
DI sebuah kamar dengan dominan warna hitam, tepatnya di kamar Zea, gadis itu telah merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Dia tersenyum sambil melihat langit-langit kamarnya, hari ini dia sangat bahagia. Namun 5 detik kemudian dia memijat kepalanya, dia merasa penat dan pusing. Apalagi dengan perkataan yang menusuk terus saja terngiang di kepalanya, saat di pesta.
“Tapi saya malu mengakuimu sebagai anak, kamu tak pantas aku sebut sebagai putriku!!”
“Dan aku tidak peduli akan kepergianmu kelak, memangnya kau ini siapa yang akan membuatku bersedih setelah kepergianmu?!”
Hal-hal seperti itulah yang membuatnya teringat dengan perkataan Kelvin beberapa tahun yang lalu, saat dirinya masih kelas satu SMP. Kala itu dia di pukuli Baskara habis-habisan, abangnya mengajaknya pergi jauh. Mencari kebahagiaan dengan Zea, merubah diri menjadi sosok hebat dan meningalkan semua penindasan ini.
“Dek, ayo kita pergi dari sini. Abang nggak kuat lagi melihatmu menderita terus-terusan, ayo kita tinggalkan ketidakadilan ini. Jikalau kamu mau, abang bisa membawamu pergi sangat jauh. Kita cari jati diri kita, buat papa menyesali dengan segala tindakannya. Setuju tidak setuju, abang akan membawamu pergi dari sini, saat kondisi sudah sangat tidak memungkinkan.”
kira-kira seperti itu, ucapan Kelvin kala itu.
Dengan memejamkan mata, mengehembuskan nafasnya perlahan. Tangannya bergerak cepat menyambar sebuah foto, yang dia letakan di atas nakas kemarin sore. Sengaja betul dia meletakan foto itu, karena dirinya sekarang sering merindukan sosok mamanya.
“Aku tidak akan pergi selama aku punya harapan disini, terlebih lagi aku mempunyai Raka sekarang. Aku berjanji dengan diriku sendiri. Atas nama Zea, aku akan menendang keluar Susanti dan Alda dari rumahku, tapi dengan satu catatan jika keadaan sudah membuatku menyerah di titik terrendah maka aku akan menyetujui ajakan bang Kelvin untuk pergi jauh.” Ucap Zea sambil mendekap sebuah foto wanita cantik, mirip dengannya siapa lagi kalau bukan Gia, mamanya.
Memang betul sekali, Zea sangat mirip dengan mamanya, mungkin perbedaan antara keduanya hanya di bagian rambut saja.
...
Ada yang mau berkawan dengan Zea?...
“Aku punya bang Kelvin, oma, Raka dan teman-teman yang selalu ada untuk Zea, ma. Mama tidak perlu menghawatirkanku di sini, besok aku kenalin Raka ke mama, ya.” Ucapnya tersenyum sambil mengusap foto mamamya di figura. Dia akan mengajak Raka pergi ke makam mamanya.
Dia teringat sebuah dompet pemberian Raka, cepat-cepat dia membukanya karena penasaran.
__ADS_1
Gadis itu sempat berfikir keras tentang isi di dalamnya. Setelah terbuka, hal yang ditemukan pertama kali adalah, sebuah kertas kecil yang di lipat berbentuk hati. Zea tersenyum dan membukanya, ternyata itu adalah sebuah surat.
Kira-kira seperti ini isinya.
...........................................................
Jakarta, 19-9-2019.
Dear Alfa Zea Adiputra.
Jujur aku bingung mau nulis apa, yang jelas aku menulis surat ini saat hendak tidur, hehe.
Otakku terlintas seorang gadis yang selalu menganggu pikiranku setiap waktu, dia siapa? Apa kamu mengenalnya Ze?
Aku tak tau tentang rasaku padanya untuk saat ini, sepucuk surat ini segaja aku tulis pada tanggal 19-09-2019. Yah, memang betul aku memilih tanggal cantik ini, secantik dirinya walaupun dia sedikit tampan menurutku.
Sekarang aku akan jujur padamu tentang orang yang aku maksud.
Terkadang cinta itu aneh… Ada yang mengatakan bahwa cinta itu tak mempunyai kaki kan? Tapi kenapa cinta bisa berjalan dari hati ke hati? Dan kini cintaku berjalan ke hatimu. Kini cinta ini telah lumpuh untuk tetap berada di hatimu, aku tidak akan pernah sanggup untuk berjalan meninggalkanmu karena kamu berbeda dari kebanyakan gadis.
Dan entah pagi, siang atau malam aku baru saja mengungkapan cintaku padamu, benar bukan? Dan boleh aku tebak? Kau sekarang resmi jadi pacarku.
I love you, pacar masa depanku.
^^^Raka Zaidan Vernando.^^^
...........................................................
__ADS_1
Zea terus saja tersenyum dan tertawa seperti orang gila saat membaca surat itu, Raka menulis surat itu sudah hampir dua tahun yang lalu. Apakah Zea bahagia? Tentu saja sangat. Dia merasa ungkapan cintanya begitu unik dan berbeda.
Yang pertama, dia menulis surat ini yang berarti sudah sangat lama menyimpannya. Yang kedua, dia memberikan sebuah permen Yuppi yang berbentuk hati, Zea tidak sadar kalau ada maksud di balik itu.
Hati Zea memang susah di taklukan, apa lagi dengan wataknya yang masa bodoh pada cowok.
Yang ke tiga, Raka memberikan permen kiss bertuliskan "pacaran yuk!!" Sungguh ini luar biasa, kalian tidak akan tahu rasanya seperti apa. Karena baru Zea yang di perlakukan seistimewa dan simpel oleh seorang cowok.
Benar bukan?
Apapun akan menjadi istimewa, kalau kita mempunyai cara berbeda dari yang lain.
Tidak setuju? Aku tidak peduli.
Yang membuat Zea semakin jatuh cinta adalah. Raka mendaptkan apa yang dia tulis, dan memberikan ini semua tanpa ada rasa gengsi akan di tolak mentah-mentah oleh Zea.
Karena Raka sangat tau betul, bahwa Zea tidak akan tertarik coklat, boneka atau lain sebaginya.
“Lihat ma!! Mama lihat ini semua kan?! Dia baik kan meskipun menyebalkan, dia orang pertama yang ngatain bodyku kayak triplek, meskipun aslinya bener juga sih.” Ucap Zea mengerucutkan bibirnya dan memperlihatkan semua yang di berikan Raka. Yang sudah tertata di atas kasur. Mulai dari permen Yuppi, permen kiss dan juga dompet juga surat tadi.
Gadis itu sangat senang kala menunjukan itu semua pada sebuah Foto yang memperlihatkan wajah cantik mamanya. Andai Gia masih ada, semuanya akan terasa sangat indah. Pasti mamanya akan mendukung penuh tentang asmara putri tunggalnya itu.
Dilihatnya senyuman mamanya di foto itu, dia sangatlah cantik. Matanya hitam legam, dengan rambut panjang yang menjuntai indah, dan jangan lupakan dia memiliki sorot mata yang menyejukan ketika tersenyum seperti Zea. Pantas saja jika papanya sangat mencintainya, gadis itu terus mengusap foto tepat di wajah mamanya dengan kedua ibu jarinya.
“Ma... Di saat aku bahagia seperti ini aku ingin mama ada di samping Zea, hiks hiks. Dan memeluk Zea dengan erat sangat erat, seperti 8 th yang lalu, hiks hiks. Mama akan selalu hidup dihatiku, selamanya sampai kapanpun tidak akan pernah tergantikan, bahagialah disana, ma. Zea menyayangimu selalu.” Gadis itu gemetar, sambil terus memeluk foto mamanya. Bahunya naik turun, dan rambut pendeknya acak-acakan tak karuan.
Kalian mungkin bisa membayangkan betapa rindunya anak itu pada sosok mamanya, sudah sekian lama ia hidup tanpa kasih sayang mamanya. Tentu hatinya sakit, dia memang kuat berpura-pura di depan banyak orang. Namun saat dia sendiri seperti saat ini, air matanya tidak pernah bisa ia kendalikan saat mengingat sang mama.
__ADS_1
...BERSAMBUNG❤....
Terimakasih dukungannya guys, sayang kalian selalu, semoga kalian selalu sehat. Lancar ya puasanya🤗.