
Ini asalah masalalu tentang seorang anak bernama Mex Alexsander dengan semua identitasnya dan juga hati kecilnya.
Flasback on.
“Hay, namamu siapa?”
Tanya gadis kecil berambut panjang, imut dan bikin hati kecil Mex konser dadakan. Terkesan hyperbola kan? tapi tidak buat seorang Mex kecil. Karena dia aslinya pemalu, Mex hanya bisa menunduk sambil lirik-lirik gadis itu dan kali ini, jantungnya berasa pindah ke Pangkreas, ketika gadis itu mengulurkan tangan mungilnya yang sangat putih dan lentik.
“Namaku Zea dan kamu?”
“Nngg... A-anu, aku malu.”
Dengan perlahan Zea menjabat tangan Mex membuat sang empu sangat senang. Sepersekian detik, Zea melepaskan tangannya, karena Mex menahannya sambil menatap wajahnya takjub.
Kalian pasti bertanya, kenapa Zea ada di panti asuhan. Jawabannya sederhana. Karena keluarga Zea menjadi Donatur besar di panti asuhan Mex sejak dahulu.
“Heyyy... Pipimu jadi merah! Alergi ya sama aku?” Tanya Zea polos membuat kedua pipi anak laki-laki itu semakin memerah saja. “Ah, jangan-jangan kamu sedang malu sama aku, iya kan? Cowok kok pemalu, mending kayak aku. Punya keinginan masa depan, ingin menjadi ketua motor yang baik hati, hahaha.” kelakar Zea.
Ucapan adalah DOA, entah dulu Zea hanya bercanda atupun tidak, yang jelas gadis itu berhasil menjadi satu-satunya cewek ketua geng Jakmoge. Padahal geng tersebut sejak dahulu dan setelah Zea selalu di pimpin oleh cowok.
Semenjak hari itu juga, Mex memutuskan untuk menjadi cowok pemberani, di masa depan tidak boleh lagi ada seorang Mex Alexsander yang sering menangis dan lemah. Dia akan berubah karena Zea pasti tidak suka dengan sifatnya yang lemah ini.
“Aku juga mau jadi mau dong, biar bisa deket sama kamu terus, hehe.”
“Baiklah. Mulai saat ini, kita temenan ya?” Zea tersenyum senang dan sangat antusias.
Mex kecil tersenyum kecut, “kalau sekedar teman tidak bisa satu rumah dong besok. Kalau lebih dari itu ***-boleh?” kata Mex polos sambil melihat rambut panjang Zea yang sedang membelakanginya.
Sedangkan gadis itu, asik clingak-clinguk mengintip seseorang. "Ganteng banget dia hari ini, ih aku suka sama dia.” Zea menangkup kedua pipinya sendiri dan mengintip lagi sosok anak kecil di samping papanya.
Kalian tau siapa yang di maksud Zea?
Dia adalah Raka Zaidan Vernando.
Hal itu membuat Mex sadar diri dan gemetar. Karena Zea dan Raka dari keluarga kaya raya yang terpandang dan selalu menjadi Donatur tetap di Panti asuhan.
Sedangkan Mex?
Orangtua saja tidak punya, apalagi harta?
Lalu apa yang dia harus banggakan?
Mex tersenyum ramah ke Zea
__ADS_1
dan membuang pikiran kalahnya dari Raka, “kalau seandainya aku sama dia, kamu pilih siapa?” tanya Mex memberanikan diri mengajak Zea menjauh dari tempat itu.
Karena Raka juga tersenyum sambil melambaikan tangan ke Zea, ini tidak bisa di biarkan. Mex kecil, cemburu akut.
Sambil berjalan lesu dan cemberut Zea menjawab, “kalau dua-duanya aku pilih gimana?” Gadis itu tertawa lebar mengandeng tangan Mex kecil membuat anak itu senang.
Dalam hatinya Mex hanya ingin Zea menjadi miliknya seorang.
Dan kini keduanya telah duduk di sebuah kursi Taman samping panti, di balik raungan yang cukup besar terdapat kaca tembus pandang yang mengarah ke Taman, Raka bisa melihat jelas Zea yang duduk bersama anak panti yang cukup beda sendiri daripada yang lain.
Iya Mex beda, dia sangat tampan mungkin anak itu blasteran, kulitnya putih bersih dan dia suka menyendiri.
“Mending kamu pilih aku saja, aku siap kok ada di samping Zea kapanpun Zea membutuhkan Mex, hehehe,”
Zea yang kebetulan menghadap lurus kedepan seketika memalingkan wajahnya ke cowok di sampingnya, angin seketika bertiup kencang membuat rambut Zea melambai-lambai, daun yang berwarna Orange berterbangan di sekeliling membuat suasana menjadi indah. Wajah Zea semakin terlihat cantik, bola mata gadis itu sungguh membuat Mex jatuh cinta.
Zea tersenyum teduh, “aku nggak tau mau jawab apa. Selamat tinggal, Zea pergi dulu ya? senang bisa mengenalmu.” Zea menepuk pundak Mex dua kali dan pergi.
Nyesek-nyesek dan nyesek itu yang terjadi sampai saat ini pada Mex. Dia sadar, sampai detik ini memang dirinya selalu kalah dengan Raka.
Namun baru beberapa langkah Zea berjalan, dia menoleh ke Mex lagi.
“Oh ya, kamu belum menyebutkan namamu, tapi tidak apa-apa, siapapun namamu aku senang berjumpa denganmu."
"Kamu tahu? mamaku pernah bilang, kita tidak boleh pilih-pilih sebelum kita dewasa dan mengenal banyak hal, dan belajar memahami apa yang kita pilih sendiri lalu menerima konsekueni pilihan tersebut. Jadi siapapun yang aku pilih besok, kamu masih memiliki kesempatan untuk kupilih.”
"Namaku Mex, namaku Mex, namaku Mex... Ze, namaku Mex. Kamu harus mengenalku dan mengingatku sampai kita berjumpa kembali." lirih Mex melihat punggung Zea yang semakin menjauh darinya, gadia itu tidak mungkin mendengarnya lagi.
MEX BODOH!!
Padahal dirinya sering memperhatikan Zea secara diam-diam waktu dia datang bersama papa dan mamanya. Mex tidak cukup memiliki keberanian mendekati Zea langsung, dia hanya bisa mondar-mandir di belakang gadis itu seperti anak Sinting tak jelas. Sedakan Raka jauh di depan dia, jauh lebih dekat dengan Zea.
Itu adalah pertemuan pertama dan terakhir Mex dengan Zea berambut panjang yang cantik, setelahnya gadis itu tidak pernah ikut orangtuanya kembali, bahkan sekarang hanya papanya saja, entah Zea dan mamanya kemana. Jujur dirinya merasa hawatir.
Apakah terjadi sesuatu? Apakah Zea baik-baik saja? kemana dirinya selama ini?
Waktu berganti begitu cepat, ada kabar baik yang datang menghampiri kehidupan Mex. Dia telah di jemput seorang pria yang mengaku sebagai papanya, padahal jelas-jelas tidak ada kemiripan sama sekali di antara keduanya. Dia adalah, Deon Alexsander. Papa dari seorang Mex Alexsander.
Banyak anak yang tidak seberuntungnya dan mungkin inilah takdir Mex karena dia adalah orang memiliki papa yang kaya raya. Jadi kehidupannya selalu terjamin mewah, meskipun sejatinya Mex sangat tidak suka kemewahan.
Takdir Mex bagus ya. Tapi kisah cintanya sangatlah buruk, seprti kisah cinta papanya.
Dan entah keajaiban dari mana, dia bertemu lagi dengan Zea tepatnya waktu sekolah SMP. Itu membuatnya sangat-sangat bahagia, namun Mex kebingungan karena penampilan Zea berubah drastis, untuk wajahnya masih tetap cantik, tapi kenapa rambutnya menjadi pendek? Atau jangan-jangan dia sudah menjadi preman?
__ADS_1
Mulai saat itu juga, Mex juga merubah penampilannya, membuat semua orang takut padanya. Mex waktu itu sering membuat onar, baju seragam tidak di masukkan, dasi sebagai ikat kepala dan paling parahnya lagi di suka mengintip Zea dari kejauhan. Kalau keduanya hampir berpapasan di area sekolah, Mex langsung mumpet di bawah pohon Cabai saking geroginya bertemu gadis pujaan hatinya.
Walaupun dirinya terkenal berandalan namun saat berhadapan dengan Zea dia bisa mendadak menjadi lembek. Zea sudah lupa dengannya dia tau itu. Karena tampilan Mex yang kecil dahulu berbeda dengan Mex yang sekarang menyandang marga Alexsander.
Satu fakta yang membuat dia terkejut, Alda temen sekelasnya ternyata adalah saudara tiri Zea. Untuk menggali informasi yang lebih dalam, Mex langsung saja menjadikan dia pacar.
Dia pernah ingat betul Alda bilang gini.
"Apapun yang Zea punya, harus bisa dia rebut bagaimanapun caranya.” Semenjak itulah dirinya mencoba melindungi Zea bagimanapun caranya.
Tentu hal itu, dia lakuin secara diam-diam selama bertahun-tahun sampai saat ini.
Satu pesan Mex untuk semua remaja, yaitu. Jatuh cinta sah-sah saja, akan tetapi jangan jatuh cinta sendirian sepertinya.
Flasback Of.
Semua orang tampak sibuk menyiapkan pernikahan Zea dan Raka, kurang lebih Dua hari kedepan pernikhan akan di langsungkan. Bahkan hari ini rumah Zea tampak ramai karena Dekorasi sudah di pasang sejak hari ini.
"Setelah kita menikah kita akan tinggal di mana Rak?"
"Di Pluto!"
"Apaan sih bang? ngeselin banget." Zea mendengus kesal, sedangkan Raka tertawa pelan.
"Biar kalian tidak di ganggu sama Mex. kamu mah dek, Se'uzon mulu dah kalau sama abang."
KHEEEM!!
Tiba-tiba ada seseorang yang berdehem cukup keras membuat mereka semua menoleh ke sumber suara, ketiganya melotot tidak menyangka karena Mex berdiri tak jauh dari mereka.
Tampilan Mex membuat Raka terkesima, rivalnya itu tampil sangat gagah dan tampan menggunakan jas hitam rapi seperti seorang pipinam kantor, jangan lupakan kacamata yang terpasang sempurna membuat ketampanan Mex semakin memancar.
"Eh, ada Mex. Ayo sini-sini duduk dulu, aduh kami tidak sedang membicarkanmu kok tadi, ayo duduk sini jangan sungkan-sungkan." Ucap Kelvin membuat Zea memutar bola matanya malas, padahal tadi sedang membicarakan Mex abangnya itu.
Mex tetap diam tanpa ekspresi, mengabaikan Raka yang terus saja menatapnya, kemudian dia menganggkat sebelah tangannya melihat jam Emas yang sudah menunjukkan waktu dia untuk bergegas ke kantor pusat karena ada banyak berkas yang harus dia tandatangani.
"Aku sibuk bang, lain kali saja." jawabnya jujur dan kini pandangannya mengarah Zea yanh duduk di dekat Raka.
"Ze. Ramos tadi menelfonku, dia dan anak-anak Jakmoge akan menghadiri resepsi pernikahnmu. Apa boleh?"
"Bole-,"
"Oke." potong Mex cepat dan segera berbalik badan pergi, membuat hati Zea sedih.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan Mex! Jangan lupa makan."
Pekik Zea cukup keras, Raka tidak cemburu mendengar hal itu, karena baginya Mex tidak mungkin mengambil Zea lagi, karena cowok itu sudah merelakan calon istrinya itu untuknya. Mex mendengar teriakan Zea membuatnya bersedih saja, dia tetap tidak berhenti melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke belakang lagi yang akan membuatnya semakin hancur melihat Zea yang sebentar lagi akan menjadi istri rivalnya.