PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
34. Kencan.


__ADS_3

...HEPPY READING. Sepesial part, karena bab ini sampai 2000 kata lebih untuk permintaan maaf kemarin tidak up❤....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**BEBERAPA** hari berganti, sebuah bangunan tua yang memiliki banyak coretan Pilok tampak begitu apstrak namun begitu aesthetic, di depan bangunan itu terdapat banyak sekali motor yang berjajar rapi di kiri dan kanan.


Vina dan Dira saling melirik, mereka berdua sedang menaiki Mobil yang masih menyala tepat di depan gerbang markas geng Jakmoge.


"Are you ready?" Tanya Vina yang langsung memakai kacamatanya, di angguki oleh Dira yang ikutan memakai kacamata Hitam.


"GOOO!!"


Vina tersenyum smirk lalu mengijak pedal gas mobilnya kencang melewati motor-motor yang seperti menyambut Mobilnya masuk kedalam markas tersebut.


Mobil Vina yang memakai kenalpot Turbo terdengar sangat keren dan sedikit berisik walaupun tidak berlebihan. Perlahan dia memacu mobilnya sigap kedalam dan masuk markas tanpa di aba-aba.


Membuat beberapa anggota yang berdiri tak jauh dari pintu terlonjak kaget dan saling mengindari Mobil Vina kelipungan. Seketika ruangan menjadi riuh, tidak ssperti Zea yang duduk tenang tidak terusik sedikitpun sambil membalakangi Pintu memainkan Game yang berada di ponselnya menggunakan Headset.


Kedua gadis itu menuruni Mobil, membuat semuanya melongo dan tak berkedip, keduanya benar-benar cantik walupun sedkit galak karena terkontaminasi sosok Zea. Mereka tau kalau Vina dan Dira adalah sahabat Zea, dan mereka tidak berani menggoda kedua gadis itu, jika berani maka akan berhadapan langsung dengan Zea.


Tanpa banyak bicara, kedua gadis itu berjalan sambil menggepalkan tangan masing-masing ke arah Zea yang santai bermain Game.


"HEADSHOOOOOT!!" pekik Zea kencang membantai lawan gamenya, "Kalah kan lo kal-,"


BUAGH!!


DUAGGH!!


Tiba-tiba kepalannya di pukul oleh Vina sangat keras, tak hanya itu, Dira juga menendang kursinya hingga dirinya jatuh tersungkur kelantai tengkurap.


"Awwh, Sakit sekali... Apa ada penyusup yang menyerang? Siapa yang berani-beraninya mukul gue?" Keluh gadis itu tak kuasa menahan sakit, pantatnya terasa ngilu karena terpaksa mencium lantai.


Vina dan Dira tanpa banyak bicara segera menarik tubuh Zea dan menyertnya masuk kedalam Mobil.


"Eh-eh apa-apaan ini? Loh kalian? Kenapa kemari?"


SREEET!!


Mulut Zea di Lakban dan kedua tangannya juga di ikat oleh kedua sahabat kurang ajarnya itu membuat Zea memberontak. Kemudian Vina dan Dira segera masuk kedalam Mobil, melenggang pergi meninggalkan markas geng motor itu tanpa berbicara satu katapun.


Anak-anak geng Jakmoge menatap kepergian mereka kebingungan dengan apa yang terjadi, bisa-bisanya Zea di perlakukan seperti itu oleh kedua sahabatnya. Padhal mereka semua sangat segan menghormati Zea seperti pak Presiden.


Setelah sampai di rumah Vina, mereka berdua menurunkan Zea dan memaksanya masuk kedalam kamar Vina, karena kasihan... Akhirnya lakban dan ikatan di tangan gadis itu di lapas oleh kedua sahabatnya.


"APA-APAAN SIH KALIAN, HAH?!!"


Zea segera meminting kepala kedua sahabatnya kencang, "malu-maluin gue aja sumpah, tadi di lihat anak buah gue sialan!! Kalian ada masalah apa sama gue, hah? Gue kesel banget gilak!! Enak aja kalian nyulik gue sembarangan!! Pantat gue sakit, tangung jawab lo berdua!!"


"Apa perlu gue Lakban lagi mulut lo agar berhenti mengoceh?"


Zea mendengus menatap kedua sahabtnya kesal serasa ingin meledak, "ya terus kenapa kalian nyulik gu-,"


BUGHH!!


Vina memukul pundak Zea kencang.


"Apa lo lupa kalau malam ini elo akan kencan dengan, Raka?"


"AS-ASTAGAAAAA IYA LUPA!!" Zea loncat dari tempatnya dan meraup wajahnya kasar, "gu-gue lupa," Ucap Zea kemudian melirik jam dinding di kamar Vina membuat matanya melotot, "40 menit lagi? Dan gue belum mand-,"


Vina segera menarik Zea dan mendorongnya masuk kedalam kamar mandi, belum sempat protes, Vina melempar handuk ke wajah Zea dan menutup pintu kamar mandi kasar.


"Dir lo siapin Baju, Tas dan Sepatu. Biar gue siapin Aki dan Oli untuk me make up wajah Zea!!"


Zea meraung, memberontak, ingin melarikan diri dari benda yang namanya make up. kedua sahabatnya lebih sigap, Zea di pukul dan di bekap agar bisa diam. Vina dan Dira kewalahan menghadapi Zea yang sangat takut dengan Brush make up, katanya benda itu seperti ulat bulu yang menggelikan.


*******


Zea menutup wajahnya menggunakan kedua tangan, saat Raka menjemputnya di rumah Vina.


Cowok itu termangu, melihat Zea dari bawah sampai atas yang tampak feminim, hatinya berdesir tak karuan.


"Buka wajah lo dodol!!" Vina menyikut Zea kencang yang enggan mrmperlihatkan wajahnya ke Raka.

__ADS_1


"Dodol tidak punya wajah Vin,"


Vina melotot, Dira dan Raka menahan tawa melihat Zea seperti anak kecil saja.


"Ze... Raka bawa anak kecil." Mendengar itu, Zea langsung membuka wajahnya dan tersenyum sumringah menatap kedepan.


"Hallo Ricky kakak merindukanmu? hah, loh?? eeee?"


Mulut Zea mendadak mengatup, matanya menatao mata Raka yang sedang menatapnya dalam. Cowok itu memakai kemeja stripe dan sepatu ternama membuat tampilannya semakin Coll, apalagi Raka memasukkan kedua tangannya di saku.


Sedangkan cowok itu menatap Zea dengan dada yang tak henti-hentinya berdetak kencang. Zea sangat-sangat sangat cantik, wajah gadis itu bertambah cantik berkali-kali lipat akibat polesan Vina yang handal. Raka tidak menyangka bahwa Zea bisa secantik ini.


Vina dan Dira tersenyum saat melihat keduanya terpana oleh paras masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


MOBIL Raka telah berhenti di sebuah caffe yang sangat mewah di kawasan Jakarta Selatan, tapi sebelum mereka turun, Raka mengambil kain hitam dan menutup mata Zea menggunakan kain itu.


“Raka... Kenapa harus di tutup sih mataku?” Protes gadis itu membuat Raka tersenyum.


“Aku bakalan kasih kejutan sama kamu tuan putri.” Bisik Raka di telinga Zea, sambil tersenyum bahagia.


Dengan langkah pelan tapi pasti, Raka menuntun gadiasnya masuk kedalam cafe yang sepi tanpa pengunjung. Karena Raka telah menyewanya kusus untuk malam ini.


“Kamu siap?” tanya Raka lembut memegang pundak Zea.


“Kamu mau apa? Awas ya kalau kamu ngerjain aku.”


"Tidak sayang, pukul saja aku kalau mengerjaimu." Raka tertawa renyah, dan dengan cekatan Raka membuka kain penutup mata Zea.


Zea membuka matanya perlahan, lalu dia menatap sekelilingnya. Kini dirinya sedang berada di tengah lingkaran bungga mawar yang mengitari mereka, juga cahaya lilin membuat kesan romantisnya bertambah.


Gadis itu terkagum-kagum melihat nuansa cafe yang sangat mewah dan terkesan mahal.


“Sayang... Apa kamu suka, hem?” tanya Raka menarik tangan Zea supaya duduk di kursi yang telah di sediakan.


“Suka banget, aku baru kali ini masuk cafe semewah ini. Kamu pasti menyewa ini maha-,” belum sempat meneruskannya, telunjuk Raka mendarat di bibir tipis Zea.


“Apapun yang membuatmu bahagia, aku akan senang hati melakukanya.” Pipi Zea merah merona saat Raka mengatakan hal itu, dia tersenyum malu-malu.


“Bungga sepesial, untuk orang sepesial dalam hidupku. Terimalah sayang...” Raka menyerahkan buket berisi sepuluh tangkai mawar merah. “Bungga itu memiliki Sepuluh tangkai pilihan yang aku petik langsung tadi, dan ada makna di balik itu semua.” Raka tersenyum tipis menjelaskan pada Zea yang berbinar-binar menerima buket itu.


“Benarkah? Lalu apa makna sepuluh tangkai Bunga ini?” tanya Zea penasaran sambil tersenyum merkah, sesekali menghirup wangi Mawar merah itu.



“RAKA AND ZEA, sepuluh huruf sepuluh tangkai bunga dan itu adalah aku dan kamu.” lagi-lagi Zea tersenyum sambil melafalkan kata Raka And Zea berulang-ulang, memang betul ada sepuluh huruf jika di gabung membuat Raka gemas melihat Zea yang menghitung menggunkan jari lentiknya.


“Makasih ya... Aku nggak tau mau bilang apa, karena kamu selalu punya cara berbeda untuk membuatku merasa sepesial di matamu.” Raka mengangguk, senyumnya tak pernah pudar dari wajah tampannya.


“Aku punya sesuatu lagi untukmu,” Raka tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak, dan memberikannya pada gadisnya. “buklah!” pinta Raka lembut.


"Apa ini?"


"BOM."


Zea menggerucutkan bibirnya lucu membuat Raka tertawa, lalu membuka kotak itu perlahan, seketika mata Zea membola dan mengeluarkan benda bersinar itu.


“Wow... Cantik banget. Ini buat aku?”


“Kalu bukan untukmu buat siapa lagi? Kan kekasihku hanya kamu.”


Zea tersipu malu, entah kenapa jiwa-jiwa tomboynya sekarang rontok tak bersisa di hadapan Raka.


“Dih gombal ewwww, mengerikan sekali.” Raka mencubit tangan Zea yang merasa sangat gemas bercampur sebal.


"Tapi kamu suka kan?"


“Suka sih, tapi kamu jangan membuat jantungku berdegub kencang terus!!” Zea melotot setelah mengucapkan kalimat itu, dia segera membungkam mulutnya membuat Raka tertawa memegangi perutnya, lalu berdiri dari duduknya.


“Sini aku pakaikan liontinnya.”


Zea yang masih malu, mengangguk dan menyerahkan liontin itu pada Raka, kini jarak mereka sangat dekat.

__ADS_1


“Huruf R ini, maksudnya inisial Ricky kan?” Zea mengoda Raka dengan tertawa memegangi liontin yang bertengger di lehernya sekarang.


“Jadi kamu memilih Ricky daripada aku?  besok-besok kalau kamu kerumahku, kamu tidak boleh bermain sama Ricky lagi, dia curang mengambil kamu dari ak-,”


"SIAP SAYANG, l love you dan terimakasih kejutanya, semua yang kamu berikan oadaku aku suka." Zea menyambar tangan Raka dan menciumnya, membuat Raka gelagapan dengan jantung yang semakin berdegup kencang.


Di sisi lain, tak jauh dari merka ada seorang cowok yang duduk di kursi sedang menyaksikan mereka berdua. Dia adalah Mex Alexsander, cowok itu tersenyum miris melihat keromantisan mereka. 


Hatinya sakit?


Tentu saja.


“Kenapa selalu gue tidak pernah mendapatkan cinta? Apa gue tidak layak untuk di cintai?” lirih Mex dengan suara parau, hatinya sakit seperti di hujam ribuan batu.


Kenapa takdir selalu mempermainkannya seperti ini? Dosa apakah yang dia lakukan di kehidupan yang ia pernah jalani sebelumnya, sampai tuhan menghukumnya seperti ini?


Ada fakta yang mengejutkan baru di ketahui Mex hari ini. Bahwa kedua orangtua asli Mex baru saja meninggal beberapa tahun yang lalu. Fakta tersebut membuat Mex hancur dan seketika membenci Deon, kenapa baru sekarang dia memberi tahu? Padahal dia sering sekali bertanya di mana orangtua aslinya, namun papa angkatnya itu tidak pernah menanggapinya serius.


Mex tidak pulang ke rumah beberapa hari ini. Walaupun Mex tau bahwa Deon papanya selalu mengirim pengawal untuk menjaganya. Dia sangat marah pada papa angkatnya itu sekarang, dan dia berjanji tidak akan pernah pulang kembali.


Kenapa soal orangtuanya harus di ssmbunyikan dari Mex?


Jawabannya sangat sederhana, kedua orangtua Mex hanyalah orang biasa yang sangat miskin lalu dengan berat hati menaruh anaknya di panti asuhan. Deon menyembunyikan fakta ini bukan karena kemauannya tapi perintah langsung dari kedua orangtua Mex. Sejatinya kedua orangtua Mex dulu adalah keluarga kaya, namun karena satu kejadian membuat bisnisnya hancur.


Mereka sangat berterimakasih dan memohon dengan sangat supaya Deon merawat putra mereka dengan baik. Mereka sadar, tidak akan pernah bisa membesarkan anaknya itu karena keterbatasan materi, apalagi menyekolahkannya tinggi-tinggi mereka tidak akan mampu.


Deon menyetujuinya, dan berterimakasih dengan mereka tentunya. Dengan begitu Deon bisa mewariskan segala yang ia punya pada Mex Aleksander, walupun hanya anak adopsinya.


Penderitaan Mex semakin hancur, dan tak mempunyai harapan lagi. Bahkan gadis yang selama ini dia lindungi secara diam-diam, sudah menjadi kekasih orang lain.


Kenapa dia selalu kalah dengan Raka?


Dengan langkah gontai, Mex berjalan hendak keluar dari cafe melewati meja mereka. Membuat Raka dan Zea yang sedang makan terkejut bukan main. Apalagi dengan melihat kondisi Mex yang sangat kacau.


“Mex...?”


“Kenapa lo ada di sini?!” ketus Raka membuat Mex memutar bola matanya malas.


“Terserah gue, gue mau di Planet manapun suka-suka gue!! Ya kan, Ze?” gadis itu hanya terbengong melihat interaksi kedua pria ini, otaknya menjadi blank seketika.


“Pergi dari sini!!” ketus Raka yang mulai bangkit dari duduknya dengan tangan terkepal. “lo sengaja kan, mau ngerusak kencan gue!!” dengan Sigap Zea melerai Raka, karena Mex juga terlihat sangat terpancing dengan ucapan Raka.


“Apa hak lo ngusir gue? Udah gue bilang, di manapun gue berada, suka-suka gue!!” Mex berteriak tak kalah ketus.


BUAGH!!


Raka melayangkan bogem mentah pada Mex, membuat bibir Mex mengeluarkan darah.


“Tapi jangan di sini, bang*at!! Lo jangan coba-coba deketin Zea lagi. Karena dia sudah menjadi milik gue!!” terang Raka dengan tegas.


“Cuih, kenapa lo mukul gue tanpa sebab? Ini cafe milik gue, dan apa hak lo nyuruh gue pergi? Kalau gue mau, gue bisa mengusir lo!!” Mex meludah dengan menatap sinis Raka rendah.


mex tidak menjawab Raka untuk mejauhi Zea. Raka sama Zea sempat terkejut dengan penuturan Mex, apakah yang di katakannya benar?


“Stop!! Plis kalian jangan ribut gini, tolong hentikan demi aku.” Ujar Zea frustasi dengan menitikan air matanya, membuat kedua cowok itu langsung terdiam.


Enatah kenapa, dirinya merasa takut jika ada orang berkelahi. Apalagi hanya karena dirinya.


“Ze... Maafin gue, gue nggak bermak-,” Mex memegang pundak Zea.


“Mex... Maafin gue, tolong pergilah dari sini. Walaupun ini cafe milik lo, tapi malam ini Raka sudah membokingnya.” perintah gadis itu membuat Mex meluruhkan tangannya di pundak Zea.


Sebelum Mex pergi dia tersenyum dan menepuk pundak Zea, “malam ini lo sangat cantik Ze, datanglah pada gue saat lo membutuhkan Mex ini. Gue siap menunggu dan membantu lo sampai kapanpun.” Mex segera melangkahkan kakinya pergi sedih.


Ada rasa sakit hati saat Zea yang mengusirnya sendiri, namun cinta yang besar untuk gadis itu, tidaklah membuat hatinya benci pada gadis itu. Kini dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju club malam.


“Sayang... Maafin aku ya?” Raka menghapus air mata Zea dan memeluknya erat.


“Tidak apa-apa, lain kali jangan asal memukul orang. Tahan amarahmu!!”


“Iya.” Jawab Raka dengan menundukan kepalanya.


...BERSAMBUNG....

__ADS_1


Guys, rasanya mau nangis😭. Di bagian bab ini itu hilang😭, terpaksa harus ngetik ulang.


__ADS_2