
PESTA berlangsung sangat meriah, Karena banyak di hadiri kolega bisnis Baskara Adiputra.
Dekorasi yang sangat indah dan berkelas mampu menghepnotis mata yang memandang, dan berbagai makanan lezat telah di hidangkan seperti tidak ada habisnya.
Mereka semua menikmati acara malam itu, keculai Zea. Gadis itu tampak tak bersemangat mengikuti acara, kalaupun dia bisa, dia sudah memutuskan untuk pulang kerumah dari tadi.
Banyak sekali wartawan dan media masa sudah siap dengan cameranya masing-masing. Acara itu ditayangkan live di TV, setelah ini Zea pasti akan dikenal banyak orang. Pasti dia akan sulit membedakan mana yang mendekatinya karena uang, dan manya yang mendekatinya karena peduli da sayang.
Raka terus saja mencari sosok Zea, dia sangat yakin bahwa gadis itu juga datang ke pesta malam ini. Karena Zea adalah saudara Alda, itu yang Raka tau.
"Pa, ma. Kalian tau nggak? Aku ketemu Raka di sini, dia sangat tampan sekali." Ucap Alda dengan semangat kepada Baskara dan Susanti.
Susanti tampak kebingungan, pasalnya yang hadir acara malam ini hanya orang-orang penting saja.
"Benarkah? Berarti dia adalah anak salah satu kolega bisnis papa," jelas Baskara dengan tersenyum, di lubuk hatinya dia bahagia jikalau Alda bisa menikah dengan anak rekan bisnisnya.
"Nah itu dia pa, dia Raka!!" tunjuk Alda kegirangan saat melihat Raka yang mengandeng Ricky.
"Yang mana?" tanya Baskara penasaran, karena memang banyak orang disana.
"Yang gandeng anak kecil itu pa, dia Raka!!" ucapnya lagi-lagi menunjuk, Susanti dan Baskara pun mengikuti telunjuk Alda.
Disini Baskara sangat terkejut, karena yang dicintai Alda selama ini adalah anak teman dekatnya sendiri.
"Wah teryata kamu pinter juga ya cari cowok, kamu tau? Dia itu anak temen baik papa dari kecil," ucap Baskara dengan mengasak rambut Alda.
"Serius pa?!!" Alda antusias dan melototkan matanya tidak percaya.
"Masa papa bohong, dia itu sering rapat mewakili papanya, Namanya Raka kan? Dia anak yang sangat tampan dan juga sangat pintar seperti Nando."
"Benar, Raka memang pintar dan mendapat peringkat terus di sekolah. Boleh dong pa, kapan-kapan kita undang makan malam kerumah," Pinta Alda cengegesan.
"Gampang lah besok, papa fikirkan lagi,"
Kelvin melihat Zea sangat murung, dia tidak tega melihat adeknya yang biasanya sangat ceria, lalu menjadi sangat pendiam. Oma sendari tadi juga memperhatikanya, mereka bertiga duduk di kursi paling depan, sangat dekat dengan panggung.
Hingga suara MC membuyarkan perhatian mereka, lalu mereka fokus kepada sang pembawa acara. Semua tampak diam dan duduk dengan rapi. Begitu juga dengan Baskara, Susanti dan Alda yang berada di depan pojok kiri.
Susunan demi susunan acara telah selesai dibacakan oleh MC, Oma yang sendari tadi menatap Zea murung kini memegang tangan gadis itu dengan lembut.
"Jangan takut sayang, oma dan bang Kelvin ada untukmu," gadis itu pun hanya mengangguk da tersenyum.
Kalau nanti ada wartawan yang tanya sesuatu, apakah gue bisa menjawabnya? Sial!! Kali ini gue dalam posisi serba salah. Ucap Zea dalam hatinya.
"Baiklah langsung saja kita panggil, tuan Baskara Adiputra sang pemilik perusahaan ADIPUTRA LLP!! silahkan naik ke atas panggung." MC itu memberi arahan lantang, membuat semua tamu pun bertepuk tangan meriah.
Kini Baskara berjalan di atas panggung, dengan membukukan badanya sebagai tanda hormat. Zea tampak bangga melihat papanya dihormati dan dikenal banyak orang, papanya masih sangat tampan, gagah dan berani untuk umur seperti dia. Jika mungkin saja papanya selalu baik padanya, maka Zea adalah orang yang paling bangga dan menyayangi Baskara.
Tiba-tiba perkataan Baskara melintas dibenak Zea. "Saya tidak peduli denganmu. Mau kamu mati, mau kamu sakit, mau kamu jadi gelandangan sekalipun, saya tidak peduli!!" Seketika dada gadis itu menjadi sesak dan sakit tak terkira.
Gue benar-benar benci pada semua situasi yang tidak paham posisi seperti saat ini, geruntu Zea dalam hatinya sambil sesekali mengumpat.
__ADS_1
Setelah selesai berpidato di Podium yang telah di sediakan, akhirnya sesi tanya jawab pun berlangsung, Baskara mejawabya dengan sangat ptofesional dan mudah di mengerti. Wartawan pun menanyakan sesuatu lagi.
"Baiklah Tuan Baskara, sekarang perlihatkan pada kami semua anak dan istrimu. Biar semua orang tau keharmonisan keluarga Anda!!" pinta wartawan itu hormat sambil tersenyum.
Seluruh tamu undangan juga menyetujui pertanyaaan sang wartawan karena selama ini Baskara sangat low profile menyangkut keluarganya.
"Baiklah," balas Baskara dengan seulas senyuman. "kemarilah Susanti istriku, Kelvin dan Alda putra putriku." Kelvin membelalakan matanya, dia sangatlah terkejut, kenapa Zea tidak dipanggil? Padahal Zea adalah anak kandungnya sendiri.
Raka masih tak paham, dia mencoba berfikir keras. Tentang siapakah Zea itu sebenarnya. Kenapa? Baskara tidak menyebutkan nama Zea? Matanya terus mencari-cari keberadaan Zea, namun di manakah letak gadis itu sekarang? apakah Zea tidak hadir? tapi bagaimana mungkin.
Seketika jantung Zea seperti di tusuk ribuan paku, air matanya jatuh tak tertahankan di pelupuk Mata. Dia tak sangup jika terus-terusan mendengar dan melihat ini semua. Dia juga manusia biasa yang bisa sakit hati dan marah sekaligus iri.
Bolehkah jika Zea membenci papanya sendiri? Bolehkah jika Zea mengumpat papanya? Bolehkah dia berlari ke atas pangung, dan mengatakan bahwa dia adalah anak tunggal Baskara?!!
Bukanya dia mau di kenal banyak orang, akan tetapi dia cuman butuh pengakuan dari papanya Saja. Dia tak butuh uang yang banyak, asalakan papanya mau menyayanginya itu semua sudah cukup bagi Zea. Sungguh.
Karena papa Baskara adalah orangtua satu-satunya yang Zea miliki, lantas apakah dirinya ini serakah bila ingin mengambil papanya dari Alda dan Susanti?
"Majulah Kelvin," pinta oma dengan menepuk pundak Kelvin. "Jangan kawatirkan apapun, setelah ini ada banyak kejutan untuk kedua wanita licik itu, terutama Baskara." Zea hanya mendengarkan tutur Oma, dia tidak tau apa maksudnya.
Kalau begini, Zea itu sebenarnya bagian dari keluarga om Baskara apa bukan? Zea ayolah kamu di mana? apakah kamu baik-baik saja? please come on, kenapa aku sangat menghawatirkanmu sekarang. Gumam Raka dalam hatinya, sesekali mengusap wajahnya gusar.
"Ayo sayang kita maju ke depan, tunjukan pada dunia bahwa kau adalah anak Baskara Adiputra, sang pengusaha sukses di negri ini." Ajak Susanti menggandeng tangan anaknya jumawa.
"Baiklah, nyonya Baskara Adiputra," kekeh Alda menerima tangan mamanya maju ke panggung.
Mereka berdua berjajar mendekati Kelvin yang sudah berada di atas panggung. Sedangkan Baskara, dia duduk di kursi yang telah disediakan. "Heh kamu, ngapain di sini? Bikin nyampah saja," bisik Susanti lirih di Telinga Kelvin.
"Jadi ini adalah keluarga saya," terang Baskara yang duduk di kursi sambil memandang bagga ke merka bertiga.
Tidak sengaja matanya menatap kedepan, mata Baskara menatap Zea anaknya yang nampak menyedihkan dengan mata yang memerah menatapnya sulit di artikan. Dia tak peduli dengan raut wajah gadis itu, Baskara merasa puas sekali.
"Cih, bahkan aku jijik melihat para wanita licik itu bergaya selayaknya tuan putri dan ratu." Kesal Oma, lalu ditenangkan oleh Zea.
Semua para tamu memadang mereka, ada banyak sekali bisik-bisik. Bukankah istri tuan Baskara sudah meninggal? Itu yang ada di fikirkan mereka. Dan jikalu pun dia menikah lagi, kenapa anaknya sudah sedewasa itu. Pasti Kelvin dan Alda bukan anak kandung Baskara.
Raka mencari sosok Zea, matanya terus menyapu seluruh tamu. Dan berakhir pada gadis duduk paling depan, Raka dapat melihat gadis itu menyeka air matanya berkali-kali, lalu di tenangkan oleh wanita tua.
Ya tuhan, kenapa aku ikut bersedih saat Zea menangis?! Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Apa yang tidak aku ketahui? Geruntu Raka dalam hatinya merasa kesal. Sambil memangku Ricky yang sedang tidur pulas.
"Tuan Baskara Adiputra, maaf sebelumnya... Bisakah Anda jelaskan apakah Anda menikah lagi setelah kematian mendiang nyonya Gia Amora? Karena mengingat kelembutan dan cinta anda kepada beliau, Anda sepertinya sangat mencintainya dan mungkin tidak akan menikah lagi karena anda sudah memiliki anak darinya." tanya wartawan suruhan oma.
Seketika raut wajah Baskara kaget tak terkira mendapat pertanyaan seperti ini, karena saat briefing tidak ada pertanyaan seperti ini.
"Ya, saya telah menikah lagi," jawabnya singkat tak mau menjelaskan lebih detail.
Pa, jadi ini tujuanmu memaksaku datang kemari? Supaya aku sadar, bahwa aku tidak pernah ada di hati papa?! Sudahkah papa bahagia dengan memperlakukanku seperti ini, pa? hatiku sakit, Pa... Sakit. Batin gadis itu sambil terisak-isak memeluk oma.
"Mama kecewa padamu, Baskara." Ucap oma dengan memeluk Zea.
Raka masih kebingungan mendengar apa yang mereka bicarakan, lalu menoleh ke arah papanya. Terlihat Nando sedang memijat pelipisnya pening, menarik nafasnya dalam-dalam, seolah dia merasa tidak suka dengan pengakuan Baskara.
__ADS_1
"Lalu semua perusahaan besar Anda akan di berikan pada siapa Tuan?! Dan dimanakah anak dari istri pertama Anda?" Baskara mengeraskan rahangnya, seolah tak suka dengan pertanyaan itu.
Semua pasang mata, ribuan camera on, dan segala orang serta hal yang ada di ruangan itu tertuju padanya dan menuntut jawaban darinya.
Oma lalu menepuk pundak Zea sambil tersenyum.
"Majulah sayang, perlihatkan dirimu. Buat mereka kagum, dan jangan biarkan kedua wanita licik itu mengambil yang seharusnya bukan haknya." Namun Zea tak bergeming, dia takut.
"Jangan takut, okey? Oma akan selalu ada untukmu, cucu kesanganku!! yakinlah. Ayo maju!! ini adalah waktu dan moment terbaikmu sayang."
Dengan langkah hati-hati serta dorongan dari oma, akhirnya Zea berjalan naik keatas panggung, Raka tersenyum melihat gadis pujaan hatinya. Namun di mata gadis itu tampak menahan takut, Raka tau akan hal itu.
"Saya di sini!! dan saya adalah anak tunggal mendiang istri beliau satu-satunya!!" seketika semua camera mengarah padanya, dan banyak orang menatapnya berbeda-beda.
Baskara tampak kesal sambil mengepalkan tangannya, sama seperti Alda dan Susanti, mereka tampak sengit menatap Zea. Tepuk tangan sangat meriah, menyambut anak dari pengusaha itu. Zea tampak canggung karena menjadi pusat perhatian seluruh ruangan megah dan mewah ini.
"Izinkan saya mengulaginya lagi... Saya anak Gia, mendiang istri pertama beliau. Dan saya anak tunggal, dari pernikahan mereka. Sedangkan Alda dan bang Kelvin, mereka adalah saudara tiri saya." Diluar kendali, Zea mengatakan itu semua, pikirannya mencoba untuk berhenti mengatakan itu. Tapi mulut dan hatinya tak sejalan.
"Bagus sekali sayang!!" teriak Oma sambil mengacungkan jempolnya.
Jadi mama Zea sudah meningal? Kenapa aku baru tahu sekarang?! Apa ini Raka? katanya kamu mencintainya, tapi kenapa banyak hal di diri Zea yang banyak tidak kau ketahui? Gumam Raka lagi-lagi dan lagi dibuat terkejut setengah mati oleh semua hal ini.
"kenapa papa tersenyum?" tanya Raka melihat papanya yang tersenyum bangga menatap Zea.
"Kamu lihat anak itu, Rak? Dia adalah anak kedua teman papa sejak dulu. Zea Zea Zea, namanya Zea dia sangat pemberani seperti mamamya." puji Nando sambil tersenyum ke putra sulungnya itu, lalu dia mengambil Ricky dari pangkuan Raka.
Raka melihat papanya tampak sedih setelah itu, matanya berkaca-kaca menatap Zea.
Raka tak kuasa menatap gadis yang dicintainya telah kehilangan mamanya, bahkan gadis itu sangat pandai menutupi lukanya. Raka ingin sekali berlari ke atas pangung dan memeluk erat gadis itu, dan mengatakan pada semua media bahwa dia calon kekasihnya yang akan melindunginya.
"Wah, putrimu sama persis sepertimu Tuan. Saya akui selain dia sangat cantik natural seperti mendiang istri anda, nona Zea juga sangat pemberani, tapi menurut saya dia juga tampan dengan rambut pendek seperti itu." puji wartawan itu dengan tersenyum tulus dan mendapatkan hadiah tepuk tangan dan haru dari tamu undangan.
"Te-terimakasih," ucap Baskara kikuk.
Wartawan itu berjalan ke tengah-tengah panggung, matanya menyapu ke seluruh penjuru ruangan yang selalu terpusat di atas panggung yang sedang berbicara.
"Jadi kesimpulanya adalah, Tuan Baskara Adiputra hanya memiliki satu pewaris. Yaitu nona, siapa nak nama lengkapmu?" tanya MC itu dengan tersenyum menatap Zea lembut.
"Alfa Zea Adiputra."
"Bagus sekali, mari kita beri tepuk tangan pada pewaris tunggal Tuan Baskara Adiputra." Semua tamu tampak tersenyum dan bertepuk tangan riuh.
Akhirnya merka semua orang tahu, bahwa Baskara sang CEO hanya memiliki satu pewaris.
"Saya mohon sebelum acara berakhir, tuan Baskara dan nona Zea jangan meningalkan pangung terlebih dahulu. Karena kami akan mengabadikan momen indah ini."
Lalu Susanti dan Alda berjalan turun ke pangung, mereka merasa tak berguna di atas pangung itu. Sedangkan Kelvin tersenyum sangat bahagia, dia sangat bangga pada adek kecilnya itu.
"Bagus sekali sayang!!" Teriak Oma dengan tersenyum ke arah Zea.
...BERSAMBUNG....
__ADS_1