea masuk ke Taman dan mendudukkan gadis itu di kursi panjang, seperti anak kecil yang sedang bermain bersama papanya.
Lalu keduanya terdiam, kebetulan gadis itu sudah lama tidak ke taman lagi. Padahal, dulu dia sering banget. Baginya taman adalah, tempat ternyaman dari pada di rumahnya yang seperti neraka itu.
“Random banget sih hidup lo. Nagapain coba ngajakin gue kemari?” tanya Zea menatap lurus ke depan, entah kenapa taman saat ini tidak banyak orang.
Sangat sepi sekali, bahkan hanya ada sosok cowok yang duduk membelakangi mereka. Yang jaraknya lumayan jauh.
“Gue mau tanya banyak hal sama elo.” ucapnya mengehembuskan nafas gusar.
“Lo, nggak bisa bohongin gue, Ze. Lo sebenernya ada masalah apa sama Raka? Kenapa dia ngizinin lo buat nyari gue?”
Karena dia udah berubah dan nggak peduli gue lagi, Mex. Kata itu yang terlintas di benak Zea, seketika raut wajahnya berubah drastis.
Zea mencengkram kursi taman sangat kuat, entah hatinya kenapa, pikirannya kini sangat kacau balau, jika mengingat kekasihnya yang dari kemarin berubah.
“Gue dan Raka hanya salah paham, kok.” Jawabnya lirih memperlihatkan senyuman yang di paksakan.
“Sakit ya, Ze? Ini gara-gara Alda kan?” tanya Mex dengan hati-hati. “kalau boleh gue tau, Raka itu berarti banget ya buat lo?” entah kenapa, tapi Mex ingin tahu tentang itu walaupun hatinya sangat cemburu dan perih.
“Kalau ditanya sakit, tentu saja sakit, Mex.” Ujar gadis itu, suaranya parau, dadanya seketika merasa sakit dan sesak, “Raka itu cinta kedua gue Mex, setelah Papa tentunya. Walaupun papa sering mematahkan hati gue, hehe...”
DEG!!
Hati Mex seperti di remat, andai gadis ini tau. Bahwa dia dari dulu selalu melindunginya diam-diam, selalu memantau gadis ini baik-baik saja. Selalu mengikutinya ke manapun bahkan ke makam mama Gia juga, dia sangat mencintai Zea sedalam dan setulus itu, walaupun jatuhnya dia termasuk kategori menguntit hal pfivasi Zea.
Perlu kalian tau, Mex selalu mencari rival balapan untuk Zea, tentunya tanpa sepengetahuan gadis ini juga. Mex rela membayar berapapun agar seseorang menjadi Rival gadis ini balapan.
Suapaya apa? Supaya Zea memiliki uang untuk membayar SPP.
Tiba-tiba tanpa di sangka-sangka ada seseorang menarik tangan Zea dengan sangat kasar, bahkan gadis itu sampai meringis kesakitan.
“Rak-Raka...?!” pekik gadis itu suaranya tertahan di tenggorokan, ternyata cowok yang duduk tak jauh dari mereka adalah Raka.
“Bisa nggak, lo halus dikit sama cewek?!” Mex melepaskan tangan gadis itu dari cengkraman Raka yang sangat terbakar mengetahui mereka berdua.
“Haha, kenapa harus halus? Lihatlah gadis murahan ini, dia juga sangat kasar asal lo tau.” Sinis Raka menatap Zea tajam.
__ADS_1
BUAGH!!!
Murahan? Satu kata yang menusuk hati Zea, dan menambah luka di hatinya semakin lara. Entah kenapa dadanya sekarang selalu nyeri tak terkira, apakah Zea akan mati bila tidak sanggup dengan ini semua suatu saat nanti?
Mex memukul Raka kesetanan, membuat badan Raka sampai terhuyung. “Jangan Mex, hentikan! Jangan sakiti dia, dia pacar gue!” Zea memohon sambil berlari memeluk Raka, namun segera di dorong kasar oleh cowok itu.
Berulang kali Zea mencoba untuk tidak sakit hati akan ucapan kekasihnya itu, walaupun kalimat pedasnya sangat menusuk ulu hati... Namun apa dayanya? Mendadak hatinya merasa sangat sakit di banding yang sebelum-sebelumnya. Tapi selama ini memang begitu, dia menyipan rasa sakitnya sendirian, tanpa ada satu orangpun yang tau.
“Jangan memanggil gue lagi dengan sebutan pacar!! Mulai saat ini, detik ini, jam ini, tanggal ini, KITA PUTUS ALFA ZEA ADIPUTRA!!” sarkas Raka menuding Zea tepat di depan wajahnya.
lagi-lagi Jantung Zea, serasa berhenti berdetak saat itu juga. Dadanya semakin pedih dan sangat perih seperti di tusuk-tusuk ribuan pisau. Dia belum siap dengan keadaan seperti ini, kenapa semua menjadi serumit ini? Mex yang daru tadi melihat mendengar ini semua sangat syok, bagaimana bisa Raka memutuskan Zea? padhal mereka berdua mati-matian mendapatkan Zea dan Raka yang telah menjadi pemengangnya.
“Aku tidak mau, hiks... Aku mencintaimu lebih dari yang kau kira, Rak... Kita hanya salah paham aja, tolong jangan begini... Hiks.”
Bujuk Zea memohon ingin memeluk Raka sendu, namun cowok itu enggan. Zea sangat kacau, air matanya mengalir membasahi pipinya sangat deras, matanya semakin bengkak, kepalanya sangat pusing sekaligus berat tak tergambarkan, apalagi sehari ini, dia belum makan apapun sama sekali dari pagi.
“BOHONG!!” Sarkas Raka menakutkan, sampai Rahangnya terlihat mengeras.
“Maksud lo apa bang*s*t, hah?! Bukankah kita sudah sepakat, kalau Zea jadi pacar lo. Lo akan jaga dia dengan baik!?” tagih Mex menarik kerah baju Raka.
Memang benar mereka dulu pernah berkelahi sangat hebat berakhir seri setelahnya Mex mengalah dan memberi perungatan untuk Raka bila ingin mendapatkan Zea.
“Kenapa gue harus menjaga dia dengan baik? Dia nggak benar-benar cinta gue, puas lo sekarang? kalau lo mau ambil saja dia!! Gue tidak jatuh cinta sendirian!! Dia nerima gue karena tidak ingin kalah dengan Alda.” Teriak Raka kencang bercampur emosi kemudian melepaskan tangan Mex dari bajunya.
“RAAAAK!!" Teriak Zea tak kuasa mendengar tuduhan Raka.
"Harus gimana lagi aku jelasin ke kamu biar kamu percaya? Hiks... Aku mencintaimu Rak!! aku cinta. Kamu nggak bisa mutusin aku saat marah kayak gini, aku nggak mau put-putus...” Gadis itu mendekat ke Raka lagi, dan mencoba meraih tangan Kekasihnya itu.
“Aku tidak peduli omong kosongmu, sekarang lo bukan pacar gue lagi. Dan sekarang lo bebas pakai cowok, gue tau kalau elo sering jual diri kan? Lo seharusnya mati aja!!”
BUAGH!!
BUAGH!!
BUAGH!!
Murahan? omong kosong? Mati? bebas pakai cowok? Raka bilang? Apa Zea sunguh tak ada lagi di hatinya walaupun se ujung kuku? apakah Zea semurah dan serendah itu di matanya? Dinmana Raka yang dulu selalu bikin Zea tertawa? apakah ini benar-benar Raka yang Zea kenal?
“Lo yang harus mati di tangan gue Si*lan!! Ternyata gue salah, dengan mengalah sama bedeb*h kayak lo!!” Raka tersenyum getir dan anehnya tidak membalas satu pukulanpun dari Mex yang membabi buta menghajarnya habis-habuisan.
Zea menangis dengan sangat kencang dan terlihat menyakitkan, kakinya perlahan meluruh lemas. Dia memegangi dadanya yang sangat sakit, tak peduli kalau Mex menghajar Raka habis-habisan. Karena Raka sangat melampaui batas.
Wanita mana yang harga dirinya mau di rendahkan? Apakah Zea seburuk itu? Sampai dirinya di katakan wanita murahan yang rela jual diri. Bahkan menyumpahinya mati. Tiba-tiba, mata Zea buram dan terjatuh tidak sadarkan diri.
BRUGGH!!
“ZEAAAAAA!!”
Mex panik dan segera mendekati Zea, dia memangku kepala gadis itu, Mex mencoba menepuk pipinya berulang kali, namun gadis itu tidak merespon. Tapi tangan Zea memegangi bagian dadanya.
Cowok itu meraih ponselnya, dan menghubungi seseorang. “Pa... Tolongin Mex, Zea pingsan di taman XXX. Kirim orang secepatnya, aku mohon....” Teriak Mex sangat kacau, dengan terus memeluk gadis itu erat, matanya mulai berkaca-kaca, dadanya bergemuruh panik.
“Jangan bikin gue hawatir Zeee... Gue mohon, kenapa lo bisa lemah seperti ini?” Mex mengengam tangan gadis itu, lalu mengendongnya seperti orang gila yang mencari pertolongan.
Sedangkan Raka diam melihat Zea pingsan di gendong Mex, membuat hatinya seperti di cambuk ribuan kali.
Dia dapat melihat mata dan tubuh kecil gadis itu tebujur lemas di gendongan Mex. Tapi saat melihat dia sudah bersama Mex, Raka memutuskan pergi begitu saja tanpa berucap sepatah katapun.
Mex berjanji, kalau Zea kenapa-napa Raka akan hancur di tangannya.
...BERSAMBUNG....
__ADS_1
See you next time gais, besok lagi ya. please jangan lupa tonton iklan hehe, biar aku semangat lagi dan tidak sabar bertemu kalian secepatnya.
semoga puasa kalian lancar❤.