Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku

Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku
Episode 11 [Mengunjungi Ibu Mertua]


__ADS_3

Camila mengusap mulutnya dengan kasar setelah rasa mualnya sedikit mereda. Camila tidak tahu apa yang terjadi padanya, ia merasa tidak enak badan sejak bangun tidur, lalu sekarang mual dan muntah. Setelah melihat tingkah aneh Ariana, sekarang ia juga harus mual dan muntah seperti ini. Menyebalkan sekali, pikir Camila.


Setelah merasa lebih baik, Camila kini keluar dari kamar mandi, lalu pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Camila tidak menyadari bahwa ada Wilda yang selalu memperhatikan gerak-geriknya. Wilda terlihat begitu khawatir memikirkan apa yang mungkin terjadi ke depannya jika apa yang ada dipikirannya sungguh terjadi.


"Semoga saja aku salah," gumam Wilda.


Sementara itu, setelah selesai menikmati udara segar dan menikmati kopi, Kevin pun bersiap-siap dan pergi ke kantor. Hari ini, Ariana ada pekerjaan siang, jadi ia memiliki cukup waktu untuk melakukan sesuatu setelah Kevin pergi.


Ariana menatap kamarnya, lalu melepas seprai dan sarung bantal secara brutal bahkan penuh dengan kemarahan. Ariana ingin mengganti semua yang telah dipakai sebagai tempat perselingkuhan Kevin dan Camila, tapi mengganti sesuatu secara besar-besaran akan membuat Kevin curiga, jadi ia harus menahan keinginannya.


Tidak hanya seprai atau sarung bantal, tapi Ariana juga mengeluarkan gaun, sepatu, dan tas yang disebut Wilda pernah dipakai oleh Camila. Ariana membuang barang-barang ke dalam sebuah kardus besar yang sama dengan seprai dan sarung bantal, lalu menutupnya.


Pandangan Ariana kini mengarah pada foto pernikahannya dengan Kevin. Tatapan bahagianya di foto itu membuat Ariana ingin mengatakan pada dirinya di masa lalu bahwa ia telah menikahi pria yang salah. Tidak ada yang namanya cinta selamanya. Semua itu hanya omong kosong. Sia-sia saja jika berusaha menjadi istri yang baik untuk membuktikan diri, karena pada akhirnya Kevin yang menyakitinya.


"Ibu." Suara manis Emily membuyarkan lamunan Ariana. Ariana pun langsung mengubah raut wajahnya menjadi penuh senyuman, lalu menatap ke arah Emily yang datang bersama Yuri.


"Kau sudah siap? Kalau begitu, ayo kita ke sekolah sekarang," ucap Ariana.


"Ibu, ini apa?" Emily menunjuk kardus besar yang ada di kamar ibunya.


"Sampah. Ibu akan membuang sampah ini." Ariana menjawab tanpa ragu, lalu mengangkat kardus itu dengan sekuat tenaganya.


"Biar saya bantu." Yuri ingin membantu, tapi Ariana menghindar.


"Aku tidak selemah itu." Ariana pun membawa kardus itu keluar tanpa bantuan siapa pun. Sedangkan Yuri sempat menatap kamar Ariana yang terlihat cukup berantakan, tapi tidak berani mengatakan apa-apa tentang hal itu.


"Tolong rapikan kamarku." Ariana sempat mengatakan ini pada salah satu pelayan sembari berjalan membawa kardus besar di depannya. Pelayan menawarkan bantuan, tapi Ariana menolak dengan keras. Bantuan? Ariana tidak akan menerima bantuan dari orang-orang yang tidak bisa dipercaya.

__ADS_1


***


Ketika acara yang dibawakan Ariana menjadi begitu disukai oleh banyak orang, maka berita tentang dirinya pun menjadi sering terlihat. Kali ini, berita tentang Ariana yang mendapatkan penghargaan dari sekolahnya dulu menjadi pemberitaan hangat. Orang-orang mengagumi Ariana, terlihat dari banyaknya komentar positif yang ada pada setiap artikel.


Fiona yang telah melihat berita tentang Ariana tampak menghela napas, lalu meletakan iPadnya di atas meja dengan sedikit kasar. Fiona benci melihat hal itu, ia selalu mencap Ariana akan seperti ibunya, tapi hanya kabar baik yang datang darinya, lalu justru putranya yang membawa kabar buruk yang membuatnya malu. Wilda bahkan telah mengetahui perselingkuhan itu jauh sebelum dirinya. Lalu, bagaimana jika Ariana tahu? Itu akan sangat memalukan.


Lalu, salah satu pelayan datang pada Fiona dan berkata, "Permisi, Nyonya, Nona Ariana datang mengunjungi Anda."


"Ariana datang? Untuk apa?" gumam Fiona, sebelum akhirnya ia keluar dari kamar untuk bertemu dengan Ariana yang menunggunya di ruang tamu. Ariana memang kadang datang untuk bertemu dengannya dan Fiona tahu itu dilakukan karena Ariana berharap bisa menjalin hubungan baik dengannya. Namun, sekarang, Fiona takut kalau kedatangan Ariana hanya untuk mempermalukannya.


Begitu sampai di ruang tamu, Fiona melihat Ariana yang berdiri dan tersenyum ke arahnya. Fiona sempat melirik ke atas meja dan melihat ada sebuah paper bag berwarna coklat yang sepertinya dibawa oleh Ariana, sebab dia tidak pernah datang dengan tangan kosong. Fiona tidak mengerti kenapa Ariana membuang waktu dan uangnya untuk datang ke sini dan membawa sesuatu karena itu tidak akan mengubah apa-apa.


"Untuk apa kau ke sini?" Fiona bertanya dengan nada ketus seperti biasanya.


"Sebelumnya, Ibu mengatakan kalau Ibu kurang sehat, jadi aku datang membawakan beberapa minuman yang baik untuk kesehatan Ibu. Aku khawatir kesehatan Ibu mungkin memburuk." Ariana pun mengambil paper bag yang ia bawa dan disodorkan pada ibu mertuanya. Seperti biasanya, ibu mertuanya tidak pernah mengambil apapun yang ia berikan, jadi Ariana kembali meletakan paper bag itu di atas meja.


"Ya, Kevin telah memberikan banyak hal padaku, begitu banyak sampai aku nyaris tidak tahan lagi karena sangat membebaniku. Namun, aku sampai pada posisiku karena diriku sendiri dan karena kemampuanku. Aku dihormati sebagai istri Kevin dan menantu Ibu, tapi aku juga dihormati sebagai diriku sendiri, sebagai Ariana." Ariana menjelaskan ini dengan penuh penekanan. Ariana tidak akan membiarkan orang lain masih menyebutnya bersinar karena Kevin karena ia bahkan membenci kalimat itu sekarang.


Fiona menatap lekat Ariana yang kali ini memberikan jawaban berbeda, padahal sebelumnya tidak pernah menyangkal jika ada yang mengatakan bahwa Kevin adalah orang yang telah membuatnya bersinar seperti sekarang. Entah apa yang membuatnya bicara seperti itu. Fiona hanya merasa takut melihat senyuman Ariana padanya.


"Sekarang, kau lebih banyak bicara dari sebelumnya," ucap Fiona dan Ariana masih tersenyum. Senyuman yang sama, tapi Fiona benar-benar tidak lagi merasakan hal yang sama setelah mengetahui perselingkuhan Kevin dan Camila.


"Apa ucapanku mengganggu Ibu? Atau Ibu ingin mengatakan sesuatu, tapi tertahan karena aku bicara?" tanya Ariana.


"Aku tidak harus mengatakan apa-apa padamu. Pergilah dan bawa kembali apa yang kau bawa."


"Aku membawanya dengan tulus, jadi tolong diterima. Ibu harus menjaga kesehatan Ibu karena bisa terjadi hari-hari yang begitu berat. Aku permisi." Ariana pun pergi setelah puas melihat reaksi ibu mertuanya. Sikap ibu mertuanya masih saja angkuh, tapi terlihat jelas dia begitu takut kalau seseorang akan menghancurkan harga dirinya. Ariana tidak mengerti, kenapa ibu mertuanya masih bisa begitu angkuh padanya bahkan setelah tahu perbuatan anaknya?

__ADS_1


"Entah kenapa aku merasa seolah dia ingin mempermalukanku," gumam Fiona.


***


Karena melakukan kerja sama dengan perusahaan Eric, maka Kevin sering bertemu dengannya saat jam kerja untuk membahas pekerjaan. Seperti hari ini, mereka memutuskan untuk minum kopi bersama setelah menyelesaikan rapat tentang sebuah proyek.


Eric sebenarnya hanya menghindari untuk bertemu dengan wanita yang akan menjadi istrinya, jadi mencari alasan dengan mengatakan kalau ia masih ada pekerjaan, padahal hanya bersantai dengan Kevin.


"Apa kau mengenal teman sekolah Ariana yang bernama Mark?" tanya Eric.


"Mark?" Kevin tampak seperti sedang berpikir, lalu mengingat kalau Ariana pernah menceritakan tentang Mark saat ia melihat-lihat foto masa sekolah Ariana.


"Ya, Ariana pernah menceritakan pria itu padaku. Aku juga tahu kalau mereka pernah pacaran. Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentangnya?" kini, Kevin yang bertanya pada Eric.


"Pantas saja mereka terlihat dekat. Aku melihatnya saat Ariana menerima penghargaan di sekolah. Aku ke sana untuk bertemu wanita yang dijodohkan denganku, lalu aku melihat seorang pria yang terus mengambil foto Ariana dan terus tersenyum padanya. Lalu, Ariana memperkenalkannya sebagai Mark, katanya teman lamanya. Setelah itu, aku juga melihst mereka pergi bersama."


"Mereka bertemu, lalu pergi bersama?" Kevin bertanya untuk memastikan.


"Ya, itu yang aku lihat. Tunggu, apa Ariana tidak menceritakan hal itu padamu?"


"Tentu saja Ariana mengatakannya. Dia mengatakan pergi dengan temannya dan aku tidak menuntut jawaban lagi darinya. Tidak ada salahnya bukan pergi dengan mantan pacar? Itu hanya kisah di masa lalu." Kevin terlihat tetap tenang, tapi sebenarnya ia tidak suka jika Ariana tidak terus terang padanya. Dari cerita Eric juga ia merasa kalau tingkah Mark sepertinya agak aneh.


Eric diam-diam tersenyum karena tahu kalau Kevin mulai terganggu dengan perkataannya tadi. "Ya, itu hanya kisah masa lalu. Namun, kau harus hati-hati karena ada banyak orang yang ingin memiliki Ariana."


"Termasuk kau, kan?" Kevin dengan cepat membalas ucapan Eric.


Di tempat lain, Camila yang sedang menatap kalender baru menyadari bahwa dirinya terlambat datang bulan, lebih tepatnya telah lewat selama dua minggu. "Aku baru merencanakannya, tapi dia telah datang? Aku pasti hamil, kan?" tidak seperti wanita lain yang akan panik mengetahui dirinya terlambat datang bulan, Camila justru terlihat bahagia.

__ADS_1


__ADS_2