PAPA SAYANGILAH AKU

PAPA SAYANGILAH AKU
13. Makam mama.


__ADS_3

...HEPPY READING❤....


DI kelas yang begitu berisik membuat Zea tidak nyaman akan tidurnya, dia tertidur dengan kepala dimasukan kedalam tas hitam Jansportnya semenjak beberapa menit yang lalu. Sedangkan Vina dan Dira asik menonton drama Korea di laptop, mereka saling menggigit kuku karena terpesona ketampanan para aktor di dalam film.


"Class hours have anded, students can pack up and go home. See you tomorrow morning." Suara sepeaker dari berbagai penjuru kelas mengema begitu serentak.


"Sialan!!! Nanggung banget astaga," kesal Dira sambil mengigit pensilnya sampai membentuk batik di ujingnya.


"Bener banget, astaga."


Saking Geregetnya Vina sampai mencolek layar laptopnya, tersenyum kegirangan seperti orang gila yang lepas dari rumahsakit jiwa.


"Buset, liat noh Vin, temen lo!!" seru Dira sambil menyikut lengan Vina yang masih saja menatap layar laptop, seketika dia membalikkan badan melihat ke meja Zea.


"Astaga, bodoh sekali temen lu, Dir!!!" Vina melototkan matanya saat melihat kepala Zea yang dimasukan kedalam tas, "Ze-Zea...!! Elo udah mati atau masih hidup?" Vina mengguncang bahu gadis itu sangat kencang, membuat Dira tertawa memegangi perutnya yang lucu melihat kelakuan Vina.


Geram karena gadis itu tidak juga bergeming, Vina membuka tas Zea dengan paksa.


"Lo mau pulang apa kagak, heh?" ketus Dira sambil menjembreng mata gadis itu.


Zea mengerjab-ngerjabkan matanya. "Nanti aja lah, bentar lagi Abdul Mateen mau jemput gue," ucapnya ngelantur, suaranya khas bangun tidur.


BYUUUUR!!


Vina yang kebetulan sedang meminum air, merasa tersedak saat Zea mengatakan itu, bahkan dia menyemprotkan air mineral ke wajah Zea yang setengah tersadar, sedangkan Dira tertawa memegangi perutnya.


"VINAAAAAASUUUU!!" Pekik Zea sambil mengusap air di wajahnya kasar.


"Makan tuh Abdul Mateen!! Halu lo ketigian Ze, mana mungkin pangeran Brunei itu mau sama elo..." Setelah mengatakan kalimat pedas itu, Vina berbalik badan sambil menggendong tas di pundaknya, "ayo, Dir... Biarkan si cecunguk ini halu di dalam kelas sendirian..."


Dengan berat hati Zea mendengus tak lupa mengusap-usap dadanya mendengar setiap kalimat pedas sahabat baiknya sendiri, dia membuntuti kedua sahabatnya itu dari belakang, sedangkan Vina dan Dira berjalan begitu mesra seperti pasangan lesbi karena bergandengan tangan.


dan Nasib Zea seperti siswa yang sering di bully tidak memiliki teman untuk di gandeng. Dasar menyebalkan. Sepertinya dia benar-benar harus memecat Vina dan Dira beneran sebagai sahabatnya.


"Daaaa, Zea sayangkooooh hati-hati di jalan ya!" Teriak Vina ketika sampai di antara parkiran Mobil, beberapa siswa menoleh ke arah mereka.


Parkiran motor di mana tempat Zea parkir memang sedikit jauh dari parkiran mobil, membuat ketiganya harus berpisah.


Zea tadi sempat berfikir kalau kedua sahabatnya lupa jika ada dirinya, ternyata tidak.


"Jangan teriak-teriak juga kali, malu di dengar netizen julid!" Balas Zea sambil berteriak, tak lupa mengacungkan kedua jempolnya.


"BETUUUL TAKUT DI CONTOH ADEK KELAS YANG IMUT-IMUT!!"


Vina menutup telinganya, sambil memukul pundak Dira kencang. "Lo juga berteriak, Diraaaaaa!!!" Berondong Zea dan Vina bersamaan, membuat ketiganya tertawa pecah memegangi perutnya masing-masing.


Sedangkan para adek kelas yang memperhatikan itu menggelengkan kepalanya, tidak ada yang benar di otak Vina dan Dira apalagi si Zea.


...***...


Zea berjalan mengampiri motornya, dia masih melihat motor si toge Raka. Itu artinya sang pemilik belum pulang juga.


Sudah lama sekali dia tidak memaggilnya menggunakan sebutan toge, teringat bebrapa tahun yang lalu saat Raka selalu menguhukumnya, dia selalu memanggilnya seperti itu. Dia akui Raka saat itu sangat tegas dan berwibawa, ketampanannya yang mempesona dan cerdas sangat cocok di jadikan sebagai ketua osis.



...Motor Zea yang berwarna hitam, punya Raka yang merah....


.......

__ADS_1


.......


Sampai sekarang ingatkan Raka yang selalu menghukumnya setiap hari selalu membekas di ingatnya. Untung saja, ketua osis yang sekarang mudah di tipu daya oleh Zea.


"Dasar motor Raka jelek!!! Bagus punya gue, hahaha!! Apa ini warnanya Merah, seperti cabe keriting yang jarang di catok saja..."


Cibir gadis itu sambil tertawa-tawa, tak lupa satu kakinya menyleding ban depan motor Raka, sudah seperti Ronaldo Wati saja gayanya.


Tak puas akan hal itu, sekarang gadis itu berkacak pinggang seperti memarahi makhluk bernyawa. "Di lihat dari ujung planet manapun, kesatria baja hitam gue adalah pemenangnya."


Zea mengusap-usap bagian depan motor miliknya, tidak sampai di situ, tingkah gadis itu semakin mengila, karena dia mencium bagian sepion motor R6nya.


KHEEEEM!!!


Raka dan ketiga semprul itu melihat kejadian bodoh Zea dengan seksama, Raka berdiri tepat di belakang gadis itu sambil memasukan tangannya di saku celana seragam. Wajah Zea merah padam, dia takut-takut menoleh kebelakang, sudah dipastikan dia sangat malu hari ini.


"Lo apain motor gue?"


Zea gelagapan, dia seperti kekurangan pasokan udara. "Oh itu, ta-tadi kaki gue reflek nendang-nendang," Balasnya gugup, tangannya mengaruk kepala yang bisa dipastikan itu tidak gatal, membuat Raka menghela nafasnya sangat berat.


Jelas-jelas gadis itu menganiaya motornya yang katanya seperti cabe keriting, masih saja mengelak.


Bian melipat kedua tangannya di dada sambil menggelengkan kepalanya.


"Astofirullahalazim.... Zea. Bobi yang handsome abis ini tidak habis pikir. Jomblo mah yang Fisabilillah aja, jangan malah bucin sama motor juga kali, Ze. Seperti tidak ada manusia saja."


Gadis itu menggaruk hidungnya yang tidak gatal, dia bingung mau berkata apa, matanya menatap sekitar taman di parkiran itu, siapa tau ada lubang Tikus supaya dia bisa bersembunyi di sana untuk meredam malunya.


"Daripada nyium motor, mending elo nyium pemiliknya aja, Ze... Yoi gak, Bro??" Zega tertawa sambil menepuk bahu Raka.


Zea dan Raka saling melempar tatapan, dasar Zega laknat. Memangnya cowok itu siapanya Zea. Seketika mereka berdua menjadi salting, jauh di lubuk hati Raka dia merasa jantungnya berdetak kencang. Berbeda di hati Zea, dia merasa ingin merobek mulut Zega saat ini juga.


"Terserah gue lah, kalaupun gue datang dan lo balapan, gue juga gak akan ngedukung elo kok..." Kata Raka sinis.


"Astaga... Kejujuran lo menyakiti empedu gue, Rak. Jahat!!" Zea mendengus dan menancap gas pergi setelah menggunakan helm fullface dan jaket kulitnya.


Suara kenalpot yang berisik mengema di penjuru parkiran motor. Sampai keempat cowok itu terkesiama menatapnya. Tubuh gadis itu memang mungil, tapi Zea tinggi semampai, dengan setelan jaket kulit berwarna hitam itu, membuatnya terkesan lebih keren dan seperti laki-laki jika gadis itu tidak memakai rok sekolah saat ini.


Nanti malam, Zea tidak balapan di Sirkuit, karena sang lawan mengajaknya balapan liar.


"Pasti dia mau balapan lagi," celetuk Zega, dan mendapat anggukan dari ketiga temannya.


Bian dan Zega keluar parkiran menunggangi KLX masing-masing, di susul Bobi yang menggunakan motor Matic.


Sedangkan di sisi lain, Alda berlari ketika mendapati Raka yang hendak memakai helm, Alda berlari sampai terjatuh terungkur ke pelataran parkiran.


"Aduh...!! Awww, Raka, tolongin gue!?" Raka yang memang melihat Alda terjatuh, sedikit iba, lalu mematikan motornya dan berjalan kesal ke arah Alda, jika dia tidak merasa kasihan, mungkin dia memilih membututi Zea.


Raka mengulurkan tangannya membuat Alda rasanya ingin terbang, dia berfikir jika ini mimpi dia tidak mau di bangunkan.


"Berdiri!"


"Makasih Rak," Alda tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langsung memeluk cowok itu, akan tetapi Raka melepaskan pelukan cewek yang menurut pengamatannya ini sangat murahan.


Berbeda sekali dengan Zea, walaupun bar-bar, tapi dia tidak mudah di sentuh sembarang cowok. Raka tau betul akan hal itu.


"Anterin gue pulang ya Rak, plis... Oke?" Alda memohon sambil bergelayut manja di lengan Raka.


"Oke, kali ini saja gue nganterin lo pulang, tapi ingat, gue cuma kasihan aja sama lo dan tidak ada perasaan lebih dari itu!!" ketus Raka sambil berjalan menuju motornya, tak lupa mengibaskan tangannya yang di peluk Alda.

__ADS_1


Itulah momen paling bahagia di hidup Alda, walaupun Raka terpaksa dan sedikit membuatnya kesal.Tapi ini adalah pertama kalinya cowok itu bersikap baik padanya.


Saat Alda sudah duduk di atas motor sport Raka, dia tersenyum sangat bahagia. Berbeda dengan cowok itu, pikiranya sekarang di kuasai oleh Zea. Dia sangat takut bila gadis itu masih balapan, karena banyak sekali resiko yang bisa ia peroleh.


...***...


Di lain sisi, seorang gadis sedang berjongkok di samping makam, makam itu bertuliskan nama mamanya. Dengan telaten, Zea menaburkan bunga yang tadi dibelinya, dia rindu sekali pada mamanya. Tangan mungilnya mengusap batu nisan itu perlahan dan tersenyum getir.


FLASHBACK ON.


Saat itu Baskara dan Gia menjemput putri kesayagannya yang masih duduk di bangku kelas 4 SD, sang anak merengek minta dijemput oleh kedua orangtuanya. Biasanya dia hanya dijemput oleh sopir, lalu tadi pagi dia menangis kencang supaya papa dan mamanya hari itu juga yang menjemputnya. Kalau mereka tidak mau menjemputnya, gadis itu mengancam mogok makan. Hal itu di lakukan Zea karena dia merasa iri pada teman-temannya yang selalu di antar jemput kedua orangtuanya.


Memang benar, Baskara dan Gia jarang sekali melakukan hal itu guna mendidik Zea agar tidak menjadi anak manja.


Mata gadis itu berbinar saat melihat kedua orangtuanya datang, "Papa mama!!! Zea ada disini, oiiiih!!!" Anak kecil berusia 10 tahun itu melambaikan tangan.


Sedangkan Baskara dan Gia terseyum merkah melihat putrinya sangat bahagia, mereka di sebrang jalanan yang sangat ramai lalu-lalang pengguna jalan, entah kenapa jalanan saat itu begitu ramai.


Gia melambaikan tangan pada putrinya yang berlari ke arahnya, "hati-hati sayang jangan lari!!!" tanpa menoleh ke kanan--kiri Zea berlari menyebrang jalananan.


Tiba-tiba dari arah berlawanan, ada sebuah Truk yang melaju sangat cepat ke arah anak itu, banyak orang yang melihat itu berteriak histeris. Truk tanpa muatan itu semakin cepat lajunya, banyak orang berfikir pasti ada masalah dengan remnya. Padahal tidak seperti yang mereka kira. Itu sudah di rencanakan seseorang.


"Sayang.... Kemarilah cepat! Jangan takut sayang, ada Mama!!"


Gia panik melihat putri kecilnya dalam bahaya, tanpa berfikir panjang, dia mengulurkan tangannya pada Zea yang masih beberapa meter lagi, Zea sudah menangis saat melihat sebuah truk yang terus mendekat ke arahnya.


"Zea!!! Cepaaat lariiii yang kencang sayang!!!"


Baskara berteriak, dia frustasi harus melakukan apa, karena istrinya juga berlari ke arah putrinya. Sungguh Baskara tidak mau terjadi sesuatu pada dua orang yang berarti dalam hidupnya itu.


Menit berganti keadaan pun juga berubah.


Sebuah dentuman yang mampu membuat hati Baskara berhenti berdetak, melihat putrinya terpental ke tepi jalanan sangat kasar. Sedangkan Gia tergeletak di tengah jalan yang sudah berlumuran darah di mana-mana. Banyak orang yang berlari mengerubunginya untuk menolongnya.


Baskara segera berlari kencang, tangannya bergetar hebat menyentuh istrinya yang bersimbah darah.


"Gia bangun sayang, bangun!!! Kamu masih mendengarku kan?!!"


Baskara berteriak memeluk tubuh istrinya sambil menangis tersendu-sendu, hatinya seketika menclos ketika melihat darah yang terus keluar di area kepala dan mulut istrinya. Dia terus merengkuh tubuh istrinya, menciumi keningnya berulang-ulang dan mengusap darah di wajahnya.


"Mamaaa Gia!!! maafin Zea Ma.... hiks hiks... Mama harus bertahahan, Zea mohon... hiks hiks!!" Gadis itu berlari dan memeluk tubuh mamanya yang terbujur lemas, air matanya membasahi pipinya dengan deras. Tidak peduli rambut panjangnya yang tidak terikat seperti orang gila.


"Ka-kamu tidak salah sayang, mama sangat sayang kamu. Ja-jangan menangis... Jangan pernah menangis lagi, Mama tidak suka melihatmu menangis. Papa dan Mama sudah jemput kamu kan se-sekarang?" Gia tersenyum pilu sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya dan mencium kening Zea serta mengusap perlahan air mata putri tunggalnya itu.


"Ma-ma sayang Zea, mama sayang Ze-a, mama sayang kal-kalian berdu-,"


Detik itu juga Gia harus kembali pada sang pencipta, keinginannya menikah dengan suami tercinta dan memiliki anak sudah terkabul, jalan hidupnya sekarang sudah selesai dengan melihat putrinya sudah tumbuh besar berumur 10 tahun. Gia sangat yakin putrinya akan tumbuh sangat cantik sama sepertinya.


FLASHBACK OFF.


Semenjak saat itu, papanya berubah tidak menyayanginya lagi, papanya itu mau menganggapnya seorang anak. Padahal dulu dia sangat mengutamakan Zea dalam masalah apapun. Yang membuat gadis itu semakin hancur adalah, ketika Baskara menikahi teman dekat mamamya sendiri. Dan sekarang dia sangat peduli pada Susanti dan Alda daripada dirinya.


"Maafin Zea ma!!! Ini semua salah Zea, kan? Andai mama tidak menolongku, pasti aku yang ada di posisi mama, tapi Zea tidak masalah kalaupun itu terjadi hiks hiks, papa udah tidak sayang lagi sama Zea ma, hiks hiks," gadis itu teriasak sambil memeluk lututnya, dia tidak peduli kalau langit mendadak mendung, mungkin alam juga bersedih melihat gadis itu menangis.


"Kata papa, Zea hanya anak sialan!! tidak berguna!! Zea cuma anak nakal! Bisanya cuman malu-maluin papa doang, hiks hiks...."


Gadis itu memukul dadanya sendiri dengan keras dia merasa begitu bersalah dengan semua yang terjadi pada hidup mamanya.


"Maffkan Zea ma, maaf," katanya pilu dan terasa sangat sakit di dada Zea.

__ADS_1


__ADS_2