
Jam sudah berlalu begitu cepat, kini waktunya siswa SMA Jakarta untuk segera pulang kerumah masing-masing. Zea dan kedua temannya masih di dalam kelas dengan memasukan buku-bukunya ke dalam tas.
"Dir, lo dijemput nggak?" tanya Vina menjawil bahu Dira.
"Emmmm. N-nggak Vin, gue mau bar-,"
"Cieee!! Pasti mau bareng Bian ya?!" seru Zea berteriak, membuat muka Dira bersemu merah.
Sontak seisi kelas pun menoleh kearah mereka, Bian juga salah satu most wantend disekolah. Makanya banyak yang iri dengan terjalinya hubungan mereka. Meskipun keduanya punya pengagum rahasia masing-masing, seperti Zea dan Raka.
"Hehe, iya," Jawab Dira malu-malu.
"TERUS GUE PULANG SAMA SIAPA DONG?!" Teriak Vina frustasi.
"Sama gue!" sahut Zega dengan entengnya, membuat Vina melototkan matanya.
Idih, si kutu kupret baik mau ngapain dia kesini? Batin Vina dalam hatinya.
Tiga cowok itu masuk kedalam kelas mereka, banyak cewek dikelas itu menatap mereka dengan tatapan berbeda-beda, namun mereka hanya bersikap cuek seperti biasanya.
Mereka bertiga duduk di meja Zea dengan tampang sok coolnya. Mereka tak lain adalah, (Raka, Zega dan Bian). Jangan tanyakan Bobi, dia masih tidur di kelas dan ditingal oleh mereka bertiga. Selain suka makan, Bobi juga hobi tidur.
"Diiih! Mending gue pulang sendiri, terimakasih tidak usah sok perhatian!!" ketus Vina dengan menatap Zega tajam.
"Terserah tapi gue nggak menerima penolakan," Tanpa basa-basi cowok itu menarik tangan Vina dan keluar dari kelas.
"Lepasin Ga!! jangan macam-macam ya lo sama gue!!"
Semua mata memandang mereka. Di manapun mereka berada pasti akan heboh berdua, meskipun hanya hal kecil saja. Zega suka sekali menganggu Vina, sedangkan gadis itu seperti sangat anti dengan cowok menyebalkan seperti Zega.
"Jangan sampai Vina lecet, Ga!! Soalnya nggak ada Asuransinya!"
Teriak Zea pada Zega, sedangan cowok itu hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya tanda setuju.
"Anjir lo Ze!" teriak Vina tidak terima, membuat mereka semua tertawa.
Vina tidak bisa berkutik, karena tangan Vina di tarik oleh Zega.
Raka mengelang-gelengkan kepalanya, rasanya begitu gemas melihat tingkah konyol Zea.
"Beby... Mari kita pulang,"
Ajak Bian dengan mengulurkan tangannya, dia berniat memanas-manasi Raka dan Zea. Akhirnya Dira pun mengangguk malu-malu dan pergi berlalu menigalkan kedua temannya.
"Dih najis, pake babi babian segala, Hoeeek!!" Zea pura-pura muntah mendengar Bian mengatakan itu.
"Iri bilang!!" Ketus Dira dan Bian bersamaan.
Setelah itu mereka melangkah pergi, akan tetapi baru beberapa langkah Dira terhenti seketika, membuat Bian menyernitkan dahinya, dia menoleh kearah Raka.
"Rak... Jaga temen bobrok gue!! Jangan lo bikin dia tambah bobrok lagi otaknya, soalnya bengkel tidak bertangungjawab kalau dia eror lagi!!" Raka dan Bian tertawa mendengar cibiran Dira, berbeda lain dengan Zea. Wajahnya kini menahan kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Awas ya lo Dir besok!!" Zea berkacak pingang, meneriaki pungung Dira yang kian menghilang dibalik pintu.
Raka menepuk jidatnya sendiri, dia berfikir kenapa dirinya bisa jatuh cinta dengan wanita bobrok didepannya ini. Namun seketika dia sadar, bahwa cinta itu tak memandang apapun.
"Ngapain lo?!" Zea menatap Raka solah menantang.
Tanpa menjawab pertanyaan gadis itu, Raka menarik tangan Zea keluar.
__ADS_1
"Raka toge yang jelek!! Sakit tangan gue tau!!"
Zea mencoba melepaskan tangannya dari Raka, namun sia-sia karena tangan Raka begitu besar dan kuat. Berbanding terbalik tangan Zea yang sangat mungil.
"Bilang apa kamu tadi? Coba ulangi lagi!!" Raka mendekat ke arah Zea, dan berbisik ke telinganya.
Raka akhirnya melepaskan tangan Zea, karena gadis itu sepertinya sangat kesakitan.
Tanpa menjawabnya Zea segera berlalu mendahului Raka, sedangakan Raka membuntutinya dari belakang.
Zea meraih ponsel disakunya, lalu membuka room chat di aplikasi WhatsAppnya. Dia menyernitkan dahinya, Kelvin bilang bahwa dia tidak bisa menjemputnya. Padahal tadi pagi sudah berjanji mau menjemputnya lagi.
Apakah abangnya itu berniat mengerjainya?
"Yatuhan!! Jung Jaehyun tolong dedek Selena," Zea berhenti melangkahkan kakinya, Raka pun juga berhenti. Hampir saja dia menabrak bahu gadis itu.
"Siapa Jung jaehyun?"
"Kepo!"
"Siapa?!"
"Calon Masa depan gue... Mau apa lo?" tanya Zea dengan memutar tubuhnya menghadap Raka.
"Aku tidak percaya, padahal kamu juga tau, bahwa masa depanmu sekarang berada di belakangmu." Ucap Raka dengan menaik-tuurunkan alisnya.
Dih, merinding bulu hidung gue kalau dia gombalin gue, batin Zea dalam hatinya.
...(*)0(*)0(*)0(*)0(*)...
Pulang๐๐โโ๐.
Kini mereka berdua sedang berjalan pulang naik motor Raka, setelah Raka membujuk Zea dengan sekuat tenaga sampai mulutnya hampir berbusa, akhirnya Zea mau pulang bersamanya.
PLAAAK!
Helm Raka dipukul oleh Zea, dengan sangat keras. Membuat sang empu mengerutkan keningnya dan mendengus sebal.
Untung gue sayang sama dia, kalau tidak udah gue turunin di kolong jembatan tadi. Batin Raka dalam hatinya sabar.
"Lo, itu selain seperti Toge, juga lamban seperti Keong ya?!!" teriak Zea dibelakang, membuat para pengendara motor di sekelilingnya menoleh ke arah merka berdua.
Sedangkan Raka, dia hanya tersenyum melihat gadis itu ke sepion, dia tidak ingin mendebat Zea hari ini. Meskipun dirinya menahan kesal dari tadi. Mata Raka tak ingin berhenti menatap kearah sepionnya, dia melihat wajah Zea begitu cantik, rambut pendeknya melambai-lambai tertiup angin, bibirnya yang dikerucutkan sangat lucu seperti anak kecil yang meminta sesuatu.
"Apa kamu siap?" tanya Raka dengan sedikit menoleh kebelakang. "Pegang erat-erat!! aku tidak mau kamu jatuh dan ditemuin abang-abang Cilok!!"
"Awww," Raka meringis kala gadis itu mencubit perutnya.
"Rasain, siapa suruh nyebelin!!" Zea tertawa renyah.
Setelahnya Zea menuruti perintah Raka, membuat Raka tersenyum penuh kemenangan.
Yang dirasakan Zea saat itu hanyalah kenayamanan dan ketenangan, dia memeluk Raka dengan begitu erat, seolah cowok itu adalah pelindungnya. Raka pun dapat merasakan itu. Tubuh Raka yang hangat, dan bau parfumnya yang harum, mampu membuat Zea tak henti-hentinya memejamkan mata sambil menghirupnya.
Setelah perjalanan beberapa menit berlalu, kini motor Raka berhenti di rumah Zea. Raka juga telah mematikan mesin motornya, akan tetapi Zea masih tetap diam dan masih setia memeluk tubuhnya. Raka melirik kearah sepion, ternyata gadis itu tertidur pulas dengan sedikit tersenyum menghiasi bibirnya.
"Cantik natural," gumam Raka lirih.
Di lain sisi ada seseorang yang menatap mereka dari balkon kamarnya, pria itu tersenyum sambil menikmati Kopinya.
__ADS_1
"Khem!!"
Raka berdehem supaya gadis itu segera terbangun, namun dia tidak bergeming sedikitpun.
"..."
"Ekhem!!"
"..."
"UEKHEM!!!" setelah berdehem tiga kali akhirnya gadis itu terbangun juga.
"Apa?" tanya Zea dengan suara parau, lagi-lagi dia tak sadar masih memeluk Raka.
"Nyenyak meluk tubuh gue?" goda Raka dengan senyuman misteriusnya.
Gadis itupun segera tersadar dan melepaskan tangannya, kalu boleh jujur Zea sangat malu sekali. Apa lagi dia sampai tertidur, padahal dia tadi menolak mentah-mentah tawaran Raka supaya tidak mengantarkan dia pulang.
Mampus, air liur gue netes nggak ya? Batin Zea dalam hatinya, sambil melirik pundak Raka.
"Te-terimakasih Rak," ucap Zea singkat, dan segera berlalu, dia sangat gugup mau bilang apa. Tapi dengan cekatan, Raka menarik tangan gadis itu, hingga jarak keduanya sangat dekat.
"Aku tunggu jawabanmu!!" bisik Raka di telinga Zea, gadis itupun hanya bisa menelan air liurnya dengan susah payah.
Zea pun menganagguk dan segera berlalu. Raka juga segera pergi, dengan senyuman yang terus mengiasi wajahnya.
Gadis itu segera menuju dapur untuk meminum air putih, dia juga tidak lupa memberi salam pada bik Inem dan menjabat tangannya. Setelah itu dia berjalan menuju ke kamarnya dengan seulas senyuman menghiasi wajahnya.
"Cieee, yang dianterin cowok," cibir Kelvin dengan menoel dagu Zea.
"Kek ada yang ngomong, kamu ngomong sama aku?" tanya Zea pada lukisan yang ada di dinding rumahnya.
"Ish, ini abang lah dek!!"
"Loh kok ngomong lagi?" Zea menunjuk-nunjuk lukisan itu dengan telunjuknya.
Kelvin menarik tas Zea, membuat gadis itu geram. "Ada apa sih bang?"
Zea masih kesal dengan Kelvin, karena dia tidak menepati janjinya untuk menjemput dirinya.
"Ututu... Jadi adek abang sedang ngambek ya? Maafin abang lah dek," Kelvin menangkup pipi Zea yang setia mengerucutkan bibirnya, lalu dia melapas tangan Kelvin dan segera melangkah pergi.
"Udah jadian belum nih?"
"Otw, eh anu bang. Abang apaan sih?! orang tadi itu cuman temen Zea kok,"
Kelvin tertawa mendengar jawaban nyeleneh Zea, dilihat dari mata gadis itu, Kelvin juga tau sebenarnya Zea ada rasa pada Raka. Namun adek kecilnya itu gengsi untuk mengakuinya.
Tak menghiraukan Kelvin lagi, dia segera masuk kedalam kamarnya. Dan mengempaskan tubuh di kasur king sizenya, dia sangat bahagia. Lalu gadis itu meraih permen Kiss di tasnya dan menciumnya berkali-kali, selesai dengan itu dia mengingat-ingat kejadian tadi.
Saat Raka sudah memakai aku-kamu, saat Raka mengandeng tangannya, saat Raka mengungkapkan perasaannya, saat dia membujuknya untuk pulang bersama, saat hari-hari yang mereka lewati bersama.
Rasanya Zea ingin selalu memikirkan Raka, dia akui belum mencintai sepenuhnya cowok itu.
Gadis itu hendak memejamkan matanya, tetapi sebuah gedoran pintu mengagetkanya. Dia pun berjalan malas keluar, dan melihat siapa gerangan hal itu membuat Zea segera membuka pintu kamarnya srdikit, dan menyembulkan kepalanya keluar.
"Jangan lupa nanti datang, dan ingat!! jangan coba-cobw permalukan saya sedikitpun, atau kamu akan menerima akibatnya," perintah Baskara dengan menatap tajam Zea, gadis itu hanya bisa mengangguk lemah.
Belum sempat Zea menutup pintunya dihentikan oleh Baskara, "satu lagi, jangan sampai banyak orang yang tau siapa dirimu, mengerti?" Zea mengangguk sedih dan Baskara berlalu meningalkan depan kamar Zea.
__ADS_1
Zea menarik nafasnya dalam-dalam, apa salahnya jika semua orang tau bahwa dirinya adalah anak Baskara Adiputra? anak dari pengusaha dengan cabang dimana-mana.
Bukan Media yang Zea inginkan agar dia du akui anak Baskara, tapi papanya sendiri yang benar-benar Zea harapkan.