PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
15. Balap Liar.


__ADS_3

...Quotes....


..."Semua akan berubahp ketika kepala mulai mengandalkan logika dan sadar diri."...


Lanjut part 15🚴‍♀.


    SETELAH  kepergian Kelvin dari kamarnya, gadis itu merebahkan badan ke ranjang.


Zea mengembuskan nafas begitu panjang, lalu meraih jam weker Naruto-nya di atas Nakas. Lantas dia mengusap-usapnya dengan kedua tangannya, jam pemberian dari mamanya itu di jaga dengan baik. 


Tiba-tiba matanya tidak sengaja melihat  permen Yuppi yang tergeletak di tepi ranjang, dia menyernyitkan dahinya sekilas, lalu mengambilnya lantas berfikir beberapa detik, bukankah dia tidak pernah membeli Permen? Setelah di ingat-ingat, dia kemudiam sadar bahwa si Toge Raka yang memberinya, beberapa waktu yang lalu.


“Cowok aneh... Kenapa gue benci banget ya guys sama Raka? Dia itu random dan kayak Kentut Kucing.” gadis itu terus mengumpat dan memasukan permen itu di dalam laci nakas.


Disisi lain, seorang cowok berada di depan rak sepatunya, dia adalah Raka yang sedang memegang sebuah sepatu Sneakers berwana putih.


Sepatu itu punya Zea, dia menyitanya saat masih menjadi ketua OSIS dulu, karena dia sudah tidak menjabat lagi, maka dia membawa pulang sepatu gadis itu dan menyimpanya dengan baik. Semua barang-barang yang di sita di kembalikan. Kalau sekarang ketua OSIS memiliki visi misi berbeda dengannya, yang hanya mewajibkan Sepatu hitam di hari Senin dan  Selasa saja.


Dulu saat Raka menjabat, membuat peraturan yang mewajibakan semua siswa mengunkan sepatu hitam polos. Kalian pasti tau, bukan Zea kalau dia menaati peraturan sekolah. Kala mengingat kejadian itu, ada senyuman di bibir Raka. Akhir-akhir ini dia sering kali memikirkan Zea.


“Gue tidak bisa mengelak lagi, Ze... Ternyata gue dari dulu suka sama elo.” Gumam Raka sambil memasukan Senakers itu ke dalam kardus Sepatu.


Satu kata yang terlintas di benaknya saat ini, yaitu. Rindu. Padahal baru tadi mereka bertemu, tapi entah kenapa sekarang merindukan gadis galak berambut cepak itu. Tanpa berfikir panjang ataupun membuang waktu lagi, Raka meraih ponsel di saku celananya dan menelfon Zea.


Lama sekali tidak ada jawaban, sampai panggilan kedua Zea mengangkat sambungan telfon itu.


“Zea cantik di sini. Ngapain telfon?"


" 🤧."  Tidak ada jawaban.


"Jangan bilang kangen, nanti tak pukul.”


" 😖 ."


Di sebrang Sana Zea berbicara sambil mengenakan sepatunya, dia sudah bersiap menuju area balapan yang masih beberapa jam lagi. Dia jenuh di rumah bak neraka ini.


“Kalau gue kangen sama lo, lo bakalan kangen balik nggak?"


“Jelas tidak lah ya, haha.”


"Gue serius, Ze..."


"Iyaiiin aja, biar cepet diem."


Beberapa menit saling terdiam.


"Zeee... Masih di sana kan?"


"Ini tinggal arwahnya doang."


Raka mendengus, namun mencoba tenang. “Alfa Zea Adiputra yang cantik dan sedikit tampan. Sekarang gue seriusan... Semisal gue suka sama lo, elo bakalan suka balik nggak? Hehe.”


Raka tertawa renyah, dia tidak peduli respon Zea, yang terpenting bagi Raka adalah, Zea tau kalau dirinya telah mencintainya.


Asmara memang sulit di mengerti, hingga benci sekalipun dapat berubah menjadi cinta. Cowok itu berharap, semoga suatu saat musuh bebuyutannya itu berubah menjadi wanita masadepannya kelak.


“A-apaan sih, Rak. Gombalan lo nggak ngaruh buat usus Duabelas jari gue!”


Alibi Zea, entah kenapa perkataan Raka membuatnya tersipu malu, untung mereka tidak sedang berhadapan. Kalo iya, sudah dipastikan Raka akan melihat rona merah di pipi Zea.


“Astaga, jawaban apa itu? Tidak sesuai ekspetasi.”


“Emang gue pikirin?! Gue matiin nih, buruan mau bilang apa?”


“Gue tunggu lo di Caffe Loskar jam Delapan!! Jangan banyak tanya, atau gue panjangin rambut lo.” Tanpa menunggu jawaban Zea, Raka mematikan sambungannya.


“Oiiit, apa-apaan sih astaga. Raka emang ngesilin banget sumpah, gak ada otak, mana dia belum tau gue mau apa tidak.” Zea menunjuk-nujuk ponselnya yang mati sebagai tanda kemarahannya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah meraih jaket kulit hitamnya, Zea keluar dari kamarnya, tidak lupa juga dia manguncinya terlebih dahulu.


Berjalan santai sambil bersiul-siul memanggil cicak yang biasanya nongkrong di dinding. Hingga sampailah di tengah-tengah anak tangga, terlihat Baskara sedang memarahi Susanti.


“Dari mana saja kamu?!!” Ketus Baskara yang menatap tegas kearah Susanti.


“A-aku dari rumah temen mas,”


“Dari pagi kerumah temen sampai semalem ini? Temen macam apa dia?” Selidik Baskara membuat Susanti gelagapan, “kamu tau? Aku kerja banting tulang, sedangkan kamu bisanya cuman minta duit dan di hambur-hamburin!!! Bisa nggak kamu jadi ibu yang baik buat anak-anak, haaah?!!” amarah Baskara memuncak, suaranya naik satu oktaf.


“Kamu kenapa sih mas? Emang aku di rumah harus ngapain kan ada pembantu juga, aku nggak mau kalau cuman di rumah dan beres-beres aja!! Selama ini aku memaklumimu karena tidak pernah menganggapku sebagai istri, tapi jangan pandang aku seperti pembantu juga mas, bisa kan?”


PLAAAAAK!!


“Sewaktu Gia masih hidup, dulu dia selalu menurut padaku!!! Dia mengurus dan mematuhiku dengan baik!! Sedangkan kamu?!! Bisanya hanya minta uang setiap hari dan keluyuran nggak jelas. Jangan berlagak seperti ratu, ingatlah batasanmu, serta patuhi perintahku.”


Mata Zea membola, dia baru tau kalau papanya masih membanggakan mamanya, lebih gilanya lagi berlaku kasar pada Susanti. Dan apa tadi, Susanti bilang kalau papanya tidak pernah menganggapnya seorang istri?


Apakah benar?


Tapi, ketika ada dirinya papanya kerap kali bersikap manis pada Susanti dan Alda.


“Oh, jadi kamu belum bisa lupain istrimu yang lemah itu mas? GIA... GIA... GIA TERUSSS!! Aku benci wanita itu, kenapa aku tidak bisa mengantikannya?” Nada bicara Susanti menjadi keras dan emosional.


"TUTUP MULUT BUSUKMU!! ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!!" Susanti kelabakan tidak bernafas karena lehernya di cekik oleh Baskara.


“Ada apa ini dek?” Kelvin menepuk bahu Zea dari belakang.


“Biasa bang, si orang nggak tau diri itu habis ngelonte!!!” kata Zea dengan setengah berteriak.


“Jaga mulut kamu anak sialan!! Kau juga sering keluyuran malem-malem. Oh, atau jangan-jangan kamu puasin om-om ya, haha?!!” Geram dengan hinaan Susanti gadis itu mendekat ke arahnya.


“Emangnya gue seperti situ dan Alda? Yang selalu pakai pakian nggumbar aurat seperti nggak punya harga diri? Gue keluar malem cari uang, nggak kayak lo bisanya cuman ngemis dan merenggek seperti bayi sama suami. Kasihan banget sih hidup anda nyonya Susanti.”


“Elo yang harusnya jaga mulut wanita tua yang terhormat!! Sebenarnya alasan lo nikah cuman mau uang saja kan? Selamat elo berhasil membodohi orang yang menurut gue cerdas itu.” Zea menunjuk papanya yang wajahnya sudah memerah.


Karena geram, Baskara mengangkat tangannya hendak menampar Zea namun di hentikan oleh Kelvin, “STOOOP!! Pa, yang di bilang Zea benar, dia ikutan balapan  cuma mau bantu aku bayar SPP yang belum lunas, papa harusnya adil dan nggak gini!! Kelvin kecewa sama papa!!”


Tidak mau mendengarkan keributan lagi, gadis itu bergegas keluar menuju garasinya. Hatinya begitu pedih saat papanya hanya diam kala melihatnya di hina.


Di sini Baskara tidak bisa berkutik, hatinya seperti di tikam jutaan batu, anak itu tidak lagi memanggilnya papa. Dia juga tersadar karena selama ini hanya Alda dan Susanti yang selalu diberinya uang.


Baskara salah, pemikiranya yang dikanal banyak orang pintar tapi dia tidak bisa menerima kepergian istrinya dengan lapang dada. Secara apapun Zea tidak bersalah dalam hal itu, karena hal tersebut murni kecelakaan semata. Namun ada sesutu yang janggal di kecelakaan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Caffe.


Gadis itu sudah duduk di Caffe, dia mengeluarkan sebungkus rokoknya dan menghisapnya. Tak lupa juga dia telah memesan coffee latte, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak gadis itu dari belakang.


“Hay,,,” Raka tersenyum dan meletakan sepatu itu di hadapan Zea.


“Apanih?”


“Buka aja, gue yakin lo bakalan seneng!”


Tanpa menunggu waktu lama, gadis itu membuka kardus itu, setelah terbuka, matanya berbinar. Sepatu mengemaskannya masih begitu bagus, sudah lama sekali dia ingin membelinya lagi karena yang ini masih di tahan Raka.


“WOAAAAAAAH!!! Sepatu gue akhirnya kembali ju-,” Raka membungkam mulut Zea, gadis itu berbicara sangat keras, membuat para pengunjung caffe memperhatikan keduanya aneh.


“Hehehe... Maaf, gue terlalu antusias,” Zea mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


AWWWW!!


Raka meringis karena tangannya terkena ujung rokok Zea.

__ADS_1


“Aduh maaf Rak, mana yang sakit? Mana yang panas?” Zea memegang tangan Raka dan meniup-niupnya cemas.


Jarak diantara keduanya sangat dekat, entah kenapa saat gadis itu mendekat bau parfumnya selalu membuatnya nyaman. Detak jantungnya berpacu dengan cepat, dia takut kalau gadis didepanya ini mendengar saking kencangnya.


Raka tidak mau berpaling dari pesona Zea, wajah gadis itu menurutnya begitu sempurna. Mungkin banyak sekali cewek yang lebih cantik darinya, namun bagi Raka, kecantikan Zea berbeda dan istimewa.


“Kok malah bengong, sih?” Zea menginjak kaki Raka, membuatnya meringis kesakitan dan tersadar.


“Lo tau suapaya gue nggak sakit?”


Gadis itu menyernitkan dahinya seolah bertanya apa masukdnya, “Lo harus berhenti ngerokok, Ze!! Ini gak baik untuk kesehatan lo!!” Raka meraih rokok Zea dan mematikanya di asbak, “gimana kalau seandainya orangtua lo tau, pasti dia akan kecewa!” Raka berbicara dengan lembut sambil mengusap tangan Zea penuh kasih sayang.


Seandainya lo tau Rak, papa gue gak bakalan peduli apapun yang gue lakuin. Gue juga nggak mau bikin mama gue kecewa di surga, tapi apa yang bisa gue lakuin? Gue butuh pelampisan.


Gue rela merubah penampilan gue hanya karena mencari perhatian papa, gue rela dipukulin dan di kata-katain kasar, asal papa merhatiin tingkah gue; batin Zea dalam hati.


“Ze... Lo denger gue ngomong kan?”


“Eh iya Rak, udah jam sembilan nih, bentar lagi balapan dimulai, gue pergi duluan ya? Terimakasih udah ngembalikin sepatu gue." Zea pergi dengan senyuman dan menenteng sepatunya, Raka hanya bisa mengela nafas menatap kepergian Zea.


“Gue sayang sama lo, Ze!! Gue hanya gak ingin lo kenapa-napa,” ucapnya dengan keluar dari caffe menuju motornya, dan segera mengejar Zea.


Disebuh pingir jalan telah ramai anak muda, berbagai jenis model wanita ada disitu. Dengan motor mereka yang ditata rapi di samping jalanan, entah kenapa penonton kali ini begitu banyak.


Zea melewati tengah jalan itu dan menjadi pusat berhatian, banyak yang menyorakinya karena kagum. Disana juga sudah ada sang lawan balap liar, dia seorang cowok berbadan besar dan terlihat sangat angkuh. Seolah dirinya yang paling hebat di situ, betapa menjijikanya cowok itu dikelilngi bayak cewek.


“Woi!!! Dari mana aja lo?” tanya Bian mendekati Zea, di ikuti Bobi dan Zega dibelakangnya.


“Habis kencan bareng gue,” Raka muncul dengan tiba-tiba dari belakang mereka.


“Subhanallah!!! akhirnya mereka berdua ehem-ehem juga,” Bobi merangkul lengan Zega yang sendari tadi diam.


“Lepasin anjir!! Ketampanan gue bisa melorot entar di mata para cewek, di kira nanti gue homo lagi!!”


.


.


Zega melepas tangan Bobi dengan kasar, membuat mereka tertawa dengan tingkah keduanya.


“Makanya cari pacar!!! Biar gak di gelendotin Bobi mulu!” Zea mencibir Zega yang masih kesal pada Bobi.


“Gue tetep demen Vina gak mau yang lain. Tapi dia kayaknya anti banget kalau sama gue.”


“Tembak aja dulu!! Soal di terima apa kagak, serahin sama Bobi aja, entar gue gak mau tangung jawab,” yang lainya hanya memutar matanya jengah mendengar penjelasan Bobi.


“Sejak kapan lo suka Vina?” tanya Zea sambil tertawa.


“Pura-pura aja lo, kayak gak tau aja.” Bian menjawab pertanyaan itu, sedangkan Zega hanya menunduk malu. Tangannya mengepal hendak menghantam Bian namun di urungkan.


"Kalau Bian suka Dira. Tadi malem habis kencan naik Bemo, Ze... Gue papasan sama mereka berdua, suer."


"Mata lo soeeek. Kagak anjir, orang gue naik odong-odong kok."


"Seriusan?!!" Tanya Zea tak percaya.


Sedangkan Bian mengangguk dan di toyor Zega, "kampret... Si Dira kok gak bilang," Gerutu Zera kesal.


Balapan sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu, sang lawan ada di depan gadis itu dengan jarak kurang lebih 5 meter. Zea tampak tenang melajukan motornya, dia melihat kemampuan sang lawan sampai mana. Dari belakang terdengar keras suara sorakan demi sorakan menyemangati keduanya. Hingga akhirnya Zea geram lawanya semakin menjauh didepan, tak tingal diam akan hal itu. Dia mengerahkan segela kemampuannya. Tepat di tikungan menuju garis finis, Zea mampu menyalip sang lawan dan akhirnya:


“Zea!”


“Zea!”


“Zea!”


“Cie selamat Ze, akhirnya lo menang juga. Nih minuman buat lo!” tiba-tiba Mex datang dan memberikan sebuah minuman dingin, dan merangkul pundak gadis itu.

__ADS_1


Sedangkan....


__ADS_2