
Camila tidak mau ini menjadi hari terakhirnya karena ia bahkan belum menghancurkan Ariana sepenuhnya, karena itulah Camila berusaha lebih keras lagi untuk melepaskan diri dari Kevin dan beruntung kali ini berhasil. Camila memdorong Kevin menjauh darinya dan ia mulai mengatur napas. Kevin sudah cukup menyeramkan saat menyeretnya untuk menggugurkan kandungan, tapi sekarang dia tidak hanya menyeramkan, tapi juga menunjukkan aura seorang pembunuh.
Saat Camila sedang mengatur napas, Kevin kembali menyerangnya. Kevin lagi-lagi mencekik Camila, tapi kali ini Wilda datang untuk menolong Camila. Tadinya, Wilda ingin pergi dan bersikap masa bodoh pada Camila, tapi ia khawatir terjadi kekacauan yang lebih besar lagi. Benar saja dugaan Wilda dan entah apa yang akan terjadi jika ia tidak masuk lagi ke kamar Kevin.
Walau ada Wilda, tapi Kevin masih ingin menyerang Camila. Kevin telah kehilangan kesabaran pada wanita itu. Rasanya sudah tidak tertahankan lagi sampai ia tidak peduli jika harus membunuh Camila dengan tangannya sendiri. Ya, ini memang salahnya karena membiarkan Camila masuk ke dalam hidupnya, Kevin akui hal itu, maka dari itu ia akan menebus kesalahannya sekarang.
Wilda berusaha menghentikan Kevin, tapi tenaga dari wanita paruh baya sepertinya tidak akan sebanding dengan tenaga pria dewasa seperti Kevin. Sedangkan Camila tampak terdiam di sudut kamar dengan wajah ketakutan. Camila tidak bisa keluar karena Kevin kini menghalangi pintu keluar kamar ini. Sekarang, Camila hanya bisa berharap pada Wilda.
"Menyingkirlah, Bibi, atau aku akan melukai Bibi juga," ucap Kevin pada Wilda.
"Tenanglah, Tuan Kevin. Ini tidak benar, jangan melakukan hal seperti ini. Saya mohon, jangan seperti ini." Wilda berusaha membuat Kevin tenang, tapi sepertinya tidak berhasil.
Kevin yang sedang mabuk dan dikuasai kemarahan kini menjadi tidak ragu untuk sedikit menyenggol Wilda agar ia bisa mendapatkan Camila. Kevin menatap Camila dengan tatapan tajamnya dan lagi-lagi mencekik Camila. Kevin bahkan mencekik dengan lebih keras kali ini.
Tangan Camila bergerak-gerak mencoba menemukan apapun agar bisa membantunya menyelamatkan diri dari Kevin. Saat Camila meyakini kalau ini mungkin memang hari terakhirnya karena Wilda tidak bisa memberikan bantuan apa-apa, tangannya berhasil meraih sebuah pisau buah yang langsung ia tusukan pada perut Kevin.
Pisau itu masih menancap di perut Kevin dan darah segar mulai mengalir lukanya. Cekikan Kevin mulai melonggar karena tangannya yang seketika lemas. Kevin bergerak mundur dengan langkah yang tidak teratur, sampai akhirnya ia jatuh tidak berdaya. Darah dengan cepat berserakan di lantai yang dingin itu.
Wilda berteriak histeris melihat keadaan Kevin. Sedangkan Camila masih terdiam di tempatnya dan menatap Kevin yang terluka karena dirinya. Camila menjadi semakin ketakutan setelah melihat Kevin yang terlihat tidak bergerak setelah terjatuh dan darahnya tidak berhenti keluar.
__ADS_1
"Apa yang telah aku lakukan?" ucap Camila dengan nada takutnya.
***
Setelah kejadian tadi, Ariana benar-benar tidak bisa tidur. Ariana masih duduk di sofa dan tampak melamun. Berusaha keras ia menata hidupnya dan merelakan apa yang telah terjadi, lalu hidup dengan tenang, tapi Kevin selalu saja mengacaukan segalanya.
Saat waktu menunjukkan hampir jam 2 pagi, Ariana pikir, ia harus segera istirahat walau tidak yakin bisa tidur. Namun, ponselnya berdering karena telepon dari Wilda. Ariana merasa perasaannya mulai tidak enak saat ini, sebab dulu ia pernah menerima telepon di jam 2 pagi dari seseorang yang mengabari kalau ayahnya meninggal karena kecelakaan. Namun, Ariana mencoba untuk tenang dan menjawab telepon dari Wilda.
"Halo, Bibi," ucap Ariana.
"Nyonya ..." Wilda tidak bisa bicara dengan benar karena terus menangis.
"Tuan Kevin ... dia terluka dan saat ini ada di rumah sakit. Saya kesulitan menghubungi Nyonya Fiona dan saya tidak tahu harus melakukan apa di sini, jadi tolong datang."
Ariana begitu terkejut mendengar ucapan Wilda, tapi ia mencoba untuk tetap tenang karena panik tidak akan menyelesaikan masalah apapun. "Apa yang terjadi? Kenapa Kevin bisa terluka?" tanya Ariana lagi.
"Saya tidak bisa menceritakannya sekarang. Tolong datang secepatnya. Saya benar-benar panik dan bingung."
"Baiklah, aku akan ke sana. Bibi membawa Kevin ke rumah sakit mana?" Ariana bicara sembari menatap ke arah Emily yang tertidur dengan begitu lelap. Ariana tidak ingin membangunkan Emily dan mengabarinya masalah ini karena dia pasti akan menangis. Tapi, mana mungkin meninggalkan Emily sendirian?
__ADS_1
"Halo, Mark, aku tahu ini tidak sopan karena menelepon sekarang, tapi aku punya masalah mendesak. Apa kau bisa menjaga Emily untukku?" pada akhirnya, Ariana meminta tolong pada Mark.
***
Saat Wilda begitu panik di rumah sakit, Camila masih diam di rumah dengan wajah yang penuh ketakutan. Camila hanya berusaha menyelamatkan diri dari Kevin, tapi tidak menduga akan seperti ini jadinya. Bagaimana jika Kevin tidak selamat? Bagaimana jika ia membunuh pria yang begitu cintai? Astaga, Camila tidak bisa membayangkan akan seperti apa hidupnya jika hal itu sungguh terjadi, apalagi ibu Kevin pasti tidak akan melepaskannya.
"Aku harus menyusul ke rumah sakit. Aku harus memastikan keadaan Kevin." Camila bergegas turun dari tempat tidur, lalu pergi dengan terburu-buru. Camila tidak mau terus diam di rumah dan ketakutan seperti ini, sementara Kevin berjuang sendirian di rumah sakit.
Namun, saat tiba di rumah sakit, Camila malah melihat Ariana yang saat ini menatap kedatangannya dengan penuh tatapan tajam. Camila tidak berharap melihat wanita itu sekarang, tapi malah dia yang ada di sini dan menemani Wilda.
Ariana telah mendengar semuanya dari Wilda dan Kevin saat ini masih ada di ruang operasi karena lukanya yang dalam sampai membuatnya kritis. Ariana tahu kalau Camila mencoba melindungi dirinya sendiri, tapi perasaan ini tidak bisa Ariana bohongi, ia marah pada siapa pun yang berani melukai Kevin sampai seperti ini.
"Aku kira kau tidak akan datang," ucap Ariana.
"Bagaimana keadaan Kevin?" tanya Camila.
"Tuan Kevin masih ada di ruang operasi. Aku sudah melarangmu untuk bicara dengannya, tapi kau terlalu keras kepala. Sekarang, terjadi masalah seperti ini. Jika terjadi sesuatu pada Tuan Kevin, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Wilda terlihat sangat marah.
"Ini bukan salahku! Aku hanya melindungi diriku sendiri. Apa aku tidak boleh melindungi diriku sendiri?" Camila membalas.
__ADS_1
Fiona datang tepat setelah Camila bicara. Fiona tanpa ragu langsung menarik rambut Camila dengan begitu kasar, lalu mendorongnya dengan sangat keras hingga jatuh tersungkur. "Berani sekali kau melukai putraku. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" bentak Fiona. Sedangkan Camila meringis kesakitan sembari memegangi perutnya dan dia terlihat mengalami pendarahan.