
DI rumah besar tepatnya di keluarga Vernando, kini Zea tengah duduk bersama keluarga Raka. Kalian tidak tau betapa bahagianya mereka semua saat Zea datang, Riska bahkan sampai menangis tidak percaya. Berbeda dengan Ricky, anak itu berumur hampir Sembilan tahun.
“Heh bocah ingusan... Salim dulu sana sama kak Zea!” Raka menyentil dahi Ricky membuat anak itu mendengus kesal dan tersadar dari tatapannya menatap Zea kemudian memukul lengan kakaknya kesal.
“Hallo Ricky sayang, jagoan kakak makin tampan saja deh perasaan. Kak Raka bahkan kalah.” Puji Zea membuat Raka menghembuskan nafasnya kasar, sejak dulu Zea selalu saja mengatakan hal itu.
Ricky yang di sapa seperti itu menggaruk hidungnya yang tidak gatal, dia mengamati Zea dari atas sampai bawah berulang-ulang.
“Dasar bocah, itu punya kakak, ya. Awas kalau kamu kayak dulu lagi.” sinis Raka membuat mereka tertawa kecuali kakak adek itu.
Raka masih kesal jika mengingat Ricky waktu kecil, dia sangat lengket seperti lem dan perangko sama Zea.
“Ayo Ricky salim dong sama kak Zea.” Perintah Riska lagi menjawil lengan putra bungsunya itu.
“Kak Zea itu rambutnya pendek dan menggunakan anting banyak, beda dengan kakak ini, dia bukan kak Zea.” Tunjuk Ricky tak percaya.
“Oh, jadi Ricky tidak percaya kalau ini kak Zea?” tanya Zea dengan terkekeh geli membuat anak itu mengangguk, “tidak masalah, kakak akan menepati janji kak Zea untuk mengajakmu bermain. Mau tidak?” Zea menaik turunkan alisnya, membuat Ricky melebarkan matanya.
“Tidak mau!” sahut Raka membuat Ricky marah dan meleparnya menggunkan bantal Sofa.
Tanpa di perintah lagi, Ricky turun dari Sofa dan berdiri di depan Zea.
“Aku pikir ini bukan kak Zea, aku pikir kak Zea tidak akan kembali, aku pikir kak Zea lupa bahwa punya janji sama aku... Hiks... Hiks.” Tangis Ricky pecah lalu di peluk Zea erat sekali.
“Hemm, mulai-mulai terooos.” sindir Raka, membuat kedua orangtuanya melototi putra sulungnya.
Ricky tidak mempedulikan kakaknya yang marah, dia bahkan mempunyai ide membuat kakaknya itu cemburu lagi.
“Maafin kakak ya, mulai saat ini kak Zea nggak akan pergi-pergi lagi, kok.”
“Janji ummm?” gadis itu tersenyum dan mengaitakan jari kelingkingnya di jari mungil Ricky.
“Pa, Ma... Raka sudah melamar Zea, aku mau pernikahan di langsungkan secepatnya.” Pinta Raka membuat Riska dan Nando saling pandang, jangan tanyakan Zea, dia sedang menahan gugup yang luar biasa.
“Dasar anak nakal, kenapa kamu tidak bilang dari kemarin, kalau Zea sudah kembali dan kamu lamar?” Riksa memukul Raka, membuat anak itu tersenyum.
“Papa ngikut aja kemauan kalian, besok kita tentukan tanggal yang tepat dengan Bas-,” ucapan Nando terhenti, dan menoleh Zea.
“Papa sudah merestui kami.” kata Zea malu-malu.
“Benarkah?!” pekik Riska dan Nando bersamaan dan gadis itu mengangguk. “Syukurlah kalau begitu,” tambah Riska dengan seulas senyuman. Nando yakin, sekarang Baskara dan Zea pasti sudah saling menerima.
Setelah perbincangan yang hangat itu, merka semua memutuskan untuk tidur. Karena sudah larut malam. Ricky dari tadi sudah menguap lebar, untuk pertama kalinya dia belum tidur sampai larut malam.
Betapa bahagianya dia ketika mengetahui Zea akan menjadi suami kakaknya, jadi dia bisa membuat Raka cemburu setiap hari.
“Zea sayang... Kamu tidak usah pulang dan tidur aja di kamar Raka. Lagian ini juga udah malem banget,Nak. Kabarin aja papamu kalau kamu nginep di sini.” usul Riska menatap Zea dan Zea mengangguk malu-malu.
Gadis itu juga kasihan pada Raka, sejak pulang dari kantor, pria itu langsung pergi ke Runi menjemput Zea di rumahnya. Kalau mengantarkan gadis itu pulang, dia tidak tega apalagi ini sudah larut malam dan jarak rumah Zea terbilang cukup jauh.
“Akhirnya nggak tidur sendirian lagi. Yessss.”
Raka bahagia sekali membuat Nando dan Riska menatapnya jengah, sedangkan Zea garuk-garuk kepala, mendadak otaknya blank.
Riska menjewer Raka, membuat sang empu meringis kesakitan monta di lepaskan.
“Ahhhh... Mama apa-apaan, sih? sakit tau?”
“Enak saja mau nyari kesempatan dalam kesempitan! kamu tidur di kamar bareng Ricky!!” perintah Riska tegas menatap Raka garang.
"Benar awas saja jika kamu berani macam-macam sama Zea!"
"Iya-iya ya ampun, Raka akan macam-macam setelah SAH tenang pa ma." Anak sulung itu memutar bola matanya malas, membuat kedua pipi Zea merona mendengar kalimat ambigu itu.
Sang kepala keluarga percaya pada Raka, dia berpaimitan dan segera membopong anak bungsunya ke kamar, karena Ricky sudah tidur, lalu Riska mengikuti suaminya dari belakang setelah mengamcam Raka sekali lagi.
Kini tinggalah Raka dan Zea yang masih setia duduk di Sofa, gadis itu pura-pura melihat ikan di Akuarium sedangkan Raka terus saja menatap Zea Yang duduk di sebelahnya. Tanpa menunggu persetujuan dari gadis itu, Raka merebahkan kepalanya ke paha Zea.
“Ka-kamu udah ngantuk? kalau udah mending pindah ke kamar saja.” usul Zea membuat Raka tersenyum geli.
“Yaudah ayo.” Goda Raka menaik turunkan alisnya.
"Ayo ngapain?"
"Kamu tau maksudku sayang." Goda Raka lagi sambil tersenyum nakal.
__ADS_1
“Dasar otak mesum!” Kesal Zea mengerucutkan bibirnya dan menepuk jidat calon suaminya itu.
Raka tertawa sambil mencubit pipi Zea, “l love you honey.”
"Seberapa besar cintamu padaku?"
"Seluas Lautan di Bumi."
"Berapa luasnya?"
Raka mendengus sedangkan Zea tertawa sambil mengusap-usap kepala pria itu sayang.
"Nggak tau aku bingung jawabnya."
"Nggak perlu bingung karena rasa kita sama. I love you to honey."
Raka tersenyum sumringah dan mencium punggung tangan gadia itu bertubi-tubi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
PAGI HARI.
Zea dan mama Raka sedang memasak di dapur sejak pagi buta, Riska ahirnya punya seseorang yang bisa di ajak masak bersamanaya. Padahal dari dulu dia ingin memiliki seorang anak perempuan, tapi mau gimana lagi keluarnya malah cowok semua.
“Ma... Raka suka makanan apa biasanya? Biar aku buatin.”
“Raka suka kamu,” kelakar Riska, membuat gadis itu membalikkan badan dan menggigit jari telunjuknya. Zea yang dulu super tomboy dan tidak takut siapapun, kini menjadi gadis pemalu.
PUK!! PUK!! PUK!!
“Bentar Ma, Zea lagi liatin Cicak memutuskan ekornya.” Gadis itu merutuki kebodohannya sendiri, kenapa mulutnya ngelantur tidak jelas seperti ini sih? Dasar bodoh.
PUK!! PUK!! PUK!!
“Nah-nah itu tu, itu. Ya ampun ekornya putus!” Zea heboh sendiri menunjuk cicak di dinding yang diam-diam merayap.
Tiba-tiba, tanpa di sadari ada seseorang yang memeluk gadis itu dari belakang, “good morning sayang.” Bisik Raka di telinga Zea, membuat bulu kuduknya meremang.
“Ka-kamu? Lepasin aku, nanti di lihat mama.”
“Mama sudah pergi, hanya kita berdua di sini, hehe."
Zea membenarkan rambut panjangnya, “apa yang lucu? Aku serius Raka! Kalau kita belum sah, kamu tidak boleh asal pegang-pegang aku.”
“kalau aku tidak mau?”
Raka memajukan tubuhnya mendekati Zea, membuat gadis itu mundur dan terpentok Kithcen Bar.
“Maju selangkah, aku pukul kamu beneran Rak! Atau kalau tidak aku akan teriak.” ancam gadis itu, namun bukan Raka tetap nekat, apalagi melihat Zea begitu cantik membuatnya ingin memeluknya erat.
“MAMA RISKA!! RAKA NAKAL NIH, TOLONGIN ZEA, MA! PLEASE!” teriak gadis itu, membuat Raka menutup telinganya.
Riska berlari menuju dapur dan menarik telinga Raka, “dasar anak nakal, mama nggak ngajarin kamu mesum ya Rak. Cepat mandi dulu sana!!”
“Ampun ma ampun, cuman peluk sedikit saja masa tidak boleh... Lepasin sakit, aw aw aw!” Riska melepaskan dan memukul kepala Raka.
Setelah semua selesai mandi, mereka sarapan bersama dengan riang. Kecuali Raka yang asik menyenggol kaki Zea diam-diam dan di balas gadis itu dengan tendangan keras betis Raka.
Beberapa menit telah berlalu, Nando dan Riska bersiap-siap mau ke rumah Zea membicarakan tentang pernikhan anak mereka. Sedangkan Raka dan Zea mengajak Ricky pergi ke Timezone, sesuai janji Zea semalam. Anak itu sangat senang, akan tetapi tidak dengan Raka.
Setiap kali Raka ingin menggandeng Zea, Ricky selalu menarik tangan gadisnya itu. Menyebalkan sekali.
Tak sampai di situ, Raka bahkan di suruh membawa berbagai makanan dan mainan yang di beli adeknya. Pria itu hanya bisa, mengekori Zea dan Ricky yang asik berjalan tanpa memperdulikan dirinya yang kesusahan membawa banyak barang. Raka yang malang.
“Gimana Ricky, kamu senang sekarang?” tanya Zea menoleh kebelakang, mereka sedang berada di Mobil untuk pulang.
“Senang, hehe. Besok main lagi ya kak, ya ya ya?”
“Bol-,”
“Tidak!! Aku tidak boleh, Ricky kak Zea itu milik kakak. Kamu ngerti nggak sih sebenarnya?!” kalau seperti ini, Raka terkesan seperti anak kecil, membuat Zea gemas.
“Apasih? Ricky nggak ngiming sama situ ya, nggak usah ngikut ngiming,” cibir Ricky menjulurkan lidahnya sambil memakan es krim.
Raka menggertakkan giginya kuat, “mau aku turunin di kolong jembatan atau di pembuangan sampah kamu, Ric!”
__ADS_1
“Kak Raka aja yang turun di pembuangan sampah, biar Ricky yang mengemudiakan mobilnya mengantar kak Zea pulang.” Bagi Raka, adeknya itu ibarat Tom dan dia Jerry. Tidak pernah akur.
“RICKY!!”
"APA KAK RAKA?!"
“Raka sayang... Udah, nggak perlu emosi juga kali. Ricky juga nggak boleh gitu ya sama kak Raka, jagoan kakak paham?”
“Paham kak, maaf kak Raka.” pinta Ricky lirih, menundukan kepalanya.
“Pihim kik, miif. Baru kali ini ya kamu minta maaf sama kakak.”
“Daripada kakak tidak pernah minta maaf sekalipun."
Zea memijit kepalanya yang berdenyut, melihat keduanya yang saling tidak mau kalah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mengantarkan Ricky pulang, Raka memutar mobilnya kembali dan ingin mengantarkan Zea.
“Sayang... Kita mau kemana dulu? Atau langsung pulang aja?” tanya Raka, sebelum memasuki Mobil.
“Anterin aku ke makam dulu ya?” pinta gadis itu sendu, matanya menunjukan kesedihan yang mendalam.
Raka mengusap pucuk kepala Zea dan mengecupnya pelan, “siap tuan putri, mau ke makam mama Gia dan oma kan?” tanyaya tersenyum.
“Bukan Cuma makam mama dan oma, tapi juga makam Gugun juga. Mereka sangat berharga dalam hidupku.”
“A-aku jahat ya syang? Mereka semua pergi gara-gara aku kan? mama dan Gugun rela menyelamatkan aku. Dan oma juga meninggal karena aku, ini semua salah ak-,” gadis itu menangis, lalu di Raka sangat erat.
“Tidak sayang, stop! jangan menyalahkan dirimu sendiri. Mereka pergi bukan karenamu, tapi karena takdir dan kehendak yang di atas.” Raka meyakinkan Zea dan mengusap air mata gadis itu penuh kelembutan.
“Aku tau, Gugun adalah pria yang sangat mencintaimu selain aku dan Mex... Aku yakin, dia sekarang bahagia melihatmu sehat seperti ini. Mama Gia juga pasti bahagia melihat putrinya bahagia, sedangkan oma aku berani jamin dia sangat bagga melihat cucunya yang sudah sukes dan berbubah menjadi wanita cantik seperti ini.” imbuhnya lagi membuat Zea semakin menitikan air matanya.
Sebelum pergi ke makam, Zea dan Raka mampir dulu ke Toko Bunga. Gadis itu membeli dua tangaki mawar merah dan juga satu buket mawar merah juga. Setelah itu, Raka kembali melajukan Mobilnya sedang.
Gadis itu tersenyum saat berdiri menghadap tiga Nissan di depannya, hatinya sedih tak karuan.
“Aku pulang.” saking putus asanya Zea tidak bisa meneruskan kalimat selanjutnya, Raka mengengam tangan Zea erat menyalurkan kekuatan.
Perlahan tapi pasti, Zea mulai melanglahkan kakinya di tengah-tengah gundukan makam mama dan Oma.
“Ma, Zea pulang. Zea kangen banget sama mama, mama baik-baik saja kan di sana? mama bahagia kan? Zea beruntung lahir dari rahim mama. Terimakasih ya telah menjadi wanita terhebat dalam hidup Zea. Tanpa mama aku yakin Zea kecil sudah meninggal sejak dulu, Zea sekarang sudah besar dan akan menikah dengan Raka yang aku kenalkan dulu pada mama. Zea meminta izin sama mama dan restui kami berdua.” suara gadis itu sangat parau, lalu meletakkan bungga Mawar satu tangkai di gundukan makam Mama Gia. Setelah puas mengobrol dengan makam mamanya, gadis itu pindah.
Dia membalikan badannya menghadap makam Oma, lalu meletakan setangaki mawar juga.
“Oma bohong. Katanya mau lihat Zea cantik? Katanya mau lihat Zea sukses? Tapi kenapa oma pergi lebih cepat? Ini semua karena Zea, kan? Maafin Zea, maaf. Oma tau? Dalam beberapa hari lagi, aku akan menikah dengan Raka." gadis itu tersenyum dan menarik tangan Raka, “Restui kami berdua, ya... Zea sayang selalu oma. Oma pasti bahagia kan bisa bertemu menantu kesayangan oma sekarang?”
Dari sini Raka menilai, satu hal yang terus melekat pada diri Zea. Yaitu kelembutan hati yang luar biasa, calon istrinya ini sangat berhati mulia. Bahkan Raka sendiri sangat bangga pada gadisnya itu dan dia beruntung, dari banyaknya pria, Zea memilih dirinya menjadi calon suami.
Zea beralih menuju makam Gugun, tanpa terasa air matanya berjatuhan seketika lalu dia usap. Kakinya berat dan kepalanya menunduk lemah, dia tidak punya keberanian untuk menghadap makam Gugun.
“Ayo?” Zea mengangguk pelan dan berjongkok di samping Raka.
“A-apa kabar, Gun?” Tanya Zea gentir tangannya meletakkan sebuket bunga mawar yang di pegang Raka.
“Aku nggak tau harus bilang apa sama, kamu Gun. Yang jelas aku sangat-sangat berimakasih padamu dan maafin aku, karena tidak bisa membalas rasa cintamu. Aku sahabatmu yang payah kan? Aku tidak menyadari sakitmu.”
Air mata Zea menetes lalu di usap Raka.
“Banyak yang kita lalui bersama Gun dan kamu adalah salah satu cowok yang tau betul semua tentangku. Andai saja kamu dulu bercerita padaku, bahwa kamu memiliki riwayat penyakit kanker Otak setadium akhir. Aku pasti tidak akan pernah merepotkanmu lagi, hiks... Aku pasti akan mensuportmu sebagai teman yang baik. Hiks... Hiks...” Raka mengusap air mata Zea dengan ibu jarinya berulang kali dan memeluk Zea erat.
“Masih kuat?” Zea mengangguk pelan.
“Gun. Terimakasih banyak ya kado berhargamu membuatku bisa hidup sampai detik ini, aku tidak akan pernah sangup membayarnya dengan apapun yang ada di dunia ini, kamu adalah salah satu pria yang sangat baik dalam hidupku dan saat ini, aku akan menikah dengan Raka berkat pesanmu. Tolong, restui kami berdua, ya? Aku tidak akan pernah melupakanmu, semoga kamu tenang di sisi-Nya.”
“Makasih banyak Gun, karena sudah mengalah dan berkorban untuk kita berdua, semoga lo tenang di sana.” imbuh Raka sambil mengusap nisan Gugun pelan.
Keduanya segera keluar dari pemakaman menuju rumah Zea, sepanjang jalan gadis itu hanya terdiam dan Raka hanya bisa mengusap-usap surai hitam gadis itu sesekali dan menenagkannya.
"Bagus baru inget pulang! sudah jam berapa sekarang? kalian dari mana saja hah? dasar!" cerocos Kelvin ketika membuka pintu mengomeli mereka berdua.
Zea hanya diam lalu menerobos masuk kedalam melewati abangnya itu membuat Kelvin garuk-garuk kepala, "kenapa dia?" tanyanya pada Raka yang belum masuk kedalam rumah, "apa Zea berubah pikiran tidak mau menikah denganmu?" selidik Kelvin curiga, "iya kan?"
"Sembarangan! tidak lah Bang. Kami habis dari pemakaman."
__ADS_1
...BERSAMBUNG DULU....
Kalian Rela gak kalau cerita ini bentar lagi End? komen yha.