
...HEPPY READING❤. ...
"Istri anda baik-baik saja Tuan, dia hanya sedikit kelelahan."
Dokter muda itu tersenyum, wajahnya seketika merah merona melihat Raka yang sangat cemas. Dia ingin sekali mempunyai suami yang sangat perhatian kepada istrinya seperti itu.
"Tapi dia baik-baik saja sejak tadi, Dok. Dia merawat saya yang kebetulan tiba-tiba Demam." tergurat wajah cemas masih mendominasi di wajah Raka melihat bibir istrinya pucat.
"Kalau boleh tau, Tuan Raka sakit apa?"
"Kepala saya terasa berat dan sakit, terus muntah-muntah dan suhu tubuh panas."
Dokter muda itu tersenyum kembali, setelah memeriksa lebih teliti tubuh Zea.
"Tenang saja tuan Raka, istri anda hanya kelelahan dan sedang mengalami Trimester pertama dan soal anda yang tiba-tiba sakit, itu karena anda mengalami sindrom Couvade."
Raka nampak kebingungan tidak tahu apa yang di maksud dokter itu langsung bertanya.
"Trimester pertama? apa itu bahaya bagi istri saya? dan apa tadi, saya mengalami sindrom Couvade? apakah bisa di sembuhkan?"
Dokter itu tertawa sambil menutup mulutnya, kemudian menjelaskan dengan sabar.
"Sindrom Cauvade adalah sindrom kehamilan simpatik, tidak berbaya dan biasa terjadi pada banyak suami, selamat sekarang anda akan menjadi seorang ayah, Nyonya Zea hamil Lima minggu."
Wajah Raka sangat serius, sampai pada kalimat yang menyatakan bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah membuatnya menelan ludah susah payah saking tidak percayanya.
"Ul-ulangi lagi Dok! saya akan jadi apa?!" tanyaya tak sabaran sambil menahan nafas.
Dokter muda itu tersenyum tipis, melepas masker dan menatap Raka yang wajahnya sering terpampang di Koran dan Televisi sebagai Bisnisman muda. Ternyata aslinya lebih tampan dan berkarisma, wajar jika banyak yang ingin menjadi istrinya, namun rumor selalu bilang bahwa dia sangat mencintai istrinya sejak remaja.
"Istri anda hamil 5 Minggu."
Raka langsung sumringah tidak lupa berterimakasih pada tuhan yang telah memberinya buah hati dan mencium perut istrinya membelainya penuh kasih sayang dan mengecup dahinya sangat lama, hatinya sangat senang tak tergambarkan dia terharu tak terkira, akhirnya setelah penantian beberapa bulan Zea hamil juga. Bahkan sampai terharunya pria itu sampai berkaca-kaca, tak peduli pada Dokter muda yang menatapnya.
"Terimakasih banyak Dok, ini adalah kabar yang selalu saya tunggu-tunggu. Saya sangat bahagia sekali, saya janji akan memberikan Tip pada anda dua kali lipat dari gaji bulanan anda."
Dokter itu melongo tak percaya, "ti-tidak perlu tuan, terimakasih."
"Sebagai tanda bahagia kami, tidak apa-apa."
"Te-terimakasih banyak Tuan, jujur ini terlalu berlebihan buat saya."
Dokter muda itu sangat terharu dan terpana melihat Raka yang begitu mencintai istrinya dan sangat dermawan. Pria tampan itu tidak menangapi dokter itu lagi, malah dia tersenyum melihat istrinya tanpa berkedip, ingin sekali Raka memeluk istrinya menghujainya ciuman, memberi tahu dua keluarga besarnya serta teman-temannya.
Raka tersenyum semakin lebar melihat istrinya yang perlahan membuka mata, setelahnya memegang dahi karena pening.
"Sayang apakah masih sakit?"
"Kepalaku sakit."
"Baiklah-baiklah jangan banyak bergerak, istirahat saja ya jangan kelelahan." Raka mengusap-usap dahi Zea dan mencium keningnya.
"Kita di mana?"
"Di rumahsakit."
Zea langsung menarik tangan Raka dan memeluknya sangat erat seperti anak kecil, "aku takut, bawa aku pulang, aku tidak mau di sini. Aku tidak mau minum obat dan di infus."
Dada Raka terasa nyeri, istrinya ini memiliki trauma berada di rumahsakit, mengingat dulu banyak sekali alat kesehatan yang melekat di tubuhnya dan obat-obatan yang harus dia telan setiap hari. Belum lagi saat kakak iparnya membawa Zea menjalani pengobatan di Singapura dan Amsterdam untuk pengobatan lebih baik.
"Hey. kenapa harus takut? ada aku di sini dan anak kita di perutmu sayang. Kamu harus kuat dan sehat ya?"
"Anak kita?" Raka mengangguk dan memeluk istrinya yang nampak syok.
.
.
.
.
.
"Ada beberapa hal yang harus di hindari agar istri anda bisa melewati masa kehamilan muda dengan baik."
"Saya akan memberikan rangkuman apa saja yang harus kalian hindari. Tiga hal pokok utama yang akan saya jelaskan detail dan terperinci."
Raka dan Zea mendengarkan cermat, mereka duduk berdekatan di depan Dokter muda itu berjarak meja di tengahnya.
"Yang pertama, istri anda tidak boleh kelelahan dan banyak fikiran. Tuan Raka, saya tau anda adalah seorang pembisnis, saya hanya berpesan agar istri anda tidak berpergian jauh terlebih dahulu, apalagi naik ke Pesawat selagi masa kehamilan masih Trimester pertama. Perjalanan yang sangat jauh juga tidak saya sarankan."
__ADS_1
Raka mendengarkan serius sesekali mengangguk, berbeda dengan Zea yang mengusap-usap perutnya dengan tangan gemetar untuk pertama kalinya, dia tidak menyangka bahwa di dalam rahimnya ini ada malaikat kecil hasil buah cintanya bersama sang suami. Setelahnya Zea tersenyum dan memeluk tangan suaminya, merapatkan tubuhnya karena takut melihat alat kedokteran di samping meja. Raka yang paham akan rasa takut istrinya segera menggengam tangannya erat.
"Kedua, tidak boleh makan dan minum sembarangan. Contohnya seperti minum Alcohol, makanan yang terlampau pedas dan mentah yang tidak steril, serta obat-obatan yang tidak ada di list kategori baik di konsumsi untuk ibu hamil."
Raka dan Zea lagi-lagi memgangguk mengerti.
"Sebelum saya teruskan apa ada pertanyaan sampai disini?"
"Apa berhubungan int*im masih diperbolehkan?"
Pipi Zea seketika merona, tangannya langsung mencubit pinggang Raka yang nampak santai dan kaku, sedangkan dokter muda itu menahan senyumnya mati-matian melihat Zea yang sangat kesal pada suaminya yang tetap cool bertanya tanpa rasa malu sedikitpun. Malah Raka asik menaik-turunkan alisnya menggoda Zea yang cemberut.
"Pertanyaan bagus, dan ini adalah penjelasan ketiga. Berhubungan intim dapat mengakibatkan risiko perdarahan pada trimester pertama, yang perlu tuan ingat adalah kesehatan ibu dan bayi itulah yang terpenting. Selain hanya pendarahan, bisa menyebabkan hal fatal yaitu keguguran, infeksi, plasenta previa dan kelahiran prematur."
Raka seketika melemas, ini adalah buah hati pertama dia harus menjaga istrinya dengan sangat baik, tak masalah jikalaupun harus menahan hasratnya untuk sementara waktu.
"Tenang Tuan Raka, saya akan memberitahu kapan waktu yang diperbolehkan untuk berhubungan, jika perlu anda dan istri bisa konsultasi dengan saya pribadi."
Raka bernafas lega, dia mengira bahwa dirinya harus menahan hasratnya sampai sembilan bulan.
.
.
.
Seluruh keluarga Raka dan Zea sangat bahagia, Nando dan Riska senang akhirnya akan memiliki cucu pertama. Jangan tanyakan Baskara yang menangis memeluk putrinya saking bahagianya. Entahlah, yang jelas sampai sekarang dia masih belum percaya bahwa putrinya sudah dewasa dan akan menjadi seorang ibu.
Berbeda dengan Mex, yang hadir di tengah-tengah mereka sedang fokus menatap ponsel. Tak menghiraukan kabar kalau perempuan pujaan hatinya telah hamil anak rivalnya, sungguh kampret sekali si Raka, batinnya dalam hati merasa tak terima namun dia bisa berbuat apa?
"Kamu tidak mau memberi selamat atas kehamilan pada istri Rivalmu Mex?" Baskara bertanya, sedangkan yang lain menahan tawa.
Bagi mereka Mex sudah biasa di bully di dua keluarga ini. Nando juga mengenal pemuda itu baik, bahkan keduanya sudah menjadi dua rekan bisnis. Semua laki-laki yang berada di sini sangat terpukau akan kecerdasan Mex dalam menjalankan bisnis di dalam negri maupun di luar negeri, tak sia-sia Deon mendidiknya dengan sangat sempurna. Kelvin tak sedikitpun terkejut, karena dia sangat mengenal laki-laki itu sejak lama.
Mex berdiri dari duduknya, melipat kedua tangannya songong menatap Raka yang melototinya.
"Pengeran Fazza menggelontorkan 1M hanya untuk bertemu denganku. Yaaaa, walaupun itupun harus membuat jaji temu dulu itupun tidak gampang dan sembarang waktu. Kesimpulannya, jika ingin mendapatkan ucapan selamat dari Mex ganteng mantan tunagan Zea, harap membuat janji terlebih dahulu ya Tuan Raka, waktu saya sangat mahal dan berharga. Maaf sekarang Raja Brunei Darussalam sedang menungguku untuk urusan bisnis, saya pamit terlebih dahulu."
Raka memutar bola matanya malas, berbeda dengan yang lain malah tertawa terbahak-bahak. Mex aslinya tidak sombong seperti ini, tapi entah kenapa jika berhadapan dengan Raka rasa menyebalkannya muncul.
"MEX TUNGGU!"
Semua orang menatap Zea, apalagi Raka yang langsung cemburu ketika istrinya itu memanggil Mex. Pria yang di panggil pun seketika berhenti, tanpa menoleh kebelakang.
Perempuan itu berjalan menghampiri Mex membuat semua orang bingung, apalagi Mex yang terlihat kebingungan karena Zea menatap dirinya dari atas sampai bawah berulang kali, tak hanya itu, perempuan itu memutari tubuhnya menyelidik.
"Duduk dulu, Mex. Aku mohon!" Zea menyatukan kedua tangannya memohon membuat Mex iba.
"Baiklah-baiklah, kusus untukmu saja Nona, waktuku tidak ternilai jika menyangkutmu, aku dengan senang hati akan duduk kembali."
Raka semakin geram ingin memukul kepala Mex dan merobek mulut menyebalkannya itu. Tapi semua orang tau, bahwa Mex tidak akan nekat merebut Zea dari Raka. apalagi dirinya tau bahwa keduanya saling mencintai.
"Sayang, apa-apaan sih? dia itu mau pergi tau, biarkan dia pergi."
"Anakmu ingin menatap wajah uncle Mex."
Mex terbatuk-batuk, apakah pendengarannya salah?
"Kenapa harus wajahnya sayang? kenapa tidak papanya ini kan juga tampan? atau wajah Bang Kelvin, atau Kenzo atau Ricky. Atau papa Nando atau papa Baskara? Kenapa harus Mex?"
Semua orang tertawa melihat Raka yang sangat kesal dan cemburu.
Mau tak mau, para orangtua menengahi dan memberikan penjelasan pada Raka walaupun tidak dapat di terima oleh pria itu, sedangkan Mex cengengesan menatap rivalnya, sedangkan Zea asik duduk di samping Raka dengan menopang dagu menggunakan kedua tangan, jangan lupakan matanya yang semakin menutup dan akhirnya tertidur di pundak suaminya.
.
.
.
.
3 BULAN KEMUDIAN.
02:00.
"Sayang bangun!"
Raka menggeliat kemudian membuka mata, melihat istrinya yang duduk di atas ranjang dengan rambut terurai indah.
"Kenapa sayang? kamu mau makan?"
__ADS_1
Zea menggeleng pelan, "mau minum?" Zea tetap menggeleng, "lalu mau apa?"
"Mau pipis." Kata Zea malu-malu menggingit jemari kukunya.
"Ya udah ayo, aku antar ke kamar mandi."
"No! tidak di kamar mandi ini."
"Hah? lalu di mana? di got? jangan bercanda istriku sayang." Zea tertawa sekilas kemudian menggeleng.
"Aku mau pipis di kamar mandi kamarmu di rumah mama Riska." kata Zea malu-malu dengan pipi merona.
Raka melototkan matanya, mendengar permintaan istrinya yang diluar nalar.
"Kamu bercanda kan sayang? ini udah jam dua malam loh."
"Memang kenapa?"
"Cuman pipis aja masa mau kesana? aku gendong ke kamar mandi aja ya? oke?"
"Kamu tidak mau nganterin aku? ini anak kamu yang minta loh, katanya mau lihat kamar mandi papanya." Ketus Zea sebal melihat suaminya yang malah menguap.
"Bukannya tidak mau nganterin sayang, tapi perutmu nanti sakit nahan buang air kecil. Janji deh besok pagi aku anter kesana pagi-pagi, kalau perlu kita mandi pagi bersama di sana."
"Kalau kamu tidak mau nganterin sekarang ya sudah, aku berangkat sendiri." Zea turun dari kasur dan menyambar kunci mobil milik suaminya.
"Oke-oke aku akan antar, jangan nekat kamu, bikin aku hawatir aja." Zea tak menghiraukan membuat Raka lari dengan langkah lebar untuk menuntun istrinya.
.
.
.
.
Raka menahan nafas setelahnya menghembuskan sangat panjang, melihat Zea yang tertidur setengah perjalanan menuju rumah orangtuanya.
"Kamu masih di dalam perut saja sudah merepotkan papamu sekali nak, awas saja jika kamu besok nakal seperti Simbah Mex! papa tidak segan-segan menjewer telingamu."
"Dan mama akan menjewer telingamu, Pa."
Raka melotot, tangannya yang tadi mengelus perut Zea di tepis istrinya yang tidur terlelap itu sambil mengelus perutnya tanpa sadar.
"Oh woww, mulai menggoda papa ya kamu? asal kamu tahu ya, kamu tidak boleh mengambil mamamu dari papamu ini, dia itu istriku selama-lamanya. You understand?"
"Dia juga mamaku dan aku akan merebutnya dari papa."
lagi-lagi Raka di buat terkejut setengah mati dengan jawaban itu, Zea sedang tidak terjaga dia masih tertidur lelap. Bagaimana bisa bayi di dalam kandungan itu menjawab lewat mulut istrinya yang sedang tertidur? aneh sekali.
"Kenapa kamu menyebalkan sekali??" Sambil menyetir Raka asik berbicara, menurutnya ini momen langka sekali bisa terjadi.
"Karena aku anak mama, papaku yang payah."
"Hah? apa kamu bilang tadi?!" ketus Raka tak terima di katain payah.
"Aku bilang apa?" Zea mengerjab sambil menguap lebar menatap suaminya yang menahan kesal.
"Emmmm, tidak-tidak. Maksudku kita sudah sampai sayang, ayo turun." Raka membelai kepala Zea sayang membuat perempuan itu mengangguk.
kedua pasangan itu mengendap-endap masuk kedalam rumah seperti maling, untung saja Raka memiliki kunci duplikat rumahnya.
Zea menghembuskan nafasnya lega, setelah keluar kamar mandi, menatap kamar suaminya sekaligus mantan ketua osisnya yang perfect sangat rapi dan bersih sekali, banyak foto miliknya yang terpasang indah di dinding membuatnya tersenyum bangga.
"Sudah puas tuan putri?"
Pertanyaan itu membuyarkan pandangan Zea menyapu kamar Raka yang tak jemu-jemu ia pandangi setiap datang kemari.
"Hehe, sudah. Terimakasih suamiku."
"Terimakasih saja nih? tidak di kasih yang lain?" goda Raka menaik-turunkan alisnya.
Zea lengsung memeluk dan mencium kedua pipi suminya, tak lupa dia selalu jinjit setiap kali hendak mendaratkan bibirnya di pipi pria itu.
Badan Zea yang semakin berisi membuat perempuan itu semakin seksi di mata Raka, dengan daster bahan satin membuat Raka berulang kali menahan hasratnya.
"I miss you too tonight, let's do it."
Lirih Zea manja di teliga suaminya, membuat Raka tersenyum sumringah, bahagia tak terkira. Pria itu langsung megendong tubuh Ze ke atas ranjang miliknya dan meletakkan istrinya itu sangat pelan, setelahnya membelai perut Zea yang semakin membuncit, kedua tangan Zea memegang kepala suaminya, Raka bergerak aktif menyusuri bagian inci yang dia mau.
Zea memejam dan menerima segala sesuatu yang akan di lakukan suaminya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG....
Mau di lanjut lagi gak nih wkwk👶🤣. komen ya hehe, salam rindu dari penulis yang sangat keset update ini😭😖❤.