PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
46. Wawancara.


__ADS_3

CAFE.


“Alhamdulillah ya guys, kita udah selesai Ujian dan mau lulus aja. Nah, cita-cita kalian di masa depan mau jadi apa?”


Bobi seperti wartawan dadakan, dia memegang botol kosong sambil bertanya pada teman-temannya, mereka sedang berkumpul di cafe langganan Zea.


“Oke... Bang Bobi, mulai dari nak Zega si upil Kuda dulu ya, BTW elo mau jadi apa?” Bobi mengarahkan botol kosong di hadapan Zega yang hendak menyedot juicenya jadi urung.


“Gue mau jadi Dokter kelamin, biar bisa cuci Mata tiap hari. Lumayan tuh, ehehe.” Jawab Zega tanpa malu sedikitpun, membuat mereka semua menepuk jidatnya masing-masing.


“Duh... Cita-citamu sungguh mulia sekali nak Zega. Mulia lagi kalau kamu di ambil sama yang di atas dalam keadaan baik.” Bobi memukul pucuk kepala Zega dengan botolnya.


"Bercanda yaelaaaah!! Gue mau jadi Dokter bedah sesuai harapan orangtua gue. Biar bisa membedah dinding Es di hati Neng Vina juga," Zega mengedipkan sebelah matanya pada Vina genit.


Membuat gadis itu mendengus tak menanggapi.


"Target tidak merespon dengan baik, silahkan putuskan harapan anda nak Zega." Bobi menyindir Zega, membuat mereka semua tertawa kecuali Vina dan Zega, kemudian Bobi mengarahkan botolnya lagi pada Vina, “sekarang mbak Vina yang cantiknya kayak Iguana, elo mau jadi apa setelah ini?” Vina melotot tajam pada Bobi, namun si gembul itu tidak peduli.


“Gue mau jadi Desainer terkenal, dan bisa buka Butik di mana-mana.” Jawabnya dengan melipat kedua tangannya di dada.


“Cekeeep, jangan lupa juga di rajut cinta gue oke?” Zega mengacungan jempolnya pada Vina bangga.


"Mulut lo sekalian tidak?"


Pfft, mereka semua tertawa lagi membuat muka Zega pura-pura memelas, padhal dia sudah terbiasa di abaikan Vina dan di tolak mentah mentah.


"Ga, kalau lo mau jadi Dokter Bedah, gue kasih wejangan sepesial untuk lo."


"Apa Ustad Bobi yang terhormat?" serentak mereka semua mengucapkan itu, karena sudah menjadi kebiasaan kalau Bobi ini sering mengeluarkan petuh-petuah baik.


Bobi berdehem sebentar, sebelum itu dia menyeruput juice milik Bian tanpa sengaja membuat sang pemilik menatapnya nanar karena minumnya langsung habis seketika.


"Inggat teman-teman, BPJS tidak akan menanggung pasien sakit hati karena Cinta dan TIM SAR tidak akan mencari jodoh yang belum di temukan."


Lagi-lagi gelak tawa terdengar riuh, berbeda dengan Zea dan Mex yang dari tadi hanya diam mendengarkan tanpa banyak bicara. Zega sangat kesal sekali, Bobi memang hobi sekali membuatnya naik darah dari dulu.


“Oke. Bobi handsome lanjut, ya. Teruntuk Mas Bian yang Cool dan menawan sekelas Pinguin kutub Timur, besok mau nikah muda sama Dira dulu atau kejar cita-cita dulu?”


Dira menatap kekasihnya dengan tersenyum malu-malu Kucing.


“Dira tidak perlu di kejar lagi karena keluarga kami dan dia sudah sepakat setelah selesai sekolah kami akan melangsungkan tunangan tapi nikahnya tidak buru-buru. Gue pengen kelak jadi Dosen seperti papa. Biar besok bisa ngajarin anakku dan anak Dira tanpa Les di tempat lain. Ya kan sayang?” Dira mengangguk klepek-klepek, wajahnya merah merona membuat kekasihnya tersenyum gemas.


Sedangkan yang lain bertepuk tangan mendoakan keduanya yang terbaik.


“Nah. Untuk mbak Dira sendiri mau, kalau jadi ibu dari anak-anak mas Bian? Dan untuk cita-citanya apa? Coba jelaskan!” tanya Bobi dengan gaya sok Coolnya, sambil majukan botol ke wajah Dira dan tangan satunya di lipat di dada centil.


“Cita-cita gue, mau buka Restoran nerusin usaha keluarga sih dan kalau soal jadi ibu dari anak-anak Bian, aku jelas mau, ehehe.”


Bian langsung tersenyum bangga, tergambar sekali wajah tampannya sangat menyayangi Dira.


“TEROOOS BUCIIIIN TEROOOS!! AH, SEBEL GUE SAMA LO BERDUA!!” seru Vina merasa jengkel melihat keduanya yang sering alay, sambil menjitak kepala Dira membuat sang empu cengegesan.


“O-oke... Sekarang untuk Mas Mex yang bentukya kayak Param-paramex eumm an-anu... apa ya aduh deg-degan di tatap manja seperti itu?”


Bobi tiba-tiba gugup, dia takut kalau dengan sosok Mex, apalagi Mex menatapnya tajam seolah mau melahapnya bulat-bulat tubuh gembrotnya mesikipun mustahil.


“Gue nggak punya cita-cita,” jawab Mex dingin dan santai.


Tanpa bekerja Mex tetap tidaklah kekurangan harta, apalagi dia adalah pewaris tunggal dari Deon Alexsander. Orang kaya raya tanpa di ketahui media massa negara kita.


Kalian harus tau satu hal, orang yang sangat kaya raya tidak akan pernah ada di tabel yang kalian lihat di media massa seperti sekarang.


Contoh: Seperti, Mark Zuckerberg, Jack MA, Elon Musk, Jeff Bezos. Mereka bukanlah orang-orang terkaya di dunia ini yang sebenarnya, melainkan ada yang lebih kaya raya bahkan tanpa batas, mereka tidak akan pernah di sorot media sedikitpun, karena mereka pemilik jagat Media. Mereka adalah 1% World control yang menguasi banyak hal di dunia ini.


“Gila lo Mex? parah.” Sinis Vina geleng-geleng kepala, sedangkan Zea hanya diam karena dia tau Mex sangatlah kaya.


“Tapi gue punya keinginan."


"Apa?" tanya Zea spontan, membuat Mex tersenyum manis. Oh, dia sangatlah tampan sekali.


"Marry You."


Jawab Mex tulus membuat Zea terpaku, sedangkan yang lainya saling pandang dan menelan ludah masing-masing. Suasana menjadi hening dan kaku karena Mex dan Zea saling bertatapan.


"I've never joked about this saying, that's what you should know."


Zea menelan ludahnya susah payah, dia tidak tau harus menjawab apa, dadanya bergemuruh tak karuan. Sedangkan yang lain hanya terdiam, mereka semua tau kalau Zea memang diperebutkan Raka dan Mex.


KHEEEM!!

__ADS_1


Bobi berdehem, membuat suasana menjadi cair kembali.


“On the game...!! Lanjut ya, jadi untuk mas Bobi yang Hendomse kayak pangeran Arab ini, mau jadi apa di masa depan? Oh, makasih atas pertanyaannya mbak Susi Similikiti... Saya sendiri mau jadi cheff terkenal seperti Cheef Juna, dan buka Restoran seperti Dira... Besok kerja sama ya Dir, ya?”


Tanya-tanya sendiri di jawab sendiri, siapakah dia?


“Bisa di atur.” Jawab Dira dengan mengacungkan jempolnya di ikuti gelak tawa lagi akibat ulah Bobi.


“Gue kira cita-cita lo jadi Polwan, Bob.” Zea mendorong badan Bobi, karena mengganggu pemandangannya.


“Astaghfirullah, geledekin gue ya lo Ze?!”


“NGE-LE-DEK BOBI!! NGELEDEK!!” seru mereka semua, selain Mex yang menyesap rokoknya.


Bobi hanya bisa garuk-garuk ketiaknya sambil menunjukan deretan rapi giginya.


“Kalau lo mau jadi apa, Ze?” tanya Mex datar.


Mex itu tipe cowok yang mudah berubah, kadang ngeselin tapi kadang kalau serius seperti ini, menakutkan juga. Mata mereka tertuju pada Zea, gadis itu tersenyum getir menatap lamat-lamat sepatu Sneakers putih miliknya.


Bayangan Raka juga muncul tiba-tiba, dia ingin Raka saat ini juga berada di sini, tertawa bersama sebelum berpisah.


“Entahlah, gue hanya berdoa untuk cita-cita kalian agar tercapai semua, gue pasti akan bangga bila besok masih bisa melihat kalian semua sukses. Jangan pernah lupain Zea ini ya? walaupun gue selalu bikin kalian kesal, gue minta maaf untuk segala kesalahan yang gue perbuat. Jujur, gue sangat beruntung mengenal kalian, kalian sudah gue anggap keluarga sendiri. Kalian harus jaga kesehatan baik-baik ya? jangan ada yang sakit.” Jawaban Zea membuat mereka tertengun dan sedih, itu murni dari lubuk hati Zea yang paling dalam.


“Gue harus pergi jauh, cepat atau lambat.”


DEG!!


Mereka semua terdiam.


Mex mengembuskan nafasnya perlahan, lalu memejamkan matanya sebentar. Dia kewalahan mencari donor Jantung untuk Zea, apakah gadis itu masih memiliki kesempatan hidup? Walaupun Mex bergelimang harta, tapi siapa yang rela memberikan jantungnya? Itu sama saja dengan bunuh diri.


“Gue sama Dira nggak setuju!! Enak aja elo mau pergi jauh, lagian lo mau kemana dan jadi apa?” tanya Vina marah pura-pura tidak tau, padahal dia tau kalau Zea sakit berat yang sudah stadium akhir.


“Gue mau jadi model Brand Ambassador dan menjadi aktor film papan atas, jadi maaf saja kalian akan susah berjumpa dengan gue besok.” jawab Zea ngasal berlagak tengil.


Vina memonyor kepala Zea ke kanan, dan Dira pun tak kalah juga dia memonyor kembali kepala gadis itu ke kiri, setelahnya mereka berdua memeluk Zea erat, diam-diam keduanya menangis takut kehilangan Zea.


“Mana ada model rambutnya pendek dan kerempeng kayak lo?!” celetuk Zega sangat jujur sekali.


“Eh... Jangan salah. Kalau gue besok udah manjangin rambut gue seperti duta Shampo, laler aja pasti demen sama gue dan kalian semua akan terpesona melihat kecantikan gue.” Zea mengusap rambutnya mengunkan kedua tangannya kebelakang.


“Gue aminin Ze, siapa tau kan besok kejadian juga.” Bian menyemangati Zea sambil menatap gadis itu serius di angguki oleh yang lain.


“Raka mau jadi CEO dan membuat perusahaan sendiri.” jawab Zea tersenyum tipis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Zea Zonk... Ngambek ya lo sama gue?” tanya Gugun menoel dagu Zea, tangan satunya lagi sedang menyetir Mobil.


“Gimana nggak ngambek coba? Orang lo narik gue pergi, udah kayak emak-emak marah sama anaknya yang lagi nongkrong sama temen-temen.”


Zea kesal, karena Gugun tiba-tiba datang dan mengajaknya pergi dari cafe sekarang itu juga. Kalu Zea tidak mau, maka Cowok itu akan berteriak di cafe dengan mengatakan ‘Hallo semuanya, kenalin gue pacar Zea...’ ohoho, Zea ora sudi.


Tapi yang membuat gadis itu heran adalah, Mex menyuruh Zea ikut pergi bersama Gugun. Ini aneh. Padahal selama ini Mex di suruh Oma untuk menjaga Zea sebaik mingkin, dan kalian pasti tau Mex selalu melarang Zea ini itu.


“Ya sorry, lagian elo nggak kangen gue apa? Gue aja kangen lo tau, kangen banget malah.”


"Idih si mantan Buaya merasa tersakiti. Hey, lo itu udah gue hubungi berkali-kali tapi tidak pernah lo angkat, bahkan pesan gue aja tidak lo balas. Ada dendam apaan sih elo sama gue? padhal nih ya, elo itu satu-satunya yang bisa gue harapkan bisa membawa gue kabur dari Mansion oma. Gue rindu balapan Gun.”


Zea mencak-mencak sambil menunjuk wajah Gugun yang tertawa terbahak-bahak.


“Oh, jadi lu kangen gue ya? Ngaku aja Ze, gue ikhlas kok pakai banget malah!” Gugun tersenyum genit mengasak rambut Zea.


“Dih, nggak ya. Gue cuman mau pinjem motor lo doang, motor gue di borgol sama tiang listrik oma, Gun... parah banget kan? rasanya gue mau nangis jungkir balik melihat motor kesayangan gue seperti rongsokan yang di penjara.” Gugun tertawa terpingkal-pingkal kembali bahkan sampai air matanya keluar.


Gugun ganteng banget sih kalau di liat dari samping gini. Batin Zea dalam hatinya, tapi dia nggak cinta loh ya. Suer demi mbak Sumintem adeknya Bik Inem, karena bagi Zea hatinya cuman buat si Tuan Raka, presiden pulu-pulu yang brengsek.


“Lagian lo mau apa? Mau balapan lagi? Sori nih ya, gue nggak mau lagi nyari rival buat lo lagi. Gue gak mau lo kenapa-napa.” Mex memang bilang sama Gugun kalau Zea tidak boleh balapan lagi.


“Apaan sih kalian semua? Kayak gue anak kecil aja. Gue tuh sehat wal afiat, kenapa semua orang jagain gue kayak anak itik sih? sebel gue lama-lama ini itu tidak dibolehin.” Alibi Zea, padahal dia selalu menahan sakit di dadanya.


“Lo wisuda kapan?” tanya Gugun tiba-tiba.


“Tiga hari lagi, awas kalau lo sampai nggak dateng. Gue gundulin bulu ketek lo!!”


Ejek Zea dengan tertawa pecah, Gugun yang melihat itu tersenyum tipis. Entah kenapa, hatinya menjadi tentram melihat Zea yang seperti ini.


“Iya, besok gue pasti datang dan gue akan kasih hadiah sepesial buat lo khusus,”

__ADS_1


“Sepesial? Kado apaan tuh?”


“Lah, kalau udah gue kasih tahu dari sekarang, namanya nggak suprise lagi dong. Dasar zonk lo makin parah aja deh, Ze.”


“Kayak elo kan?" Gugun mengangguk kemudian keduanya tertawa bersama lagi.


"Elo itu kayak Mex deh Gun, hidup kalian itu Random banget. Kadang gue cari-cari elo, elo nya malah ngilang kayak Kutu kupret, giliran gue nggak di caari. Lo dateng kayak dedemit seperti tadi. Gue jadi curiga deh sama lo.” Cerosos Zea panjang lebar, sudah menjadi kebiasaan mereka berdua sering bercanda ria seperti ini.


“Curiga gimana sih? Gue Cuma cinta Zea seorang, nggak ada cewek di hati ini. Jadi tidak usah curiga-curigaan segala ya sayang, oke?” Gugun menaik-turunkan alisnya membuat Zea memutar bola matanya malas.


“TERSERAAAAH, TIDAK ELO TIDAK MEX SAMA AJA!!"


"Sama-sama tidak bisa dapetin elo kan?"


DEG!!


Zea bungkam suasana menjadi hening hingga mereka berdua sampai di sebuah Bukit yang sangat indah.


Zea memeluk tubuhnya karena angin malam cukup dingin menusuk kulitnya. Gugun yang menyadari akan hal itu, melepas jaketnya dan di pakaikan ke tubuh Zea.


“Gun, nanti lo kedinginan. Udah gue tidak apa-apa,” Zea mencoba melepaskan jaket itu, namun di tahan oleh Gugun.


“Udah buat lo aja.” Gugun tersenyum tipis dan menyelipkan anak rambut Zea ke belakang telinga.


Mereka berdua menatap keramain kota di atas bukit malam itu, lalu Gugun menghembuskan nafasnya perlahan. Dia pasti akan sangat rindu hari ini di masa depan.


“Gun... elo kenapa?” Zea menyentuh pundak cowok itu pelan. “Ada masalah ya?” tanya Zea lembut.


"Sebenarnya elo itu menganggap gue apa sih, Ze?"


Zea menghela nafas pelan, "gue udah pernah jawab Dua puluh kali atas pertanyaan lo barusan."


"Baiklah, artinya tidak ada perubahan. Tapi gue mau tanya satu hal sama lo, apakah elo menyembunyikan sesuatu dari gue?"


"Tidak ada, semua hal yang terjadi di dalam hidup gue, elo tau segalanya." Bohong Zea.


"Yakin?"


"..."


"Jawab, Ze!!"


"Elo harus jadi kekasih gue dulu jika mau tau tentang lebih dalam lagi, dan sayang sekali, gue tidak akan pernah menjadikann lo sebagai kekasih. Karena kita lebih baik berteman."


Gugun membuang nafasnya kasar, secerdas apapaun dia bertanya, Zea jauh lebih pintar memiliki jawaban untuk menutupi penyakitnya rapat-rapat.


“Gue dari kemarin emang sengaja ngejauh dari lo dan sekarang gue mau jujur. Setelah ini gue akan pergi jauh dari sini, ini adalah pertemuan terakhir antara lo dan gue.” Jawab  Gugun dengan penuh peneguhan, dia tidak kuasa menatap mata gadis itu.


“Elo pasti mau pindah ikut orangtua lo di luar negri ya?" Gugun diam tak menjawab.


"Gue juga mau pergi Gun, pergi sangat ja-,” Gugun segera membungkam mulut Zea dan memeluk gadis itu erat.


Zea sangat terkejut akan hal itu, selama berteman dengan Gugun Zea tidak pernah melihat cowok itu serapuh ini, bahkan cowok itu menangis sesegukan.


“Itu tidak akan terjadi, percayalah pada gue. Elo harus menemukan kebahagiaan dulu Ze, banyak yang mencintai lo... Termasuk gue juga, lo harus kuat bagaimanapun caranya.” Entah kenapa, Zea memeluk tubuh jangkung Gugun sangat erat, bahkan dia juga menitikan air matanya.


Gugun cowok yang baik, sungguh. Dia memiliki hati yang lembut dan jiwa rendah hati kepada semua orang. Wajar jika dia sangat di gilai banyak wanita, apalagi wajahnya sangat tampan.


“Jangan lepaskan dulu, gue pasti akan rindu masa-masa kita bersama di malam ini,”


Semenjak saat itu, Zea tidak bisa tidur di kamarnya. Dia terus kepikiran Gugun, sebenarnya ada apa dengan dia? Dia sangat aneh sekali.


Di sisi lain.


Raka sedang berada di kamarnya, dia sangat kacau. Rambutnya berantakan, dan tangannya terkepal bersimbah berdarah.


“Bahkan sampai saat ini, aku tidak pernah bisa menemuimu. Apa kau benci sekali sama aku, Ze? aku kehilangan semuanya, aku bodoh, aku brengsek, aku telah gila dengan membuang berlian sepertimu...” Raka menangis pilu memeluk foto Zea di dompetnya.


Foto yang di ambil diam-diam, waktu Zea main kerumahnya.


“Duniaku berubah setelah kamu pergi Ze, Kamu boleh membenciku sepuasmu, tapi tolong jangan menghindar dariku...”


PRAAAK!!


"ARGHHH!!"


Tangan Raka memukul kaca di lemarinya kasar, membuat darah segar di tangannya terus mengalir.


“Jaga dirimu baik-baik Rak. beberapa hari lagi kita akan lulus, aku tidak akan bersembunyi darimu lagi. Selamat malam.” Zea tersenyum getir dan memejamkan matanya perlahan setelah meminum obat pereda sakit jantung.

__ADS_1


...BERSAMBUNG....


Guiiis, follow akunku dong🤣😭😂. Pngikutnya masih 0 Masa😭😂😆. Jan lupa juga komen banyak-banyak❤🤗.


__ADS_2