PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
32. Ricky.


__ADS_3

...HEPPY READING❤....


SEPANJANG perjalanan, Raka dan Zea sedang berada di dalam mobil menuju Rumah Raka. Keduanya bersenda gurau bercerita ngalor ngidul membuat mereka kadang tertawa, tak jarang Raka sering menggombal.


Tiba-tiba, ponsel Raka berbunyi sebuah masuk penggilan masuk, terlihat Risaka mamanya yang menelfon dirinya.


“Raka, calon menantu Mama jadi kamu bawa kesini kan?” Tanya Riska di sebrang sana, membuat Zea melototkan matanya.


Karena telfon itu memang sengaja di loudspeaker oleh Raka.


“Iya Mamaku sayang, ini sudah aku bawa pulang kok. Sekalian aku nikahin aja ya Ma, daripada nunggu besok-besok nanti di ambil orang.” Ucap Raka dengan tertawa renyah, sedangkan Zea mendengus sebal sambil mencubit perut Raka.


“Bocah edan!!" Dengus Riska merasa kesal, "hallo Zea sayang, Tante tunggu di rumah, ya. Kalau Raka macem-macem sama kamu pukul saja!” Riska mengabaikan anaknya sendiri, dan malah menyapa Zea.


Entah kenapa hati Zea terharu, kelihatannya mama Raka sangatalah ramah, dan kelihatannya baik.


“I-iya tante, tunggu Zea sampai ya.” kata Zea gugup, dengan pipi merah merona. Membuat Raka yang mengemudi mobil menjadi gemas.


“Mama mama mama!! Licky mau makan pelmen bukain dong. Please!!” Rengek Ricky, suara cedalnya sangatlah mengemaskan.


“Aduh, sudah dulu ya sayang. Mama tunggu kalian di rumah, ini Ricky lagi rewel. Hati-hati di jalan ya kalian.” perintah Riska, kemudian menutup telfonnya.


TUT!!


“Aku jadi tidak sabar,” kata Zea senang sambil memeluk lengan Raka dari samping.


“kamu itu sama seperti mama, ngeselin setiap hari tau nggak?” ucap Raka dan Zea mengedip-ngedipkan matanya, “tapi aku sayang kok.” Katanya lagi mengacak rambut Zea sayang.


Gadis itu mendongakkan kepalanya, melihat Raka yang menatapnya tersenyum, kali ini lesung pipitnya terlihat sangat jelas di kedua pipi Raka. Membuat gadis itu iri.


“lalu kenapa kamu sampai bucin parah padaku sejak lama?” ledek Zea mencubit perut Raka. "Dasar gengsi, sok ganteng, nyebelin, galak, suka hukum aku, ketus kamu itu dulu sama aku, tidak punya belas kasihan sedikitpun. Ingat TIDAK!?" cerocos Zea ketus mengingat saat Raka menjabat jadi ketua osis.


Raka hanya terkekeh pelan, sambil mengingat-ingat... Benar, dan kalau boleh jujur itulah momen-momen di mana dirinya menyimpan cinta untuk Zea.


Dari ratusan siswa cewek, hanya Zea satu-satunya yang berani dengannya.


“Udah ngomongnya?” tanya Raka lembut dan gadis itu mengangguk sebal.


"Udih ngimingnyi? Kamu pernah kan hukum aku berdiri di depan bendera sampai istrirhat? jahat sekali, parah!!"


Zea memukul-mukul lengan Raka sangat marah, namun di mata cowok itu terlihat imut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Rumah tinggi dengan bangunan sangat modern, mobil Raka telah terparkir di rumah bak istana itu. Terlihat rumah itu memiliki taman yang sangat luas sekali, dan ada beberapa bungga indah yang merkah. Mata Zea tak henti-hentinya melihat rumah Raka, meskipun rumahnya juga tak kalah megah dan mewah.


“Ayo...” Raka mengandeng Zea masuk kedalam rumahnya.


Lagi-lagi Zea berdecak kagum, bukan hanya bagian luarnya saja yang indah. Tapi dalamnya juga tak kalah mewah, dengan interior berwarna Cream menyejukan di pandang mata.


Zea baru tahu, kalau Raka juga termasuk anak orang kaya. Karena setahu Zea, Raka adalah pria yang sangat-sangat sederhana. Se sederhanya kala dia mengungkapkan cintanya pada Zea.


Mereka berjalan ke dalam ruang tamu, dan hanya mendapati anak kecil yang belepotan memakan coklat dan permen.


“Ricky, mama mana?” tanya Raka membuat anak itu memalingkan wajahnya malas.


“Tidak tau."


"kakak Serius Dek!!"


"Apa cucahnya cih? tinggal cali aja sendili." Raka mendengus dia tau adeknya ini cedal tapi di lebih-lebihkan agar terlihat menjengkelkan di telinga kakaknya yang sangat galak itu.


Zea tak kuat menahan tawa, melihat cowok tampan itu dengan mulut berlumuran coklat.


"Kak Laka sama siapa?” perhatian Ricky akhirnya jatuh pada Zea, dengan langkah pasti gadis itu mendekat ke anak kecil itu.


Siapapun pasti akan merasa gemas dengan Ricky, dia memiliki paras yang tampan seperti Raka. Kulitnya putih bersih, pipinya gembul seperti bakpau dan matanya yang sangat indah di hiasi bulu mata yang lentik, membuatnya beribu-ribu tambah ganteng.


“Hallo bos ganteng, namamu siapa?” Tanya Zea mencubit hidung Ricky pelan, di luar dugaan bocah cemong itu merasa senang di puji dengan embel-embel seperti itu.


Tidak seperti Raka yang biasanya akan mengejeknya, Raka sendiri sampai terkejut. Adeknya itu tidak mudah di ajak bicara orang lain, namun apa yang di lakukan Zea? Dia bisa menaklukan Ricky dengan mudah.


“Namaku, Licky Zaidan Velnando. Kakak cantik namanya siapa? tapi kok kakak juga ganting sih? sebenarnya kakak ini sewek apa sowok?” pertanyaan itu membuat Raka tertawa memegangi perutnya yang terasa kram.


Zea juga tertawa renyah sambil mengambil tisu dan mengelapi mulut Ricky sayang.


Ricky terus saja menatap Zea fokus dengan mata memincing, mulai dari rambutnya yang pendek dan wajahnya tanpa make up sedikitpun. Namun cantik natural, bibirnya juga tanpa lipstik juga sudah merah.


“Dia itu tampan, tidak sepertimu bocah ingusan.” Ejek Raka dengan duduk di samping Ricky.


“Hih, kakak apaan si? nanti Licky pukul pake Pistol baluku, lho.... pew pew pew!!” Anak itu menatap Raka tajam sambil menunjukkan mainan pistolnya untuk menakut-nakuti Raka.


Zea tak henti-hentinya tersenyum melihat interaksi keduanya. “Kakak cantik namamya siapa?” tanya Ricky yang langsung menarik Zea duduk di Sofa, sehingga Ricky berada di tengah dan membokongi Raka di belakangnya.


"Nam-,"


“Nama dia kak Zea. Jangan genit ya kamu anak kecil, dia pacar kakak!” Raka memperingatkan Ricky, karena adeknya ini kalau suka sama seseorang pasti akan marah jika mereka di gangu.

__ADS_1


Contohnya mamanya, yang selalu menjadi rebutan oleh kedua kakak adek itu. Dan kalian tentu sudah tau, pasti Ricky akan menangis bila Raka berbicara atau sekedar mendekat ke Riska.


“Kak Laka celewet sekali, sih kayak Tawon!!” ketus Ricky dengan sigap meninju lengan Raka. Dia sangat marah, karena Raka selalu saja menimbrung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lain sisi, Mex sedang menunggu papanya pulang. Dia memiliki sejuta pertanyaan yang harus di tanyakan pada Deon, sudah sepuluh menit dia duduk di Sofa ruang tamu. Dia juga sudah mengahabiskan beberapa batang rokok ditemani minuman di atas meja.


Asisten pribadinya berdiri di sampinya, mengamati tuannya yang duduk melipat satu kakinya. Dia juga bingung kenapa dirinya menunggu Deon papanya, apakah ini menyangkut tentang gadis yang ia jaga selama ini?


“Sejauh mana perkembangan kau mencari data tentang istri dan anak tiri Baskara?” suara Mex memecah keheningan.


“Mereka sedang meyelidikinya tuan, dan besok saya sendiri yang akan turun tangan langsung.” jelas Toni asisten Mex, dia sangat cerdas dan bisa di andalkan umurnya baru 25 tahun.


“Bagus, sekecil apapun informasinya berikan padaku!!” Tegas Mex dengan mengembuskan asap rokoknya ke udara. Dan di anggukki oleh Toni.


Dalam sepersekian menit, ahirnya pintu utama terbuka lebar. Menampakan pira paruh baya, dengan setelan berwarna hitam dan pria itu berjalan mendekati putranya penuh kewibawaan.


“Bagaimana rapatnya tadi, Mex?” tanya Deon duduk si sofa lain tak jauh dari putranya.


“Lancar, Papa dari mana?” tanya Mex mengintimidasi.


“Dari rumah temen, rekan kerja papa.”


Alibi Deon menerima minuman dari pelayan lalu meneguknya santai, Mex selalu saja curiga dengan Deon. Seperti ada yang di sembunyikan Deon padanya.


“Sampai kapan papa akan terus membohongiku? Bukankah papa sendiri yang mengajariku untuk selalu jujur?”


“Mex... Apa maksudmu?” tanya Deon seketika menyatukan alisnya terkejut, Mex hanya bisa tersenyum miris.


Memangnya dia tidak bisa menyelidiki papanya pergi kemana saja dan bertemu siapa saja? Semua itu sangat kecil bagi Mex, dia bisa melakukan apapun. Seperti papanya yang sering mengirim mata-mata mengikutinya kemanapun.


“Mengapa papa mendatangi makam istri Baskara?” pertanyaan itu sontak membuat Deon bungkam seribu bahasa, dia tidak habis fikir dengan putranya. Kenapa dia bisa tau banyak hal?


“Kenapa kamu bisa mengenal, Baskara?”


“Jelaskan dulu padaku, Pa. Kenapa Papa sering sekali mengunjungi makam istri Baskara!! Lalu aku ini sebenarnya anak siapa?” Geram Mex dengan menatap tajam papanya.


Deon menarik nafasnya dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia memejamkan matanya sebentar lalu menatap putranya sekilas, tergambar wajah Deon merasa sedih tak terkira.


...BERSAMBUNG....


Dukungan anda sangat berharga untuk Author. Tonton iklannya ya gais, dan follow juga. Terimakasih❤.

__ADS_1


__ADS_2