PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
12. Perpus.


__ADS_3

**SELESAI** dengan mengisi perut mereka, ketiga siswa itu berjalan menunuju perpustakaan. Jam istirahat masih beberapa menit lagi, dan suasana masih sangat tenang. Di saat mereka melewati kelas Zea, para teman-teman Zea menyoraki mereka bertiga. Mungkin hanya kelas Zea yang paling terkenal berisik dan bar-bar di sekolah ini. Tapi mereka tidak mengiraukannya dan terus berjalan. Berbeda dengan Zea, gadis itu tidak bisa membanyangkan mungkin kedua temanya sekarang sedang menertawakanya.


Sesampinya di depan perpus, mereka segera masuk kedalam karena sudah ada bu Maria yang menunggu. Entah kenapa wajah bu Maria tidak bersahabat sekali, apakah mereka membuat kesalahan lagi?


"Kenapa kalian telat dua menit? apa sekalian nyuci Mangkuk di kantin?" geram bu Maria sambil berkacak pingang mengamati mereka semua.


"Astagfirulllah buk, Zea, padahal udah cepetin lho makannya tadi. Sampai baksonya aja gak sempet aku kunyah, masa telat dua menit aja marah-marah." Keluh Zea sambil geleng-geleng kepala.


"Alesan!!" Mereka bertiga menghembuskan nafasnya kasar, "Oke, kali ini ibu maklumin. Dan sekarang, ibuk mau ngasih tugas sama kalian bertiga. Ibu bagi ya, Raka sama Zea menata Buku baru itu di RAK buku dengan benar!!! kalau sampai ada yang keliru, saya gak segan-segan tambah lagi hukumannya." Zea dan Raka saling pandang, kemudian Zea mendengus kesal.


"Kenapa Zea, gak sama saya aja, bu?! Gak like, gak like..." seru Mex kesal.


"Emmmm," bu Maria tampak berfikir sebentar, "kamu mending menyapu saja, biar ruangan ini bersih dan rapi." Raka tertawa dalam hatinya, kali ini dia berpihak pada bu Maria. Keputusanya sangat tepat sekali.


Kalau Zea mengeruntu dalam hati, mengapa hari ini begitu sial baginya? Kalau begini caranya, dia lebih memilih di hukum sendiri daripada berurusan dengan kedua cowok yang menurutnya menyebalkan ini.


.


.


Lima belas menit berlalu, mereka mengerjakan tugas yang diberikan bu Maria. Mex, tampak asal-asalan menyapunya sampai di marahi guru itu. Zea yang melihat itupun tertawa keras. Bagaimana tidak? Ini adalah seorang Mex Alexsander, yang di kenal sebagai perman sekolahan mau menyapu, bukankah itu hal yang memalukan baginya dalam hidup? Kalau mungkin banyak siswa yang tau akan hal ini bakalan di tertawakan habis-habisan anak itu. Raka mengikuti arah pandangan Zea yang melihat Mex. Untuk membuatnya kembali akan tugasnya, Raka memukul bahu Zea menggunakan buku paket.


BUK!! BUK!! BUK!!


Pukulan ini hanya pelan, tidak sampai menyakiti tubuh ataupun hati gadis itu.


BUAGH!!


Jiwa-jiwa senggol bacok Zea mode on, Raka sampai lupa bahwa gadis ini bukan seperti cewek kebanyakan yang lemah lembut.


Raka meringis memegang pundak kirinya yang terasa sakit, namun Zea tidak peduli akan hal itu. Bahkan saking kerasnya pukulan Zea, tubuh Raka sampai terhuyung kesamping.


"Pukulan harus dibalas pukulan, mampus lo nyet!!"


"Galak banget sih jadi cewek!! Tapi lo itu gak cocok di sebut cewek deh menurut gue Ze. Kenapa? Karena body lo itu depan belakang kayak triplek, rambut juga cepak, dan lagi tingkah lo itu mendominasi ke laki-laki, maka dari itu, akan lebih baik lo jadi cowok aja..." kesal Raka sambil menekuk wajahnya kesal.


Zea yang emosi, menarik kerah baju Raka hingga cowok itu gelagapan di buatnya, karena jarak di antara keduanya sangatlah dekat.


"Sekali lagi lo bilang gitu, gue tonjok muka lo sampai masuk hospital, mau? dan soal penampilan... Suatu saat, gue akan menjadi cewek semok membahenol dan beautiful kayak Takia Genji, dan saat itu terjadi, lo salah satunya cowok yang akan tergila-gila pesona gue," Raka menelan ludahnya susah payah, taukah Zea kalau kalimat itu membuat Raka merasakan hal aneh di tubuhnya, dia semakin penasaran kenapa hatinya selalu begini di setiap dekat gadis ini.


Menurutnya, Zea itu begitu sepesial di mata Raka, gadis ini memiliki pesona yang tidak di miliki gadis pada umumnya, apalagi dia ini sulit sekali di tebak sampai membuat seorang Raka ingin tau banyak hal tentangnya sejak dulu.


"Oh, gitu? Asal lo tau aja, tidak semua cowok itu suka sama cewek yang model begituan."


"Preeeet!! Tai ayam satu kwintal!!" Zea melepaskan tangannya dan menjauh dari Raka, "kalau di depan lo ada cewek, semok yang  cantik ulala dan ada gue yang kerempeng tapi keren ini, Kira-kira lo bakalan milih yang mana?"


Pilih elo tapi lo harus semok dulu, tiba-tiba itu yang muncul di batin, Raka. Dasar hati gila, kenapa Raka jadi mesuman seperti ini?


Raka terkekeh pelan dan menjawab, "ya, jelas pilih yang semok dan cantik itu lah... Yakali milih elo!!" Tak hanya melontarkan kalimat pedas itu, Raka juga memonyor kepala Zea kesamping.


"**** you!!"  Ketus Zea sambil menahan tubuhnya untuk tidak terhuyung, hal itu membuat Raka tertawa.


"Ze..."

__ADS_1


"Hmmm?"


"Bisa ngak ya, suatu saat elo dan gue tidak jadi musuh kayak sekarang?" Tanya Raka di sela-sela menata Buku kembali.


"Gak tau lah. Lo, pikir gue ini mbah dukun apa?!"


"Gue pengen banget deh rasanya lihat masa depan, Kira-kira siapa ya yang jadi jodoh gue besok?"


Zea, menghentikan tangannya sebentar, "astaga Rak!! Dasar gila parah, emangnya elo mau pinjam mesin waktunya si Doraemon Uzumaki, itu?"


"Tidak juga!! Gue, berharap masa depan gue kelak itu sama elo!"


kalimat itu mampu membuat hati gadis itu berdegup kencang, dia tidak tau harus menyikapinya dengan cara apa. Raka, tiba-tiba meraih tangan Zea membuat gadis itu melototkan matanya. Raka tidak peduli dengan tangapan gadis di depanya ini, entah kenapa dirinya tidak ingin jauh-jauh darinya. Walaupun sebenarnya dia menolak perasaan ini dengan sekuat tenaganya, tapi dia tidak pernah mampu. Bayangan Zea selalu memutar di benaknya setiap saat.


Apakah Raka mencintai Zea?


Bukanya membalas perkataan Raka, gadis itu tersenyum sangat indah dan tulus, baru kali ini Raka bisa melihat senyuman indah dari gadis itu. Lalu Zea melepaskan tangannya dari Raka dan memalingkan wajahnya. Raka menyernitkan dahinya, dia tidak tau apa maksud senyuman Zea barusan, apakah dia tidak mau jika seandainya mereka berjodoh kelak? Apakah Zea merasa ilfeel sama dia? Itu pertanyaan yang memutar di kepala Raka saat ini.


Semua Buku sudah tertata Rapi di rak dan sempurna, kalian tau siapa yang menyelesaikan itu semua?


Jawabanya adalah Raka.


Sedangkan Zea? Gadis itu, tertidur pulas semenjak beberapa menit yang lalu, dengan bantalan dua buku mapel bahasa Indonesia yang di tindihnya. Dilihatnya gadis itu dengan jarak begitu dekat, Raka akui gadis ini memang sangat cantik.


Bibirnya tipis merah merona, hidungnya tidak mancung juga tidak pesek membuat Raka gemas, dan yang terakhir mata yang indah itu menjadi mahkotanya. Dia duduk di samping meja gadis itu, sambil terus memandangi wajah menawan itu.  Meja perpustakaan ini tingginya hanya beberapa Cm membuat gadis itu nyaman akan tidurnya.


"Mama Gia!!" Zea mengigau serta nafasnya memburu tak karuan.


"Jangan tingalin Zea, ma!" Raka bingung harus berbuat apa, dia menepuk pelan pipi gadis itu guna membangunkannya.


"Ze, lo kenapa?"


Mamanya datang ke mimpinya lagi, kejadian delapan tahun yang lalu terbayang kembali di pikiran gadis itu. Di saat ia melihat kematian mamanya yang begitu mengenaskan, apalagi itu gara-gara dia, hatinya merasa sesak kala mengingat memori masa lalu itu. Ingin rasanya dia saja yang di posisi mamnya saat itu.


"Ze, lo kenapa?" tanya Raka lembut sembari mengusap air mata gadis itu dengan ibu jarinya. Raka menatap kedua manik mata Zea dalam tepat di bagian irisnya.


"Gapapa kok," balasnya singkat dengan memalingkan wajahnya kesamping. 


"Zea, come on... Jangan ragu cerita masalah sama gue, siapa tau gue bisa bantu." Kata Raka tulus dengan seulas senyuman yang menyejukan.


Raka memeluk gadis itu, mengusap rambutnya penuh kasih sayang. Lagi-lagi bau wangi tubuhnya mampu membuat candu Raka setiap kali di dekatnya. Dia tidak tau apa masalah yang sedang gadis itu alami, yang pasti, dia sangat tau kalau gadis ini pandai sekali berpura-pura, padahal sorot matanya banyak sekali menujukan kesedihan.


Zea merasa tenang kala Raka memeluknya seperti ini, tangannya tanpa aba-aba darinya membalas pelukan Raka erat. Menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Raka.


"Makasih, Rak..." Dan dibalas cowok itu dengan anggukan.


...♡(*>ω<)ω<*)♡...


.......


.......


Selesai dengan menghukum mereka, bu Maria berbaik hati menyuruh mereka kembali ke kelas masing-masing, padahal dia ingin sekali menghukum mereka sampai pulang sekolah. Tapi dia rasa hukumanya sudah cukup, mereka harus ikut pelajaran supaya tidak tertinggal. Meskipun bu Maria tau, mereka tidak benar-benar memperhatikan guru di kelas kecuali Raka.

__ADS_1


Zea berjalan malas menuju kelasnya di belakangnya ada Raka yang terus mengikutinya, mungkin karena kelas mereka bersebelahan, jadi gadis itu tidak kepedean dengan Raka yang membuntutinya. Gadis itu terus berjalan menuju kamar mandi, melewati kelasnya yang ramai karena jamkos, dia ingin membuang rasa kesalnya di kamar mandi dengan menyiramkan air kemukanya.


"Kenapa lo ngikutin gue sih, anjir?!" gadis itu membalikan badanya kebelakang hingga Raka hampir saja menubruknya.


"Kan kelas kita sebelahan, GR banget sih lo!!"Raka mendorong kepala gadis itu kebelakang, membuat Zea geram.


"Wah, kejepit pintu sarafnya anak ini. Emang kelas lo ada disini wahai Raka toge?!"


Raka mengamati sekitar, dia tersadar bahwa dirinya di depan kamar mandi. 


"Hehe, gue juga mau ke kamar mandi," ucapnya ngawur sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dasar otak mesum! ini itu kamar mandi cewek dodol!!" Zea berkacak pinggang sambil menatapnya tajam.


Tanpa berkata apapun lagi, Raka segera pergi berlalu, dia sunguh sangat malu kenapa dirinya bisa sebodoh ini sampai mengikutinya ke kamar mandi?


Sungguh memalukan.


Tiba-tiba ada seseorang yang mencengkal tangan Raka, "Rak, gue mohon nanti pulang sekolah gue nebeng ya. Papa gue lagi sibuk gak bisa jemput gue," Alda masih memohon pada Raka, sedangkan Caca dan Bianca berdiri di belakangnya sambil menekuk tangannya di dada.


"Kenapa lo nggak bawa motor sama kayak, Zea? Udah tau papa lo sibuk harusnya lo inisiatif dong!"


"Jangan samain gue sama anak sialan itu!! Please, gue gak suka!!" bukannya menaggapi, Raka hanya berlalu pergi, dia merasa muak dengan cewek yang selalu menggangunya itu.


Alda merasa kecewa laki-laki yang dicintainya membandingaknnya dengan Zea, kenapa selalu Zea yang bisa membuat Raka luluh? Sedangkan sama dia? Raka, bersikap dingin. Itu yang membuat Alda semakin membenci gadis itu.


Tiba-tiba pandangan Alda tertuju pada seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia mengepalkan tangannya dan menghampirinya dengan kedua sahabatnya.


Alda menarik kerah baju Zea dengan kasar membuat baju gadis itu menjadi lusuh, "jangan coba-coba rebut Raka dari gue anak sialan!" Alda semakin kuat meremat kerah baju Zea.


"Jangan deketin Mex juga, dasar kecentilan, gak cantik aja belagu amat sih lobjadi orang!!" Sinis Bianca sambil menendang betis Zea, membuat gadis itu meringis kesakitan.


Zea meraih tangan Alda dan mengibaskanya dengan kasar, "cuci tangan lo dulu kalau mau nyentuh gue!! punya hak apa lo ngatur-ngatur gue? dan satu lagi. Gue gak takut sama kalian bertiga, camkan itu baik-baik di kepala kalian!!" Zea menatap sinis ke arah mereka semua, setelahnya meludah kesembarang arah.


PLAK!! 


Alda menampar keras pipi mulus Zea, "kalau lo gak jauhin Raka, gue akan bikin hidup lo makin sengsara!!" ancam Alda dengan berlalu meningalakan gadis itu.


Setelahnya Caca dan Bianca keluar sambil menabrakkan tubuhnya di pundak Zea.


Tidak ingin terlarut sedih dengan perkataan Alda dan kedua temannya, Zea segera menuju ke kelas, dia ingin istirahat, hari ini begitu menyebalkan dan melelahkan baginya.


Hatinya begitu gundah gulanah dengan masalah yang selalu di terimanya, kadang gadis itu berfikir mau sampai kapan hidupnya akan menderita seperti ini?


Dia capek, ingin rasanya pergi jauh, sejauh-jauhnya.


"Astaga, Ze, lo kenapa? Habis berantem lagi, ya?" selidik Dira kala gadis itu sampai di kelas, suasana kelas begitu ramai karena tidak ada guru yang mengajarnya.


"Ribut sama siapa sih, kok lo tumben sekali bisa kalah?" Vina menarik lengan Zea dan mendudukannya di kursi Dira.


Bukanya tidak mau melawan Alda, dia tau kalau dengan melawanya akan kena marah papanya jikalau Alda terluka seujung jari karenanya. Gadis itu sakit hati bila papanya lebih mempercayai anak tirinya dari pada dia.


"Gue capek, gue mau tidur aja. Kalau udah bel pulang sekolah bangunin gue ya?!" gadis itu bangkit dari tempat duduk Dira dan menuju kursinya sendiri.

__ADS_1


Dira dan Vina sempat kebingungan dengan prilaku Zea, tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan menjengkelan.


__ADS_2