
Lanjut part 18🚴‍♀.
Tiba-tiba...
“Hei, kalian cepatlah pergi!!!” teriak mang Uus sang pemilik warung, “bu Maria kemari tuh, awas nanti kalian berdua di hukum lagi!!”
Perhatian Raka dan Zea akhirnya tertuju pada bu Maria, keduanya bergidik ngeri melihat bu Maria dengan raut wajah yang menyeramkanan.
Bu Maria terus berjalan menuju Warsamse, tangan kanannya memegang sebuah kemoceng. Zea tak tingal diam, dia menarik tangan Raka, membuat cowok itu membelalakan matanya. Dalam otak Raka, dia mau setaiap hari dihukum asalkan berdua dengan Zea.
“Hei kalian berdua!! Jangan lari!!!” teriak bu Maria dengan sangat kencang.
Zea berlari begitu kencang, kaki jenjang Raka juga menyamai langkah Zea. “Pe-pengang tangan gue erat-erat, Rak!!” kata Zea terengah-engah.Â
“Pasti, Ze!! Aku tidak akan melapaskanmu, karena aku mencintaimu.”
Kini mereka berdua sampai di depan gerbang, mereka telah berhasil melewati tantangan pertama dengan kabur dari bu Maria. Kini mereka harus berhadapan dengan pak Andan.
“Pak Andan... Where are you?”
Seru Zea membuat pak Andan dibalik Gerbang kaget, dia tidak tau harus menjawab apa, karena bahasa Inggris adalah kelemahannya.
“Apa artinya? Saya tidak tau...” Seru pak Andan dengan mengintip di balik Gerbang.
Raka dan Zea saling menatap dan tersenyum, Raka punya ide cermelang. “Artinya itu, sekarang belum pukul Tujuh pak, masak gerbangnya udah ditutup? Cepat biarkan kita berdua masuk!!”
“Serius?” pak Andan melirik pergelangan tangannya, tapi dia lupa hari ini tidak memakai jam tangan.
“Duarius pak, cepetaaaaan buka!!” Zea berteriak, dia takut bu Maria yang galak itu menangkapnya. Kali ini dia tidak mau dihukum.
Akhirnya Pak Andan membukakan gerbang, Raka dan Zea tersenyum masuk kedalam. Mereka semua berlari, tapi sebelum itu Zea berteriak:
“Sekarang sudah jam Tujuh lebih sepuluh menit pak. Makasih ya udah bukain gerbang!!” seru Zea sambil menjulurkan lidahnya.
Pak Andan mengedipkan matanya dua kali, hari ini Zea berhasil mengelabuhinya lagi. Pak Andan semakin geram, tanganya mengepal dan kembali menutup gerbang lagi.
Gandengan tangan mereka belum terlepas juga, “Jadi gimana, Ze... Mau nggak?”
“A-apa?” tanya Zea gugup. “jangan dekat-dekat!!” Zea mendorong tubuh kekar Raka yang dekat dengannya.
Raka memegang pundak Zea dengan kedua tangannya, ditatapnya eksperesi Zea yang begitu lucu. Pipinya memerah dan malu-malu.
“Kenapa pipimu merah?” tanya Raka dengan sedikit mengoda.
“Lepasin aku Rak!! takut kalau diliat orang!!”
__ADS_1
CUP!
Sebuah ciuman mendarat di kening Zea, kesadaran gadis itu hampir menghilang. Dia gugup, jantungnya berdebar, keringatnya dingin seolah habis lari di kutup. Ketiga hal itu bercampur menjadi satu, mata gadis itu menatap Raka dengan begitu jelas.
Gadis itu segera berlari meningalkan Raka yang menatapnya dengan tersenyum, "lucu sekali," Gumam Raka melihat kepergian Zea.
Dengan langkah cool, Raka memasuki kelasnya dengan memasukan tangannya di saku celana. Sedangkan Zea, gadis itu sekarang berada di kamar mandi. Dengan cepat gadis itu membasuh mukanya.
“Astaga, Ze...apa elo sedang jatuh cinta?” ucapnya pada dirinya sendiri, sambil menatap dirinya dipantulan kaca.
Tiba-tiba ada seseorang di belakang dengan menatapnya sinis, dia adalah Alda dengan menyilangkan tangannya di dada. Dia berjalan dengan angkuh ke arah Zea.
“Haha,,, Apa gue ngak salah denger? Lo jatuh cinta? Jangan bilang lo jatuh cinta pada Raka!!” ketus Alda dengan mendekati Zea.
“Apa urusan lo?!!”
“Tentu ada, karena gue cinta Raka!!”
“Cih, gue nggak peduli!!” Zea hendak berjalan keluar tapi kerah bajunya di tarik oleh Alda.
“Jangan deketin Raka!! atau gue akan bikin hidup lo makin sengsara!! Gue gak main-main sialan!!” ancam Alda ketus.
“Gue nikmatin ancaman lo!! dan lo pikir gue takut sama lo?” ketus Zea sambil melepaskan tangan Alda dengan kasar di bajunya.
“Sial...” umpat Alda dengan mengepalkan tangannya.
Dengan langkah cepat gadis itu segera menunuju ruang Administrasi di sekolahnya, dia ingin melakukan pemayaran SPP yang menunggak selama beberapa bulan.
Kelvin sudah memaksanya untuk membayar, tapi Zea menolaknya. Jikalau dia memang benar-benar tidak bisa membayarnya maka akan meminta uang pada Kelvin. Gadis itu mengambil dompetnya, uang hasil balapan liar juga lumayan untuk membayar keperluannya.
Tok...Tok...Tok!
Gadis itu mengetuk pintu, dan dipersilahkan masuk oleh Pak Bimo.
Sedikit penjelasan, pak Bimo bekeja sebagai pegawai Administrasi di sekolah itu. Entah mengapa dia mau menjalaninya, banyak rumor mengatakan bahwa dia juga mempunyai perusahaan.
Yang jadi pertanyaan, kenapa tidak bekerja di perusahaanya saja. Akan tetapi mungkin dia punya alasan tersendiri memilih pekerjaan tersebut, dan mungkin ada orang terpercaya yang menjalankan perusahaanya.
“Selamat pagi pak, Bimo,” sapa Zea dengan santun.
“Selamat pagi juga Ze... Silahkan duduk!!” balas pak Bimo dengan ramah.
“Saya mau bayar SPP pak... dan maaf tungakan saya sudah berapa bulan ya?” tanya Zea dengan khawatir, takut kalau uangnya kurang banyak.
“Sebentar saya cek dulu ya?” kata pak Bimo dengan mengecek di komputer, dan gadis itu hanya mengangguk.
__ADS_1
“Kamu nunggak 4 bulan nak,” gadis itu mengehela nafas, sedangkan uang di dompetnya hanya bisa membayar SPP 2 bulan saja.
Memang sekolah SMA Jakarta ini sangat mahal, tapi dengan kualiatasnya kalian tidak perlu menanyakanya.
“Maaf ya pak, saya baru bisa bayar 2 bulan...” Zea menyerahkan uangnya pada pak Bimo dengan menundukan wajahnya.
“Oh, tidak masalah nak. Apa papamu masih tidak mau memberimu uang?” tanya Bimo dengan hati-hati, takut menyingung perasaan gadis itu.
“Tidak perlu kujawab pak, aku harus mandiri tanpa harus meminta pada orang tua,” ucapnya tegas pada pak Bimo, dan berjalan keluar setelah berpamitan.
Pak Bimo mentap kepergian gadis itu, dia mengenal betul dengan papa Zea. Baskara sangat angkuh dan sombong, dia tidak takut pada siapapun. Dia punya kekuatan besar bila harus menyingkirkan orang tak disukainya, makanya dia selalu di segani banyak orang.
“Aku harus bertemu denganmu, Baskara Adiputra.” Gumam Bimo dengan mengentri data-data.
Dengan langkah malas, akhirnya Zea menuju kelasnya. Tepat di depan pintu terlihat kelasnya sangat ramai, apa mungkin tidak ada guru? Gadis itu mengintip dari cendela, dan benar tidak ada guru yang masuk. Dilihatnya kelas Raka, kelas itu tampak tenang. Mungkin ada guru yang mengajarnya.
"Semangat belajar Raka," Ucap gadis itu lirih dan tersenyum, dia tau kalau Raka adalah siswa pintar disekolahnya.
Tanpa punya rasa malu sedikitpun, Zea berjalan masuk kekelasnya. Para teman-temanya sudah hafal dan tidak berani menegurnya. Takut kalau punya urusan dengan Zea, selain dia menyebalkan dia juga suka bergaya selayaknya laki-laki. Yang kadang memukul siapapun yang berani padanya, dia juga sering berkelahi membela siswa-siwa yang sering di bully.
“Zeaaa...akhirnya lo dateng juga!!” seru Vina merangkul pundak Zea.
“Dari mana aja lo?” tanya Dira cuek.
“Warsamse dong,” ucapnya enteng.
“Ze.. Lo tau nggak? Hari ini ada berita-berita hot lho,” Vina mengatakan itu dengan antusias, namun di cubit oleh Dira yang pipinya berubah merah merona.
“Apa?” tanya Zea mengerutkan keningnya.
“Dira jadian sama Biaaaaaan,” ucapnya keras sambil tertawa ngakak, sedangkan Dira mengerucutkan bibirnya sambil tersipu malu.
“Benarkah? Wah harus makan-makan nih!!” ucap Zea dengan berbinar-binar, sambil menjabat tangan Dira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ze...Alda tadi di antar oleh om-om. Pake mobil lagi, dan kayaknya mereka sangat akrab.” Ucap Vina serius.
“Serius Vin?”
“iya...”
Gadis itu berfikir keras, kira-kira siapa yang mengantar Alda ke sekolah.
Lagi pula tidak mungkin menjalin kasih dengan om-om, apalagi dia mencintai Raka. Lelah dengan pikiranya, Zea merebahkan tubuhnya ke kursi dan mengeluarkan permen Kiss pemberian Raka. Dia mengingat kejadian saat di Warsamase, ketika Raka menembaknya dengan sangat istimewa. Zea tersenyum dan memasukan permen itu kesakunya.
__ADS_1
"Ajari gue mencintai lo balik, Rak..." Gumam Zea dengan merebahkan kepalanya di meja.