
NOTE: Konflik masih ada ygy, jangan lupa sabar❤🤣. See you next part.
...HEPPY READING📖....
...----------------...
...Mayapada Hospital Jakarta Selatan....
....🚑🏣🏣....
**MEX** berjalan mondar-mandir di depan ruang perawatan Zea, dia bahkan tidak duduk sama sekali sejak tadi. Berulang kali dia meraup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Tergambar jelas, bahwa dia sangat sedih dan hawatir.
"Kenapa adek gue, Mex?" Kelvin yang baru datang, langsung mendekat ke arah Mex, di ikuti Nadia di belakangnya. Wajah Kelvin sangat menakutkan, menahan amarah yang mendominasi wajah rupawannya itu.
"Maafin gue bang, gue nggak bisa tepati janji untuk selalu jaga Zea." Racau Mex, suaranya putus asa, sambil sesekali mengacak rambutnya frustasi.
Padahal Mex sudah berjanji, bahwa dia akan selalu melindungi Zea dengan baik bagaimanapun caranya.
"Jelasin dulu ke gue, kenapa adek gue bisa sampai pingsan?!" tegas Kelvin menatap Mex tajam, Nadia memegang pungung Kelvin mencoba menenangkannya.
"Apakah ini gara-gara, Raka?"
Desak Kelvin teelihat auranya sangat-sangat tidak bersahabat. "Jawab gue Mex!!" Ulangnya lagi mengepalkan tangannya emosi.
"Kalian berdua bisa diam tidak?!" suara bariton Deon membuat keduanya menoleh dan terdiam.
Mata Kelvin berkaca-kaca.
Kenapa dengan Zea? apakah adiknya itu baik-baik saja? kenapa selalu begini?
Kali ini, detik ini juga kesabaran Kelvin benar-benar telah habis, dia tidak rela lagi melihat adiknya selalu menderita terus menerus. Kelvin tidak mau mengambil resiko lagi, dia terlalu takut kahilangan seseorang yang sangat ia sayangi.
"Apa rencanamu setelah ini, Kel?" tanya Deon datar, lalu menatap anak laki-laki yang dari dulu sangat ia kenal.
Jika kalian bertanya, apakah Kelvin mengenal Om Deon dan Mex? Tentu saja iya, karena mereka menjalin kontrak bisnis bersama-sama. Kelvin juga tau tentang semuanya, tentang hubungan Deon dan mama Gia. Kelvin bahkan tau sejak dulu, kalau Mex mencintai adiknya itu.
Kelvin aslinya sangat setuju jika seandainya Mex dan Zea menjadi pasangan. Namun ternyata adiknya mencintai cowok lain.
"Aku akan membuat perhitungan saat ini juga kepada mereka om." Ucapnya sambil menggertakkan giginya kuat, lalu melangkahkan kakinya hendak pergi.
"Sayang... Tahan amarahmu, kalau Zea tau kamu melakukan sesuatu pada Om Baskara dan kekasihnya, dia tidak akan pernah memafkanmu sampai kapanpun. Jangan gegabah seperti ini."
__ADS_1
Nadia mencoba menenangkan Kelvin dengan menahannya, dia tau kalau Kelvin sangat tidak terima kalau Zea di perlakukan tidak adil.
"Yang di katakan Nadia benar. Kita harus bermain menggunakan otak menghadapi mereka,"
Deon melipat kedua tangannya di dada, nada bicaranya sangat sedang tapi jelas sekaligus menakutkan. Kelvin merenggangkan kepalan tangannya, benar apa yang di katakan om Deon.
Silih waktu berganti akhirnya Dokter laki-laki paruh baya keluar dari ruang perawatan Zea.
"Gimana Dok, keadaan adek saya?" tanya Kelvin cepat.
"Pasien sudah bisa di jenguk, akan tetapi dia belum sadarkan diri. Tapi ada kaba-,"
Kelvin menyela cepat, sedangkan yang lain diam mendengarkan. "Sakit apa adek saya, Dok?" tanya Kelvin penuh keteguhan.
"Pasien atas nama Zea mengalami Gagal Jantung akut. Jika tidak segera di tanganni, maka fungsi Jantug akan memburuk dan membahayakan nyawa pasien." Terang doketer itu penuh keseriusan.
Bagaikan di samber petir di siang hari, mereka semua sangat terpukul. Bahkan Kelvin dan Mex adalah orang yang paling syok saat mendengar itu, mereka menangis kecuali Deon yang tidak berdaya mendengar anak gadis perempuan yang di cintainya sakit. Sungguh malang gadis itu, kenapa hidup selalu tak adil padanya?
"Dokter pasti bercanda kan?! Mana mungkin adek saya Gagal Jantung, hah? Dia selalu baik-baik saja!! Dia tidak pernah mengeluh sedikitpun pada abagnya ini!! Tidak mungkin!! Zea baik-baik saja dan dia tidak gagal jantung!" Kelvin menarik jas putih Dokter itu kasar, matanya memerah dengan air mata yang berada di matanya. Rasanya, dia tidak percaya sama sekali.
"Kelvin... Tenangkan dirimu, hiks hiks." Nadia memeluk pria itu, dan melepaskan tangannya dari kerah baju Dokter.
"Akh!!" lagi-lagi Mex meninju tembok di sampingmya keras, membuat tangannya semakin berdarah. "Sialan lo b*eng*ek!!" Umpat Mex mengyumpahi Raka.
"Tenanglah... Semua akan baik-baik saja, percayalah Zea itu kuat seperti mamanya." Deon mengusap pundak Mex pelan.
"Dokter, apa yang bisa kami lakukan?" tanya Deon berdiri di hadapan dokter paruh baya itu.
"Hanya ada satu cara, untuk menyelamatkan pasien." Dokter itu suaranya berubah menciut, seperti kesempatan sembuh gadis itu sangatlah kecil.
"Apa Dok? Cepat katakan pada saya!" Kelvin tidak sabaran, air matanya selalu saja menetes. Dia lemah jika harus begini, yang jelas dia akan melakukan berbagai cara agar adiknya sembuh.
"Melakukan Transplantasi Jantung. Dan itu membutuhkan donor Jantung yang masih sehat, untuk mengganti Jantung pasien yang sudah mengalami kerusakan parah. Jika tidak melakukan oprasi dalam waktu jangka waktu dua bulan, maka akan berdampak buruk dan membahayakan nyawa pasien." Jelas Dokter itu membuat Kelvin meluruh tak berdaya ke lantai.
Kelvin merasa jadi Abang tidak berguna. Kenapa adeknya sakit seperti ini dia tidak pernah menyadarinya? Apakah Zea selama ini meyimpan rasa sakit itu sendiri? Tapi mana mungkin? Zea selalu membuatnya percaya bahwa seolah dirinya baik-baik saja.
Jawaban yang tepat hanya satu, Zea memang sangat pintar dalam menutupi banyak hal. Dia tertawa layaknya tiada beban, namun sejatinya dia menimpan rasa sakitnya sendiri tanpa satu orangpun yang tahu penyakitnya.
Bahkan, diam-diam saat di malam hari. Zea menahan dadanya yang teramat sakit. Sampai kadang dia menangis karena tak kuat menahannya, dia selalu curhat pada foto mamanya dan memeluknya erat. Itu membuat sakitnya reda walaupun sedikit.
Sudah hampir Tiga tahun ini Zea sebenarnya sudah tau penyakitnya, dia sengaja untuk tidak memberitahu siapapun, karena dia tidak ingin menyusahkan orang lain. Termasuk pada Abangnya sendiri, dia sudah cukup menyusahkannya.
__ADS_1
Zea harus kuat dan tidak boleh rapuh pada hal-hal remeh walaupun penyakitnya mematikan dan bisa merenggut nyawanya kapan saja.
Zea siap jika dia mati, karena resiko hidup adalah menunggu ajal.
"Pa, tolong Zea, Pa... Mex mohon, bagimanapun caranya kita harus menolongnya." Mex menangis dengan bersujud di kaki Papanya. "Maafin Mex juga karena tidak bisa menjadi anak yang baik, Mex beruntung memiliki Papa selama ini. Zea telah menyadarkan Mex, dia gadis yang baik, dia harus bahagia dan tidak boleh kenapa-napa." Deon tersenyum lembut, dan menarik badan putranya lalu di peluk erat.
"Walaupun kamu bukan darah dagingku, percayalah aku selalu menyayangimu, Mex." Tangis Mex semakin pecah mendengar kata itu dari mulut papanya.
"Soal Zea, pasti Papa akan berjuang bagaimanapun untuk menolongnya. Gia sangat berarti buat Papa, dan tugas Papa sekarang adalah melindungi putrinya juga." Jelas Deon panjang lebar sangat serius.
"Cucuku... Cucuku!! bagaimana keadaan cucuku Zea?!" Oma Dinar menangis, di kawal bodygurad di sekelilingnya, dia memegang pundak Kelvin. Tapi Kelvin hanya diam dan menangis.
"Maafkan, Kelvin Oma." Tiga kata yang keluar dari mulut Kelvin membuat oma semakin menangis.
...🔵🔵🔵...
Di sisi lain, di rumah besar Baskara. Susanti sedang menerima telfon dari seseorang.
"Bagaimana keadaan Alda?" tanya orang di sebrang sana dengan penuh amarah.
"Alda sudah di bawa pulang." Jawab Susanti yang berada di dapur rumahnya, dia melihat sekitar. Takut kalau Baksara mendengarnya.
"Ck...Aku tidak bisa diam lagi, kamu harus secepatnya kembali bersama Alda kemari, lakukan hal yang leboh pintar lagi SUSANTI!!" ucap pria di sebrang sana dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Tapi, kan kita belum menang."
"Itu karena kau selalu menolakku untuk campur tangan, kau bahkan sangat bodoh. Sekarang kau bujuk Baskara, untuk mengusir anak nakalnya itu dari rumah."
Ucapan itu membuat Susanti sangat takut, orang yang menelfon ini benar-benar marah. Apalagi melihat Alda, yang baru masuk rumasakit karena ulah Zea membuatnya naik pitam.
"Tapi aku takut. Jangan lupakan Baskara dan juga wanita tua itu, dia bukan orang sembarangan, mereka bisa menghabisi kita dengan mudah seperti kuman." Susanti menyadarkan orang di sebrang sana.
"Aku tidak peduli, Kesabaranku sudah habis jika bertahun-tahun tidak ada perkembangan, aku juga tidak mau mengembil resiko jika Alda sampai kenapa-napa maka tamat riwayatmu."
TUT!!
Susanti mendecak kesal, sekuat apapun dia membujuk orang di sebrang telfon itu dia tidak akan pernah bisa, Susanti harus selalu mematuhi titahnya mutlak, kalau tidak... Pasti dia akan di ancam.
...[BERSAMBUNG]...
Jangan lupa dukungannya ya, semoga kebaikan kalian di balas oleh-Nya❤.
__ADS_1