PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
7. Cafe.


__ADS_3

...Lanjut part 7🚴‍♀....


...HEPPY READING😘...


.......


**Di** sinilah Zea sekarang, gadis itu sedang berada di caffe langanannya. Untuk saat ini dia hanya ingin sendiri, Zea tersenyum miris menertawakan kehidupannya yang begitu menyedihkan. Di tengah keramaian pengunjung Caffe, gadis itu merasa kesepian.


Apakah kalian pernah sama di posisi Zea? Rasanya menyesakkan bukan?


Mau tak mau gadis itu butuh pelampiasan untuk meredam segala beban dalam hidupnya, tangan kirinya merogoh jaket yang di kenakannya lantas dia megeluarkan sebungkus rokok dan pematik api.


Zea tak perlu waktu yang lama untuk membakarnya, dia mengapit satu batang rokok tersebut di antara lipatan kedua bibir tipisnya, dan di nyalakanya pematik api.


Malboro Edege Smooth Flavor, menjadi pelampiasan terbaiknya saat ini. Rokok itu selalu ada di saku dan juga tas sekolahnya.


Kurang lebih 15 menit gadis itu sudah berhasil menyesap rokok hampir dua batang, dengan di temani coffe latte favoritnya.


"Apa mama kecewa melihatku seperti ini? Maafkan Zea maafkan Zea, jikalau dengan nakal papa bisa memperhatikanku maka aku akan tetap menjadi nakal." Ucapnya lirih sambil menahan air matanya yang hendak terjatuh.


Hingga dering ponsel di saku jaketnya berbunyi, membuat gadis itu sedikit tercengang dan mengeruntu dalam hati. Lalu dia merogoh ponsel itu, kemudian di lihatnya nama si penelfon, mata Zea langsung berbinar dan menjawab cepat panggilan tersebut.


“Hallo, Oma sayang, Oma apa kabar?” sapanya antusias sambil menyesap rokoknya sesekali, untung saja Oma Dinar tidak memanggil mengunakan Video call. Jadi Zea tidak akan ketahuan kalau sedang merokok.


UHUK!! UHUK!! UHUK!!


Zea membekap mulutnya sendiri, takut Omanya mendengar, pasti dia akan marah besar jika mengetahui dirinya belum berhenti merokok.


“Zea sayang, katakan jujur sama Oma. Suaramu terdengar serak, kamu lagi nangis, ya? Terus ngerokok juga, kan?”


Bukanya menjawab pertanyaan Zea, wanita tua di sebrang telfon malah melontarkan pertanyaan balik. Membuat Zea mengulum bibirnya, dia tak tahu harus menjawab bagaimana.


“Eeeh, enggak kok Zea tidak nangis," Alibi gadis itu sambil tertawa garing, "emm, ya gitu, Zea masih belum bisa berhenti merokok Oma, maaf." Ucapnya lirih dengan menundukan kepalanya, tanpa perintah dari Omanya gadis itu segera mematikan rokoknya.


“Are you okey? apa papa memarahimu lagi?” Oma selalu hafal dengan kebiasan gadis ini, dia juga tidak habis fikir dengan kelakuan anak laki-lakinya itu.


Kalau boleh jujur Oma sangat benci Baskara menikah lagi, dia tidak sudi mengakui Susanti dan anaknya menjadi bagian keluarga Adiputra. Mereka tak pantas. Apalagi semenjak Baskara menikah lagi, tingakhnya menjadi angkuh dan sombong. Sampai-sampai lupa pada ibunya sendiri, dia tidak pernah berkunjung untuk sekeder menemuinya.


“I am okey,” gadis itu tidak menjawab pertanyaan kedua dari Omanya, dia tak mau menjadi beban bagi orang di sekelilingnya apa lagi Oma dan Abangnya. Dia tidak mau.


"Baiklah, Oma tahu kamu berbohong. Tapi, apakah kamu tidak rindu sama Omamu ini? Sudah satu bulan lho kamu tidak main kesini," Tanya Omanya dengan nada khas dia kesal.


Perkataan itu membuat Zea membelalakan matanya, padahal dia mengira baru dua Minggu tidak menemui wanita tua itu. Ayolah, ingatan Zea itu sangat bagus. Dan tentu Zea tau, kalau ini hanya akal-akalan omanya saja.


“Benar kata nak Dilan, bahwa rindu itu berat, dan wanita tua ini merindukanmu sangat. Jadi kemarilah syangku, oke? Sampai jumpa di mansion dan hati-hati di jalan, ya?” tanpa mendengar persetujuan Zea, sambungan di putusakan oleh pihak Oma. Mambuat gadis itu mendecak kesal, selalu saja Omanya bertingkah begitu.


Lalu tadi apa-apaan? Bawa-bawa mantan kekasihnya yang bernama Dilan segala, Jangan-jangan omanya itu menonton film yang sedang di gandrungi banyak remaja itu. Astaga, Zea akui Omanya itu masih terlalu kekinian.


Tapi tak masalah, karena dia juga rindu pada wanita tua itu, berapa waktu yang lalu dia berkunjung bersama Kelvin.

__ADS_1


Ngomong-ngomong soal Abang jomblonya itu, Zea sampai lupa kalau hari ini gadis itu tidak memberinya kabar pada Kelvin. Kalau dia pergi tanpa memberitahunya terlebih dulu bisa dipastikan, Abangnya tidak akan memberinya uang saku. Ohoho, Zea tak mau lah.


Kemudian di carilah nama kesayangan Abangnya di kontak WA , di belakang nama itu ada emoticon Monyet yang pas sekali untuk Kelvin. Setelahnya dia berpamitan, dan Kelvin menitip salam untuk oma.


Dengan langkah pasti Zea segera keluar dari Caffe tersebut, dia hendak menyalakan motornya namun tiba-tiba, matanya melihat ada seoarang wanita paruh baya. Wanita itu sedang di hadang perampok, Susah payah dia  merengkuh tasnya, namun kedua preman itu menambil paksa tasnya.


“LEPASIN DIA!?” kedua preman itu menghentikan aksinya, dan memusatkan matanya ke Zea.


“Menarik sekali bisa bertemu,” ucap preman dengan badan kekar yang melangkah maju mendekati gadis itu.


“Dia siapa?”


“Ketua geng JAKMOGE, dan juga katanya jago Taekwondo.”


“Bagus kalau gitu, kita lihat seberapa kuat kemampuan bocah rambut cepak ini!” ledek preman itu membuat Zea ingin segera memukul pantatnya.


“Tidak apa-apa berambut cepak, daripada kalian berdua, kepalanya gundul kayak bolam. Jadi jangan banyak bicara!! Ayo sini pukul gue!” Seketika kedua preman itu membelalakan matanya sedikit terkejut dan kesal juga.


Awalnya Zea sedikit kewalahan, namun dia mencoba menahan energinya supaya tidak terkuras habis. Di saat situasi sedang mendukung, tendangan dan pukulan Zea mampu menumbangkan satu persatu preman itu dan dalam hitungan menit, kedua preman itu telah ambruk.


"Kalau gue liat kalian ngrampok di sini lagi, bakalan gue pastikan copot kepala kalian berdua!! Terus gue jadikan hiasan di kandang Ayam." Finis Zea sambil menendang kedua dada preman itu bergantian.


Belum sempat gadis itu mengucapkan selamat tinggal, kedua preman itu bangkit dan lari terbirit-birit.


"Dasar gondrong pengecut!! Eh, botak deng... Haha!!" Di sela-sela tawa Zea dia di hampiri wanita yang telah di tolongnya.


“Sama-sama tante, lain kali hati-hati ya. Soalnya banyak preman di kawasan ini...” tutur Zea dengan sedikit tarikan senyum, lalu dia melangkahkan kakinya pergi. Namun tanganya tiba-tiba di tarik oleh wanita itu, mau tak mau gadis itu membalikan badannya kembali.


“Ini untukmu, sebagai tanda terimakasih, karena telah menolong tante.” wanita itu tersenyum sangat tulus dan meletakan beberapa lembar uang di telapak tangan Zea.


“Maaf ya tante, tapi saya buru-buru... Sebelumya uang ini saya terima dan tolong berikan uang ini pada yang lebih membutuhkan. saya tidak butuh uang.” Zea mengembalikan uang itu dan segera pergi.


Gadis itu mampu menohok wanita paruh baya tersebut, selama ini dia kurang berbagi kepada orang-orang yang susah. Wanita itu terus melihat pungung gadis itu yang kian menghilang mengunakan motor besarnya.


"Terimakasih, hebat sekali dia. Siapapun orangtuanya, pasti mereka bangga terhadap anaknya itu." Pujinya pelan, setelah itu wanita tersebut mengerutkan dahinya, "tapi gadis itu sangat mirip dengan seseorang, tapi siapa ya...?"


Wanita itu kesal karena lupa menayakan sesuatu yaitu ‘nama', dia mengeruntu dalam hati, bagaimana dia sampai lupa akan hal itu? Dia berdo'a agar suatu saat nanti bisa bertemu dengan gadis itu lagi, tidak mau ambil pusing lagi, dia berjalan menuju mobil mewahnya dan segera pergi.


...***...


Mansion luas mengunakan perpaduan cat berwara crem dan coklat telah berada di hadapan Zea. Dengan pagar besi menjulang tinggi berwarna hitam legam yang kokoh, jangan lupakan taman yang indah di sekeliling menuju pintu masuk. Juga Ada beberapa bodyguard yang siap 86 di depan pintu masuk, apalagi pintu kamar nyonya besarnya.


Zea melangkah dengan santai, membuat Para bodyguard tersenyum ramah ke arahnya. Mereka sangat hafal betul dengan cucu kesayangan nyonya besar, mereka selalu menghormati Zea seperti layaknya seorang tuan putri.


"Jangan membungkuk!! Ini di Indonesia bukan di Jepang." Perintah gadis itu, membuat mereka semua tersenyum sangat tulus sembari mengangguk.


Zea itu sangat baik, kalau saja Oma Dinar tau mereka tidak menjalankan perintahnya dengan baik, pasti semua akan di marahi. Para bodyguard itu membukakan pintu kamar dengan hati-hati, takut mengagu nyonya besar.


"Oma!!”

__ADS_1


Gadis itu menybulkan kepalanya di pintu kamar, di lihatnya Oma sedang duduk di kasur sambil memangku sebuah album foto.


“Oh, Cucuku akhirnya datang juga, kemarilah sayang,” mata wanita tua itu berbinar kala cucu satu-satunya benar-benar mau datang menurutinya, padhal dia tadi hanya bergurau saja menyuruhnya untuk kemari. Tapi Zea berbeda dengan Baskara, papanya selalu sibuk untuk sekedar menemuinya saja.


Setelah berpelukan sangat erat akhirnya terlepas juga.


“Oma lagi ngapain?” tanya gadis itu mendekat dan duduk di tepi kasur.


Bukanya menjawab, Oma malah membuka halaman demi halaman sperti ingin menunjukan sesuatu pada gadis itu. Lantas berhenti di satu foto keluarga lengkap dengan seluruh angota keluarga Adiputra pada masanya, Oma mengusap-usap foto seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya. Mungkin itu adalah suaminya.


"Dia kakekmu, sama tampannya seperti papamu," Ucapnya dengan suara parau, Zea hanya bisa memeluknya untuk menenangkanya.


Bagimanapun Oma akan selalu cinta pada kakeknya, keduanya dulu bekerja sama bertahan hidup. Hingga tercapailah dia menjadi seorang pembisnis sukses. Tidak lama setelah itu sang kakek meninggal, dan semua aset perusahaan di berikan pada Baskara selaku putra tunggalnya.


“Woah, ini Zea kecil kan?” matanya berbinar, kala mendapati foto dirinya yang masih kecil di pangku oleh mamanya yang sangat anggun.


Zea yang dulu berbeda sekali dengan yang sekarang, Zea kecil rambutnya panjang dan hanya memiliki satu tindik di telinganya. Namun sekarang berbanding terbalik  rambutnya di potong cepak dan tindik di telingannya sudah 3.


“Iya,” ucapnya lirih, “kenapa kamu merubah penampilan kamu sayang? Kamu lebih cantik menjadi wanita seutuhnya...” tanya Oma dengan nada sedih.


“Karena Zea ingin mencari perhatian papa, Zea tau bahwa aku tidak seperti Zea yang dulu, kalau dengan cara baik papa tetap mengabaikanku maka dengan cara nakal aku akan mendapat perhatikan olehnya.” Ucap Zea panjang lebar, dia tak mampu menatap omanya.


“Apa kamu benci papamu?”


“Walaupun aku bisa membencinya, Zea tidak akan pernah bisa membencinya.”


“Kenapa kamu tetap tinggal dirumah itu? padahal kamu menderita didalamnya sayang,” tangan keriput itu menyentuh wajah Zea, dia mengangumi cucunya itu. Dia menatap sorot mata Zea dalam yang memancarkan aura kesediahan dan trauma yang mendalam.


“Tidak ada alasan aku tinggal di sana, yang pasti aku tidak akan membiarkan siapapun mempermainkan papa lagi Oma...” Ucap gadis itu menatap foto yang di pangku omanya. Firasat Zea, Susanti itu hanya mau harta papanya saja.


“Oma percaya, kamu gadis yang baik. Oma juga percaya suatu saat kamu akan merubah segalanya menjadi lebih baik” Zea seketika memeluk Omanya, dia tidak bisa membalas lagi perkataan itu.


...***...


Sepulang dari rumah omanya tadi, Gadis itu bergegas pulang, di liriknya seklias jam alrloji di tangannya menunjukan pukul 21:00. Sesampainya di gerbang, pak Irawan selaku satpam membukakan pintu itu dengan sigap. Gadis itu membungkuk sopan pada pak Irawan, tak lupa juga dia mengucapkan terimakasih.


“Sampai kapan ya tuan Baskara akan berlaku adil pada non Zea? padahal dia itu anak yang  sangat baik dan sopan sama orangtua.” sendu pak Irawan mentap pungung Zea yang kian menjauh.


Entah kenapa Zea lebih senang berkeliaran di luar dari pada di dalam rumanya ini. Perlahan tapi pasti dia membuka knop pintu utama dan mulai masuk melangkahkan kakinya. Yang di lihatnya pertama kali adalah, papanya yang sedang memangku Laptop di Sofa. Tapi Zea tidak peduli akan hal itu, dia terus melangkah hingga akhirnya.


“Dari mana saja kamu?” tanya papanya dingin, "dari tadi siang kelayapan pulang-pulang malam." Imbuhnya lagi.


“Saya pergi kemanapun atau bahkan mati sekalipun bukan urusan Anda!” gadis itu menekankan kata terakhirnya. Kemudian dia segera pergi, tak peduli akan tatapan papanya.


Sejujurnya Baskara hatinya gelisah saat gadis itu tak lagi memangilnya papa, apakah dia keterlaluan pada Zea?


Tapi bayangan mendiang istrinya terlintas di pikiranya, karena itulah yang membuatnya terus benci Zea.


Mata Zea, senyum Zea, tingkah Zea, suara Zea... Persis seperti mendinag istrinya yang sangat ia cintai.

__ADS_1


__ADS_2