Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku

Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku
Episode 36 [Kejujuran Memang Menyakitkan]


__ADS_3

Pada akhirnya, Ariana menyetujui ajakan Mark untuk makan es krim, tapi tidak hanya berdua, melainkan bersama Emily juga karena dia telah pulang dari sekolah. Ariana mencoba menikmati momen itu, tapi ia tidak bisa benar-benar menikmati semua ini karena masih memikirkan bagaimana cara menjelaskan tentang perpisahan ini pada Emily. Pembicaraan waktu itu tidak akan cukup, sebab sekarang semuanya telah berbeda.


Apa semuanya harus dikatakan secara terus terang? Apa Emily akan mengerti? Bagaimana jika Emily membencinya? Kenapa semua ini terasa begitu rumit?


Semua pertanyaan itu terus berkeliaran di benak Ariana sampai membuatnya kehilangan fokus dan akhirnya menabrak seorang wanita paruh baya setelah keluar dari toko es krim. Ariana dengan cepat meminta maaf dan beruntung masalah itu tidak membesar.


"Maaf, Mark, tapi aku harus pulang sekarang. Terima kasih karena telah mentraktir kami makan es krim. Lain kali, aku juga akan mentraktirmu." Ariana pun memilih untuk segera kembali ke rumah karena ia merasa agak lelah.


"Ya, aku akan menunggunya." Mark tampak tersenyum pada Ariana. Mark tahu kalau usahanya telah gagal. Ia sama sekali tidak bisa mengurangi kesedihan Ariana.


Mark pikir, inilah kekurangannya. Walau ia mencintai Ariana dengan tulus untuk waktu yang lama, tapi ia tidak memiliki usaha yang berarti untuk membuat Ariana nyaman bersamanya. Dulu, ia bahkan melepaskan Ariana karena permintaan ibunya, sebab ibunya menganggap kalau Ariana bisa membawa pengaruh buruk padanya karena ibunya yang terkenal sebagai penghancur rumah tangga orang lain. Jelas Ariana tidak seperti yang orang-orang pikirkan, tapi ia yang terlalu penakut saat itu.


"Ucapkan terima kasih pada Paman Mark," ucap Ariana pada Emily.


"Terima kasih, Paman. Aku sangat menyukai es krimnya." Emily bicara dengan begitu manis sampai membuat senyuman Mark semakin melebar.


"Apa lain kali kau ingin makan es krim lagi?" tanya Mark.


"Ya, aku akan makan es krim bersama Ibu dan Ayah. Ayah sedang sibuk, jadi tidak bisa bersama aku dan Ibu, tapi nanti Ayah akan bersama kita lagi, kan, Ibu?" Emily menoleh pada ibunya.


Ariana tampak bingung harus menjawab apa, sebab ia tidak ingin memberikan jawaban yang akan memberikan harapan palsu pada Emily. Ariana ingin membuat Emily pelan-pelan menyadari kalau sesuatu telah berubah sekarang. Emily harus menerima semua ini meski sangat menyakitkan, sebab sebuah harapan palsu hanya akan memberikan kesenangan sesaat, lalu pada akhirnya menjadi menyakitkan dan mengecewakan.


"Emily, ayahmu akan tetap menjadi ayahmu dan ibu juga akan tetap menjadi ibumu, hal itu tidak akan pernah berubah. Namun, kita tidak akan bisa bersama seperti dulu. Kebersamaan itu akan berbeda sekarang." Ariana mencoba menjelaskannya pada Emily dengan kalimat yang ia pikir sederhana, tapi Emily terlihat belum benar-benar memahami semua ini.


"Apa yang berbeda?" tanya Emily dan Ariana kebingungan lagi.


"Ibu dan ayahmu, kami ..." Ariana tampak terdiam sejenak. Ariana tidak menemukan pilihan lain. Sudah saatnya Emily diberitahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Kami memiliki kehidupan masing-masing sekarang. Kami tidak bersama lagi." Kalimat ini akhirnya Ariana keluarkan di depan Emily.


Emily tampak terdiam, sebab memiliki kehidupan masing-masing terdengar cukup membingungkan karena ia belum pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya. "Ibu, aku tidak mengerti." Emily tampak menggeleng.

__ADS_1


"Kau mungkin bisa mencari waktu yang tepat untuk membicarakan semua ini. Aku rasa, ini bukan saat yang tepat," ucap Mark.


"Aku telah menunda terlalu lama dan menyadari kalau waktu yang tepat itu tidak ada. Kita hanya tidak siap atau terlalu takut untuk bicara, jadi mencari alasan dengan mencari waktu yang tepat. Aku harus berhenti memberikan harapan palsu pada Emily," balas Ariana, lalu ia berjongkok di depan Emily.


Ariana meraih tangan Emily dan memegangnya dengan erat. "Emily, dengarkan ibu baik-baik. Ibu dan ayah telah berpisah. Kami tidak lagi tinggal bersama lagi. Beberapa hal akan terasa berbeda, tapi kau akan tetap menjadi anak ayah dan ibu." Ariana mencoba memberikan penjelasan sebaik mungkin.


Emily yang sebelumnya telah ditakut-takuti oleh Yuri tentang perpisahan di antara orang tuanya, kini terlihat menangis. "Kenapa berpisah? Aku hanya menceritakan hal itu pada Nenek, apa Nenek memberitahu Ibu? Apa Ibu dan Ayah berpisah karena aku bercerita? Aku tidak akan mengatakannya lagi," ucap Emily sembari terus menangis.


Mark tidak tahu apa yang Emily maksud. Memangnya cerita apa yamlng membuat dia berpikir kalau itu bisa membuat orang tuanya berpisah? Mark tidak mengerti, tapi hatinya menjadi begitu sakit saat melihat Emily menangis. Emily pasti masih bingung dengan semua ini, tapi Ariana sepertinya juga menghindari menceritakan detail masalahnya dengan Kevin yang sampai membuat mereka berpisah.


"Tidak seperti itu. Kami berpisah karena memang sudah seperti itu keputusannya. Ayo pulang dan kita bicara lagi di rumah." Ariana mengangkat tubuh Emily dan sempat berpamitan pada Mark sebelum akhirnya pergi.


"Seandainya saja aku bisa membantu Ariana menyelesaikan masalah ini," gumam Mark yang masih terus menatap ke arah Ariana.


***


Sejak kejadian di bar, Eric merasa sulit untuk bertemu dengan Ariana, selain karena takut menghadapi Ariana setelah ia melewati batas, Eric juga begitu sibuk dengan pekerjaannya dan pernikahan yang akan dilaksanakan minggu depan. Hari ini, setelah kembali dari Paris untuk urusan bisnis, Eric mendengar kabar kalau Ariana dan Kevin telah resmi bercerai. Eric mendengar kabar itu dari Hana yang saat ini sedang minum bersamanya.


Jika Kevin dan Ariana telah resmi berpisah, maka bukankah itu berarti terbuka kesempatan untuknya? Tapi, apa Ariana masih mau dekat dengannya setelah kejadian itu? Astaga, Eric benar-benar menyesali semua itu. Seharusnya ia menjadi sandaran Ariana di saat-saat tersulit dalam hidupnya, bukan malah mengecewakannya.


"Bagus jika mereka bercerai, jadi aku bisa mendapatkan kesempatan." Eric tersenyum, lalu meneguk minumannya.


"Aku tahu kau berengsek, tapi kau akan menikah minggu depan. Ariana juga tidak akan mau denganmu setelah apa yang terjadi waktu itu," balas Hana.


"Kita tidak akan tahu sampai kita mencobanya, kan? Aku berpikir untuk membatalkan pernikahanku. Untuk apa menikah jika tidak ada cinta? Yang saling mencintai saja bisa bercerai, apalagi yang tidak mencintai?"


Hana tidak percaya kalau ia memiliki dua teman yang bisa begitu berengsek seperti Kevin dan Eric. "Terserah, lakukan saja apapun yang kau mau. Pria berengsek memang seperti itu, kan?"


"Kau kasar sekali. Kau seharusnya mengatakan itu pada Kevin."


"Aku juga ingin ..." kalimat Hana tertahan setelah ia melihat kehadiran seseorang. "Kevin ada di sini," lanjut Hana.

__ADS_1


Eric mengikuti arah pandangan Hana dan ia melihat Kevin duduk di depan meja bartender. Kevin terlihat kacau dan menyedihkan setelah perceraiannya, tapi Eric rasa itu pantas untuknya. Dia yang bermain api, tapi sekarang bersikap seolah dia adalah korban.


"Hubungan kalian sepertinya sedang tidak baik, jadi lebih baik jika kita tidak bergabung dengannya. Kevin juga mungkin butuh waktu untuk sendiri," ucap Hana, tapi Eric malah mendekati Kevin tepat setelah ia selesai bicara.


Hana mencoba menghentikan Eric, tapi percuma saja karena Eric kini telah duduk di sebelah Kevin. Demi Tuhan, Hana merasakan ada akan ada hal buruk yang akan terjadi. Dua sahabat yang tadinya akur, kini menjadi berselisih karena seorang wanita. Bahkan masalah itu dibawa sampai ke dalam pekerjaan dimana Eric menghentikan kerjasama karena Kevin dianggap telah mencemarkan nama baik perusahaan.


Raut wajah Kevin seketika berubah setelah melihat kehadiran Eric. Kevin memiliki masalah yang belum selesai dengan Eric, tapi ia telah kehilangan tenaga untuk berkelahi dengan pria itu. Kevin hanya berharap kalau Eric tidak akan muncul di depannya lagi.


"Selamat untuk perceraianmu dan aku menunggu undangan pernikahanmu dengan pelayan itu. Sudah aku bilang, Ariana bukanlah wanita bodoh." Namun, Eric malah mengatakan sesuatu yang membuat Kevin marah.


"Bawa temanmu pergi atau dia akan tahu akibatnya." Kevin bicara pada Hana yang berdiri di sebelah Eric.


"Ayo pergi dan berikan Kevin waktu untuk sendiri." Hana berusaha menarik Eric agar pergi, tapi pria itu tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.


"Kau tahu kenapa kau bisa sehancur itu? Itu karena kau berani menyakiti Ariana. Aku merelakan Ariana bersamamu karena aku percaya kau bisa menjaganya, tapi kau malah menyakitinya. Jadi, selamat menikmati kesengsaraanmu." Eric tersenyum dan setelahnya pergi meninggalkan Kevin.


"Jadi, kau yang ada di balik kekacauan itu?" Kevin sudah berdiri saat menanyakan ini pada Eric.


Eric menghentikan langkahnya, lalu kembali menatap Kevin. "Kau bebas memikirkan apapun," jawab Eric dan tepat setelah itu ia menerima pukulan keras dari Kevin.


Perkelahian pun kembali terjadi di antara Kevin dan Eric. Hana mencoba menghentikan kedua pria itu, tapi tidak berhasil. Sampai akhirnya, petugas keamanan bar datang untuk menyudahi perkelahian itu. Kevin, Eric, dan Hana pun diusir keluar dari bar karena dianggap telah membuat kekacauan. Setelah sampai di luar, Eric langsung pergi dengan mobilnya. Sedangkan Hana pergi setelah memastikan kalau Kevin baik-baik saja.


Sementara Kevin tampak terdiam sejenak di dekat mobilnya setelah mengetahui kalau sahabatnya sendiri yang telah menjebaknya, lalu datang dengan surat pemutusan kontrak tanpa ganti rugi karena menganggap ia telah merusak citra perusahaan, jadi pihak yang dirugikan bisa memutuskan kontrak tanpa membayar denda.


"Akhhh, sialan! Camila, Eric, berani sekali kalian mengacaukan hidupku. Kalian akan menerima akibatnya, teruama kau Camila." Kevin terlihat begitu marah.


***


Setelah mendengar tentang perpisahan Ariana dan Kevin, Emily menjadi begitu sedih. Emily terus menangis dan ingin bertemu dengan Kevin dan Ariana menurutinya. Ariana menelepon Kevin untuk membuat janji bertemu di luar demi menghindari Camila, tapi nomor pria itu tidak aktif. Ariana menelepon Wilda dan dia mengatakan kalau Kevin tidak ada di rumah. Kevin pergi setelah sempat berdebat dengan Camila. Sampai detik ini pun Kevin masih tidak bisa dihubungi.


Emily yang lelah menangis akhirnya tertidur. Ariana masih menemani Emily saat ini, tidur di sebelahnya dan memeluknya dengan erat. Ariana ikut menangis saat melihat Emily menangis karena dirinya. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Ariana berharap saat dewasa nanti Emily akan memahami kondisinya saat ini.

__ADS_1


Saat Ariana akan memejamkan matanya untuk istirahat seseorang menekan bel rumahnya. Mau tidak mau Ariana kini turun dari ranjang, lalu keluar untuk melihat siapa yang datang. Ariana tidak langsung membuka pintu, tapi melihatnya dari balik jendela dan terlihat Kevin yang datang dengan dipapah oleh seorang supir taksi.


"Apa yang terjadi padanya?" gumam Ariana sembari pergi untuk membuka pintu. Sedangkan Camila terus menunggu kepulangan Kevin.


__ADS_2