PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
49. ICU.


__ADS_3

...----------------...


...Ada yang mau di buatin cerita Baskara dan Gia? komen ygy🔥❤😅....


...----------------...


Baskara merotasikan matanya, menatap Tiga pria kekar berdiri tepat di pintu kamar anaknya, dia tidak mengenal siapa mereka, dan apa yang mereka inginkan?


“Mau sampai kapan anda menangis Tuan Baskara Adiputra? Ayolah ngobrol-ngobrol dulu, saya muak dengan kamar menyedihkan putrimu yang sok kuat ini.”


Orang yang berdiri di paling depan itu terlihat sangat angkuh, dia seperti tau betul tentang keluarganya.


“Haha, apa anda sudah tau? Zea sekarang kritis di ICU, sebentar lagi mungkin akan mati dan menyusul mendiang istrimu.”


Terdengar gelak tawa pria itu keras.


“Jaga bicaramu brengsek!!” ketus Baskara dengan kemarahan meledak, dia sangat emosi mengedar ucapan pria itu.


“Katakan kau siapa dan berani-beraninya kau menginjakkan kakimu di rumahku?”


Baskara mengertakan giginya kuat, dia berdiri lalu mengepalkan tangannya hendak menghajar pria itu yang mengatakan Zea akan mati.


Namun dua orang di belakangnya megarahkan pistolnya ke dahi Baskara, membuatnya semakin geram. Sedangkan pria angkuh itu tersenyum mengerikan, karena bisa membuat seorang Baskara Adiputra yang sangat di takuti banyak orang tunduk di bawahnya.


“Oh ayolah, setidaknya jangan membuatku membunuhmu lebih cepat. Kau harus tau siapa aku dulu, pria menyedihkan!!” ejek pria angkuh itu membuat hati Baskara memanas, “bawa dia ke lantai satu!!”


Dan sialnya lagi, Baskara hanya bisa di giring dua body gurad itu. Dia tidak ingin membuat kesalahan fatal, untuk saat ini, Baskara hanya bisa patuh. Kalau tidak, maka nyawanya akan dalam bahaya.


“Sayang... Baskara itu ternyata hidupnya jauh lebih menyedihkan ya? hahaha.” Baskara bisa melihat jelas pria itu duduk di tengah-tengah Susanti dan Alda yang ada di ruang keluarga.


“ka-kalian?” Baskara semakin kebingungan, karena melihat Alda dan Susanti mengenal pria itu. “Apa maksud semua ini?!” tanya Baskara penuh amarah.


Pria angkuh itu menjentikan jarinya.


BUAGH!!


Satu bogem mentah mendarat sempurna di wajah Baskara, sedangkan pria itu tersenyum bersama Susanti dan Alda.


“Katakan padaku Susanti, siapakah dia?!!” teriak Baskara menahan panas di wajahnya sembari menunjuk pria di sebelahnya.


Pria angkuh itu menjentikan jarinya lagi dan dua body guradnya memukuli Baskara lagi. Entah kenapa, saat Baskara membuka suara membentak mereka pria itu merasa tidak suka.


“Dia?” tunjuk Susanti pada pria itu.


“Dia Vano, papa Alda. Ups!! Kamu kaget ya? Makanya jadi orang jangan bodoh, hahaha.” tawa Susanti semakin pecah melihat Baskara semakin hancur.


“Alda... Ini semua tidak benar kan?” Baskara menatap Alda memastikan.


“Semua yang di katakan mama benar, apakah seorang Baskara Adiputra papa Zea sialan merasa takut?” tantang Alda menyunginggkan senyumannya.


“Jadi kalian berdua selama ini menipuku? setelah semua yang sudah aku berikan pada kalian, hah?!” Baskara bergerak maju, namun dua body gurad di samping kanan-kiri menahannya kuat.


Baskara memang sangat menyedihkan, dia tidak pernah tau permainan istri dan anak tirinya. Jadi selama ini dugannya benar, kalau Susanti memiliki pria lain. Bukan pria lain tepatnya, melainkan dia jauh lebih dulu menikah dengan Susanti.


Sialan!!


Baskara mencoba memberontak, dan hendak menghajar mereka bertiga.


“Berani mendekat? Kau akan ku musnahan sekarang juga!! Seperti istrimu yang aku tabrak beberapa tahun yang lalu.” Vano mengarahkan pistolnya tepat ke arah Baskara.


“BEDEB*H, TERNYATA KAU PELAKUNYA!!”


Teriak Baskara marah menakutkan melepas tangannya dari mereka, dan bergerak liar menuju Vano ingin sekali menghajarnya saat ini juga.


“AKU AKAN PASTIKAN KALIAN AKAN MEMBAYAR SEGALANYA!!”


Baskara tidak peduli jikalau harus mati di tangan mereka, dia hanya ingin memberi pelajaran pada mereka yang sudah berani menghilangkan nyawa istrinya dan membuat keluarganya hancur berkeping-keping. Dan Zea adalah korban yang paling terluka.


DOOOR!!

__ADS_1


“ARGH!!"


"SI*LAN...!!” Rintih Baskara menahan kesakitan ketika pundaknya di tembak oleh Vano. “Beraninya kau melakukan ini semua pada keluargaku?! akan aku pastikan kalian benar-benar akan menyesalinya seumur hidup!!”


“Sudah kubilang jangan mendekat, apa kau tuli!! Atau kau mau kubunuh secepatnya?!” Vano kesal dan membanting pistolnya ke lantai.


Susanti dan Alda tersenyum senang, Alda sangat puas melihat Zea dan Basakara menderita. Jika kalian pikir Alda menyayangi Baskara? Tentu saja tidak. Dia memiliki papa kandung yang menyayanginya, memang benar Baskara selama ini baik namun Alda selalu saja me mendapat cibiran, hinaan, bully dan Alda sangat tertekan dengan perlakuan itu semua.


“Habisi dia secepatnya, aku lama sekali tidak cuci mata!!” dengan perintah tuannya, kedua body gurad itu memukuli Baskara membabi buta.


Hingga darah segar dan tubuh Baskara menjadi lemas dan babak belur. Pundaknya yang terkena tembakan juga mengeluarkan banyak darah, membuat lukanya semakin parah dan pelurunya lebih menghujam tubuhnya.


“Jadi kau menikahiku karena apa, br*ngsek?! Kau tidak punya malu sekali setelah aku menolongmu!! Dasar wanita ular, setidaknya ingatlah kamu dulu pernah megemis di kakiku untuk menikahimu dan membesarkan putrimu!”


Baskara berkata lemah namun terdengar jelas oleh mereka, Susanti yang hendak meminum juice seketika meremas gelasnya dan dia banting, matanya menajam fokus menatap Baskara.


“Kau tanya kenapa, hah!? KARENA AKU INGIN KAU, GIA DAN ANAKMU HANCUR!!” sengit Susanti langsung berdiri dan berjalan menuju Baskara yang tergeletak di lantai yang dingin, pria jangkung itu terlihat nanar.


“Apa kau pernah tau rasanya menjadi anak pembantu?! Oh, tentu saja tidak. Karena kau dan Gia terlahir dari keluarga yang kaya raya dan terpandang. Gia mempunyai segalanya. Dia cantik, populer, kaya, di sukai bangak orang sedangkan aku? Tersisih, terabaikan bahkan terbuang!!” Susanti menarik kerah baju Baskara kuat.


“Aku dulu mencintai Deon, sedangkan pria brengsek itu mencintai Gia. Tapi bodohnya istrimu justru lebih memilih kau di banding Deon!! Dan apa kau inggat? Dulu waktu SMA aku mencintaimu, namun apa balasanmu dulu, hah? Kau menolakku mentah-mentah dan menikahi Gia!! Jadi jangan heran jika selama ini aku menghancurkan keluargamu.” Sinis Susanti dengan tatapan mengerikan.


“Haha, apa kau sudah puas sekarang? Keluargaku sudah hancur lalu apa yang kau dapatkan? Ada yang harus kau tau Susanti, kau itu jauh lebih menyedihkan dan kau memang pantas tersisih, terabaikan dan terbuang!! KAU PANTAS MENDAPATKANNYA!!”


Baskara berkata sekuat tenaga, sedangakan Susanti mulai tersulut emosi dan mengulurkan tangannya meminta pistol, pada body gurad di sebelahnya.


“Kau adalah anak pembantu yang tidak tau berterimakasih, Gia selalu baik kepadamu. Bahkan dia rela berbagi apapun padamu, tapi kau tidak pernah sadar posisimu sebagai anak pembantu!! Tanpa keluarga Gia mungkin kau bukanlah apa-apa!!” sinis Baskara lagi yang semakin melemas.


Susanti yang sudah kelewat batas kesabaran, segera mengarahkan pistolnya di kepala Baskara.


“Aku sudah muak dengan ini semua, jadi matilah menusul istrimu. Cepat atau lambat, aku juga akan membunuh Zea!!”


Dalam hitungan mundur, Susanti menarik pelatuknya, membuat Vano tersenyum smirk.


Lima....


Tiga....


Dua...


Baskara benar-benar pasrah, karena tubuhnya sangat lemah untuk sekedar bergerak saja. Kedua tangannya di pegang erat oleh body gurad Vano.


Dalam hitungan detik, Susanti benar-benar bisa memecahkan kepala Baskara menggunakan satu kali tembahkan pistolnya ini. Jemari lentiknya mengarah sempurna tepat di dahi Baskara.


BRAAAAAGH!!


Tiba-tiba suara pintu di dobrak paksa oleh seseorang. Deon berhasil mendobrak pintu utama itu setelah mencoba berkali-kali, sedikit susah karena kunci rumah ini cukup kuat, tebakan Deon tidak pernah meleset, dia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Dengan langkah cerdas, Deon tidak datang sendirian dia datang bersama Nando dan Polisi yang sudah mengepung rumah Baskara.


Susanti secara reflek meluruhkan pistolnya dan meneguk ludahnya susah payah, sedangan Alda dan Vano melebarkan matanya tak menyangka. Kesombongan Vano dan Susanti mendadak runtuh seketika, ketika mengetahui para polisi mengepung mereka semua.


“Aku kesini bukan mau menolongmu br*ngsek!! Aku hanya ingin papa Zea selamat dan aku bisa menolong suami orang yang aku cintai, jadi tidak usah senang!!”


Deon berjongkok di samping Baskara, dengan menepuk keras pipi pria yang terbaring lemas itu.


“Tsundere.”


Baskara mengacungkan jempolnya ke bawah dengan tersenyum tipis, membuat Deon mendecih kesal ingin meninju wajah suami Gia. Nando hanya menggelengkan kepala melihat keduanya yang tidak akan pernah akur dari dahulu.


Baskara dan Deon adalah musuh bebuyutan semenjak mereka saling mengenal, bahkan sampai saat ini juga masih saling membenci. Namun di balik itu semua, keduanya sering mencari tahu satu sama lain, bahkan kerap kali Baskara dan Deon saling beradu di dunia bisnis.


Nando menarik tubuh Baskara, dan segera membawanya keluar dari rumah itu untuk segera di obati.


“Sudah aku bilang bukan? apa kau sekarang sadar Baskara? Susanti itu wanita licik dari dulu, kamu ini memang pintar tapi hatimu itu terlalu baik dengan orang lain.” omel Nando kepada sahabatnya yang kini di titahnya perlahan-lahan.


"Bagaimana keadaan putriku? dia baik-baik saja kan? dia ada di mana? antarkan aku kesana!! aku ingin menemui anakku, tolong!!"


Walaupun Baskara sedang terluka, namun putrinya itu sekarang bersarang di benaknya, dia hawatir tak terkira, takut jika Zea kenapa-napa. Sedangkan yang di tanya tidak menangapi satu pertanyaan pun, Nando hanya diam seribu bahasa.


"KATAKAN ZEA DI MANA?!"

__ADS_1


Baskara melepas tangan Nando dan bertanya tak sabaran sambil berteriak.


"Zea di rumahsakit XXX." Baskara segera berlari menuju mobilnya, tak peduli pada lukanya yang parah dan darah yang menetes tak henti-hentinya.


Secepat kilat dia sudah berada di dalam mobil soprtnya dan melajukannya dengan kecepatan penuh menuju rumahsakit.


"Maafkan papa sayang, maaf-maaf!! kamu benar, tidak ada harga untuk membayar sebuah kesalahan fatal. Tap-tapi sayang, tolong maafkan papamu yang payah ini."


Baskara menitikan air mata sesekali memukul stir mobilnya kuat dan mengklakson kendaraan yang ada di depannya, rasa sakit di tubuhnya bahkan tidak seberapa.


Vano, Susanti dan Alda mencoba mencerana kejadian ini, kenapa mereka bisa kalah dengan permaianan yang mereka buat sendiri? Mata mereka tertuju pada sosok pria berbadan jangkung, indra pengelihatannya sangat tajam, pria itu terlihat sangat mendominasi.


“Bagaimana kau suka dengan kejutanku?” suara berat Deon menusuk kesadaran Susanti, yang masih berdiri mematung tanpa berani bergerak sedikitpun, karena di belakangnya sudah ada Polisi.


“Selamat menghabiskan umurmu di penjara dan aku jamin, kau akan di hukum sangat berat tanpa adanya keringanan yang bisa menolongmu!!” setelah mengatakan itu, Deon segera pergi dengan langkah tegap namun pasti, membuat pesonanya semakin berwibawa dan gagah.


“Sialan!! Aku menyesal berteman denganmu!!” teriak Susanti membuat langkah Deon berhenti dan menoleh kebelakang.


“Aku tidak pernah menganggapmu teman dan satu lagi, aku sangat membenci orang bermuka dua, karena sulit untuk memutuskan wajah mana dulu yang akan ditampar!!”


Susanti mengepalkan tangannya kuat, dia sangat membenci Deon. Dari dulu, pria itu sama saja.


Polisi dengan sigap memborgol tangan mereka bertiga. Mereka telah mendapatkan apa yang mereka tuai, maka duri-duri kesengsaraan telah menunggu kedatangan mereka tak sabar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...RUANG OPRASI....


Di sisi lain, tepatnya di ruang oprasi Zea keadaan semakin tegang dan panik, semua Dokter terlihat fokus pada tugas masing-masing.


“Suction! Suction!”


“Dokter Mondy... Pendarahannya semakin banyak, bagaimana ini?” pekik asisten Dokter Mondy di sampingnya, dengan keringat dingin yang membanjiri seragam kerjanya.


“Ambilkan kantung darah yang baru, cepat!!” titah Dokter Mondy cepat.


Empat dokter profesional sekaligus mengoprasi Zea, mereka sangat panik meskipun mencoba setenang mungkin.


Dan kini mereka sedang mencoba menghentikan pendarahan gadis itu sebisa mungkin. Jika terus saja terjadi pendarahan maka akan berakibat fatal, karena kantung darah saat ini sangat terbatas untuk golongan darah Zea.


“Dokter Mondy... Apakah anda yakin ini akan berhasil?” pekik asisten Dokter Mondy di sampingnya, dia sangat pesimis.


Dokter Mondy menghentikan tangannya sebentar, “semoga saja iya... Karena Jantung si pendonor cocok dengan gadis ini.”


Sedangkan di luar ruang oprasi Zea, mereka masih setia menunggu dengan penuh harap dan penuh kecemasan. Vina dan Dira menuju ruang rawat Oma, menemani Nadia yang menunggunya sendirian.


Kelvin sedang berada di taman rumasakit, dia sangat puas menghajar Raka habis-habisan. Namun cowok itu tidak membalas pukulan Kelvin sekalipun, bahkan Raka tidak kenal lelah meminta maaf.


Sedangkan Mex?


Cowok itu asik menyeruput minuman soda dan menyesap rokoknya sesekali, kakinya dia tekuk satu dan duduk di kursi taman. Dia menyaksikan Kelvin yang memberi pelajaran pada rivalnya, nikmat mana lagi yang kau dustakan?


Walaupun Mex bersikap tenang, hatinya tetap gelisah memikirkan Zea yang masih di ruang oprasi.


“Bang... Sisakan gue bagian wajahnya yang mulus itu, gue ingin membuatnya bonyok dan Zea tidak mengenalinya lagi.” Ucapnya dengan menjentikan rokonya.


Kelvin semakin kesal karena Raka seperti pasrah kepadanya, bahkan kini tangannya sendiri yang sudah gemetar dan berlimuran darah karena lelah menghajar Raka.


“Vascilar!!”


Perintah asisten Dokter Mondy, dan Dokter di sebelahnya mengambilkannya. Lalu dia menjepit pembuluh darah Zea yang bocor, kemudian tangannya bergerak gesit menjahit dengan catgut.


“Kalian semua siap?” Dokter Mondy melirik asistennya dan yang lain, “aku akan mengambil jantung gadis ini.” Semua menahan nafas dan mengangguk fokus.


...BERSAMBUNG....


Ada yang rindu aku?😖


Maaf bgt ya ges baru update, aku sakit 2 hari ini. Kalian sehat-sehat ya? love you and see you next part guys❤🔥.

__ADS_1


__ADS_2