
Seorang pria paruh baya memasuki rumahnya yang seperti istana, mata pria itu tampak sayu dan juga kepalanya terasa berat. Pria itu adalah, Baskara Adiputra. Dia baru saja pulang dari pemakaman istri dan mendiang mamanya.
Tubuhnya yang jangkung dan kekar kini sudah tidak seperti dahulu lagi. Wajahnya di tumbuhi rambut-rambut halus yang tidak terawat, dia sangat hancur dan kesepian.
Sunyi. Gelap dan berantakan adalah rumahnya saat ini.
Kakinya berjalan gontai menaiki anak tangga menuju kamar putrinya, dia sering melakukan hal itu untuk mengobati rasa rindunya pada Zea. Baskara selama Lima tahun ini telah berusaha mati-matian mencari Zea, namun putri tunggalnya itu seperti menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
Selama tinggal di ibukota Belanda, Zea memang menerapkan low profile dia tidak memiliki akun sosial media apapaun, Raka pun juga begitu. Mereka fokus pada mimpi-mimpinya sekaligus memperbaiki kualitas diri.
CKLEK!!
Baskara membuka pintu kamar Zea, hidungnya langsung mencium khas wangi putrinya. Dia segera masuk, dan mengamati kamar dominan warna Hitam itu. kamar ini nampak suram seperti kehidupan masalalu pemiliknya.
TES!!
Air mata Baskara jatuh seketika, mengingat semua perlakuan buruknya dulu pada Zea. Dia sangat bejat dan tidak pantas di sebut seorang ayah.
Secara fitrah, posisi orang tua berada di atas anak. Kalau anak tidak patuh kepada orang tua, bisa disebut anak itu durhaka. Selain anak yang bisa durhaka sama orangtua, sebenarnya mereka juga bisa zalim kepada anak mereka sendiri. Contohnya: Tidak memberikan pendidikan agama yang baik, menelantarkan anak, tidak memperdulikan anak dan lebih parahnya lagi mereka membenci dan memukul darah daging mereka sendiri.
Sugguh Baskara sangat menyesal jika mengingat semua kesalahan di masalalunya, dia ingin Zea kembali dan meminta maaf beribu-ribu kali dengan putrinya semata wayangnya itu.
“Zea, maafin papa sayang... Sekarang kamu di mana nak? Kamu baik-baik saja, kan? Papa selalu rindu kamu. Papa mohon pulanglah, papa siap menerima hukuman apapun darimu, asalkan jangan meniggalkan papa sendirian seperti ini... Hiks hiks. Papa sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi kecuali kamu nak. Benar kata mereka, papa memanglah brengsek dan kejam... Hiks hiks. Tapi beri papa kesempatan satu kali lagi, papa akan menebusnya walaupun tidak akan pernah sanggup.” Baskara menangis tersendu-sendu tepat di samping kasur Zea.
Semua sudah hancur lebur penuh penderitaan. Seorang anak itu ibarat seperti pasir lautan, jika di gengam dengan penuh kekerasan dan penekanan. Maka pasir itu akan hanyut dan menghilang, bahkan tidak tersisa untuk sekedar di tatap saja.
Jika anak adalah seorang peniru yang handal, maka jangan salahkan mereka jika kelak anak mereka membenci orangtua. Bisa jadi mereka meniru orangtuanya dalam memperlakukan dirinya.
“Aku gagal menjadi seorang ayah dan kepala keluarga yang harusnya melindungi kalian, hiks... Zea sayang, bolehkah papa bertanya? Bagaimana caramu selama ini menyembunyikan air matamu nak, saat papa kejam padamu dulu? Hiks hiks... Bagaimana caramu mendapatkan uang untuk membayar SPP yang mahal juga? hiks hiks... Bagaimana caramu menutupi, penyakit mematikan itu sendirian sayang? Harusnya papa tau..”
Tangis Baskara semakin pecah, berharap putri tunggalnya datang dan menjawab pertanyaan itu semua.
Pertanyaan Baskara di atas jawabannya cukup sederhana...
Karena Zea dari dulu sudah terbiasa sendirian, dia tidak mau menyusahakan orang lain termasuk Kelvin Abangnya sendiri apalagi oma walaupun mereka berdua kaya dan cukup mampu jika hanya memberi uang padanya saja.
Namun prinsip Zea, dia harus berusaha sendiri untuk mencapai sesuatu sesuai pesan sang mama dulu.
Dulu Zea yang sering menangis di kamar itu tengah malam sendirian. Merasakan sakit di bagian Jantungnya tanpa di ketahui orang lain.
Tak sampai di situ, gadis itu juga mendapatkan cacian, hinaan, kekerasan dari papa dan keluarga tirinya sendiri. Itu membuat mentalnya semakin hancur berantakan, namun gadis itu mampu menutupinya sangat sempurna.
Jika saja Zea tidak mengkonsumsi obat pereda sakit Jantung, maka sudahlah pasti gadis itu tidak tau umurnya sampai mana. Dokter Mondy dulu bahkan sempat ragu pasca mengoprasi Zea, tapi dengan keajaiban tuhan. Gadis itu bisa selamat dan menjadi orang hebat.
“Sayang papa mohon pulanglah, papa rindu padamu nak... Apakah kamu tidak merindukan papamu yang menyedihkan ini?” Baskara berjalan gentir menuju meja, mangengam liontin inisal A punya Zea, dan juga sebuah cuter.
Entah dia mau melakukan apa dengan cuter itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain.
__ADS_1
Zea baru saja turun dari Jet hitam pribadinya, sepanjang perjalanan gadis itu terus menangis. Di fikirannya hanya memutar papa dan Raka.
Sepandai apapun Zea menolak, nyatanya dia tetap mencintai Raka, padahal selama ini dia berusaha keras mencintai Mex. Zea tau, dirinya sangat melukai seorang Mex Alexsander.
Setelah turun, Zea masuk kedalam mobil Black supercar yang memiliki harga fantastis telah di siapkan kepercayaannya sejak tadi. Dengan kecepatan penuh, dia melajukan mobilnya seperti kesetanan.
“Papa, Zea pulang. Zea tidak akan pergi lagi. Zea janji, hiks hiks...” gadis itu terus menangis sambil mengemudi, dia mengabaikan ponsel yang dari tadi berdering. Kelvin menelfonnya berulang kali.
Tanpa sepengetahuan gadis itu, Mex dan keluarga kecil Kelvin juga masuk kedalam Jet yang sama, mereka semua dapat melihat sekacau apa Zea hari ini.
Kelvin tidak bisa menghentikan selamanya dan memaksa adiknya tetap jauh dari Baskara, karena dia akan menyakiti hati adiknya itu.
“MENYINGKIRLAH DARI JALANKU, BEDEB*H!!” teriak Zea kencang sembari mengklakson tak hhenti
...----------------...
Perusahaan besar dengan bangunan menjulang tinggi seperti pencakar langit teeluhat jelas, Perusahaan itu di pimpin oleh CEO muda yang sangat tapan dan dingin.
Dia adalah, Raka Zaidan Vernando pria itu terkenal tegas dan ketus kepada para karyawan. Namun saat dia sendiri, Raka adalah pria yang sangat lemah. Contoh nyatanya seperti sekarang ini.
Dia berulang kali mencoba fokus Dokumen di tangannya, namun sia-sia karena hatinya berdebar-debar, seolah-olah akan terjadi sesuatu yang besar telah menantinya.
Dia menepis rasa itu, dan kembali fokus membaca. Namun dua menit kemudian.
“ARGHHH!”
Teriak Raka langsung membanting Dokumen di tangannya kasar, fikirannya sekarang tertuju pada gadis yang selama ini di cintainya dan om Baskara yang sakit-sakitan.
Di balik itu, Deon juga mengawasi Baskara dari kejauhan. Dia tidak sudi, menemuinya. Sampai kapanpun mereka tetaplah musuh abadi walaupun keduanya sangat peduli satu sama lain.
Bahkan Raka dengan senang hati selalu membujuknya untuk makan, kedua cinta Zea sangat menerita dengan kepergian gadis itu.
Mata Raka tertuju pada foto seorang gadis cantik sedang tersenyum sangat lebar dengan bola mata yang begitu indah, foto itu selalu di atas meja kerjanya setiap hari. Lalu tangannya meriah foto itu dan memeluknya erat di dada.
“Sampai kapan kamu akan menyiksaku? Bagaimana keadaanmu sekarang? kamu di mana? Apakah kamu tidak pernah merindukanku dan melupakanku? Asal kamu tau sayang, sampai detik ini aku terus mencarimu dan masih saja mencintaimu. Maafkan aku yang dulu, maaf. Aku mohon pulanglah.” Raka menangis, mengusap foto Zea yang cantik menunjukan senyuman indahnya.
“Aku adalah pria brengsek dan bodoh, banyak sekali yang ingin memilikimu tidak bisa... Namun apa yang aku lakukan dulu?”
Raka menyesal, kalau saja dia mendengarkan penjelasan Zea terlebih dahulu waktu itu. Pasti gadis itu, tidak akan pergi meninggalkannya selama Lima tahun ini.
Raka menunduk lemas, namun tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka sangat keras.
BRAK!!
Pintu itu terdorong cukup kasar, untung saja engselnya kokoh dan tidak roboh.
Raka mengusap cairan bening di wajahnya dan mendongakakan kepalanya. Dia terkejut bukan main, mendapati seorang pria dengan setelan baju brandalan sambil menesap rokoknya tanpa memperdulikan larangan merokok sembarangan sepanjang pilar-pilar kantor.
"El-elo?”
“Apa?!” jawab pria itu ketus dan sombong, lalu berjalan masuk penuh keberanian.
__ADS_1
“Nagapain lo kesini, hah?!” tanya Raka menukikkan alisnya, dia sudah lama tidak bertemu dengan orang ini semenjak lulus SMA.
Pria itu membanting puntung rokoknya dan menginjaknya kasar di depan Raka,lalu menatap tajam rivalnya itu seperti hendak menelannya hidup-hidup.
“Mau gue elo mati sekarang juga!!” jawabnya penuh amarah sambil menendang kasar meja Raka, membuat Raka mundur dan beberapa Dokumen terjatuh ke lantai mengenaskan.
Raka yang tersulut emosi, dia langsung mengepalkan tangannya kuat dan hendak menghajar pria di hadapannya itu.
BUAGH!!
Belum sempat Raka berdiri dari kursi besarnya, dia mendapatkan sebuah bogem mentah dari lawannya sangat kuat. Membuat wajahnya memanas dan kebas.
“SIALAN!!” pekik Raka, memegangi wajahnya.
Dengan sekuat tenaga menahan panas di wajahnya, Raka berdiri dan membalas pukulan di wajah pria itu.
BUAGH!!
Orang itu limbung ke kiri, dan Raka segera menarik kerah baju pria itu.
“Cepat keluar dari kantor gue sial*n!! Dan jangan lo pikir, gue tidak bisa membunuhmu juga breng*ek!!” ketus Raka menarik baju rivalnya itu kuat, tapi bukannya takut.
Pria di hadapannya sekarang malah tersenyum sinis, dengan melepaskan tangan Raka dari bajunya. Dia meludah sembarangan bercampur darah, pukulan Raka sangat kuat hingga membuat bibirnya sobek. Setelah itu, tangannya meraih kotak merah di celana jeansnya dan meletakannya di meja kerja kasar.
Entah apa isinya.
TAAAAK!!
Pria itu langsung berbalik badan menggunakan kaca mata hitamnya, dan mengatakan.
“Pergilah ke rumah Baskara AdiAsu sekarang!! Dan jangan lupa bawa kotak itu juga, dua puluh menit elo tidak datang, rudal Putin akan segera menghancurkan perusahaan Tahi ini.” Ucapnya dingin dengan melangkahkan kakinya pergi meninggalka Raka yang nampak emosi meledak-ledak.
BRAK!!
Dia masih sempat-sempatnya membanting pintu, membuat Raka mendecak kesal ingin melempari Rak buku ke kepala orang itu.
“Santai aja kali! Dasar bedeb*h!”
Raka berjalan mendekati mejanya yang berantakan, lalu mengambil kotak merah itu dan membukanya perlahan.
Alangkah terkejutnya, ketika dia mendapati benda berkilau tersusun sangat indah pada tempatnya masing-masing.
“Maksud dia apa?” tanyanya pada diri sendiri, lalu Raka menutupnya kembali.
Tanpa berfikir panjang, Raka meraih kunci mobilnya di atas meja, dan segera menuju rumah Baskara. Dengan perasaan yang campur aduk.
...BERSAMBUNG DULU YA GEEESH....
Eheeey.... Cerintanya ngebosenin gak sih sampai di sini menurut kalian? Ada yang ikutan sedih gak di part ini?😁.
Plis like dan komen serta dukungannya ya❤🤗. See you next part😁.
__ADS_1