PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
48. SAD.


__ADS_3

Mc di atas panggung menatap Aula menyeluruh tamu undangan.


“Baik. Sebelum acara ini berakhir, akan ada seorang anak spesial yang unik terbilang cukup populer di kalangan guru dan di sekolah ini, dia langganan guru BK namun siapa sangka bahwa nilai Ujian Nasional miliknya sangat memuaskan sekolah bahkan semua guru-guru bangga terhadarpanya. Mari kita sambut, dia di atas panggung. Alfa Zea Adiputra!!"


Semua tamu bertepuk tangan riang, apalagi teman-teman Zea. Memang benar, walaupun dirinya sakit, Zea tetap belajar dengan sungguh-sungguh hingga nilai rata-ratanya sangat memuaskan. Dia cerdas seperti papa dan mamanya.


“Semangat sayang,” Oma Dinar mencium pipi Zea.


“Makasih Oma, jangan lupa minum obat terus, ya.” Oma Dinar tersenyum dan memeluk cucunya itu.


“Bang Kelvin!! Cepet halalin kak Nadia secepatnya, ya?” Zea mencium pipi Kelvin singkat, dan memeluknya erat.


“Ada-ada saja kamu,” jawab Kelvin sambil terkekeh.


“Kak Nadia... Tolong jaga abang jelekku ya saat Zea tidak ada?” Zea tersenyum tulus pada Nadia.


“Pasti sayang,” Nadia menagasak rambut Zea dan memeluknya erat.


“Selamat tinggal semuanya.” Zea tersenyum sangat manis, dan menatap mereka satu-persatu.


Entah kenapa Zea melakukan hal itu, mereka gelisah karena gadis itu seperti berpamitan akan pergi jauh saja. Bahkan Oma Dinar dan Kelvin menitikan air mata, para bodygurad Oma sudah siap dari tadi di penjuru Aula. Takut kalau ada sesuatu yang tidak di inginkan.


“Semua akan baik-baik saja,” Nadia menenangkan oma dan Kelvin.


Zea terus berjalan, semua mata memandang ke arahnya, hingga langkahnya terhenti saat melewati kursi papanya.


“Apa kabar Pa? Zea kangen Papa tau? papa kok jadi kurus sih?” Bisik gadis itu di telinga papanya.


Baskara kaget diam terpaku, kenapa hatinya gelisah? Jujur saja dia dari tadi mencari keberadaan Zea. Dia ingin tahu keadaan Zea.


Basraka yang tenang berbeda dsngan Susanti. Dia sangat panik setengah mati, karena melihat keberadaan Deon di sini. Dia takut tak terkira, saat Deon menatapnya tajam setelah turun dari pangung. Dia tidak menyangka bahwa mantan temannya itu pemilik sekolah ini.


Setelah itu Zea berjalan lagi ke depan, terlihat Ricky melambaikan tangannya. Raka sendari tadi, menatap Zea bahkan dari gadis itu bangkit di tempat duduknya.


Kini Zea berjalan menuju anggun ke arahnya, hati Raka berdebar begitu kencang. Dia rindu gadisnya, dia ingin berlari memeluknya. Tanpa di sadari Zea berhenti sebentar di samping Raka, dan membisikan sesuatu.


“Hallo, Pak ketos yang sok berkuasa. Kali ini aku tidak akan bersembunyi lagi darimu. Apa kau senang? ah, iya... jelas tidak. kamu kan menganggapku tidak mencintaimu.” Bisik Zea sangat lembut di telinga Raka, dan menepuk pundak cowok itu dua kali.


“Ma-Maafkan aku, jangan pergi lagi Zeee.”


Kata Raka sedikit keras, membuat langkah Zea terhenti, namun sedetik kemudian dia melanjutkan langkahnya. "Aku akan pergi, selamat tinggal!!" ucapan itu berhasil memporak-porandakan hati Raka.


Kini gadis itu sudah berdiri di atas pangung, matanya menyapu seluruh ruangan. Terlihat para teman-teman boborkonya melambaikan tangan padanya, jangan tanyakan Mex. Cowok itu duduk paling depan dengan gaya angkuhnya, matanya terus menatap Zea.


“Cantik sekali...” Ucapnya pelan dengan menyatukan ibu jari dan telujuknya membentk love. Zea yang melihat itu tersenyum geli, membuat hati Mex berdebar.


Deon berdehem membuat Mex tersenyum malu.


“Sebelumnya terima kasih atas waktunya yang di berikan pada saya.” Ucap Zea sopan membuahkan tepuk tangan dan pujian meriah. “Saya di sini ingin berbicara sedikit,” Zea mulai menarik nafas dalam-dalam, sial, kenapa dadanya sakit secara tiba-tiba?


"Apakah semuanya siap?"


"SIAP!!" Semuanya serntak senang tak henti-hentinya bertepuk tangan.


"Baiklah, saya mulai."


"Siapa yang layak kita datangi selain tempat ilmu dan teman? Karena keduanya itu bisa menjadi keluarga bagi anak yang broken home.


Banyak yang mengira, bahwa untuk menebus semua luka dan kesalahan perlu nominal yang berlipat-lipat ganda setiap hari. Padhal, semua luka tidak bisa terbayarkan selain kata maaf.

__ADS_1


Kadang si perintis sendirian ini berfikir di dalam hati.


Tentang apa lagi yang bisa dia lakukan untuk membayar semua luka secara lunas dan tuntas terbayar.


Dan caranya cukup mudah, hal ini perlu di lakukan di sekolah dan rumah. Seorang anak itu, harus memiliki figure yang kuat untuk memberikan contoh terbaik, agar mereka bisa menirunya. Anak memang bukan pendengar yang baik, namun peniru yang handal.


Sebenarnya sosok anak itu tidak akan takut di salahkan jika memang benar dirinya salah. Kalian setuju kan?


Namun akan ada beberpa hal yang tidak bisa terlunasi, jika Ego dan emosi masih menguasai diri.


Kita tidak akan pernah belajar tentang hakikat sebuah kehidupan jika dalam hidup kita pasti akan merasakan di fase kehilangan, di tinggalkan, terasing, bahkan dibuang secara terang-terangan.


Maka dari itu, mari kita belajar menjadi tulang punggung agar punggung kita selalu kuat, mari belajar memaafkan karena tuhan saja maha pemaaf lagi maha kasih, mari belajar setia karena setia itu sangatlah mahal, tidak semua orang kaya sekalipun mampu membelinya.


Sekian dari saya Alfa Zea Adiputra, ada kurang dan lebihnya saya mohon di maafkan. Dan izinkan saya untuk pamit undur diri. Selamat tinggal."


Zea memegangi dadanya, membuat suasana menjadi tegang. Mata Zea kabur tak bisa melihat dengan jelas, dadanya sangat perih seperti di kuliti dan kepalanya berat. Jangan lupakan kakinya yang tak kuasa lagi menopang tubuhnya yang mulai meluruh. Hingga akhirnya.


BRUUUUK!!


Zea tergeletak jatuh, Raka yang sendari tadi matanya berkaca-kaca segera berlari ke atas pangung cepat. Dia memeluk Zea erat dan memangku kepalanya sambil memanggil-manggil nama Zea.


Mex dan Kelvin segera berlari menuju pangnung. Suasana menjadi ricuh, Baskara hanya bisa diam terbengong, dia tidak tau harus bagaimana. Yang jelas dia sangat terpukul dengan pidato putrinya tadi, kini matanya menatap tubuh Zea yang nanar menyedihkan.


“Zea... Kamu bisa dengar aku?” Raka menangis dan meraih kepala Zea di dadanya. “Maafkan aku... Maafkan aku.” Raka memeluk Zea yang masih menatapnya samar-samar, air mata Raka menetes tepat di tengah-tengah dahi gadis itu.


Tangan Zea semakin kuat memegangi dadanya dia meringis kesakitan bahkan menitikan air mata.


“LEPASKAN DIA!!” Kelvin mengertakkan giginya geram, dan megambil alih tubuh Zea dari Raka.


Mex mengepalkan tangannya menarik tubuh Raka mundur, “PUAS LO SEKARANG, HAH?!” ketus Mex menatap tajam Raka seolah mau membunuh.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Zea segera di bawa lari masuk ke ruang ICU VVIP ruangan ini hanya satu di kususkan untuk Zea, semua orang terdekat gadis itu bekumpul. Selain Baskara dan dua wanita licik itu tentunya. Oma Dinar menangis tersendu-sendu di pelukan Nadia, dia sangat kacau.


Kelvin mondar-mandir seperti orang gila, lalu mendekat Deon.


"Katakan padaku Om, Zea bisa selamat kan?"


Tanya Kelvin berdiri menangis di hadapan Deon, karena Deon sudah bertemu Dokter spesialis Jantung kemarin.


"Zea bisa mati kapan saja." Jawab Deon seadanya, membuat semuanya menangis pecah.


"Tidak mungkin, jaga bicaramu Om!! Tidak ada yang bisa mengambil Zea dariku!! katakan apa yang bisa aku lakukan sekarang?!" Raka menyeka air matanya berulang kali, dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


Zea sakit apa?


Kelvin sangat hancur, semua orang menangis.


"Tenangkan dirimu dulu!! Saya tidak suka keributan!" Tegas Deon tajam dengan memegang pundak Kelvin kuat.


Vina dan Dira semakin gemetar melihat situasi seperti ini. Tapi, ada seseorang yang menghilang di antara mereka semua, jika kalian bertanya siapa?


Dia adalah Mex.


Pemuda itu menghilang entah kemana sekarang.


"Kita hanya bisa pasrah sama yang di atas, tidak ada yang bisa menangani Zea sekalipun itu Dokter profesional di dunia sekalipun. Jangan kamu pikir, Zea hanya Gagal Jantung semata, dia mungkin saja sekarang mengalami beberapa komplikasi berat, yang dapat membunuhnya kapan saja. Termasuk sekarang ini." Ucap Deon mencoba setenang mungkin, lalu pergi dari lorong rumasakit, meningalkan mereka semua tergesa-gesa.

__ADS_1


Bagaikan di setrum jutaan volt, mereka menangis pilu, hati mereka sakit karena hanya beberapa orang saja yang mengetahui penyakit Zea. Oma bahkan sampai jatuh pingsan.


"Ze... elo tidak boleh pergi ningalin kita semua. Lo gadis yang kuat, hiks." Vina dan Dira menangis keras.


Zega dan Bian bahkan tertunduk lemas, jangan tanyakan Bobi, cowok itu menangis seperti orang gila.


"Pa... Kak Zea kenapa? Dia tadi ngajakin aku belmain, kenapa dia masuk lumasakit? Dia sakit ya?"


Tanya Ricky kebingungan, karena mereka semua menangis dan akhirnya bocah itu juga ikut menangis histeris, Nando hanya diam sembari memeluk putranya, tapi beberapa menit kemudian dia melepaskan pelukannya, dan pergi menyusul Deon.


Raka terduduk lemas di lantai sambil memukul-mukul lantai. Membuat perhatian Kelvin tertuju padanya, lalu mendekat ke arah Raka.


"Ini semua gara-gara lo BEDEBAH!!" Kelvin menarik kerah jas Raka kuat, membuat Zega mencoba melerai. Namun bukannya berhenti, Kelvin malah menarik paksa Raka keluar dari rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain, Baskara sedang berjalan lemas di rumah megahnya. Dia seperti kehilangan sesuatu yang besar, otaknya terus saja memikirkan anak tunggalnya itu. Biar bagaimanapun dia juga hawatir.


Rumahnya begitu sepi dan gelap, tidak ada Bik Inem atau pak Irawan. Mereka semua mengundurkan diri bekerja, setelah Zea pergi.


Dengan langkah pelan dan penuh keberanian, Baskara berjalan menuju kamar lantai dua, tepatnya menuju kamar Zea.


CKLEK!!


Gelap, sunyi dan suram itu adalah kamar Zea saat ini. Hati Baskara mendadak pedih, kakinya masuk ke dalam dengan hati-hati. Kamar yang hampir sembilan tahun tidak pernah ia masuki lagi, dia bahkan lupa warna faforit Zea.


Matanya menyapu seluruh ruangan yang gelap dengan dominan warna Hitam Abu, dan menangkap sesosok wanita sedang duduk di kasur anaknya.


“Putriku akan segera datang kepadaku, Mas. Kamu sudah terlambat, sekarang menangislah dan ratapi kebodohanmu.”


Baskara membelalakan matanya, apakah ini sebuah mimpi? Dia bisa mendengar suara istrinya, lalu air matanya berjatuhan seketika.


“Anak kita kenapa?” Suara Baskara parau, dengan mencoba mendekat ke arah kasur, namun bayangan itu hilang seketika.


KLIK!!


Baskara mengidupkan lampu cepat, dan menunduk lemas, dia hanya Berhalusinasi bertemu istrinya. Lalu dia mendekati Nakas di samping kasur Zea.


DEG!!


Tangannya bergetar kala menambil liontin pemberiannya dulu, yang ia berikan waktu mereka liburan di Swis dulu. Baskara juga bisa melihat ada dua permen KISS dan Yuppi, namun ada yang lebih menarik perhatiannya.


Sebuah kantung plastik dan juga Map coklat. Baskara mengambil plastik itu dan membukanya perlahan, dia membulatkan matanya kala mendapati berbagai macam obat. Dan kini, tangannya bergerak lagi ke arah Map coklat, matanya bergerak mambaca surat Dokter naik-turun berulang-ulang memastikan.


“Pu-putriku Gagal Jantung?”


Tangis Baskara pecah, berulang kali membacanya namun itu semua benar. "Tidak mungkin, ini semua tidak benar... Hiks... Maafkan papa Zeaaa. Kenapa papa tidak pernah memperhatikanmu?” Suara Baskara putus asa dengan meremat kertas itu di dadanya.


Terlihatlah sebuah foto di atas nakas.


Dirinya, Gia dan juga Zea kecil yang mencium pipi gadis itu. Lalu tangannya bergetar meraih foto itu, dan memeluknya erat serta menciumnya.


PROOK!!


PROOOK!!


PROOOK!!


Sebuah tepuk tangan menyadarkan Baskara.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


Masih kurang tidak, udah up dua bab loh😢. jangan lupa dukungannya🤗.


__ADS_2