
"Kamu gila Mex!" parau gadis itu sambil memukuli pundak Mex, sedangkan sang empu hanya diam tidak menghentikan.
"Sttttttttt!" Mex menempelkan jari telunjuknya di bibir Zea, "jangan mengatakan itu, jangan marah tenanglah."
"Bagaimana aku bisa tenang? kamu membuatku tertekan Mex kalau seperti ini caranya!" ketus Zea, "jangan sampai penilaiannku tetangmu berubah Mex, jangan gila, pernikahan ini hal yang sakral jadi jangan mempermainkan semua orang! Jika kamu sampai nekat, aku akan sangat membencimu!"
"Apa kamu tau, kekayaan Raka tidak ada separuhnya dengan kekayaanku?"
"Aku tidak peduli!" sentak Zea dengan nafas memburu.
"Aku bisa menghancurkan bisnis Raka asal kamu tau, kalau dia bangkrut bagaimana kamu bisa hidup bahagia dengannya?"
"Aku pastikan itu tidak akan terjadi. Mencari masalah dengan Raka, sama saja mencari masalah denganku! Aku tidak takut ancamanmu dan aku akan memastikan bisnismu juga akan aku hancurkan jika kau macam-macam dengan calon suamiku! satu hal yang harus kamu tahu tuan Muda Alexsander! Aku tidak pernah takut sedikitpun jika kelak harus hidup sederhana bersama Raka!"
"Ucapanmu menyakiti hatiku Ze, sungguh!" lirih Mex, suaranya parau hatinya sangat sedih mendengar ucapan penuh berani gadis pujaan hatinya.
Tiba-tiba Mex mengeluarkan ponsel yang menyala dari saku jasnya, terlihat jelas bahwa ada sambungan telfon yang terhubung sejak tadi dengan kontak bernama Raka. Iya, semalam Raka menghubunginya dan memberikan kesempatan terakhir untuk Mex. Biar bagaimanapun Mex adalah orang yang selama ini bahkan sejak dulu selalu melindungi dan menghabiskan waktu bersama Zea. Mex tidak keberatan, malah dia berterimakasih pada rivalnya itu yang telah berbaik hati memberikan tawaran kesempatan untuk yang terakhir kalinya.
Zea melotot tidak percaya, sebenarnya apa yang di rencanakan kedua rival ini?
"Ini Raka yang meminta."
Raka yang sudah sampai di rumah Zea beberapa menit yang lalu, kini berdiri mematung di samping pilar besar depan Rumah Zea, telinganya mendengar seksama suara perbincangan Mex dan calon istrinya, hatinya sangat senang mengetahui Zea tidak goyah dengan iming-iming yang Mex berikan, rasa cintanya justru bertambah karena Zea mencintainya tanpa memandang harta, tapi mendadak dirinya juga merasa sedih karena pasti rivalnya itu sekarang sangatlah hancur.
"Mex... So-sorry, gue tidak tahu akan menjadi seperti ini pada akhirnya. Niat gue hanya ingin elo memiliki kesempatan sekali lagi, karena elo juga layak mendapatan Zea."
"Tidak perlu meminta maaf, justru gue berimakasih pada lo karena telah memberi kesempatan terakhir. Selamat menempuh hidup baru. Semoga cinta dan kebahagiaan selalu mengisi hari-hari kalian."
Mex mengatakan itu sambil menatap Zea yang tampak menyesali ucapannya tadi, dia rasanya ingin menarik kalimat pedasnya yang telah terlontar untuk Mex. Setelah mengucapkan itu, Mex mematikan sambungan telfon sepihak.
Mata Zea tampak berkaca-kaca, membuat Mex tersenyum sekilas, "Mex, ma-maafkan ucapanku tadi." Lirih Zea gemetar tak kuasa menatap Mex.
"Suuuuuut! Sudah, nanti air matamu jatuh, aku tidak mau wajah cantikmu di hari bahagia ini luntur. Mengerti?" jari telunjuk Mex bergerak pelan ke kiri dan ke kanan di depan mata Zea.
"Kenapa kamu tidak membenciku? padahal aku sangat menyakitimu? kamu harusnya membenci wanita jahat ini Mex!"
"Karena aku tidak bisa membencimu." Mex tersenyum dan menarik dagu Zea yang mendunduk sedih, “Ze..." Lirih Mex, membuat Zea tertegun, sepertinya pria di hadapannya ini ingin mengatakan sesuatu.
Zea diam sambil memperhatikan Mex yang nampak membuang wajah sebentar dan kembali menatapnya sendu.
"Apa aku boleh memelukmu untuk pertama dan terahir kalinya sebelum kamu menjadi milik Raka selamanya?” Suara Mex terdengar serak akibat menahan tangis, " aku mohon, please Z-."
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, Zea segera memeluk Mex sangat erat membuat hati pria itu bahagia sekaligus sedih.
Akhirnya untuk pertama kalinya, bagi seorang Mex Alexsander memeluk gadis yang di cintainya dan untuk kesekian kalinya, karena gadis bernama Zea membuat seorang taun muda Mex yang sangat kaya raya menangis dan sedih tak menentu. Kedua tangan Mex bergetar membalas pelukan Zea di tubuhnya.
Jika seandinya Raka tidak ada di dunia ini, maka Mex sangat cocok dan serasi bila menjadi satu pasangan yang sempurna.
Pelukan ini sangat menyayat dan menyakitkan bagi Mex, dia harus merelakan Zea untuk selamanya.
Lalu apakah rasa cintanya akan menghilang setelah Zea menikah?
Tentu tidak, sampai kapanpun gadis ini akan tetap bersemayam di hatinya.
“Tetap seperti ini dulu sebentar, aku mohon... Pelukan ini pasti akan selalu aku rindukan di masa mendatang.” ucapnya getir dengan menaruh dagunya di atas kepala Zea. “Jangan menangis, biar aku saja yang menangis.” imbuhnya lagi memeperingatkan Zea, kini mata pria itu tampak berkaca-kaca dan memerah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pesta pernikahan di gelar dengan sangat mewah, hanya orang-orang terpilih dan tamu kehormatan yang mereka undang secara resmi untuk menghadiri pernikhan mereka.
Zea menuruni anak tangga gadis itu di apit dua sahabatnya, membuat semua mata terfokus padanya selain Zega dan Bian yang fokus menatap istri masing-masing. Mereka orang sangat terpukau, membuat gadis itu tersenyum manis ke arah camera dan para tamu undangan. Sampai pada akhirnya, Zea telah duduk di samping Raka yang dari tadi tak berkedip sekalipun menatapnya sangat terpesona.
“My future wife, you are very beautiful (calon istriku, kamu sangat cantik sekali).” bisik Raka di telinga Zea, "terimakasih tetap memilih bersamaku."
"You are also very handsome, (kamu juga sangat tampan).” balas Zea dengan tersenyum malu, " you're welcome." imbuh Zea.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara demi acara telah berjalan sangat lancar. Mex yang dari tadi hanya bisa berdiam diri tanpa mendengarkan ucapan papanya yang mengajaknya bicara dari tadi namun hanya di diamkan Mex, mata pria itu terus tertuju pada sepasang insan yang telah resmi menjadi suami istri di pelaminan sana.
Dalam waktu kurang lebih tiga jam, tamu undangan mulai berkurang, mereka berpamitan dan mengucapkan selamat kepada mempelai pengantin. Tak tanggung-tanggung, mereka di beri sebuah kotak Sovenir rahasia, di dalam kotak berwarna Hitam bercorak kemerlip Silver itu terdapat sebuah Emas mini Gold. Tapi ada yang lebih unik dan lucu, bahwa ada Tiga tamu undangan yang tidak akan mendapatkan mini gold di dalam kotak rahasia itu, melainkan sebuah surat bertuliskan:
"Congratulations, anda mendapatkan satu iPhone 12 Pro Victory Pure Gold 18 karat. Silahkan di ambil tepat di ruang CEO perusahaan Adiputra LLP di waktu jam kerja."
“Happy wedding, Bro! Buat gue lima keponakan aja cukup jangan banyak-banyak." Zea melotot tajam mendengar ucapan Zega, sedangkan Raka tersenyum tanpa berkomentar apapun.
Vina langsung mencubit perut suaminya, "saranmu merusak dunia sekali sayang, jangan dengarkan makhluk rohalus satu ini Ze!" Zega meringis kesakitan membuat semua orang tertawa melihat keduanya.
__ADS_1
"Bercanda sayang, ampun sakit tau!"
"Dasar Zega somplak!" cibir Bobi karena Zega tidak pernah berubah, wataknya selalu di luar jangkauan sejak dulu.
Vina melepaskan dan menyilangkan kedua tangannya di dada, "nasehat dariku soal pernikahan adalah cinta yang tidak pernah luntur, hormat yang tinggi, dan mau suami mau membantu mengosok toilet, membantu mencuci piring, membantu mencuci baju, membantu menyapu, membantu mengepel, jika kamu mau melakukan hal itu Rak, Zea akan semakin cinta padamu."
"Apa Zega juga melakukannya?"
"Iya bro! kalau tidak, wah perang dunia ketiga beneran terjadi."
"Bian juga sering melakukan hal itu semua," imbuh Dira, membuat pipi Bian merona.
"Ayang Bobi pun juga melakukan hal itu." imbuh Ina yang tak mau ketinggalan.
"Apa kamu juga akan melakukannya untukku?" tanya Zea melihat suaminya yang juga menatapnya penuh Cinta.
"Lebih dari itu aku akan melakukannya untukmu." Zea tersenyum malu, sedangkan yang lain mencebikkan bibir mendengar penuturan Raka.
"Selamat atas pernikahan kalian! Setelah Zea berhasil mencuri hatimu, sekarang dia juga akan mencuri namamu dan seluruh yang kamu punya."
"Berarti aku ini pencuri ya sayang?" Dira mengerucutkan bibirnya lucu, Zea menahan tawanya yang lain pun juga sama.
"Bukan pencuri. Lebih tepatnya perampok." Dira melotot hendak marah, sebelum itu terjadi Bian menambah kalimatnya, "maksudku kamu berhasil merampok hatiku." seketika wajah Dira merona, membuat Bian gemas dan memeluknya dari samping.
"Awet banget keromantisan kalian, rahasianya apa sih?" Vina bertanya, karena suaminya itu jarang sekali berbicara romantis.
Zega lebih sering bercanda dan selalu membuatnya kesal setiap hari, namun anehnya Vina tidak merasa tertekan akan hal itu, karena Zega memilki keunikan tersendiri. Malah kadang, Vina tidak rela jika suaminya lembur di rumahsakit. Namun wataknya yang ketus dan keras membuat orang-orang berspekulasi bahw di tidak mencintai suami gilanya itu.
Bian dan Dira tidak menjawab, keduanya hanya tersenyum satu sama lain.
"Sekarang nasehat dariku. Aku tahu Ze, kamu selalu menyukai petualangan, dan ini akan menjadi petualangan terbesar yang akan kalian hadapi baik suka maupun duka! Jadi besabar dan bertahanlah." Zea mengangguk patuh, sedangkan Raka langsung menggengam tangan istrinya itu erat, karena ada seseorang yang menatap istrinya itu dari tadi, siapa lagi kalau bukan Mex.
"Pergi kita ke Kota Mekkah. Jangan lupa bawa Sajadah. Senangnya yang baru menikah. Semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warohmah ya?"
"AMIIIIIN!!"
"Sudah dulu makan es krimnya," Bobi mengambil paksa es krim di tangan istrinya, "Kamu sendiri yang brlum kasih nasehat untuk pernikhan mereka ayo segera berikan sayang. Yang jelas jangan kasih saran Zea untuk makan yang banyak, karena dia tidak suka makan sepertimu. Dan jangan kasih saran Raka untuk mencari pekerjaan, karena dia adalah CEO."
"Ina ndak tau harus kasih nasehat apa, yang jelas. Selamat atas pernikahan kalian berdua, jujur saja aku tau betul kisah cinta kalian, karena suamiku sering menceritakannya padaku. Mbak Zea, aku sangat ngefens mbak Zea dari dulu, embak oragnya baik, wajar jika semua orang menyukaimu. Apa mbak Zea tau? aku ini adalah anak yatim piatu yang berasal dari panti asuhan yang sering mbak Zea bantu beserta geng motor embak." Ina berkaca-kaca membuat semua orang trenyuh, apalagi Zea yang nampak terkejut.
Zea segera memeluk Ina erat dan menghapus air mata istri temannya itu, "jangan menangis, kami adalah saudara baru untukmu. Kamu memilih suami yang tepat Ina, karena aku yakin Bobi akan menjagamu dengan sangat baik."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Bapak dan anak sama saja, menjadi Budak cinta." ledek Baskara menjawil pundak Deon, membuat pria angkuh itu melengos.
“Maaf, anda siapa ya?” tanya Deon sinis lalu meningalkan Baskara, membuat papa Zea mendengus.
Mex tersenyum merkah, meski mereka semua tau kalau dia sangat sedih, “Aku mau mennyumbang lagu, kusus untuk dua pengantin yang ada di sana.” Ucapnya percaya diri dengan menatap Zea penuh cinta, kemudian menatap Raka sinis.
Mex tidak sendirian, dia bersama anak-anak Jakmoge yang sudah siap dengan alat musik masing-masing. Mereka sangat mencuri perhatian.
Raka semakin mengeratkan tautan tangannya pada Zea, "kamu tidak menyesal kan menikah denganku?" di sela-sela intro lagu yang akan di nyanyikan Mex, Raka bertanya pada istrinya.
"Apa perbincanganku sama Mex tadi tidak cukup membuatmu yakin padaku?"
Raka mengamati Zea dalam, lalu memeluknya erat seolah sangat takut kehilangan istrinya kembali.
🎶 Ku tak bahagia
Melihat kau bahagia dengannya
Aku terluka
Tak bisa dapatkan kau sepenuhnya
Aku terluka
Melihat kau bermesraan dengannya
Ku tak bahagia
Melihat kau bahagia
Harusnya aku yang di sana
Dampingimu dan bukan dia
__ADS_1
Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia
Harusnya kau tahu bahwa
Cintaku lebih darinya
Harusnya yang kau pilih bukan dia
Ku tak bahagia
Melihat kau bahagia dengannya
Ku tak bahagia
Melihat kau bahagia
Harusnya aku yang di sana
Dampingimu dan bukan dia
Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia
Harusnya kau tahu bahwa
Cintaku lebih darinya
Harusnya yang kau pilih bukan dia
Ho-wo-oh
Harusnya aku yang di sana
Dampingimu dan bukan dia
Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia
Harusnya kau tahu bahwa
Cintaku lebih darinya
Harusnya yang kau pilih bukan dia
.
.
.
Mex menyanyikan lagu Armada itu dengan menatap Zea dalam yang berada di pelukan Raka, mambuat matanya memerah. Raka tidak tau rasanya menjadi Mex. Jika dia yang berada di posisi pria itu, mungkin tidaklah sekuat Mex hatinya.
“Aku sudah menduga, bahwa hal ini akan terjadi,” Deon memasukan tangannya di saku celana dan memutar tubuhnya hendak pulang.
“Seperti kau melihat Gia bahagia bersamaku dulu, iya kan?” Deon kaget tak terkira, ketika Baskara sudah ada di hadapannya.
“Sudah berapa kali aku bilang? Jangan bicara denganku!”
“Terimakasih Kawan...” Teriak Baskara dengan tertawa lebar, dia menyadari sebenci apapun keduanya. Nyatanya Deon juga orang yang selalu menjaga putrinya selama bertahun-tahun di kota Amsterdam itu.
“Kawan? Sejak kapan kamu menjadi kawanmu? Asal kamu tau, aku tidak pernah sudi berkawan denganmu!” sinis Deon membalik badan, “jangan membuntuti aku lagi, awas!” dengan bodohnya Baskara mengangguk tanpa dosa, karena dari tadi dia memang mengikuti Deon kemanapun, ehehe.
Raka melepas sepatu hak Zea, lalu memijit kakinya sebentar tanpa banyak bicara, Raka mengendong istrinya ala-ala, Bridalstyle. Membuat para tamu undangan yang masih tersisa iri pada kelembutan Raka.
"Raka!! turunin aku! kamu mau membawaku kemana? aku malu di liatin orang banyak!"
"Kita akan bulan madu ke Dubai."
"Hah? serius."
"Serius sayang."
"Tapi aku ingin ke Barcelona."
"Baiklah tuan putri, kita pesan tiket setelah dari Dubai ya?"
Zea mengangguk sambil tersenyum malu lalu segera menyembunyikan wajahnya di dada bidang Raka.
...BERSAMBUNG....
__ADS_1
Ada yang rindu aku tidak?😫. Maaf ya yang sudah menunggu, banyak tuntutan real life yang tidak bisa di tinggalkan🙏. Semoga kalian tetap suka😁❣.