
“ADUUUUH!! Siapa sih ini yang berani ngelempar topi?”
Zea memengangi pelipisnya, ada seseorang yang melemparkan topi dan mendarat tepat di atas alisnya.
Gadis itu geram sekali, siapa yang berani sekali melakukan hal itu padanya? Tangannya sudah gatal tidak lama meninju seseorang, akankah dia melayangkan bogem mentah kepada orang yang lancang ini?
“Eh, maaf-maaf, Ze... Duh, sakit ya?” tanya cowok yang tiba-tiba datang dari belakang pot bunga dan mengusap pelpis Zea penuh kasih.
“Kasar banget sih lo jadi cowok!” kesal Zea sambil menekuk wajahnya, mungkin hanya Zea satu-satunya cewek yang suka memaki Mex sesuka hati.
“Ya, maaf... tidak sengaja Ze,” Jujur Mex sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jadi dia bernama Mex Alexsander dia terkenal sebagai murid yang paling nakal melebihi Zea dan teman-temanya. Semua guru selalu angkat tangan bila menghadapi Mex yang susah di beri tahu, dia suka sekali berkelahi dan membuat onar pada siapapun yang mengangu kesenangannya. Kalau boleh jujur setelah mengenal Zea, cowok itu menyukainya dan dia selalu berusaha mendekati gadis tersebut. Bahkan sejak dulu, Mex menyimpan rasa untuk Zea.
Zea adalah salah satu alasan kenapa cowok itu sekarang rajin berangkat sekolah, padahal dari dulu dia dalam seminggu hanya berangkat 2 kali.
Sedangkan Dira dan Vina jengah melihat interaksi kedua makhluk yang sama-sama sinting itu.
Dari kejauhan Raka melihat Zea dan Mex begitu akrab, entah kenapa hatinya menjadi kesal seolah tidak rela. Entahlah, tapi yang pasti Raka merasa tidak suka bila keduanya sedekat itu. Apakah itu yang dinamakan cemburu? Tapi Raka tidak mau mengakui hal itu. Baginya haya dirinya saja yang boleh membuat kesal Zea.
“Selamat pagi, Raka!” Sapa Alda dengan senyuman terbaiknya, sebelum menemui cowok itu, Alda memoles wajahnya terlebih dulu supaya terlihat secantik mungkin.
“Udah tau, gak usah di ingetin.” ketus Raka.
“G-gue Cuma mau bilang, nanti kalau pulang sekolah gue nebeng ya?” Pinta Alda sambil menunjukan deretan giginya.
“Emang, elo siapa gue?” disini harusnya Alda sadar, bahwa Raka tidak pernah menyukiainya.
Boleh saja kita mencintai seseorang, dengan catatan, asal seseorang itu mencintai kita juga. Kadang Alda merasa kesal dengan perlakuan Raka padanya, tapi demi cinta dia rela diperlakukan seperti itu pada cowok tersebut.
“Mampus lo!! Udah di tolak mentah-mentah masih gak mateng-mateng juga ya otak, lo?!” cibir Zega sambil menatap sinis Alda.
“Astaghfirullah, bener sekali bang Zega--ku sayang. Gini lho mbak Alda, dari pada lo gak pernah di respon sama Raka, mending sama gue aja gimana? Bang Bobi siap kok diet demi cintaku padamu...” goda Bobi sambil menaik turunkan alisnya memandang gadis itu.
“Elah, bucin lo. Cari cewek yang lain aja, jangan yang modelnya kayak mak lampir seperti dia.” cibir Bian sambil menjitak kepala Bobi.
"Haha!! Gak ya, tadi itu hanya bercanda... Mana mau gue pacaran, pacaran itu dosa teman-temanku. Nanti kalau tuhan marah, bisa-bisa perut gue di gembosin lagi," Zega dan Bian tertawa pecah mendengar penuturan Bobi. Sedangkan Alda mengepalkan tangannya kuat.
Raka tidak menghiraukan mereka semua dan hendak berlalu pergi, dari kejauhan dia melihat Mex mengelus pelipis Zea, itu yang membuatnya semakin panas dihatinya.
“Mau kemana, Rak?” Alda memegang lengan Cowok itu.
“LEPASIN!! Jangan gangu gue!” ketus Raka sambil melepaskan tangannya dari Alda dengan kasar, setelah itu Raka melenggang pergi.
__ADS_1
Alda melihat punggung Raka semakin menjauh, sampai detik ini dia selalu mencoba mendekatinya tapi apa yang Alda dapat?
Raka malah semakin benci padanya. Higga akhirnya Tatapanya berhenti saat Raka mengampiri Zea, Alda hanya bisa mengepalkan tangannya, selalu saja begitu. Zea selalu menang jika manyangkut Raka, gadis itu tidak habis fikir, secara fisik Alda menang segalanya tapi kenapa tidak bisa membuat Raka cinta padanya?
“Apasih kurangnya gue? Kenapa gue bisa kalah sama anak sialan itu?” Ucap Alda lirih, tanpa di sadari di dengar oleh ketiga cowok yang berada di sekitarnya.
“Apa lo bilang tadi?” tanya Zega sambil mendekati Alda.
“Zea itu anak sialan sama seperti kalian.”
“Sok cantik lo, pantesan aja Zea gak sudi mempunyai saudara seperti lo,” Zega tidak terima temen ngeresnya di hina seperti itu, lalu menghujat Alda.
“Haha... Lo pikir gue juga sudi punya saudara kayak dia? Asal lo tau aja, gadis itu pembunuh!” Alda menekankan kalimat terakhirnya, membuat ketiga cowok di depanya itu membelalakan matanya terkejut.
Tanpa buang-buang waktu lagi, Alda segera pergi dan menuju kelasnya, ketiga laki-laki itu bergelut dengan pemikiran masing-masing. Mereka tau Zea adalah gadis baik juga pemaaf, tidak mungkin dia akan membunuh siapapun itu, walaupun sefatal apapun konflik permasalahannya. Bahkan untuk membunuh seekor semut saja Zea takut terkena pasal.
Tapi kenapa Alda bilang seperti itu? Ada sesuatu yang aneh dari Zea dan Alda. Kenapa mereka tidak saling akur satu sama lain? Padahal mereka itu saudara. Itulah yang kerap menjadi pertanyaan di kepala ketiga cowok itu. Zea bukanlah tipikal wanita yang suka curhat, dia cenderung susah di telusuri.
“Udah pakai aja topi gue, gue ikhlas kok di hukum demi nyelametin elo,” Mex menyodorkan topinya ke gadis di depannya itu.
“Cih, dasar gombal sobek mulai kumat!” cibir Vina yang sendari tadi memperhatikannya, hal itu membuat Mex melototi Vina tajam.
“Gak usah, terimakasih... Nanti lo kena hukuman, Mex,” tutur Zea dengan menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak masalah, asalkan kamu aman.” ucapnya terkekeh sambil menyisir rambutnya mengunakan jemari tangan di depan Zea.
Zea bingung dengan tingkah kedua lelaki ini. Pasalnya yang satu adalah musuh bebuyutanya dan yang satu preman sekolahan, lalu kenapa mereka harus respect sama dia? Apa yang membuatnya rela melakukan ini padanya?
“Ya tuhan, cowok kalau udah pada bucin, otaknya ditaruh di dengkul, ya?!” Sindir Dira sambil mengandeng tangan Vina dan segera pergi.
“HEH!! KOK KALIAN NINGALIN GUE?!!” Zea meneraiaki dua temannya itu, membuat kedua lelaki di sampingnya menutupi telinganya. Namun bukanya berhenti, kedua cewek itu malah berlari sangat kencang sambil tertawa lebar.
“Mereka boleh ningalin lo, tapi satu hal... Mex Aleksander gak akan pernah ningalin lo kok, Ze.” Goda Mex sambil melirik Raka, guna memanasi cowok itu.
“Cih, norak!” cibir Raka sambil menarik tangan kanan Zea, namun Mex tidak membiarkan Zea dibawa pergi olehnya. Dia menarik tangan kiri Zea, hinga terjadilah saling tarik-menarik.
“Suka-suka gue, ngomong aja lo cemburu kan?”
“Awww, sakit anjir.” Tubuh gadis itu terhuyung kesamping kanan dan kiri, kedua cowok itu terus menariknya seperti tarik tambang.
Hingga bu Maria datang sambil membawa kemoceng di tangannya, amarahnya sudah berada di ubun-ubun, semua murid sudah siap di lapangan upacara namun ketiga murid nakal ini belum juga beranjak turun.
“Pakai topi punya gue aja, Ze!” tawar Raka.
__ADS_1
“Punya gue aja!”
“Punya lo juga jelek anjir, udah 4 tahun gak lo cuci!” Mex hanya bisa membelalakan matanya, saat Raka membullynya. Mex memang 4 tahun belum lulus SMA, tapi dia selalu mencuci topinya setiap 1 bulan sekali kok.
“Bangsat lo!”
“BERHENTI!” Teriak bu Maria sambil berkacak pingang.
Perhatian ketiga siswa itu akhirnya berpindah ke guru paling killer di sekolah ini.
“Jadi kalian berdua mau pijemin Zea topi? Siapa yang suruh kalian memeinjamkan, hah?” bu Maria kini mengibas-ngibaskan kemocengnya di muka mereka bertiga.
“Aduh Bu, Raka udah ganteng bu, Mex aja yang dibersihin otaknya, biar tahun ini bisa lulus.”
“Bangsat!! Kok lo dari tadi nyari masalah sama gue terus sih?” seketika bu Maria menjewer telinga Mex dengan kasar, berani sekali dia berkata begitu padahal ada guru didepannya.
“Jadi gini lho bu Mari, ak-,”
“Diam kamu!! Nama saya itu bu MARIA BUKAN BU MARI,”
“Gitu aja baperan bu! Kan, itu nama kasih sayang dari Zea.” Ucap Zea sambil tertawa.
“Bener itu buk, seperti sayangnya aku ke Zea, ya kan Ze?” Mex merangkul pundak Zea, Raka yang melihat itu akhirnya.
DUAGH!!!
“Lepasin dia!” Raka meninju wajah Mex dengan kesetanan.
DUAGH!!
Mex meninju balik Raka, “gak bakalan gue lepasin Zea dan lo ambil, gue ngak akan nyerah dari lo!”
“Pertandingan kita baru di mulai, jangan sok jagoan lo!” Raka menarik kerah laki-laki itu dengan kedua tanganya.
“BERHENTI!! Kalian berdua pada kenapa sih? Hah?” gadis itu melerai keduanya yang hampir baku hantam lagi, yang ada dipikiran Zea adalah, sebenarnya pertandingan apa yang mereka lakukan?
Tapi sudahlah, dia tak peduli akan hal itu.
“Kalau ada yang bikin keributan lagi jangan tanyakan pada ibu, orangtua kalian bakalan saya panggil ke sekolah.” Finis bu Maria, membuat mereka diam seketika.
“Jangan gitu dong buk, saya kan di sini tidak bersalah.” Gadis itu memohon agar itu tidak terjadi, kalaupun papanya di panggil ke sekolah Zea bisa kena masalah besar dari papanya.
“Iya buk, Mex yang salah. Saya tadi Cuma ikut-ikutan dia aja kok,” jawab Raka ngawur yang langsung mendapat tatapan mengerikan dari Mex.
__ADS_1
“Sebagai hukuman atas kelakuan kalian, ibuk tetep akan mengukum kalian, hukumanya adalah....”
Ketiga murid itu gelisah dengan hukuman apa yang akan diberikan oleh bu Maria.