PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
60. Sakit.


__ADS_3

Raka melihat istrinya kebingunggan, Zea terlihat bermalas-malasan di atas ranjang sambil memainkan ponselnya, biasanya setiap pagi perempuan itu akan memakaikan suaminya Dasi dan menyiapkan segala kebutuhannya. Tapi kali ini Zea tidak melakukan hal itu, terpaksa Raka harus menyiapkan segalanya sendiri.


KHEEEM!!


Zea tampak cuek tak menghiraukan suaminya yang mengkode untuk di pakaikan dasi, malah perempuan itu sekarang menguap lebar, matanya hampir tertutup kembali sampai ponsel yang berada di tangannya jatuh mengenai wajahnya sendiri.


"Aduuh sakit!" Ringis perempuan itu sambil mengusap-usap wajahnya.


"Sayang, kamu tid-,"


Raka yang hendak mendekat mendapat semprotan dari Zea, "STOP! Kamu udah mandi belum sih? bau banget seperti Domba." Raka kebingunggan padahal dia sudah mandi dan sangat wangi apalagi memakai parfum maskulin kesukaan istrinya saat di pakai olehnya.


"Aku bau?"


"Iya, awas jangan dekat-dakat!" Zea hendak muntah, tangannya di ibas-ibaskan.


"Sayang aku ini sudah mandi udah pakai parfum juga, mana mungkin aku bau? mungkin kamu yang bau, kan belum mandi."


"Kok kamu jadi nuduh aku bau sih?"


"Enggak nuduh. Ya habisnya kamu tidak seperti biasanya yang rajin mandi pagi."


"Nah kan, jadi marahin aku! Ya, terserah aku lah, hari ini aku tidak mau mandi sampai nanti sore. TITIK." Raka semakin kebingunggan, ada apa dengan istrinya ini?


Karena yang Raka tau, dari dulu Zea sangat suka bersih tidak suka bau apalagi kotor di dekatnya.


"Jangan bercanda sayang, nanti aku tidak mau tidur denganmu dan memelukmu." ancam Raka bohong, mana mungkin dia bisa tidur jika tidak di dekat istrinya itu.


"Yakin?"


Seloroh Zea tanpa dosa, dia menaik-turunkan alisnya membuat Raka ingin menerkam istrinya sekarang juga yang terlihat sedang menggoda dirinya. Pria itu membuang pikiran kotornya dan melihat jam di atas Nakas yang masih sangat pagi.


"Aku akan memandikanmu."


"TIDAK MAUUUU!!"


Zea menarik tubuhnya ketika satu tangannya di cekal oleh suaminya, tangan kanan Zea menutup hidungnya yang tidak tahan aroma tubuh suaminya itu.


"LEPASIN! JANGAN PAKSA AKU MANTAN KETUA OSIS YANG SOK BERKUASA! AKU TIDAK MAU MANDI!"


Raka tidak peduli dan segera membopong istrinya yang memberontak hendak turun, dadanya di pukul-pukul oleh Zea.


"Kamu bau! Seperti Domba masuk GOT aku mau muntah!"


Raka menuli dan masuk kedalam kamar mandi melepas pakaian istrinya yang tetap memberontak. Raka terlihat seperti bapak-bapak yang sedang memandikan putri balitanya yang sangat rewel dan keras kepala.


Baju Raka basah kuyup karena ulah Zea yang hendak kabur sebelum memakai Sabun dan Shampoo.


"It-itu salahmu ya, kamu sih maksa aku man-mandi. Maaf." Zea gugup dan takut melihat mata elang Raka yang menurutnya hendak marah namun pria itu tahan.


Raka menghela nafas berat dan mengabaikan ucapan Zea, kemudian melepas kemeja putih yang membungkus tubuhnya memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sangat atletis dan perkasa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jangan tinggalin aku suamiku yang tampan sejagat raya."


Zea bergelantung di punggung suaminya yang hendak berangkat kerja, membuat Raka pusing, entahlah sejak bangun tidur pria itu sebenarnya merasa tidak enak badan di tambah lagi Zea yang berprilaku seperti anak kecil.


"Terus gimana? aku mau kerja sayang, aku janji akan pulang cepat. oke?"


"Tidak, pokoknya tidak boleh kerja,"


"Terus gimana?"


Zea diam beberapa saat, memikir sejenak"boleh kerja tapi aku ikut."


"Apa, ka-kamu mau ikut aku kerja?"

__ADS_1


Zea mengangguk manja, wajahnya mencium aroma wangi di tubuh suaminya yang tadi di katain bau, Raka mendengus, merengkuh kaki istrinya agar nyaman di punggungnya dan tidak jatuh. Pria penyayang istri itu sangat mual ketika Zea menyemprotkan parfum wanita di seluruh tubuhnya.


"Kenapa suhu tubuhmu panas sekali? kamu sakit?" Zea menelusupkan tangannya masuk ke tubuh suaminya di sela-sela kancing baju.


"Sedikit pusing. Sayang, kamu turun dulu ya aku mau ke kamar mandi sebentar, perutku tiba-tiba mual." Raka menurunkan perlahan istrinya di tepi ranjang, membuat Zea pasrah.


Perempuan itu mengikuti suaminya ke kamar mandi, Zea panik saat Raka muntah-muntah tanpa henti, "sayang, kamu sakit?" tanya Zea berkaca-kaca, tangannya memijit leher belakang suaminya yang tampak menyedihkan.


Raka membasuh mulutnya, menggeleng pelan tapi tubuhnya tidak bisa berbohong kemudian memuntahkan isi perutnya lagi.


Mata Raka terlihat sayu, kepalanya terasa berat dan sakit, di tambah kakinya terasa kram mendadak. Zea tertegun saat suaminya itu memeluk tubuhnya erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher mulusnya, Raka akan baik-baik saja kalau Zea sehat. Sungguh.


"Kenapa kamu jadi tiba-tiba sakit begini?" Zea menangis sesegukan, "kamu tidak boleh ke kantor dulu. Harus istirahat di Rumah. Oke?" Raka menggeleng pelan di pelukan istrinya.


"Aku tidak sakit kalau kamu baik-baik saja. Aku ada rapat penting sayang, harus berangkat."


Pria itu memegang pundak istrinya menatap bola mata perempuan itu dalam, Zea mengamati wajah suaminya yang sangat pucat pasi.


"Kalau aku bilang tidak boleh ya tidak boleh, kamu harus nurut! kamu ngerti nggak sih? aku hawatir sama kamu! kalau kamu nanti kenapa-napa aku juga kepikiran!"


Cerca Zea, air matanya berlinang deras lalu di usap memakai telapak tangan lembut suaminya pelan, Raka tersenyum tipis mendapat omelan cinta dari istrinya.


"Iya, sayang aku nurut deh, sudah jangan nangis lagi ya? nanti cantiknya berkurang."


Sepuluh menit berlalu.


Zea memeluk tubuh suaminya di pelukan, menyalurkan kehangatan membuat Raka nyaman. Nafas pria itu nampak teratur, matanya terpejam dengan kedua tangan memeluk pinggang istrinya erat, membenamkan wajahnya di dada


Zea yang membuatnya tenang. Perempuan itu tersenyum dan mengecup dahi suaminya berulang kali, Zea tiba-tiba merasa tubuhnya seperti kelelahan melakukan aktifitas berat juga ikutan memejamkan matanya.


PUKUL 06:50.


"Biar papa saja yang naik ke atas."


Kelvin dan Nadia mengangguk kecuali Kenzo yang sibuk menguap sambil memegang garpu menunggu tante galaknya sangat lama tak segera datang untuk sarapan.


Baskara mendekat, menempelkan tangan di dahi Raka yang sangat panas. Pria paruh baya itu segera keluar tanpa sepatah katapun, dia tidak berniat membangunkan, barang kali keduanya sedang terlelap dan menantunya butuh istirahat.


Setelah ini dia akan menyiapkan obat untuk menantu kesayangannya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul 12:00.


Raka mengerjabkan matanya, merasakan sebuah tangan menyetuh dahinya, Raka enggan membuka mata dan meraih tangan itu.


"Peluk aku lagi sayang!" Raka menepuk-nepuk pelan kasur di sebelahnya dengan mata masih terpejam.


Tak ada jawaban, Raka menarik tangan yang menempel di dahinya agar berbaring di sebelahnya. Tapi kenapa tangan istrinya itu sangat berurat dan besar? aneh.


"Peluk aku sayang."


"DIH, OGAH! MENGERIKAN SEKALI! MENDING GUE PELUK VINA DARIAPADA ELO! SORI."


Raka membuka mata cepat, dia tersadar dan melepaskan tangan Zega. Membuat Zea dan papanya menahan tawa susah payah.


"Dia hanya kelelahan Ze, perlu di suntik agar staminanya tambah kuat."


Zega mengedipkan sebelah matanya ke Zea dan mengeluarkan suntik di hadapan Raka yang tampak melotot kaget sekaligus kebingungan.


"Apakah perlu di suntik segala? obat saja cukup."


"Tentu perlu Rak, ini demi om Baskara yang ingin segera menimang cucu, kalau lo sakit, bagaimana bisa membuat Raka junior kembali."


Raka mendengus kesal, Baskara mengacungkan jempol pada Zega tanda setuju. Sedangkan Zea menjadi sedih, karena sampai saat ini belum ada kabar kehamilan, bahkan perempuan itu enggan memeriksa pakai Test pack. Padhal ini sudah Empat bulan sejak pernikahan mereka, Raka sebetulnya tidak terlalu berlebihan dalam memikirkan anak, dia memang mengharapkan seorang anak dari rahim istrinya, namun dia bersabar dan mengikuti kapan tuhan akan memberikan amanah buah hati pada mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Sayang, maafin aku ya?"


Zea menunduk dia duduk di samping suaminya di atas kasur, Raka terdiam kemudian tersenyum tulus, meraih jemari lentik istrinya lalu dia cium.


"Maaf kenapa?" Pria itu bergerak pelan, memindahkan kepalanya di paha Zea.


"Aku belum hamil sampai sekarang." Zea berkaca-kaca menangkup pipi suaminya yang masih pucat tapi tidak seperti tadi pagi.


"Heeey, kenapa harus meminta maaf sayang? soal anak adalah kerjasama kita berdua dan tuhan mungkin saja belum memberikan buah hati kita hadir terlebih dahulu agar kita puas berduaan."


"Tapi kan?"


"Bagaimana kalau sekarang kita coba buat lagi?" Zea melotot, membuat Raka tertawa gemas.


"Jangan bercanda, kamu kan sedang sakit, aku tidak mau ya kamu pingsan pas lagi begitu." Zea tertawa renyah.


"Tapi Steven tidak sakit."


"Steven?"


Raka mengangguk, menunjuk kebawah perutnya sendiri menggunakan dagu setelahnya menaik-turunkan alisnya membuat Zea bergidik ngeri.


"Makan dulu."


"Baiklah aku masih bisa menahannya untuk makan terlebih dahulu."


Wajah Zea merah merona dan mengalihkan pandangan meraih nampan di nakas, Raka dukuk di depan Zea dan di suapi seperti anak kecil.


"Kamu tidak makan?" Zea menggeleng, perutnya lapar tapi mulutnya tidak nafsu makan.


"Kenapa? Kamu dari pagi belum sarapan kan? nanti kamu ikutan sakit, aku tidak mau itu terjadi." pria itu hendak merebut sendok untuk menyuapi Zea, namun perempuan itu menolak keras.


"Nanti aku makan sendiri, janji. Oke? Aku sedang tidak nafsu makan untuk saat ini."


Setelah selesai menyuapi Raka dan memberinya obat, Zea berdiri hendak meletakkan piring kotor di dapur.


"Aku ke bawah sebentar ya?"


"Jangan lama-lama, aku menunggumu Darling."


Raka mengerilngkan matanya, membuat Zea yang kelaparan menjadi gugup hanya bisa mengangguk sangat pelan menyembunyikan wajahnya yang sangat merona. Pria itu menatap istrinya tak jemu, sampai Zea memegang pintu lebar hendak keluar.


Namun seketika tubuh Zea melemas, nampan di tangannya jatuh ke lantai dan piring serta gelasnya pecah, membuat Raka yang masih sedikit pusing segera berlari menangkap tubuh istrinya. Telat sedikit saja, Zea bisa jatuh ke lantai.


"Zea! kamu kenapa sayang?" Raka panik menepuk pelan pipi istrinya yang memejamkan matanya.


Nadia berlari ke atas mendengar sura jatuh dari kamar Zea.


"Zea kenapa Rak?" Tanya kakak iparnya panik.


"Tidak tau kak, kita harus membawanya ke rumahsakit. Aku hawatir terjadi sesuatu padanya."


"Tap-tapi gimana? kamu masih sakit apa kamu kuat menggendong Zea ke bawah?"


Raka mengangguk, dia tidak peduli sakit di kepalanya yang jelas dia sangat hawatir, dadanya bergemuruh mengingat masalalu yang membuatnya trauma akan kehilangan istrinya kembali.


.


.


.


...BERSAMBUNG....


Cerita sedikit ya, jadi cerita ini itu aslinya cuman ada 58 BAB kemudian TAMAT, nah karena aku revisi ulang maka aku tambahin bab lagi agar bumbu setelah pernikahan ada. Bab selanjutnya sudah ada, mau di taruh di sini tapi terlalu panjang, harap menunggu ya. see you next time❤🔥.


Salam hangat dari author dan Raka Zea🤗.

__ADS_1


__ADS_2