
PERKATAAN Raka membuat Baskara menyerniyitkan dahinya, dia menatap Raka penuh tanda tanya di kepalanya. Bukankah Alda sering sekali menceritakan bahwa Raka mendekatinya? Kenapa malah Zea yang bisa jadi pacar Raka? Kira-kira seperti itu yang ada di benak Baskara saat ini.
“Sudah lama sekali saya menyukai Zea, Om. Dia itu gadis yang baik, dan juga pintar.” Ucap Raka yakin, membuat Kelvin tersenyum.
Gue yakin sama lo, Rak. Pasti lo akan merubah segalanya menjadi lebih baik. Jika saja elo sampai berani melukai adek gue, elo akan berhadapan dengan gue, tidak akan gue biarkan siapapun menyakiti Zea termasuk elo. batin Kelvim dalam hatinya tidak main-main.
“Siapa yang bertamu pagi-pagi, bang?”
Zea yang berjalan dari dapur datang ke ruang makan, dia tidak melihat Raka karena sibuk membenarkan seragamnya yang brantakan sambil menunduk.
“Kamu bikin piring di dapur apa gimana sih, Dek? Noh, di jemput Raka udah unggu dari tadi.”
Sektika Zea melihat ke arah meja makan, dan mendapati Raka yang tersenyum ke arahnya. Oh, tampan sekali dia.
“Rak-Raka...?” Zea berdiri mematung tak percaya, dan dia melirik ke arah papanya yang menatapnya datar.
Seketika gadis itu menunduk, dan meremas jari-jemarinya sendiri. Apakah papanya akan marah, jika Raka menjadi pacarnya?
“Hey... Selamat pagi.” Sapa Raka dengan senyuman yang menyejukan, menatap kekasihnya dalam.
“Kalau bucin jangan di depan gue bisa tidak?” kesal Kelvin berbisik di telinga Raka sebal.
“Pergilah, nanti kalian bisa telat!” usir Kelvin, kala melihat papanya seperti tak suka dengan hubugan mereka.
Raka bangkit dari duduknya dan menyalami Baskara, sedangkan Zea mendekat ke arah Kelvin dan menyalaminya. Kali ini juga dia akan mencoba menyalami papanya.
Zea mengulurkan tangannya, namun Baskara hanya diam yang langsung pura-pura mengecek e-mail di Ponsel.
Gengsi yang tinggi membuatnya menjadi sosok yang angkuh dan sombong, Zea menunggu beberapa saat tapi Baskara tak juga mengulurkan tangannya. Dengan mengigit bibir bawahnya Zea menarik tangannya kembali sambil menunduk sedih.
Raka dan Kelvin menatap Zea penuh iba, sungguh Baskara sangat keterlaluan sekali.
Raka sebenarnya terkejut, namun du membungkusnya dengan bauk lalu menarik tangan Zea keluar dari rumah megah itu.
“Zea sayangku cintaku, jangan cemberut gitu dong!!” Raka menyalakan mesin mobilnya.
Zea tersenyum tipis sambil menatap lurus ke depan, “Rak...” panggil gadis itu sendu.
“Apa sayang?” jawab Raka mengasak rambut Zea.
“Apakah papa tau jika kamu pacarku?”
Zea menatap kekasihnya yang sedang mengemudi, entah kenapa dia tak mau kehilangan sosok Raka. Dia sadar, bahwa dirinya juga sangat mencintai Raka.
“Iya... Emang kenapa, hem?”
“Dia ingin kamu dan Alda bersama, karena Alda sangat mencintaimu. Dia sering memujamu di hadapan papa,” kata Zea serak menahan tangis.
__ADS_1
“Percayalah padaku, tidak ada satu orangpun yang bisa memisahkan kita, jika itu yang kamu hawatirkan.” Raka tersenyum sambil mengusap tangan Zea memberinya kekuatan.
“Apakah kamu tidak akan membenciku suatu saat nanti?”
“Ayolah sayang, pertanyaan macam apa itu? Sudahlah lupakan saja, apa sudah kamu baca surat yang ada di dompet itu?” tanya Raka malu-malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“SUDAH. Ternyata kemu ini sudah lama ya mencintaiku, hahaha. Kenapa kamu tidak mengatakanya dari dulu?” Zea tertawa sambil memegangi perutnya, sesekali menatap wajah Raka yang merah padam karena malu.
“Kamu jangan meledekku seperti itu, aku jadi malu. Itu karena aku harus mempersiapkan mental yang besar untuk mengungkapkan cintaku padamu. Bisa aja kan, kamu bukanya menerimaku sebagai pacar, tapi malah memukulku dengan jurus Taekwondomu itu. Kamu kan orangnya bar-bar, galak dan kasar.” Sungut Raka mengeluarkan unek-uneknya.
“Kenapa kamu menjadi cerewet sekali sih?” Zea yang gemas menusuk-nusuk pipi Raka, membuat sang empu kedua pipinya merah seperti tomat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah kantor yang sangat besar dan megah, Mex sedang memimpin rapat. Dia sangat pintar sekali dalam menjelaskan serta menerangkan pembahasan rapat itu, dan akhirnya rapat pun selesai. Semuanya bubar lalu meningalkan ruangan, keculi Mex dan asisten pribadinya sendiri.
Mex duduk di singasana Alexsander yang biasa di duduki papanya, cowok itu memijit kepalanya perlahan. Entah kenapa dia terus saja kepikirian Zea.
“Tuan... Apakah anda baik-baik saja?”
“Cari tahu tentang istri dan anak tiri Baskara Adiputra, kalau bisa secepatnya!!” Perintah Mex dengan mengertakan giginya kuat.
Sewaktu pacaran dengan Alda dulu dia teringat ucapan gadis itu. Dia bersumpah akan merebut apapun yang dimiliki Zea. Kalau boleh jujur, Mex sangat muak menyebut Alda sebagai mantan kekasihnya.
“Baik tuan, akan segera saya laksanakan.”
“Ba-baik tuan, mereka sudah mulai bekerja seperti biasanya.”
Lihat saja tuan Baskara Adiputra, aku tidak akan membiarkanmu memperlakukan Zea dengan buruk. Aku akan membuatmu tertunduk menyesal di hadapan anakmu sendiri, kau sangat bodoh sekali telah di permainkan seorang wanita ular, batin Mex dalam hatinya sambil menyesap rokoknya dan jangan lupakan kakinya yang di letakkan tepat di atas meja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua mata siswa memandang ke mobil BMW keluaran terbaru yang masuk kedalam parkiran SMA Jakarta. Mereka terkejut saat Alda keluar dari mobil barunya, sedangkan gadis itu menatap sinis ke sekeliling yang menatapnya.
Sombong!!
“Eh, kalian tau nggak? Zea itu ternyata anak Baskara Adiputra. Dan si Alda itu cuman anak tirinya doang gais, kalian tau kan dia sombongnya kayak apa? Mana sering maki-maki Zea lagi. Dasar orang nggak tau diri!!”
“Iya, gue terkejut saat tau itu semua. Kok bisa ya papanya Zea menikahi mamanya Alda?”
“Halah, pasti itu cuman kasihan aja sama Alda dan mamanya, rumor yang beredar sih. Dulu katanya mama Zea dan mama Alda sahabatan sejak kecil.”
“Palingan juga mamanya Alda cuma manfaatin kekayaan Baskara, aja.”
“Betul!! Cuma anak tiri aja belagu, nggak malu apa sama Zea? Yang anak kandung aja tidak banyak gaya apalagi glamor. Tidak seperti dia tuh!! TIDAK TAHU DIRI SEKALI!!”
Cibiran itu di peroleh Alda saat berjalan di sepanjang koridor, dia sakit hati? TENTU. Walaupun yang dikatakan mereka semua benar, entah kenapa dirinya sangat marah dan tidak terima.
__ADS_1
Rasanya ingin sekali tangannya ini menampar Zea.
Selang beberapa menit, mobil Raka memasuki pekarangan sekolah. Mereka lagi-lagi dibuat terkejut saat melihat Raka dan Zea keluar dari mobil bersama. Apalagi mereka saling bergandengan tangan.
“Gilak, mereka pacaran?! Bukanya mereka sering berantem, ya?”
“Mantan ketua osis pacaran dengan ketua geng motor, sunguh keren ternyata, lah gue yang cuman mantan playboy bisa apa?”
"Serasi sekali, seperti Naruto dan Hinata rambut pendek."
Raka dan Zea senyum-senyum sendiri mendengar pujian mereka, sedangkan Alda menatap tak suka ke arah Zea.
Awas ya kau, anak sialan. Tungulah beberapa saat lagi, kau akan menderita seumur hidup lo, batin Alda dalam hatinya sambil berjalan kekelas.
BUAGH!!
Zega melempar tas ranselnya ke pungung Raka dan Zea yang berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, membuat keduanya menoleh ke belakang terkejut, dan hendak mengumpat siapa pelakunya.
Apakah Raka dan Zea kesakitan? Tentu saja tidak. Karena tidak ada Buku di tas Zega. Bisa di lihat di belakang Zega telah ada para teman-teman akrabnya.
“Songong bener ya kalian, baru jadian aja udah nggak inget sama kita-kita.” Ketus Zega memungut tasnya sendiri.
Iya. Semalam Raka memberitahu teman-temannya kalau dia jadian dengan Zea.
“Zeee... Demi apapun gue kesel banget sama lo!! gue dan Dira itu lo angep apa sih? Jadian nggak bilang-bilang.” Vina memukul pundak Zea dan di hentikan oleh Raka.
“Udah bebeb Vina, jangan galakin dia, nanti Zea nangis!” Zega memedang pundak Vina, dan mendapat pelototan tajam dari gadis itu. Sedangkan Zea hanya memutar bola matanya jengah.
“JAUHIN TANGAN LO!! Dan sekali lagi gue denger elo manggil gue bebeb, sekarang itu juga gue akan sunatin lo!” Vina menuding Zega dengan tajam, sedangkan Zega mundur sebelum gadis galak ini memukul kepalanya.
“Ya Allah ya tuhanku, apakah Bobi yang handsome ini tidak akan kau beri pacar? Bian sudah sama Dira, Raka sama Zea dan sebentar lagi kayaknya Vina sama Zega. Lalu aku sama siapa dong ya, Allah?” Bobi melihat ke langit sambil menegadahkan tangannya memelas.
Membuat kelima teman-tamanya tertawa terbahak-bahak, kasihan sekali Bobi ini. Setelah itu Vina dan Zega tersadar, Zega tentu senang dan langsung tersenyum... Berbeda dengan Vina yang langsung memutar bola matanya jengah.
Bobi masih setia menegadahkan tangannya, lalu Zea memberinya selembar uang berwarna Hijau.
“Gue kasih uang Bob, nanti beli aja pacar di Shopee dan cari yang gratis ongkir aja.” lagi-lagi tawa mereka semakin pecah, dan Bobi mengerucutkan bibirnya sambil menatap Zea kesal.
"Dua puluh ribu dapet apa? pacar bekas?!!" Dira menyahut, membuat Bobi semakin kesal.
"Sabar ya Bob, gue yakin calon pacar lo lagi otw kok. Mungkin jalanan macet mangkanya belum sampai juga." Cibir Bian sambil menepuk bahu Bobi, membuat cowok gempal itu semakin kesal saja.
Raka yang paling waras dan pintar tidak ikut-ikutan membully Bobi.
BERSAMBUNG❤.
See you next part gaissss, jangan lupa kasih aku hadiah wakawakawaka.
__ADS_1