
DI sebuah kamar dominan warna merah telah rapi di bersihkan para pelayan rumah itu. Sang pemilik kamar sedang berada di dalam kamar mandi, beberapa menit kemudian dia keluar menggunakan kaos oblong berwarna putih dan celana panjang sobek-sobek. Tak lupa juga sebuah kalung yang bertenger di lehernya.
MEX😁.
Selesai menjalankan rutinitas paginya, dia turun ke meja makan. Untuk melakukan sarapan pagi bersama papanya, jika kalian bertanya kemana ibunya. Mex juga tidak tahu siapa ibunya, kemana dan dimana.
Papanya menghembuskan nafasnya kasar, "kamu tidak sekolah lagi?" tanya Deon Alexsander, papa Mex.
"Males pa, udah nggak semangat sekolah lagi." Jawab Mex jujur sambil menyesap rokoknya.
Deon tidak melarangnya, selama Mex bisa mengontrol merokoknya sendiri.
"kenapa? Apakah kamu menyerah mengejar gadis itu?" tanya Deon menatap putranya intens.
Dia tau, kalau Mex menyukai seorang gadis di sekolahnya dan sang putra semangat sekolah karena gadis itu. Dia jadi penasaran seperti apa gadis yang membuat anaknya ini jatuh cinta.
"Dia udah jadi pacar orang." Jawab Mex, suaranya terdengar parau hatinya sangat sedih.
Kenapa dia tau semuanya tentang Zea? Tentu saja dia tau, dia adalah seorang anak orang kaya, Deon Alexsander memiliki perusahaan otomotif yang sangat besar dan tersebar di negara ini. Apapun bisa di lakukannya hanya dalam kedipan mata. Namun tak banyak yang mengetahui akan hal ini.
Baik Deon ataupun Mex sama-sama low profile.
"Lalu apa rencanamu?! Kamu tidak bisa senaknya meningalkan sekolah kamu begitu saja." Tegas Deon, suaranya sangat tegas dan tajam.
Mex sempat diam sejenak, sesekali menyesap rokoknya. "Aku laki-laki sejati pa, tidak akan pernah menyerah sebelum ada kata sah di antara merka." Jelas Mex sangat yakin, dia tidak main-main terhadap ucapannya barusan.
Walaupun darahku tidak mengalir ditubuhmu, kau mirip banyak sepertiku nak, batin Deon dalam hatinya merasa sangat sedih.
"Baiklah, papa percaya padamu Mex. Tapi asal kamu tahu, lelaki sejati juga akan mengalah demi melihat seseorang yang di cintainya bahagia bersama yang lain." Ucap Deon dengan hati yang sesak, entah kenapa dia merindukan seseorang.
Seseorang yang telah pergi jauh darinya sejak lama, dia sangat merindukan sosok wanita cantik, lemah lembut dan baik hati itu. Tidak ada yang sama seperti wanita itu di dunia ini, itu dimata Deon.
"Itu tidak akan terjadi padaku, pa."
__ADS_1
Tiba-tiba ada seseorang menghampiri keduanya, dia adalah tangan kanan Deon dalam urusan apapun. Lalu orang berseragam serba hitam itu, menyerahkan map berwarna coklat, entah apa itu isinya.
"Nanti kamu wakilin rapat papa ke kantor ya, Mex!! Papa ada acara dan tidak bisa hadir."
"Oke." Jawab Mex santai kemudian memulai sarapan paginya.
Kalian mungkin tidak akan percaya, bahwa seorang Mex itu anak orang yang kepribadiannya sangat kontras saat di sekolah. Baginya sekolah itu buang-buang waktu, menurutnya. Seandainya siswa dari sekolah dasar diberikan hak untuk mempelajari skill kehebatan yang ia miliki maka semua orang akan sukses.
Kesuksesan seseorang tidak bisa dilihat hanya karena masuk perguruan tinggi. Pada Zaman sekarang, skill atau kemampuanlah yang paling dilihat ketika melamar pekerjaan. Sudah banyak pekerjaan yang menerapkan syarat praktik secara langsung ketika interview kerja atau dengan mengadakan training bagi pekerja baru. Memang benar, dengan pendidikan tinggi, kita bisa menyematkan gelar pada CV ketika melamar, tetapi itu hanyalah sebuah hiasan CV semata.
Apabila kita tidak memiliki sebuah skill. MAKA SAMA SAJA AKAN KELIPUNGAN.
Ada sebuah kutipan yang mengatakan bahwa “semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru”. Itu tandanya, kita bisa belajar di mana pun dan kepada siapa pun. Artinya, skill seseorang bisa kita kembangkan di mana saja dan dengan siapa saja.
Sekali lagi, itu menurut Max Alexsander!
Walaupun tidak sekolah di sekolahan, Papa Mex memberikan guru pada anaknya tentang dunia bisnis, kerjasama, public speaking, saham dan lain sebagainya. Tak jarang dia mewakili rapat papanya dan bernegosiasi kepada klien.
Alasan Mex sekolah hanyalah, bertemu Zea saja.
Kalau kalian karena ingin jajan kan?
*****
Rumah Baskara Adiputra, tepatnya di meja makan yang besar dan mewah. Kepala keluarga itu tampak tenang menyeruput kopinya, sambil membaca koran di tangannya.
Kelvin duduk di samping Baskara untuk sarapan pagi, karena jam saat itu sudah pukul 06:10 menit. Sedangkan Alda dan Susanti belum juga pulang ke rumah. Entah dia dimana dan sedang apa.
"Kelvin..." sapa Baskara ramah
"Yes, I am?"
"Selamat ulang tahun nak!! Semoga selalu di lancarlan segala urusanmu. Ini papa ada kado untukmu." Baskara menyerahkan sebuah kunci mobil merk ternama keluaran terbaru.
"Amin. Hehe makasih pa, Ini untuk Kelvin?"
__ADS_1
"Iyalah, kemarin papa juga udah belikan mobil untuk Alda juga." Ucap Baskara dengan tersenyum senang.
"Lalu untuk Zea?"
TING!! TONNG!!
Tiba-tiba ada seseorang memencet bel rumahnya, membuat Baskara dan Kelvin berhenti berbicara dan menoleh ke arah pintu. Kelvin segera berdiri kemudian berjalan, dan membuka pintu itu. Betapa terkejutnya dia kala melihat sesorang di depannya itu.
"Woooh man, masuklah!! Pacar lo lagi gosokin kerak di kamar mandi." cerocos Kelvin sembarangan, sambil tertawa renyah, menarik tangan Raka masuk kedalam.
"Baik bang, temakasih." Jawab Raka sopan, lalu mengikuti langkah Kelvin ke meja makan.
Baskara bingung dengan kedatangan Raka, karena dia seperti tak asing dengan pemuda yang berkunjung di rumahnya ini. Dia menatap Raka, dan berfikir keras.
"Hallo om Baskara, selamat pagi." Sapa Raka sopan, dengan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Pagi kembali, sepertinya saya sering melihatmu. Tapi di mana, ya? saya lupa." Jawab Baskara sambil menerima uluran tangan Raka dan menatap anak itu takjub.
"Saya anak Nando, om. iya kita pernah bertemu di kantor papa." Tungkas Raka sambil tersenyum menjelaskan.
"Benarkah? Kenapa kamu menjadi tampan dan gagah sekali? Ah, sewaktu kecil sebenarnya kamu juga sudah memiliki bibit-bibit itu. Siapa namanu tadi? Asal kamu tau, Nando itu temenku sejak kecil." Jelas Baskara panjang lebar, dengan Senyuman ramah menghiasi wajahnya.
Kalau seperti ini Baskara terlihat sangat baik dan bijaksana.
"Saya Raka om,"
"Ngomong-ngomong kesini pagi-pagi ada keperluan apa nak?"
"Ya, jemput pacarnya lah pa apalagi? ya kan Rak?" Raka mengangguk malu-malu.
"Oh, serius?? Jadi kamu sudah jadian sama Alda ya? Wah, dia sering kali menceritakan tentangmu." Ucap Baskara sambil tertawa. "Tapi sekarang Alda sedang tidak ada di rumah, terus gimana dong?"
"Saya kesini bukan mau menjemput Alda om, tapi anak gadis om yang satunya lagi."
BERSAMBUNG.
__ADS_1